Selasa, 29 November 2016

Cinta adalah ------

Bertahun-tahun menjadi penulis roman, ternyata tidak membuat saya pandai mendefinisikan apa arti cinta. Sebagai perempuan dewasa, saya tidak lagi menafsirkan cinta hanya sebatas ketertarikan secara emosi dan fisik kepada lawan jenis. Bagi saya di dalam cinta, ada tanggung jawab, empati, kasih sayang, toleransi, pengorbanan, kepatuhan, dan saling menghormati. Kali ini saya tidak ingin membahas definisi cinta untuk philia (cinta keluarga dan teman), agape (cinta keluarga dan Tuhan), ataupun storge (cinta tanah air). Saya hanya ingin membahas eros, cinta kepada lawan jenis. Seperti layaknya manusia normal lainnya. Saya pun berkali-kali jatuh cinta, tertarik pada lawan jenis. Namun, hubungan serius pertama dan Insya Allah terakhir ya dengan lelaki yang kini menjadi suami saya. Kalau perasaan tertarik pada lawan jenis adalah salah satu tanda alamiah seseorang yang sedang atau sudah memasuki masa akil baligh. Kalau masa akil baligh pada perempuan dimulai sejak menstruasi dan masa akil baligh pada lelaki dimulai sejak mimpi basah. Rasanya saya sudah mulai tertarik pada lawan jenis, jauh sebelum menstruasi. Layaknya gadis kecil kebanyakan, saya mulai menyukai teman lelaki saya sejak di bangku SD. Saya lupa kelas berapa. Yang jelas, saya suka sekali dengan salah seorang teman lelaki saya yang bertampang bagus dan termasuk deretan anak terpandai di kelas. Saya suka melihat kehadirannya di sekitar saya, membuat saya semangat datang ke sekolah. Memasuki masa baligh di SMP, ketertarikan saya kepada lawan jenis semakin menggebu-gebu. Beberapa kali saya pernah ‘jatuh cinta’ dengan teman lelaki di SMP, SMA, bangku kuliah dan masa kerja sebelum menikah. Tak terhitung jumlahnya. Namun, tipikal lelaki yang saya sukai bisa dipastikan mirip. Tinggi besar, berwajah bagus menurut saya, deretan anak pandai, warna kulit tidak selalu sama. Sebanyak itu saya ‘jatuh cinta’, pernahkah saya pacaran? Tidak pernah sekalipun, kecuali lelaki yang menikahi saya sekarang. Itupun kategorinya bukan pacaran, lebih ke taaruf. Tahu-tahu dilamar, tanpa pernah merasakan ‘ditembak’ (pernyataan cinta untuk komitmen hubungan pacaran). Loh kok bisa tidak pernah pacaran? Kebetulan orang tua saya terutama ibu, adalah orang tua yang sangat ‘over protective’ dengan anak gadisnya. Mungkin karena saya anak pertama, kebetulan anak gadis satu-satunya yang jadi perhiasan rumah. Ibu bersikap lebih ‘galak’ kepada saya ketimbang kepada adik-adik saya yang lelaki. Berkali-kali jatuh cinta kepada lelaki, dan berkali-kali digilai lelaki tidak membuat saya bisa berkomitmen dalam hubungan pacaran. Bagaimana mau pacaran, kalau setiap ada teman lelaki telepon mencari saya, ibu akan selalu menjawab ketus, “Rismanya gak ada! Jangan telepon lagi ya”. Telepon ditutup dengan kasar. Bagaimana mau pacaran kalau ada teman lelaki yang sekiranya dicurigai ada niat terselubung, datang ke rumah akan langsung dicemberuti. Tidak ada ampun buat lelaki yang mendekati anak gadisnya. Peraturannya kala itu, tidak ada pacaran sebelum kelar sekolah. TITIK! Peraturan ini tentu saja membuat saya ‘mati kutu’. Sebetulnya bisa saja saya ‘backstreet’, pacaran sembunyi-sembunyi seperti kebanyakan teman saya yang bernasib sama memiliki orang tua yang super otoriter. Tetapi kok saya kapok ya. Sekalinya kabur dari rumah buat nginep di rumah teman perempuan di SMP, pulangnya saya dimaki habis-habisan. Istilah pacaran saat SMP, SMA bahkan masa kuliah, bagi saya hanya sebuah dongeng indah yang tidak pernah saya rasakan. Dahulu tentu saja saya kesal dengan orang tua saya, cemburu dengan teman-teman saya. Saya sudah terbiasa mendengar cerita teman-teman perempuan saya yang berbinar-binar menceritakan pengalaman ciuman pertamanya, pegangan tangan, pelukan, nonton bioskop, dan lain-lainnya sejak SD. Sejak saya bahkan masih belum mendapatkan menstruasi. Sejak bacaan saya masih Bobo, dan bacaan teman saya itu sudah majalah Gadis. Saya ingat persis ketika saya merajuk ke ibu untuk membelikan saya majalah Gadis, lip gloss dan mini set (bra) saat SD kelas 5. Kala itu adalah lambang gadis keren di SD. Beberapa teman perempuan yang saya bilang ‘cool’ saat itu sudah memakai mini set , lip gloss, membaca majalah Gadis dan punya cowok. Dan saya iri. Ibu saya memang membelikan semua permintaan saya. Namun tetap saja, pacaran masih merupakan hal terlarang yang bisa saya lakukan. Saat menginjak bangku SMP, malah saya berteman dekat dengan gadis yang katanya primadona kampung. Si gadis Betawi bahkan mengaku beberapa kali sudah ‘diminta’ orang alias dilamar. Yah ampun, pacaran saja saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya, apalagi dilamar. SMP, belum pernah pacaran tapi tahu persis rasanya ‘broken heart’. Saat itu sedang naksir berat dengan salah seorang lelaki ‘keturunan’, namun sayangnya si lelaki lebih suka dengan gadis lain yang lebih gaul. Yah, apalah saya yang kala itu hanya Betty Lafea yang selalu ranking 1 dibanding si gadis gaul yang pandai bersolek. SMA, beruntung punya beberapa sahabat lelaki yang masuk jajaran cowok paling keren seangkatan. Tahu kan artinya cowok paling keren? Artinya digilai gadis-gadis dan pacarnya tentu saja gadis gaul yang super modis dan cantik. Dari sahabat saya itu justru saya dinasehati untuk tidak pacaran, karena jadi pacar harus mau dipegang-pegang, dicium. Intinya yang rugi perempuan. Tidak hanya dia, satu-satunya lelaki yang menasehati. Setelah itu saya justru banyak bergaul dengan lelaki playboy. Mereka juga menasehati hal yang sama kepada saya, plus pesan harapan terselubung dari para pria begajulan yang suatu hari ingin juga menikah dengan gadis yang benar-benar belum tersentuh. Maka saya tumbuh menjadi gadis yang sama sekali tidak gaul karena tidak punya cowok yang bisa digandeng ke acara nongkrong bareng, nonton, bahkan prom nite (pesta perpisahan ala Barat). Saya merasa dikutuk menjadi jomblo sepanjang masa remaja. Apalagi memang kala itu saya bukan termasuk gadis pesolek, walau saya cukup bergaul. Tahun 2000-an saat internet mulai meraja lela. Saya kepincut dengan aktivitas chatting di dunia maya. Apalagi kesibukan saya sebagai mahasiswa baru, mengharuskan saya berakrab-akrab dengan internet untuk keperluan browsing data. Browsing data sekaligus chatting menjadi rutinitas saya saat nongkrong di warung internet alias warnet. Berkenalan dengan banyak orang di dunia maya, salah satu yang membuat saya terjebak cyber love adalah Saiful Malook. Pemuda asal Peshawar Pakistan yang membuat saya jatuh cinta setengah mati. Walau hubungan kami hanya sebatas chatting di MIRC, Yahoo Messenger, dan saling berkirim surat dan souvenir. Sebuah hubungan percintaan yang sungguh naïf. Tidak ada saling rayu, kalimat-kalimat menjurus, dan hal-hal negatif lainnya. Namun, rasanya sedemikian mendalam. Hingga suatu hari pada puncak perang Afghanistan di tahun 2001, Saiful Malook lenyap ditelan bumi. Saya tidak lagi mendapatkan sepucuk surat pun dari Saiful Malook. Tidak ada email, bahkan dia tidak pernah lagi datang di jadwal chatting kita. Saiful Malook lenyap, dan saya menggila. Rasa cinta saya yang besar membuat saya nekat untuk menghadap sang duta besar Pakistan untuk Indonesia. Saya datang untuk meminta bantuan beliau mencari Saiful Malook. Kebetulan H.E. Syed Mustafa Anwer Hussein adalah mantan komandan militer AL, atasannya Jenderal Pervez Musharraf (Mantan Presiden Pakistan). Melalui bantuan anak buahnya yang disebar di seluruh Peshawar, sang duta besar mencari kekasih