<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606</id><updated>2012-01-05T20:10:26.829-08:00</updated><title type='text'>Rhapsody Kehidupan</title><subtitle type='html'>.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>47</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-2118543980691072288</id><published>2011-12-21T20:41:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T20:46:54.567-08:00</updated><title type='text'>Surat Resign</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-eYYW_3E-0GA/TvK2I2jkybI/AAAAAAAAAW4/GK-KvSEiQBk/s1600/7.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-eYYW_3E-0GA/TvK2I2jkybI/AAAAAAAAAW4/GK-KvSEiQBk/s320/7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5688809542522292658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah surat resign saya untuk teman-teman tercinta di sarang elang. Sepertinya lucu kalau dishare di sini. Baca yah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari ini tiba-tiba saya mengalami sakit kepala yang teramat. Hari yang menakutkan dalam sepanjang hidup saya akhirnya akan segera terjadi. Saya akan mengundurkan diri secara resmi dari kantor pemberitaan tempat saya menghabiskan masa-masa indah selama 4 tahun ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah memikirkan masak-masak keputusan saya ini selama hampir setahun lebih. Namun tetap saja menjelang detik-detik kepergian saya dari sebuah tempat yang saya anggap ‘surga’ ini saya sedih sesedih-sedihnya. Kalau saya boleh melukiskan perasaan saya selebay-lebaynya. Maka ini adalah kesedihan paling mengerikan sepanjang sejarah saya. Rasanya baru kemarin saya melamar, tes dan akhirnya menjadi bagian dari hidup saya selama 4 tahun belakangan.  Dan kini saya sudah harus pergi membawa luka. Luka akan perpisahan yang menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan saya tiba-tiba mundur ke belakang, tepat pada tanggal 3 September 2007.&lt;br /&gt;Saya berjalan menyusuri lorong dengan interior desain mewah ala hotel. Masih dengan kekaguman, mataku menerawang pada setiap detil lorong. Sesekali mengintip sepintas lalu dari kaca pintu-pintu yang tertutup rapat. Rasa ingin tahu saya yang besar di antara segenap kekaguman yang membuncah mendorong saya untuk mencari tahu ada apakah gerangan di dalam pintu-pintu yang mirip kamar hotel itu. Bila gelagat saya tertangkap mata orang yang lalu-lalang, saya buru-buru mengalihkan pandangan ke permadani cantik yang menutupi seluruh lantai di lorong. Lagi-lagi otak saya sibuk menghayalkan apakah di balik karpet itu ada ubin keramik, marmer atau malah tanah. Ah tak penting….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih berjalan di lorong yang sebetulnya tidak terlalu panjang. Namun saya menikmati sekali setiap langkahku. Ini kali pertamaku menginjakkan kaki di sebuah kantor pemberitaan. Hari ini ada serangkaian tes yang harus saya lalui. Bila saya mampu melewatinya, maka dalam bilangan minggu saya akan menjadi bagian dari tempat ini. Perasaan senang tiba-tiba menyeruak tanpa permisi dari dalam hati. Namun segera saya tepis dengan kegalauan alami yang mengalir begitu saja. Galau, khawatir, berdebar, semua bercampur menjadi satu. Saya menghentikan langkah sejenak demi membenarkan posisi tas tangan, menarik nafas dalam dan menghembuskannya kembali secara perlahan demi sebentuk perasaan lega. Kemudian saya melangkahkan kaki dengan gagah layaknya seorang prajurit yang siap bertempur di medan laga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya menemukan meja bundar besar di dekat dua mesin fotokopi. Saya sedikit celingak-celinguk memastikan bahwa saya tidak salah menafsirkan petunjuk ibu-ibu personalia yang baru beberapa menit lalu kutemui. Damn! Tidak ada tulisan atau papan nama yang memberikan sedikit informasi tentang ruangan