maya saya Saiful Malook. Namun keadaan daerah konflik Peshawar yang kala itu sedang kacau. Peshawar adalah tempat persembunyian militan Afghanistan, karena Peshawar hanya berjarak 10 km dari Jalalabad Afghanistan. Maka semua orang tutup mulut bila militer menanyakan nama seseorang. Mereka takut kalau-kalau orang itu adalah buronan teroris. Dan Saiful Malook pun lenyap. Hingga akhirnya suatu hari bertahun-tahun kemudian Saiful Malook ditemukan dalam keadaan tragis. Berkeliaran bak orang gila di jalanan ibukota Peshawar sambil menciumi amplop berisi surat cinta dan sehelai rambut saya. Tentang mengapa dia menjadi gila, bisa baca di novel perdana saya Surat Cinta Saiful Malook yang membuat nama saya tiba-tiba melejit. PTV (Pushto TV Channel) di Peshawar yang juga direlay di seluruh dunia lewat jaringan TV kabel. Dan bahkan Metro TV dulu pernah mengundang saya sebagai pelaku Cyber Love. Tidak hanya novel, skripsi saya pun saya dedikasikan untuk cinta maya saya, Saiful Malook. Kehilangan Saiful Malook yang bahkan belum pernah saya lihat secara nyata membuat saya kapok membuka hubungan. Rada lebay memang, apalagi Saiful Malook ini tampak hanya seperti karakter hayalan di dunia maya. Bahkan kami hanya sekali chatting menggunakan webcam, itupun tidak sampai 10 menit karena kendala koneksi internet. Saling bertukar foto lewat surat darat, dan sekarang fotonya entah sudah kemana :p. Beberapa kali didekati pria yang niat serius, termasuk beberapa pria asing tidak membuat saya menyerah. Saya menarik diri, walau saya sebenarnya teramat sangat ingin menikah di usia muda. Hingga akhirnya saya malah dilamar oleh lelaki yang sekarang jadi suami saya. Padahal selama itu dia tidak pernah masuk dalam ‘hitungan’ saya. Hanya teman, teman yang bahkan tidak masuk hitungan teman tempat curhat. Teman yang menurut saya cukup usil untuk menanyakan, “apa landasan yang kelak akan kamu pakai untuk mendidik anak? Apa landasan kamu untuk menikah?” dan pertanyaan lainnya. Saya yang dahulu bukan siapa-siapa, hanya menjawab ‘nothing to loose’. “Landasan saya untuk mendidik anak adalah Al quran dan hadits, agar suatu hari kalau saya meninggal ada anak saleh dan salehah yang selalu mendoakan. MAkanya saya butuh imam yang siap membimbing saya”. Uhh, jawaban spontan yang dalam. Tiba-tiba mualaf Amerika yang dahulu tak sengaja bertemu di masjid ini melamar saya, tanpa pernah menyatakan cinta terlebih dahulu. Sebuah tawaran yang membuat saya galau setengah mati. Saya yang sebetulnya siap mental untuk menikah, namun jadi galau saat satu-satunya lamaran serius yang datang adalah pria asing dengan segudang masa lalu yang kelam. Setelah lewat pergulatan mental yang cukup panjang, shalat istikharah saya akhirnya menerima sang mualaf yang hafalan Al Quran dan haditsnya lebih banyak ketimbang saya yang bahkan Juz Amma masih suka lupa. Si lelaki Amerika yang memelihara jenggot sunnah-nya. Dengan persiapan yang hanya sebulan akhirnya pernikahan pun digelar. Terkesan tergesa-gesa hingga menjadi bahan gunjingan para tetangga. Para tetangga tidak pernah melihat saya berjalan berduaan dengan lelaki layaknya pasangan yang siap menikah, tahu-tahu menggelar pesta. Jangan-jangan sudah hamil duluan seperti tren masa kini. Untungnya saya tidak langsung hamil, karena kami memang berniat untuk pacaran dahulu selepas nikah. Seperti kebanyakan orang pacaran, saya pun mewujudkan impian nikmatnya dicium sang pacar, digandeng, dipeluk mesra, candle light dinner, nonton bareng, sampai tidur bareng. Namun, Alhamdulillah semuanya setelah nikah. Tidak ada lagi dosa, yang ada pahala. Apakah saya menyesal pernah diperlakukan sedemikian galak oleh sang ibu yang melarang saya pacaran saat masih belia? Tidak! Saya bersyukur punya ibu yang galak. Walau beliau tidak menjelaskan secara detil mengapa saya tidak boleh pacaran. Saya beruntung. Mungkin kalau ibu saya bersikap lunak, membolehkan saya pacaran sejak gairah remaja saya masih bergejolak dengan liarnya ditambah dengan keluguan saya. Mungkin saya sudah hamil di luar nikah. Walau saya tidak men-judge semua yang pacaran pasti tidur bareng. Tetapi saya sepertinya tidak kuat mental kalau tiap hari mesti berdekatan, dipandangi dengan tatapan mesra, disentuh lembut plus saya yang ‘kegatelan’ karena sedang tergila-gila. Namanya juga sedang jatuh cinta, kewarasan bisa saja lenyap. Suami saya berkali-kali bilang betapa beruntungnya dia mendapatkan kesempatan pertama mencium, menggandeng, memeluk, mengajak nonton, candle light dinner, dan tentunya mengajak tidur saya. Dan semuanya Alhamdulillah dilakukan setelah menikah. Beruntung sekali saya pertama kali punya ‘boy friend’ dalam bentuk nyata adalah dengan suami saya, pada saat yang tepat. Namanya juga hubungan percintaan tidak selalu akur-akur saja. Rasanya rugi juga kalau sudah komitmen setia, berkorban kehormatan, perasaan dan uang kalau hanya jadi pacar. Just saying… Saya dan suami sudah memutuskan akan bertindak sebagai orang tua yang tidak akan membolehkan anak-anak kami pacaran sebelum nikah. Tidak akan! Apalagi dengan tantangan zaman yang sudah sedemikian gila ini. Sang suami yang besar di Amerika sebagai non-muslim, tahu persis bagaimana rasanya hidup serba bebas. Pertemuannya dengan Islam, membuatnya yang dahulu tidak pernah percaya dengan komitmen pernikahan akhirnya tunduk pada sunatullah. Alhamdulillah dia seorang imam yang sangat baik, selain sebagai ‘pacar’ yang romantis dan bapak yang mengayomi. Balik ke definisi cinta. Di dalam cinta sejati ada tanggung jawab, bukan hanya sebatas ketertarikan fisik dan emosional. Namun sayang, tayangan sinetron/film, media cetak, media elektronik telah mengaburkan definisi cinta yang sesungguhnya. Para remaja merasa punya hak azasi untuk jatuh cinta dan pacaran. Padahal sudah pasti para remaja belum punya niatan untuk segera menikah. Apa yang dicari dari seorang remaja bau kencur dari sebuah hubungan pacaran? Selain hasrat untuk mengekspresikan rasa cinta secara seksual. Seksual memang tidak harus hubungan ranjang. Namun bertatapan mesra, mengobrol mesra, bergandengan, pelukan, ciuman, sentuhan, lama-lama bisa berujung pada hubungan ranjang juga. Apalagi remaja bau kencur masih teramat lugu, tidak berpikir panjang tentang sebab dan akibat. Orang tua yang bijak tidak akan membiarkan anaknya bebas berpacaran. Tetapi anehnya masih banyak orang tua yang dengan bangganya pamer kalau anak gadisnya digilai banyak lelaki, punya banyak pacar. Saat melepas sang anak gadis pergi nge-date, sang orang tua bilang ke pacar si anak gadis, “titip anak saya ya mas/bang/nak/dek”. Hasyeeek! Si orang tua memasrahkan anak gadisnya pada lelaki yang bukan muhrim. Ada juga yang membebaskan sang anak berpacaran asal tidak hamil dan menghamili. Astaghfirullahalazim. Jadi cinta itu adalah … Yang pasti cinta bukan hanya sebatas perkataan “aku cinta kamu, mau kah kamu jadi pacar aku”. Pret!!! Seandainya sudah serius mau nikah pun rasanya terlalu aneh kalau sengaja memperpanjang masa pacaran dengan alasan untuk mengenal lebih jauh. Selama apapun Anda berpacaran tidak akan bisa mengenal persis watak si pacar. Karena namanya juga pacaran cuma menunjukan hal-hal terbaik. Gak mungkin kan pergi pacaran belum mandi dengan pakaian yang acak-acakan. Salah satu cara untuk mengenal lebih jauh calon ya dengan cara menggali informasi dari orang-orang terdekat si calon. Pakai cara intel! Yah kalau tanya langsung sama yang bersangkutan rada diragukan kevalidannya. Mana ada maling teriak maling??? Jadi cinta adalah ----

Namaku Jones

Namaku Jonathan, namun orang-orang lebih suka memanggilku "Joe". Terkadang "Jones",singkatan dari Jomblo Ngenes. Yah aku memang Jomblo, pasalnya di usia hampir 40 aku masih sendiri. Ketika teman-teman sebayaku sudah beranak-pinak. Aku masih belum tahu akan duduk di pelaminan dengan siapa, sambil terus berjuang agar lekas 'move on' dari nestapa akibat putus cinta. Begitu traumanya aku akan percintaan, hingga aku tak punya cukup nyali untuk kembali merajut kasih dengan makhluk bernama perempuan. Makanya tak heran kalau bukan satu dua kali aku dikejar-kejar gay yang mengira aku bagian dari kumpulannya. "Sorry guys! Gue masih normal, gue cuma gagal move on!" Kalau ada orang yang harus dipersalahkan atas pedihnya nasibku ini. Maka dia adalah Tania! Tania yang mengenalkanku akan cinta hingga membuatku bertekuk lutut di hadapannya atas nama cinta. Tania juga yang menyadarkanku bahwa manisnya cinta tak ubahnya akan rasa taik kucing. Menjijikkan! Hampir dua puluh tahun lalu, saat aku masih di bangku kuliah. Tania adalah salah satu gadis idola di kampus kami. Siapa yang tak tertarik dengan Tania? Gadis berparas manis, berkulit sawo matang, bermata jeli dengan alis seperti semut berbaris, berambut hitam legam yang selalu tergerai, langsing dan tinggi. Pembawaan Tania yang supel membuat dia memiliki banyak teman. Tapi yah, apalah aku saat itu. Laki-laki bertampang pas-pasan, otak juga kadang megap-megap, duit ngepas. Sama sekali bukan sosok kebanyakan laki-laki idola perempuan. Meski mengagumi Tania, aku tak berani bermimpi memilikinya. Apalagi, Tania sudah punya pacar yang juga anak gaul. Sedangkan aku cuma butiran debu. Saat tersiar kabar kalau Tania putus dengan si pacar. Aku pun bersorak kegirangan. Tiba-tiba harapan bahwa aku akan merebut hati Tania yang nyaris mati kembali bersemi. Perlahan tapi pasti aku mendekati Tania dengan segala cara. Yah kalau adu ganteng, adu tajir mungkin kalah KO dengan pesaing. Tapi aku yakin bisa memikat Tania dengan kemampuanku membuat orang tertawa. Dan Tania pun terpikat. Katanya,"kamu orang paling lucu yang pernah ada Joe...bersamamu, hidup sesulit apapun tiba-tiba menjadi baik-baik saja". Tentu saja aku melayang ke atas langit. Makin hari hubungan pertemanan aku dan Tania pun makin akrab. Dimana ada Tania di situ ada aku. Sebenarnya aku sudah gemas ingin mengungkapkan perasaanku padanya. Namun, Tania seringkali curhat tentang si mantan atau gebetannya. Aih...mungkin aku cuma dianggap Tania sebagai abang-abangan atau HTS-an. Hingga suatu hari aku pun memberanikan diri untuk 'menembak' Tania, "gue suka lo Tania... Boleh gak gue jadi pacar lo". Mata Tania mendelik menatapku mencari sedikit keraguan di mataku. Namun Tania gagal, dia pun tertawa. "Gue juga suka lo kok Joe..." "Jadi kita?" Aku hampir tak percaya. Tania mengangguk. Dan aku yang kegirangan segera melonjak-lonjak kegirangan. Mimpi apa aku semalam bisa membuat Tania mengiyakan ajakanku untuk merajut tali kasih. Sejak saat itu aku dan Tania jadian. Bagiku itu adalah saat-saat terindah. Tahun-tahun terakhir di kampus menjadi saat-saat yang paling indah karena ada Tania yang secara de facto dan de jure jadi pacarku. Aku pun bisa berjalan membusungkan dada di hadapan orang-orang sambil menggandeng Tania, gadis pujaanku. Kuliah bareng-bareng. Wisuda bareng-bareng. Hingga kami memulai karir di perusahaan berbeda kami masih bersama-sama. Hubungan kami kian dekat. Bahkan orang tua kami pun sudah sama-sama tahu. Aku tahu aku mencintainya sepenuh jiwa namun aku masih punya misi yang harus aku selesaikan. Aku ingin berkarir dahulu hingga bisa membanggakan orang tua. Lagi pula aku laki-laki. Tak masalah menikah sedikit lebih uzur. Tetapi tidak demikian dengan Tania. Tania bercita-cita ingin menikah muda, agar dia bisa menjadi teman seru anak-anaknya kelak saat tumbuh dewasa. Belakangan Tania jadi sering merajuk minta dinikahi. "Lo kan tau kalo gue baru aja kerja. Perjalanan gue masih panjang. Gue masih ingin berkarir, mengumpulkan modal buat kita sekaligus menyenangkan orang tua gue dulu", kataku saat itu kepada Tania yang merajuk. "Lo cinta gak sih sama gue?" Tanya Tania ketus. "Cinta mati! Tapi nikah gak bisa cuma modal cinta sayang. Beri gue waktu paling gak lima tahun lagi". "Ya udah kalau gitu kita putus!" Tidak hanya sekali dua kali Tania minta putus. Namun ya setiap putus kami nyambung lagi dalam hitungan hari dan hubungan kembali harmonis. Saat itu aku yakin, she is the one. Makanya sesering apapun Tania minta putus, aku yakin dia akan kembali ke pelukanku. Aku tak bisa membayangkan hidup tanpa dirinya. Suatu hari di bulan Januari, aku ditugaskan kantor untuk melihat prospek pasar di kota Dili. Kota di timur Indonesia yang pernah jadi bagian dari NKRI. Ini pertanda baik, berarti karirku mulai menanjak. Namun ini jadi cobaan cinta pertama aku dan Tania. Meski hanya sebulan aku tugas di Dili, namun namanya tetap LDR. Meski sedang jauh dari Tangerang Selatan, tapi aku selalu menyempatkan diri menelpon, sms, dan mengirim email. Ah, ya saat itu belum ada whatsApp. Teknologi video call juga belum secanggih sekarang. Setiap hari sedikitnya tiga kali sehari kami saling bertelponan melepas rindu. Hingga hari kepulanganku dari Dili akhirnya tiba. Baru saja aku mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Tania sudah merengek ingin bertemu karena kangen berat. Aku sempat menego untuk menunda hingga esok hari karena sudah terlampau lelah. Namun, Tania merajuk lengkap dengan tangisan maut. "Kita sudah LDR-an sebulan sayang. Masak cuma ketemu sebentar aja kamu gak mau?" Nada suara Tania di telpon terdengar emosi. "Oke... Aku akan ke rumahmu, tapi sebentar ya. Itu pun setelah aku pulang ke rumah menengok ayahku yang sedang sakit". Dari Bandara ke Bogor butuh hampir 3 jam. Setelah istirahat sebentar sambil berkemas dan menemani ayah yang sedang sakit. Aku pun caw mengunjungi rumah Tania di Ciputat. Raga yang lelah akibat jetlag masih harus diforsir mengendarai motor butut Bogor-Ciputat demi Tania. Sampai di Ciputat, Tania menyambut dengan wajah sumringah. Dia memelukku erat. Dan kami pun mengobrol hampir satu jam sebelum aku pamit. Baru saja saya hendak memacu motor butut. Tania membuntuti dari belakang minta ikut ke Bogor untuk menengok ayahku. Dan tahu sendiri Tania, tidak ada yang bisa menolak keinginan Tania. Aku pun luluh. Kamipun berboncengan menuju rumahku di Bogor. Tak lama di Bogor, hanya sejam. Kemudian aku kembali mengantar Tania ke Ciputat. Sesampainya di Ciputat setelah perjalanan hampir satu setengah jam. Aku pun mohon diri pulang sebelum larut, karena aku juga sudah capek maksimal. Lagi-lagi Tania merajuk, "tapi aku kan masih kangen... Tunggulah di sini bersamaku sejenak..." Aku akhirnya luluh. Baru sekitar jam 10 malam aku pulang meninggalkan rumah Tania di Ciputat menuju Bogor. Dan terjadilah petaka itu. Mungkin karena ngantuk dan capek berat, baru mendarat dari Dili kemudian harus mondar-mandir Ciputat-Bogor 4 kali. Dan arghhh.... Motor bututku dihajar bis saat sedang melaju di daerah Parung. Aku tidak sadarkan diri berhari-hari. Tersadar setelah berhari-hari di ruang ICU rumah sakit. Dan aku harus menerima kenyataan pahit mengalami dagu yang harus mendapat 13 jahitan, tulang dagu remuk, tulang bibir atas terbelah dua, rahang remuk dan patah 2 plus bonggol rahang hancur dan gigi rontok. Keluar dari rumah sakit masih harus menghadapi episode hidup paling mengerikan. Aku lumpuh dan butuh terapi intensif selama kurang lebih 6 bulan. Otomatis aku kehilangan pekerjaan. Semua biaya pengobatan dan terapi ditanggung orang tua. Hubungan aku dan Tania masih baik. Tania jadi alasan aku bertahan hidup. Aku mencintai Tania sepenuh hati. Aku yakin Tania juga demikian. Tania kembali merengek minta dinikahi. Aku pun mengiyakan, "Ok kita nikah, gue siap! Tapi lo siap gak terima gue yang lumpuh dan jobless ini". Dahi Tania berkerut, namun dia menyembunyikannya dengan menebar senyum manis. Dan dia memelukku... "Thank you ya Joe... I love you!" Sejak saat itu Tania tak lagi mampir menengokku. Saat kutelpon tentang rencana pernikahan kita. Dia berkelit, "kamu benar Joe, kurasa kita masih terlalu muda untuk menikah. Kurasa kita bisa menundanya lagi, setidaknya sampai kamu sembuh. Cepat sembuh ya Joe!". Sejak saat itu Tania seperti hilang terbawa angin. Lenyap tak ada kabar berita. Hingga aku mendapat telepon seorang sahabat lama, "selamat ya Joe akhirnya lo nikah juga sama Tania". "Loh siapa yang menikah?" Aku bingung. "Lo sama Tania kan?", suara di ujung telepon juga bingung. "Loh Tania kan mau nikah minggu besok. Gue pikir sama lo". Buru-buru kututup telepon dengan gusar. Aku segera menelpon teman-teman dekat Tania untuk mencari tahu dan hasilnya Tania memang akan menikah dalam bilangan hari. Namun, anehnya saat kutelpon Tania masih berkelit. Dan Tania pun menikah dengan lelaki lain. Lelaki itulah yang menjadi alasan mengapa Tania tak lagi menjenguk dan menelponku. Tania menikah dengan lelaki tampan, sehat yang punya karir bagus. Apalah aku saat itu, lelaki lumpuh dengan wajah mirip Frankenstein dan pengangguran. Aku marah-semarahnya pada Tuhan si pemilik takdir yang membuat aku berantakan dan Tania kabur ke pelukan laki-laki lain. Aku nyaris bunuh diri dengan minum racun serangga, namun aku masih hidup. Aku yang lelaki rumahan sampai menjajal kehidupan malam. Berpetualang dari satu klab ke klab lainnya. Hingga ayah yang kuhormati menangis. "Joe, ayah tahu kamu marah dan sakit hati karena kehilangan Tania. Tapi ingat Joe, kamu kesayangan ayah satu-satunya. Suatu hari ayah akan mati, lalu siapa yang akan mendoakan ayah di sana kalau anak ayah satu-satunya keblangsak? Ayah mohon Joe, lupakan gadis itu! Kembalilah jadi anak kesayangan ayah". Aku menangis sejadi-jadinya. Kupeluk ayah mohon ampun. Dan aku pun berhenti jadi orang gila. Aku kembali waras. Sedikit demi sedikit aku mengumpulkan kepingan hati yang berserakan. Seiring dengan semakin sehatnya aku, aku pun mulai kembali meniti karir. Sudah lima belas tahun berlalu, namun rasa sakit akan kehilangan yang tragis belum juga pulih. Dan masih belum tahu kapan aku akan menikah. Namaku Joe, orang biasa memanggilku Jones, si jomblo ngenes. Karena nasib percintaanku memang ngenes. foto: shutterstock