apa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat menghentikan langkah lagi. Kali ini saya mengedarkan pandang pada lebih dari 5 orang berpakaian hitam putih sama seperti yang saya pakai. Terlihat dari ekspresinya, mereka pasti sedang menantikan sesuatu. Kesemuanya perempuan, kecuali satu-satunya laki-laki berbadan tinggi tegap, dengan rahang yang kuat, berkulit agak gelap, hidung sedikit mancung dan bermata polos. Dia satu-satunya makhluk ganteng di antara sejumlah perempuan yang mengelilingi meja bundar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun menghampiri mereka, sambil sedikit berbasa-basi. Dari situ saya tahu bahwa mereka semua sedang menantikan hal yang sama dengan diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silahkan!” Lelaki tegap itu berdiri dan menyorongkan kursinya kepadaku sebagai isyarat dia mempersilahkan saya duduk.&lt;br /&gt;” What a gentleman…” dalam hati saya berseru.&lt;br /&gt; Serius?!?”&lt;br /&gt;“ Tentu saja serius….”&lt;br /&gt;Tanpa banyak cingcong saya pun menghempaskan pantat ke kursi kulit imitasi berwarna hitam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terimakasih…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sama-sama…” Pria itu kelihatannya masih bersikap sok gentleman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ohya saya Risma….” Saya mengulurkan tangan kepadanya. Mata kami saling bersirobok. Tangannya meraih tangan saya dan kami pun berjabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yusuf…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf adalah salah satu dari sepuluh orang pertama yang saya kenal di kantor itu. Yusuf yang fresh graduate dari universitas yang sama dengan saya. Sehari kemudian akhirnya saya tahu, dia adalah bagian  riset dari divisi tempat saya ditempatkan.&lt;br /&gt;Yusuf yang polos adalah sasaran empuk untuk digoda. Kelucuan demi kelucuan terjadi begitu saja tanpa permisi oleh tingkah polahnya yang lucu. Yusuf yang memiliki wajah mirip Presiden Amerika Serikat, Barack Obama hanya mengenal hitam dan putih, tidak ada abu-abu. Namun Yusuf terlebih dahulu lulus dari kantor pemberitaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf adalah salah satu dari sekian banyak teman yang menoreh  kisah manis di dalam  hidup saya sepanjang  berada di divisi marketing. Masih ada Resti, Christi, Ugi, Wahyu,  Kristin, Dewi, Tari, Hanum, Mas Ari, Mbak Viza Ci Catherine, bos kami yang cantik dan baik, Wiwit dan Fahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau saya tahu, Desember 2011 adalah bulan terakhir saya di tempat ini. Namun hingga hari ke-15 di bulan Desember 2011, saya masih belum bergeming. Saya belum juga menyerahkan surat resign yang sudah saya buat sejak dari jauh-jauh hari. Beberapa malah menyangsikan kesungguhan saya untuk pergi, mengingat saya sudah berkali-kali mengurungkan niat untuk mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah beberapa bulan ini saya memang berhenti melihat kalender kalau tidak terpaksa. Saya tidak tahu  tanggal secara persis. Saya hanya tahu hari bekerja dan tidak bekerja. Saya hanya merasa takut kalender akan mengingatkan saya bahwa saya kian dekat dengan hari kepergian saya. Lagipula saya benar-benar sedang disibukan oleh sejumlah urusan yang menguras pikiran saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali Mas Agus, Mas Fatah, juga Mas Sofyan menanyakan kesungguhan saya untuk mengundurkan diri dan meminta saya untuk memikirkan berulang kali. Berulang kali saya berusaha meneguhkan diri saya. Bermalam-malam saya tidak bisa tidur sebelum larut malam. Ada semacam ketakutan tak terkira bila saya harus berpisah dengan kehidupan yang indah selama 4 tahun ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saya teringat dengan impian masa kecil saya selain