Long March Demi Aksi Damai 212

Yang kemarin bilang peserta aksi damai tempo hari itu dibayar Rp 500ribu per orang sudah jelas menyakiti banyak orang yang jelas-jelas terpaksa meninggalkan bisnis/pekerjaannya demi aksi damai. Beberapa teman saya yang punya omzet per hari puluhan juta, ikhlas tutup sehari demi ke Jakarta ikut aksi. Masa iya cuma ngejar Rp 500ribu??? Demi mengikuti aksi 212, ribuan orang dari Ciamis jalan kaki ke Jakarta dari Senin (28/11/2016) kemarin. Dan sepanjang jalan mereka dijamu air minum dan makanan oleh masyarakat. Jumlahnya ribuan dan kalau mereka semua dibayar, wihhh tajir juga ya gembongnya. Mereka jalan kaki karena sebelumnya para PO Bus dilarang mengantar jemput peserta aksi damai dari luar Jakarta. Jadi ya mereka jalan kaki, meskipun akhirnya belakangan PO Bus luluh. Kok ya mereka mau-maunya sih? Itu namanya ghirah! Semangat karena terketuk hatinya ketika ada orang yang menghina Al quran pedoman hidupnya. Meski proses hukum sudah berjalan namun harus dikawal biar lain kali tidak ada orang yang sembarangan menghina Al Quran, Injil atau kitab ajaran lain yang sudah pasti dijadi pegangan hidup penganutnya. Mereka tidak peduli dengan Pilkada! Mereka hanya ingin lain kali tidak ada yang menghina kitab suci. Kalau akhirnya Pak Basuki yang dibanggakan itu harus kehilangan suara. Ya salahnya dia sendiri. Kalau ternyata itu teks dari pembisik beliau ya silahkan dipenjara pembisiknya jangan pak Basuki. Kalau seandainya dia tak pernah salah bicara. Mungkin sampai detik ini masih dielu-elukan banyak orang termasuk muslim. Karena sebelumnya kebanyakan muslim tak peduli siapa yang memimpin Jakarta asal berprestasi. Tapi ketika dia yang dibanggakan menyenggol ranah kitab suci, kebanyakan muslim marah. Bahkan ada teman saya yang sebelumnya tak peduli dengan Al Quran, shalat pun jarang jadi ikut kembali ke Quran. Ini bukan perang agama atau ras bung!!! Para peserta juga tergabung dari beragam ras termasuk Cina. Mereka pun banyak yang masih punya ayah/ibu, saudara non muslim yang mencintai dan dicintai. Dan ada juga beberapa teman non-muslim yang taat ibadah, ikut menyayangkan sikap Ahok. Karena dia juga tak rela bila injil yang jadi pegangan hidupnya dihina dina oleh orang lain. Saya tidak mau menyinggung segolongan orang yang tak peduli bila kitab sucinya, baik itu Al Quran, Injil dan lainnya dihina tapi cuek bebek. Coba tanya lagi, dia rajin ngaji gak? Rajin ke gereja gak? Suka baca injil gak? Mayoritas pasti marah. Tapi ada yang ambil sikap vulgar dengan beraksi atau posting sesuatu. Ada juga yang pilih diam karena takut salah dan akhirnya memperkeruh suasana. Tapi ada juga sekelompok kecil yang 'nyinyir' tapi gagal paham. Aksi 212 ini aksi damai. Insya Allah damai! Lah wong dress codenya itu baju putih, alat sholat dan Al quran. Kalau ada yang sampai bawa senjata, tolong dicek itu 'anak mana'? Jangan-jangan sholat aja dia tidak pernah. Di komunitas yang saya ikuti, selama aksi peserta wajib murojaah. Murojaah itu mengulang hafalan Al Quran. Para hafiz/hafizah dan calon penghafal quran ini harus selalu menjaga shalat dan sikap kalau tidak mau hafalannya hilang. Jangankan menyakiti orang, nonton tayangan seronok saja bisa langsung dihapus sebagian hafalannya. Akhir kata, selamat beraksi dengan damai! Setelah ini yuk yang merasa beragama dan masih percaya pada Tuhan kembali pada agama dan kepercayaannya masing-masing. Yang Islam ya coba Al quran sama haditsnya sering-sering dibaca. Yang kristen coba itu injilnya sering dibaca, begitupun yang lain. Foto sumber: Facebook akun Ing

Kamis, 27 Desember 2012

The Sweetest Escape

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menyentuh rumah maya ini. Hingga saya harus membersihkan debu demi debu yang bertebaran di setiap sudut rumah. Hampir setahun saya menghilang. Setahun persis setelah saya resign dari tempat yang menaungi saya selama hampir 4 tahun lebih.

Apakabar saya?

Saya memang seperti bersembunyi sejenak. Sepanjang 2012 ini, banyak hal yang terjadi pada diri saya. Tuhan memberi kejutan indah sebagai buah dari kesabaran saya. Saya akhirnya menjadi ibu. Tuhan mengganti rencana studi saya untuk meraih gelar master dengan gelar 'ibu'.

Apakah saya bahagia?

Tentu saja saya bahagia. Sebetulnya setelah saya menyelesaikan novel 'Sekuntum Laila', entah bagaimana saya yakin seyakin-yakinnya bahwa dalam waktu yang tak lama lagi saya akan menjadi ibu dari seorang bayi lelaki. Seperti ketakutan, nasib saya akan berakhir seperti Laila dalam novel saya. Dan saya juga takut bila bayi lelaki itu juga akan bernasib sama seperti Tegar dalam novel tersebut. Maka saya lari... Saya lari dari setting yang melatar-belakangi novel saya. Saya resign...saya lari dari semua hal yang membuat saya dejavu dengan novel yang saya tulis sepenuh hati 'Sekuntum Laila'. Dan ternyata itu adalah pelarian termanis sepanjang hidup saya.

Saat pihak universitas mengirimkan surat penerimaan aplikasi saya saat itu. Sebetulnya saya tidak benar-benar bungah. Saya gamang. Entah mengapa nyali saya menjadi ciut kalau saya harus hamil dan melahirkan saat saya masih berjibaku untuk menyelesaikan S2 saya di luar negeri. Dan ketika akhirnya saya gagal karena paspor lama saya yang hilang, sebentar saya memang menangis tetapi kemudian hati saya dirasuki ketenangan luar biasa.

Saya masih ingat persis bagaimana di suatu malam, di bulan Januari 2012 saya bermimpi bertemu dengan 2 bayi yang menangis. Dalam mimpi, naluri keibuan saya bangkit. Saya membopong salah satu bayi yang ternyata berjenis kelamin lelaki, membersihkannya kemudian memakaikan baju terbaik. Saat saya selesai dengan si bayi lelaki, saya mencari bayi perempuan yang tadi saya tinggalkan. Namun ternyata bayi itu sudah hilang tanpa jejak. Sejenak saya merasa bersalah karena mengabaikan bayi yang lain. Kemudian saya malah asyik sendiri dengan bayi lelaki mungil yang ada di pelukan saya. Kemudian saya pergi membawa bayi itu bersama keluarga.

Sebuah pertandakah?

Iya benar, saya hamil dan siapa sangka bayi itu memang bayi laki-laki seperti dalam mimpi. Saya hamil dalam pelarian. The Sweetest escape! Saya baru saja move on dari zona ternyaman dalam hidup saya dengan perasaan hancur. Dan masih belum terima kalau saya mesti memulai semuanya dari awal. Saya berlari sekencang-kencangnya dan menabrak semua kesempatan yang datang. Padahal saya masih belum tahu pasti mau apa.

Ketika saya hampir lelah berlari, saya justru berhenti pada satu titik. Menyadari bahwa ada kehidupan di dalam rahim saya. Ya Tuhan! Alhamdulillah. Saya bahkan hampir lupa kalau pada satu masa saya harus menjadi ibu. Tuhan seperti mempersiapkan saya melalui serangkaian peristiwa yang tidak mudah untuk dilalui. Saya pernah diteror, nyaris mati dalam sebuah kecelakaan maut, berhadapan dengan mafia, menuntut oknum korporasi internasional, berhadapan dengan pengacara internasional, dan lain-lain. Saya hampir tidak yakin, kalau saya sekarang berada di titik ini.

Saya tidak terlalu banyak bercerita kepada banyak orang. Saya hanya membagikan sekelumit cerita kepada beberapa orang hingga menjadi kepingan-kepingan puzzle yang harus disusun hingga menjadi cerita utuh. Karena tidak banyak yang bisa mengerti posisi saya. Dan ketika di awal kehamilan saya pun, saya tetap membisu. Saya membungkus rahasia itu dalam kata-kata. Ada semacam ketakutan kalau saya akan kehilangan, apabila saya terlanjur sesumbar mengekspresikan kebahagiaan akan kehamilan saya. Dan saya tidak siap untuk kehilangan dalam pelarian. -to be continued-

Senin, 20 Februari 2012

SEKUNTUM LAILA



Inilah dia yang dinanti-nanti, novel Sekuntum Laila yang jadi buku kelimaku. Novel ini adalah edisi revisi dari 'Catatan Harian Laila'. Novel ini akan segera beredar di seluruh toko buku di Indonesia mulai awal bulan Maret 2012. Dan itu adalah bulan kelahiran aku. Novel ini beneran jawaban dari mimpiku, yang ingin menandai hari bersejarahku dengan masterpiece.

Akhir kata semoga novel ini memperi pencerahan untuk kita semua ya. Silahkan cari dan beli bukuku di toko buku kesayangan Anda semua. Terima kasih.

Salam Cinta!

Romance, dan isu 'perhatian' dalam setiap hal di kehidupan ini memang selalu hangat, tak akan padam, dan terus menjadi pelajaran kita. Kondisi, kadang membuat niat dalam hati seseorang, tampak berbeda.

Novel ini adalah cerita yang bisa mengisi kita semua dengan kesadaran , bahwa mencintai seseorang, adalah aktualisasi diri yang nyata.


Syaharani (Penyanyi Jazz)

True love can't be judged, analyzed nor dictated. But truly can be sensed or felt. Tidak ada yang salah, ketika kuasa Ilahi memberi arti cinta dalam bentuk apapun kepada manusia. Novel ini bukan tentang cinta segitiga, namun bagaimana 3 manusia bisa memahami berkah cinta tersebut. A great love story by risma budiyani

Tommy Tjokro (Presenter Metro TV)

Cinta itu Suci, seperti kesucian cinta Laila kepada Ali. Cinta itu Pemahaman, seperti Ali yang pada akhirnya memahami bahwa sejatinya Istana Cinta bagi Laila adalah keberadaan Ali untuk selalu di sisinya, dan bukan Istana Cinta bertahtakan materi. Cinta itu Penghormatan, Ramzi menghormati Laila atas Cinta Sucinya.

Novel ini sebagai pengingat bahwa tidak selamanya ambisi atas nama cinta, bisa membahagiakan cinta itu sendiri. Wahai para pecinta mendengarlah dengan Nurani mu :)


Asti Mochtar (Presenter-Model)

Rabu, 21 Desember 2011

Surat Resign



Berikut adalah surat resign saya untuk teman-teman tercinta di sarang elang. Sepertinya lucu kalau dishare di sini. Baca yah....

Beberapa hari ini tiba-tiba saya mengalami sakit kepala yang teramat. Hari yang menakutkan dalam sepanjang hidup saya akhirnya akan segera terjadi. Saya akan mengundurkan diri secara resmi dari kantor pemberitaan tempat saya menghabiskan masa-masa indah selama 4 tahun ini.

Saya sudah memikirkan masak-masak keputusan saya ini selama hampir setahun lebih. Namun tetap saja menjelang detik-detik kepergian saya dari sebuah tempat yang saya anggap ‘surga’ ini saya sedih sesedih-sedihnya. Kalau saya boleh melukiskan perasaan saya selebay-lebaynya. Maka ini adalah kesedihan paling mengerikan sepanjang sejarah saya. Rasanya baru kemarin saya melamar, tes dan akhirnya menjadi bagian dari hidup saya selama 4 tahun belakangan. Dan kini saya sudah harus pergi membawa luka. Luka akan perpisahan yang menyedihkan.

Ingatan saya tiba-tiba mundur ke belakang, tepat pada tanggal 3 September 2007.
Saya berjalan menyusuri lorong dengan interior desain mewah ala hotel. Masih dengan kekaguman, mataku menerawang pada setiap detil lorong. Sesekali mengintip sepintas lalu dari kaca pintu-pintu yang tertutup rapat. Rasa ingin tahu saya yang besar di antara segenap kekaguman yang membuncah mendorong saya untuk mencari tahu ada apakah gerangan di dalam pintu-pintu yang mirip kamar hotel itu. Bila gelagat saya tertangkap mata orang yang lalu-lalang, saya buru-buru mengalihkan pandangan ke permadani cantik yang menutupi seluruh lantai di lorong. Lagi-lagi otak saya sibuk menghayalkan apakah di balik karpet itu ada ubin keramik, marmer atau malah tanah. Ah tak penting….

Saya masih berjalan di lorong yang sebetulnya tidak terlalu panjang. Namun saya menikmati sekali setiap langkahku. Ini kali pertamaku menginjakkan kaki di sebuah kantor pemberitaan. Hari ini ada serangkaian tes yang harus saya lalui. Bila saya mampu melewatinya, maka dalam bilangan minggu saya akan menjadi bagian dari tempat ini. Perasaan senang tiba-tiba menyeruak tanpa permisi dari dalam hati. Namun segera saya tepis dengan kegalauan alami yang mengalir begitu saja. Galau, khawatir, berdebar, semua bercampur menjadi satu. Saya menghentikan langkah sejenak demi membenarkan posisi tas tangan, menarik nafas dalam dan menghembuskannya kembali secara perlahan demi sebentuk perasaan lega. Kemudian saya melangkahkan kaki dengan gagah layaknya seorang prajurit yang siap bertempur di medan laga.

Akhirnya saya menemukan meja bundar besar di dekat dua mesin fotokopi. Saya sedikit celingak-celinguk memastikan bahwa saya tidak salah menafsirkan petunjuk ibu-ibu personalia yang baru beberapa menit lalu kutemui. Damn! Tidak ada tulisan atau papan nama yang memberikan sedikit informasi tentang ruangan apa itu.

Saya sempat menghentikan langkah lagi. Kali ini saya mengedarkan pandang pada lebih dari 5 orang berpakaian hitam putih sama seperti yang saya pakai. Terlihat dari ekspresinya, mereka pasti sedang menantikan sesuatu. Kesemuanya perempuan, kecuali satu-satunya laki-laki berbadan tinggi tegap, dengan rahang yang kuat, berkulit agak gelap, hidung sedikit mancung dan bermata polos. Dia satu-satunya makhluk ganteng di antara sejumlah perempuan yang mengelilingi meja bundar.

Saya pun menghampiri mereka, sambil sedikit berbasa-basi. Dari situ saya tahu bahwa mereka semua sedang menantikan hal yang sama dengan diriku.