menjadi penulis besar. Dulu saya penggemar serial Ninja Turtle Teenage Mutant, salah  satu  idola saya adalah April O’Neal tokoh reporter perempuan yang bekerja untuk Channel 6. Maka saya ingin sekali bekerja di sebuah kantor pemberitaan. Ketika beranjak dewasa, saya hanya menemukan satu-satunya kantor pemberitaan di Indonesia hanya Metro TV. Maka disanalah saya bercita-cita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hampir kehilangan cita-cita ketika saya malah menjadi lulusan Sarjana Pertanian IPB. Saya tahu bahwa mungkin takdir saya akan berakhir di sebuah perkebunan kelapa sawit. Ternyata takdir malah berkata lain. Lulus IPB, bekerja di sebuah shipping company, menelurkan satu novel perdana yang memperkenalkan saya pada Metro TV. Saya dipanggil untuk live interview sebagai narasumber di sebuah morning program. Dan setahun kemudian malah saya resmi bergabung di sarang elang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bahagia, walau mungkin saya tidak pernah menjadi bagian dari garda depan kantor pemberitaan seperti yang saya impikan. Tetapi setidaknya bakat menulis saya tersalurkan. Tipikal Pisces, saya bukan pengejar materi ataupun karir. Saya bekerja sungguh-sungguh untuk kepuasan batin saya. Ketika kebanyakan orang di luar sana merutuki gaji atau karir yang tidak naik-naik, saya hanya tersenyum. Saya bersenang-senang dengan pekerjaan saya. Saya bahagia dikelilingi orang-orang baik yang membuat saya merasa nyaman. Siapa nyana dua novel saya malah terbit di sini, satu novel yang menunggu terbit juga terilhami oleh kisah-kisah indah di sarang elang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bangga menjadi bagian dari sekumpulan elang. Secara perlahan filosofi elang merasuk dan membuat saya ikutan militan. Saya bersyukur saya tidak merasa ikut berdosa menjadi bagian yang merusak moral bangsa melalui tayangannya. Saya bangga bisa berdekatan dengan orang-orang cerdas yang terpilih dari berbagai latar belakang.&lt;br /&gt;Tempat ini seperti rumah kedua bagi saya. Bahkan mungkin lebih dari separuh hidup saya selama 4 tahun ini dihabiskan di kantor. Rumah hanyalah tempat numpang tidur. Selebihnya saya menghabiskan masa-masa indah yang penuh tawa di kantor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hati saya terluka oleh badai yang menghempas hidup saya. Maka kantor adalah pelarian yang manis. Seketika luka saya lenyap mendengar celoteh teman-teman tercinta di kantor. Tertawa terbahak-bahak sampai saya lupa kesedihan saya. Sesampainya di rumah, selalu ada cerita yang bisa disampaikan untuk orang-orang terkasih. Di akhir cerita mereka yang mendengar kisah saya selalu berkata, “ what a wonderful office life...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak peduli dengan office politic. Saya bersenang-senang dengan pekerjaan saya di kantor. Mungkin karena saya memang tidak perlu memikirkan uang atau karir. Alhamdulillah, Tuhan memberikan saya talenta untuk mendapatkan pendapatan lain selain gaji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya saya adalah pribadi yang ceria. Saya hampir tidak pernah mengkhawatirkan hal-hal remeh. Saya extrovert yang sangat ekspresif. Semua orang bisa tahu kapan saya sedang bahagia, kapan saya sedang gundah gulana. Saya suka bercerita tentang hayalan-hayalan, kucing-kucing ataupun hal lain yang mengundang tawa. Begitupun saya suka mendengarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara saya yang memekakan telinga, gaya saya yang extra-ordinary menjadi icon tersendiri. Dan teman-teman akan cemas bila saya kehilangan itu semua. Sesuatu pasti sedang terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali memang saya membisu selama hampir sebulan. Saya sedang dirundung sedih teramat hingga tak sanggup berkata-kata. Itu pun sudah membuat seisi