“Silahkan!” Lelaki tegap itu berdiri dan menyorongkan kursinya kepadaku sebagai isyarat dia mempersilahkan saya duduk.
” What a gentleman…” dalam hati saya berseru.
Serius?!?”
“ Tentu saja serius….”
Tanpa banyak cingcong saya pun menghempaskan pantat ke kursi kulit imitasi berwarna hitam itu.

“Terimakasih…”

“ Sama-sama…” Pria itu kelihatannya masih bersikap sok gentleman.

“ Ohya saya Risma….” Saya mengulurkan tangan kepadanya. Mata kami saling bersirobok. Tangannya meraih tangan saya dan kami pun berjabatan.

“ Yusuf…”

Yusuf adalah salah satu dari sepuluh orang pertama yang saya kenal di kantor itu. Yusuf yang fresh graduate dari universitas yang sama dengan saya. Sehari kemudian akhirnya saya tahu, dia adalah bagian riset dari divisi tempat saya ditempatkan.
Yusuf yang polos adalah sasaran empuk untuk digoda. Kelucuan demi kelucuan terjadi begitu saja tanpa permisi oleh tingkah polahnya yang lucu. Yusuf yang memiliki wajah mirip Presiden Amerika Serikat, Barack Obama hanya mengenal hitam dan putih, tidak ada abu-abu. Namun Yusuf terlebih dahulu lulus dari kantor pemberitaan itu.

Yusuf adalah salah satu dari sekian banyak teman yang menoreh kisah manis di dalam hidup saya sepanjang berada di divisi marketing. Masih ada Resti, Christi, Ugi, Wahyu, Kristin, Dewi, Tari, Hanum, Mas Ari, Mbak Viza Ci Catherine, bos kami yang cantik dan baik, Wiwit dan Fahmi.

Walau saya tahu, Desember 2011 adalah bulan terakhir saya di tempat ini. Namun hingga hari ke-15 di bulan Desember 2011, saya masih belum bergeming. Saya belum juga menyerahkan surat resign yang sudah saya buat sejak dari jauh-jauh hari. Beberapa malah menyangsikan kesungguhan saya untuk pergi, mengingat saya sudah berkali-kali mengurungkan niat untuk mundur.

Sudah beberapa bulan ini saya memang berhenti melihat kalender kalau tidak terpaksa. Saya tidak tahu tanggal secara persis. Saya hanya tahu hari bekerja dan tidak bekerja. Saya hanya merasa takut kalender akan mengingatkan saya bahwa saya kian dekat dengan hari kepergian saya. Lagipula saya benar-benar sedang disibukan oleh sejumlah urusan yang menguras pikiran saya.

Beberapa kali Mas Agus, Mas Fatah, juga Mas Sofyan menanyakan kesungguhan saya untuk mengundurkan diri dan meminta saya untuk memikirkan berulang kali. Berulang kali saya berusaha meneguhkan diri saya. Bermalam-malam saya tidak bisa tidur sebelum larut malam. Ada semacam ketakutan tak terkira bila saya harus berpisah dengan kehidupan yang indah selama 4 tahun ini.

Tiba-tiba saya teringat dengan impian masa kecil saya selain menjadi penulis besar. Dulu saya penggemar serial Ninja Turtle Teenage Mutant, salah satu idola saya adalah April O’Neal tokoh reporter perempuan yang bekerja untuk Channel 6. Maka saya ingin sekali bekerja di sebuah kantor pemberitaan. Ketika beranjak dewasa, saya hanya menemukan satu-satunya kantor pemberitaan di Indonesia hanya Metro TV. Maka disanalah saya bercita-cita.

Saya hampir kehilangan cita-cita ketika saya malah menjadi lulusan Sarjana Pertanian IPB. Saya tahu bahwa mungkin takdir saya akan berakhir di sebuah perkebunan kelapa sawit. Ternyata takdir malah berkata lain. Lulus IPB, bekerja di sebuah shipping company, menelurkan satu novel perdana yang memperkenalkan saya pada Metro TV. Saya dipanggil untuk live interview sebagai narasumber di sebuah morning program. Dan setahun kemudian malah saya resmi bergabung di sarang elang.

Saya bahagia, walau mungkin saya tidak pernah menjadi bagian dari garda depan kantor pemberitaan seperti yang saya impikan. Tetapi setidaknya bakat menulis saya tersalurkan. Tipikal Pisces, saya bukan pengejar materi ataupun karir. Saya bekerja sungguh-sungguh untuk kepuasan batin saya. Ketika kebanyakan orang di luar sana merutuki gaji atau karir yang tidak naik-naik, saya hanya tersenyum. Saya bersenang-senang dengan pekerjaan saya. Saya bahagia dikelilingi orang-orang baik yang membuat saya merasa nyaman. Siapa nyana dua novel saya malah terbit di sini, satu novel yang menunggu terbit juga terilhami oleh kisah-kisah indah di sarang elang.

Saya bangga menjadi bagian dari sekumpulan elang. Secara perlahan filosofi elang merasuk dan membuat saya ikutan militan. Saya bersyukur saya tidak merasa ikut berdosa menjadi bagian yang merusak moral bangsa melalui tayangannya. Saya bangga bisa berdekatan dengan orang-orang cerdas yang terpilih dari berbagai latar belakang.
Tempat ini seperti rumah kedua bagi saya. Bahkan mungkin lebih dari separuh hidup saya selama 4 tahun ini dihabiskan di kantor. Rumah hanyalah tempat numpang tidur. Selebihnya saya menghabiskan masa-masa indah yang penuh tawa di kantor.

Ketika hati saya terluka oleh badai yang menghempas hidup saya. Maka kantor adalah pelarian yang manis. Seketika luka saya lenyap mendengar celoteh teman-teman tercinta di kantor. Tertawa terbahak-bahak sampai saya lupa kesedihan saya. Sesampainya di rumah, selalu ada cerita yang bisa disampaikan untuk orang-orang terkasih. Di akhir cerita mereka yang mendengar kisah saya selalu berkata, “ what a wonderful office life...”

Saya tidak peduli dengan office politic. Saya bersenang-senang dengan pekerjaan saya di kantor. Mungkin karena saya memang tidak perlu memikirkan uang atau karir. Alhamdulillah, Tuhan memberikan saya talenta untuk mendapatkan pendapatan lain selain gaji.

Pada dasarnya saya adalah pribadi yang ceria. Saya hampir tidak pernah mengkhawatirkan hal-hal remeh. Saya extrovert yang sangat ekspresif. Semua orang bisa tahu kapan saya sedang bahagia, kapan saya sedang gundah gulana. Saya suka bercerita tentang hayalan-hayalan, kucing-kucing ataupun hal lain yang mengundang tawa. Begitupun saya suka mendengarkan.

Suara saya yang memekakan telinga, gaya saya yang extra-ordinary menjadi icon tersendiri. Dan teman-teman akan cemas bila saya kehilangan itu semua. Sesuatu pasti sedang terjadi.

Suatu kali memang saya membisu selama hampir sebulan. Saya sedang dirundung sedih teramat hingga tak sanggup berkata-kata. Itu pun sudah membuat seisi ruangan resah. Suara saya kembali bersamaan dengan kemunculan novel saya. Pernah juga saya membuat kehebohan dengan menangis karena hal yang bahkan saya tidak mengerti ujung pangkalnya. Saya sedang dalam keadaan tertekan maka hal kecil bisa saja membuat saya menangis. Selebihnya saya hanya tertawa dan tertawa. Saat-saat ke kantor adalah hal yang paling menggembirakan.

Tahun lalu, 26 Oktober saya mengalami kecelakaan terparah dalam hidup saya yang hampir membuat saya kehilangan tangan kanan saya. Saat saya sedang terbaring tak berdaya sendirian di ruang ICU dengan wajah sembab menahan sakit yang teramat. Senyum Mas Sofyan dan Mas Fatah lah yang pertama kali saya lihat. Mereka yang menguatkan hati saya.

Menjelang detik-detik operasi, mbak Besti datang bersama sang suami membawakan setumpuk majalah sebagai hiburan selama menjalani masa perawatan pasca operasi. Dan Bang Parlin, salah seorang karyawan senior yang juga pendeta datang hanya untuk mendoakan agar Tuhan melindungi saya. Dan saya menangis haru seharu-harunya.
Setelah itu kunjungan tak ada habis-habisnya dari teman-teman kantor. Belum lagi gerombolan marketing yang menghebohkan satu lantai rumah sakit karena kami tertawa-tawa heboh. Saya tidak peduli lagi dengan anjuran dokter untuk beristirahat total. Saya bahagia didatangi teman-teman saya.

Ah, betapa saya menemukan surga di tempat ini. Hidup saya penuh warna dengan kehadiran teman-teman saya. Saya jatuh cinta. Dan saya terpasung dalam cinta. Saya hampir tak memikirkan nasib saya yang masih menggantung hingga seorang malaikat tanpa sayap meyadarkan saya, bahwa mungkin tempat ini bukanlah tempat yang tepat untuk meraih mimpi.

Berkali-kali saya hampir mengikat janji dengan kantor lain. Dan ketika saya mempergunakan waktu saya untuk menimang-nimang keputusan saya. Saya kembali bercengkrama dengan teman-teman saya. Tiba-tiba saya merasa seperti berkhianat. Entah berkhianat pada apa dan siapa. Saya malah serta merta memutuskan untuk mundur sebelum mengikat janji.

” Kamu tidak perlu pergi...” Suara Fred menyadarkan lamunan saya. Mata saya berkaca-kaca. Saya tersenyum kepada teman saya yang paling sering meledek saya.

” Harus, bukannya kamu senang. Kamu kan yang sering meledek aku?”

” Sejak kapan kamu mengambil hati ledekanku?”

Dalam hati saya gamang segamang-gamangnya. Saya hampir tidak yakin dengan jalan yang akan segera saya tempuh. Belum lagi kalau harus mengingat semuanya tiba-tiba berjalan tidak sesuai rencana.

Ketika saya berkata dengan lantang untuk menegaskan bahwa perkataan saya kali ini adalah benar. Saya benar-benar akan menyerahkan surat resign itu. Maka Fred mengancam saya untuk merobek-robek surat itu.

Kali lain Mas Fatah menanyakan apakah saya sudah menyerahkan surat pengunduran diri karena pihak HRD tidak bisa memproses orang baru, kalau saya belum menyerahkannya. Saya menelan ludah. Benar juga, saat itu sudah tanggal 15 Desember. Saya segera menyeret langkah saya menuju bangku. Tangan saya gemetar membuka file surat resign yang sudah lama tersimpan dalam flash disc saya. Tiba-tiba saja air mata saya menetes tanpa ampun lagi. Saya menunduk, berusaha keras menahan diri agar tidak ada seorang pun yang melihatnya. Setelah puas menangis, saya segera menghapus air mata saya. Saya tatap sekali lagi surat resign di layar. Saya harus menarik nafas dalam-dalam untuk meneguhkan hati.

Tiba-tiba terdengar suara yang entah bagaimana terdengar begitu jelas di telinga saya, ” Ayolah Risma, bukankah ini yang sudah kamu rencanakan sejak jauh hari? Sekarang atau tidak sama sekali!”

Baru saya akhirnya memberanikan diri untuk menge-print surat itu. Tekad saya memang sudah bulat untuk memulai hidup baru di tahun baru. Saya harus, atau selamanya saya akan terpasung dalam cinta.

Setelah saya mengeprint surat pengunduran diri. Saya tersenyum getir. Sejenak saya berdiri terpaku memandang satu persatu teman-teman saya yang sedang asyik berceloteh sambil bercanda ria. Dalam bilangan hari saya akan kehilangan semua tawa, canda dan keceriaan ini. Tidak ada lagi yang mengolok-olok dan membuat saya kesal sekaligus tertawa terbahak-bahak hingga sakit perut.

Saya masih tersenyum, namun dengan luka hati yang menganga akan sebuah perpisahan. Tidak akan ada lagi suara cempreng Mas Sofyan yang menceriakan. Tidak ada lagi senyum manis dan candaan garing Mas Agus, yang juga seorang dosen. Tidak ada lagi Bang Parlin yang berceramah tentang jalan kristus. Tidak ada lagi cerita tentang Mas Miko, sang seniman nyentrik yang selalu berpikiran ‘out of the box’. Tidak bisa lagi melihat wajah Mas Fatah yang mirip dengan Mario Teguh. Tidak bisa lagi melihat ulah genit Endang menggoda para pria atau saat dirinya galau menanti Pangeran Fiji-nya. Atau ulah si Putri Nanet saat sedang berada di depan cermin.

Tidak akan ada lagi ejekan dari Fred, preman Labuhan Bajo yang takut akan kucing atau bulu-bulu. Celoteh si jenius Agung tentang para gadis yang ditaksirnya namun tak pernah dapat diraihnya.

Kemana saya harus beli pulsa kalau tidak kepada Emiria atau sekedar mendengarkan kisah-kisah hidupnya sambil naik motor berdua saja. Siapa lagi yang harus dibangkitkan rasa percaya dirinya kalau bukan Bedu si petualang.

Saya pasti akan ketinggalan cerita Lian dan bayi yang akan lahir. Saya mungkin tidak akan bertemu Rima saat dia masuk nanti. Saya pasti tak bisa lupa ketegasan sikap Mas Syaiful menantang AE yang ’bandel’. Saya pasti rindu ketegangan saat Imam Alawi menyetir mobil di jalan tol dengan kecepatan sangat tinggi hingga saya pikir saya akan mati, atau video lucunya yang menunjukan ’sisi lainnya’.

Saya pasti tak akan lupa aksi gila Meitha di tempat karaoke atau keberuntungan demi keberuntungan yang dia dapat dari setiap kuis yang diikutinya. Si cerewet Fina saat mengingatkan report.

Kang Azzust dan kulet-kuletnya (kulet adalah kue pelet dari para perempuan yang menggilainya). Saya pasti merindukan saat-saat kabur dari kantor hanya untuk window shopping dengan Nova. Atau senyuman Mbak Besty saat melihat ulah saya melancarkan serangan balasan kepada Kiki si motion grafis yang berulangkali mencandai saya. Saya pasti rindu bekal makan siang buatan ibu Yani sang sekretaris.

Saya pasti rindu saat-saat berwisata kuliner dengan mobil besar Mas Murti bersama teman-teman dah Rahmat. Saya pasti tak akan lupa dengan Brigitta yang saya jadikan tokoh dalam salah satu novel dan calon FTV saya. Saya juga pasti akan rindu mendengar kisah Marina dan LDR-nya. Sandy dan gayanya yang mengingatkan saya pada salah satu personil band. Saya pasti akan kehilangan Martinus sebagai partner belajar bahasa Spanyol. Juga suasana menegangkan saat Bu Yasmin datang.

Saya pasti akan selalu ingat bagaimana Pak Arief dengan sedemikian mempesonanya mengeluarkan ide-ide cerdas pada setiap meeting. Atau tingkah polah para AE yang terkadang menggelikan. Sani, Heru, Mbak Tatu, Sinta, dan lain-lainnya. Saya pasti rindu si elang ganteng yang berdiri angkuh di depan lobby 2. Begitu pun saya akan rindu masakan ala cafe yang entah bagaimana jarang sekali sesuai selera saya.

Saya akan rindu para satpam dan resepsionis yang menyapa saya ramah sambil bercanda-canda ria. Saya akan rindu senyum manis Pak Tua penjaga masjid saat saya datang atau ketika dia baru saja menemukan kejutan untuknya yang saya sembunyikan di dalam lemari mukena. Saya rindu wajah-wajah senyum yang menatap saya di sepanjang koridor. Dan mungkin saya akan rindu kucing-kucing kantor.

Sepertinya lay out ruang baru merupakan pertanda bahwa kemesraan marketing memang harus berakhir sampai disini. Saya benci mengatakan kata berpisah. Saya bangga pernah menjadi bagian dari hidup kalian. Saya ingin bilang, I love you all. Maafkan bila selama ini saya banyak salah.

Tidak ada farewell party, saya tidak akan merayakan hari perpisahan saya yang sulit. Saya bahkan tidak tahu apakah saya sanggup mengucapkan selamat tinggal di hari akhir saya. Mungkin saya akan lebih banyak diam di hari-hari terakhir ini. Saya sedang mudah menangis....mellow terbawa suasana.

Semuanya akan berhenti sampai di sini. Mungkin jikalau pertemanan kita masih berlanjut, semuanya pasti akan berbeda. Tidak akan sama. Semuanya berubah. Pertemuan dan perpisahan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, karena perpisahan akan membawa kita akan pertemuan yang lain. Setiap manusia harus menyiapkan mental untuk keduanya.

Akhirnya dalam bilangan hari saya akan segera pergi meraih asa. Semoga asa itu membawa kebahagiaan, keceriaan yang lebih dan tidak bisa saya temukan ketika kita bersama. Saya akan merajut masa depan yang selama ini hanya mimpikan. Cerita telah usai sampai di sini, namun kenangan akan kalian akan selalu ada di hati saya.
#Bersambung ke bagian ’Ketika Saya Memilih Passion”#

Selasa, 12 Juli 2011

NEVER SAY GOODBYE, VIZA!




Hari ini lagi-lagi aku akan kehilangan satu orang penting dalam hidupku. Orang yang sedikit banyak telah membantu aku memaknai hidup yang tak selalu manis. Bahwa terkadang hidup juga harus kecut bahkan pahit.

Namanya Teja Ofteviza. Namun aku biasa memanggilnya dengan sebutan Mbak Viza. Kupanggil mbak, karena dia lebih senior beberapa tahun di atas aku.

Perkenalanku dengannya layaknya perkenalan dengan teman-teman kantor lainnya. Saat itu aku masih perawan kencur di kantor pemberitaan itu. Dengan malu-malu kusodorkan tangan kepada perempuan manis yang kurus di hadapanku.

"Viza..." Dia tersenyum padaku sambil meraih tanganku.