ruangan resah. Suara saya kembali bersamaan dengan kemunculan novel saya. Pernah juga saya membuat kehebohan dengan menangis karena hal yang bahkan saya tidak mengerti ujung pangkalnya. Saya sedang dalam keadaan tertekan maka hal kecil bisa saja membuat saya menangis. Selebihnya saya hanya tertawa dan tertawa. Saat-saat ke kantor adalah hal yang paling menggembirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, 26 Oktober saya mengalami kecelakaan terparah dalam  hidup saya yang hampir membuat saya kehilangan tangan kanan saya. Saat saya sedang terbaring tak berdaya sendirian di ruang ICU dengan wajah sembab menahan sakit yang teramat. Senyum Mas Sofyan dan Mas Fatah lah yang pertama kali saya lihat. Mereka yang menguatkan hati saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang detik-detik operasi, mbak Besti datang bersama sang suami membawakan setumpuk majalah sebagai hiburan selama menjalani masa perawatan pasca operasi. Dan Bang Parlin, salah seorang karyawan senior yang juga pendeta datang hanya untuk mendoakan agar Tuhan melindungi saya. Dan saya menangis haru seharu-harunya.&lt;br /&gt;Setelah itu kunjungan tak ada habis-habisnya dari teman-teman kantor. Belum lagi gerombolan marketing yang menghebohkan satu lantai rumah sakit karena kami tertawa-tawa heboh. Saya tidak peduli lagi dengan anjuran dokter untuk beristirahat total. Saya bahagia didatangi teman-teman saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, betapa saya menemukan surga di tempat ini. Hidup saya penuh warna dengan kehadiran teman-teman saya. Saya jatuh cinta. Dan saya terpasung dalam cinta. Saya hampir tak memikirkan  nasib saya yang masih menggantung hingga seorang malaikat tanpa sayap meyadarkan saya, bahwa mungkin tempat ini bukanlah tempat yang tepat untuk meraih mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali saya hampir mengikat janji dengan kantor lain. Dan ketika saya mempergunakan waktu saya untuk menimang-nimang keputusan saya. Saya kembali bercengkrama dengan teman-teman saya. Tiba-tiba saya merasa seperti berkhianat. Entah berkhianat pada apa dan siapa. Saya malah serta merta memutuskan untuk mundur sebelum mengikat janji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Kamu tidak perlu pergi...” Suara Fred menyadarkan lamunan saya. Mata saya berkaca-kaca. Saya tersenyum kepada teman saya yang paling sering meledek saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Harus, bukannya kamu senang. Kamu kan yang sering meledek aku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”  Sejak kapan kamu mengambil hati ledekanku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati saya gamang segamang-gamangnya. Saya hampir tidak yakin dengan jalan yang akan segera saya tempuh. Belum  lagi kalau harus mengingat semuanya tiba-tiba berjalan tidak sesuai rencana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya berkata dengan lantang untuk menegaskan bahwa perkataan saya kali ini adalah benar. Saya benar-benar akan menyerahkan surat resign itu. Maka Fred mengancam saya untuk merobek-robek surat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali lain Mas Fatah menanyakan apakah saya sudah menyerahkan surat pengunduran diri karena pihak HRD tidak bisa memproses orang baru, kalau saya belum menyerahkannya. Saya menelan ludah. Benar juga, saat itu sudah tanggal 15 Desember. Saya segera menyeret langkah saya menuju bangku. Tangan saya gemetar membuka file surat resign yang sudah lama tersimpan dalam flash disc saya. Tiba-tiba saja air mata saya menetes tanpa ampun lagi. Saya menunduk, berusaha keras menahan diri agar tidak ada seorang pun yang melihatnya. Setelah  puas menangis, saya segera menghapus air mata saya. Saya tatap sekali lagi surat resign di layar. Saya harus menarik nafas dalam-dalam untuk meneguhkan hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar suara yang entah bagaimana terdengar begitu jelas di telinga saya, ” Ayolah Risma, bukankah  ini yang sudah kamu rencanakan sejak jauh hari? Sekarang atau tidak sama sekali!