"Risma..." Aku jawab dengan senyum yang tak kalah manis.

" Dari IPB?"

" Iyah..."

Mbak Viza mengangguk dan dia segera melanjutkan pekerjaannya. Aku melirik sekejap deretan angka dan tabel-tabel yang bertebaran di layar monitornya yang sungguh tidak aku mengerti. Aku pun segera beringsut menghampiri penghuni ruang marketing lainnya.

Belakangan aku tahu, Mbak Viza adalah senior riset marketing di kantor pemberitaan itu. Dialah orang di belakang layar yang meramu data AC Nielsen menjadi laporan yang digunakan para decision maker untuk berdiskusi dan bertindak. Dia juga yang membuatkan data 'maha penting' untuk para account executive kami berjualan iklan.

Latar belakang statistika dari sebuah universitas ternama bernama IPB membuatnya memiliki nalar logis yang melebihi orang-orang kebanyakan. Semua didasarkan atas sebuah fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Dia selalu menggelitik pikirku yang sangat imajinatif dengan hal-hal riil. Dia selalu membuat hipotesa berdasarkan asumsi yang kelihatannya sudah dipikirkan masak-masak dengan memakai teori statistika. Kelihatan sekali pasangan hidupnya yang juga ahli riset, mencekoki alam pikirannya dengan hal-hal logis dan 'berat'.

Selanjutnya, dia menjadi 'partner in crime' yang tidak terpisahkan. Terutama dalam hal belanja dan diskon. Dimana ada aku hampir selalu ada dia. Puri Mall, Taman Anggrek, Tanah Abang, Sarinah menjadi saksi bisu betapa aku dan dia telah menghabiskan masa-masa ceria kami bersama.

Dia mirip ibuku, Sagitarius. Kalau menginginkan sesuatu harus terjadi saat itu juga. Walau akhirnya dia akan menyesalinya nanti.

Masih ingat bagaimana hebohnya dia ketika menginginkan sepasang sepatu crocs warna putih seharga 500 ribu. Dia nekat menjemput sepatu impiannya di sebuah pusat perbelanjaan Sudirman saat lunch break. Dan dia tidak melupakan aku, dia pun membelikannya untukku.

Mbak Viza adalah online shopper yang tidak pernah kapok walau sudah ditipu berkali-kali. Kepribadiannya yang sangat independen hampir tidak membutuhkan nasihat orang lain.
Satu hal yang membuat aku terkagum-kagum dengannya adalah dia satu-satunya perempuan tangguh di tim kami dengan jarak rumah ke kantor terjauh. Setiap hari Bogor-Jakarta-Bogor bukanlah hal yang mudah bagi ibu beranak dua.

Pagi-pagi buta saat kebanyakan warga Jakarta termasuk aku, masih di alam mimpi. Dia sudah bangun dan berjibaku dengan aktivitasnya. Memacu motornya dari rumah ke stasiun Bogor. Naik KRL Express tujuan Gondangdia. Dari Gondangdia, dia kembali memacu motor yang dititipkannya ke Kedoya.

Bisa dipastikan, dirinya hampir selalu tidak bisa datang tepat 8.30 pagi. Namun sebelum jam 9 dia sudah tiba di ruangan dengan penuh peluh, namun tetap dengan wajah penuh senyum. Semangat yang menyala-nyala. Tepat jam 17.30 dia sudah melesat memacu motornya, mengejar kereta. Bayangan dua anaknya sudah menari-nari di matanya.

Sekalipun jarak yang teramat jauh untuk ditempuh, Mbak Viza tetap berusaha untuk profesional. Satu-satunya alasan dia tidak masuk selain cuti tahunan adalah sakit anaknya. Atau dia benar-benar sudah tak berdaya untuk mengejar kereta. Dia selalu berkata, betapa malunya bila dia harus membolos karena alasan yang dibuat-buat. Tentu saja kata-kata itu menjadi tamparan tersendiri buat aku. Kala aku sedang tak bersemangat 'ngantor' maka bayangan Mbak Viza yang mengejar kereta dengan penuh peluh adalah semangatku.

Suatu kali di salah satu pusat perbelanjaan tempat aku dan dia menghabiskan waktu untuk shopping dia berkata.

"Aku mau resign."

Tentu saja aku mendelik dan membuatku hampir tersedak oleh minuman dingin yang sedang kuseruput. Hal itu membuatku terkejut, karena kutahu dia adalah superwoman yang paling loyal di tim-ku. Masa 9 tahun pengabdian adalah buktinya.

Dan dia mengangguk, sambil buru-buru mengalihkan pandangannya. Dia menyeruput lemon ice tea-nya.

Lagi-lagi mbak Viza menatapku yang penasaran. Dia terlihat menghela nafas demi membentuk kekuatan.

"Aku berusaha keras menjadi ibu yang baik buat Darell dan Abel.Tidak mungkin karir profesional selaras dengan karir sebagai ibu dan istri. Harus ada yang dikorbankan."

Suara mbak Viza semakin parau.

"Aku hampir tidak bisa melihat tumbuh kembang anak-anakku.Aku pergi saat mereka masih tertidur dan tiba di rumah saat mereka sudah beranjak tidur. Aku terlalu lelah. Perjalanan Jakarta-Bogor yang sudah 9 tahun kutekuni kini terasa cukup melelahkan.Rasanya sudah saatnya aku memutuskan memilih salah satu. Dan aku tidak mau lagi mengorbankan keluargaku demi materi."

Sejak pembicaraan itu berbulan-bulan lalu. Mbak Viza berusaha keras membulatkan tekadnya yang berulang kali nyaris batal. Dia memikirkan bagaimana jadinya jadi Full Time Mommy yang bergantung 100% pada gaji suami.

Pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana dia mengatur uang yang hanya bersumber dari gaji suami? Bagaimana dia bisa memenuhi gaya hidup sebelumnya? Bagaimana dia mencari penghasilan tambahan tanpa mengorbankan keluarga agar dapur tetap mengebul? Dan pertanyaan-pertanyaan lain berseliweran di pikirannya.

Dan akhirnya dia telah memutuskan setelah melewati pergulatan batin. Berkali-kali dia berdialog dengan Tuhan melalui istikharah. Dan dia belajar ikhlas akan keputusannya. Dia yakin Allah Maha Kaya, Allah lah yang kelak akan menolongnya kala sempit seperti biasanya.

Hari ini adalah hari terakhir Mbak Viza di kantor. Aku masih bisa melihat betapa berat hatinya meninggalkan 'surga'-nya. Di akhir masa jabatannya, dia masih saja mengkhawatirkan hal remeh temeh tentang apakah Agung partner risetnya akan baik-baik saja sepeninggalnya. Apakah Imam si anak baru sudah siap mental melebur diri di riset?

Hari-hari awal pasti akan berat. Dia akan kehilangan aku yang berceloteh tentang kucing-kucing dan hal-hal lain dengan gaya lebay dan suara keras. Salam super Mas Fatah si Mario Teguh gadungan. Gaya sok bijak Mas Syaiful. Mas Miko sang BOD yang datang dan pergi sesuka hati. Fred Mr. Serok Khan preman Labuhan Bajo yang takut dengan boneka atau kucing. Emiria sang juragan pulsa.

Bedu si anak musholla , Imam sang misterius. Celoteh Agung tentang perempuan yang ditaksirnya namun tak pernah berani didekatinya. Si Nanet, putri Cina Bangsawan. Rima dengan kehamilannya.

Kang Azzust dengan kulet-kuletnya. Gaya nyentrik Nova. Pak Dosen AM yang memaparkan teori komunikasi. Bu Kepala Sekolah CK yang sangat baik dan cantik. Bang Parlin sang pendeta yang selalu berbicara berdasar Injil. Avi si Cina Pasar yang selalu dibandingkan dengan Nanet.

Yani sang sekretaris dengan agenda meetingnya. Meitha Bieber, si alay Wiwit, si Cablak Fina. Atau celoteh Mas Sofyan yang selalu mengaku-ngaku sebagai mantan pacar Mbak Viza. Kisah Mbak Besty dengan petinggi Japfa dan Camat Sukabumi. Fahmi si kreatif yang biasa dipanggil Cun oleh si Tomboy Nova. Dan sudah pasti si Mr. Telat Kiki.

Kamu tahu apa yang paling aku syukuri dalam hidup?

Aku punya sahabat-sahabat seperti kamu dan yang lainnya. Orang-orang yang selalu membuatku tersenyum sekalipun aku sedang terluka.

Di sini aku bahagia. Aku tidak merasa bekerja sekalipun seringkali dikejar deadline. Betapa banyak kenangan manis yang tertoreh di sini. Menjadi elang, berkumpul dengan sekawanan elang.

Hari ini Mbak Viza akan pergi meraih asa. Kudoakan semoga asa itu membawa kebahagiaan, keceriaan yang tidak ditemukannya di sini. Cerita telah usai sampai disini. Namun kenangan akan mbak Viza selalu ada di hati kami.

Never say Goodbye!

Karena sejatinya perpisahan itu tidak pernah ada untuk sahabat sejati.