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saya akhirnya memberanikan diri untuk menge-print surat itu. Tekad saya memang sudah bulat untuk memulai hidup baru di tahun baru. Saya harus, atau selamanya saya akan terpasung dalam cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya mengeprint surat pengunduran diri. Saya tersenyum getir. Sejenak saya berdiri terpaku memandang satu persatu teman-teman saya yang sedang asyik berceloteh sambil bercanda ria. Dalam bilangan  hari saya akan kehilangan semua tawa, canda dan  keceriaan ini. Tidak ada lagi yang mengolok-olok dan membuat saya kesal sekaligus tertawa terbahak-bahak hingga sakit perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih tersenyum, namun dengan luka hati yang menganga akan sebuah perpisahan. Tidak akan  ada lagi suara cempreng Mas Sofyan yang menceriakan. Tidak ada lagi senyum  manis dan candaan garing Mas Agus, yang juga seorang dosen. Tidak ada lagi Bang Parlin yang berceramah tentang jalan kristus. Tidak ada lagi cerita tentang Mas Miko, sang seniman nyentrik yang selalu berpikiran ‘out of the box’. Tidak bisa lagi melihat wajah Mas Fatah yang mirip dengan Mario Teguh. Tidak bisa lagi melihat ulah genit Endang menggoda para pria atau saat dirinya galau menanti Pangeran Fiji-nya. Atau ulah si Putri Nanet saat sedang berada di depan cermin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak akan ada lagi ejekan dari Fred, preman Labuhan Bajo yang takut akan kucing atau bulu-bulu. Celoteh si jenius Agung tentang para gadis yang ditaksirnya namun tak pernah dapat diraihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemana saya harus beli pulsa kalau tidak kepada Emiria atau sekedar mendengarkan kisah-kisah hidupnya sambil naik motor berdua saja. Siapa lagi yang harus dibangkitkan rasa percaya dirinya kalau bukan Bedu si petualang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pasti akan ketinggalan cerita Lian dan bayi yang akan lahir. Saya mungkin tidak akan bertemu Rima saat dia masuk nanti. Saya pasti tak bisa lupa ketegasan sikap Mas Syaiful menantang AE yang ’bandel’. Saya pasti rindu ketegangan saat Imam Alawi menyetir mobil di jalan tol dengan  kecepatan sangat tinggi hingga saya pikir saya akan mati, atau video lucunya yang menunjukan ’sisi lainnya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pasti tak akan lupa aksi gila Meitha di tempat karaoke atau keberuntungan demi keberuntungan yang dia dapat dari setiap kuis yang diikutinya. Si cerewet Fina saat mengingatkan report. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Azzust dan kulet-kuletnya (kulet adalah kue pelet dari para perempuan yang menggilainya). Saya pasti merindukan saat-saat kabur dari kantor hanya untuk window shopping dengan Nova. Atau senyuman Mbak Besty saat melihat ulah saya melancarkan serangan balasan kepada Kiki si motion grafis yang berulangkali mencandai saya. Saya pasti rindu bekal makan siang buatan ibu Yani sang sekretaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pasti rindu saat-saat berwisata kuliner dengan mobil besar Mas Murti bersama teman-teman dah Rahmat. Saya pasti tak akan lupa dengan Brigitta yang saya jadikan tokoh dalam salah satu novel dan calon FTV saya. Saya juga pasti akan rindu mendengar kisah Marina dan LDR-nya. Sandy dan gayanya yang mengingatkan saya pada salah satu personil band. Saya pasti akan kehilangan Martinus sebagai partner belajar bahasa Spanyol. Juga suasana menegangkan saat Bu Yasmin datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pasti akan selalu ingat bagaimana Pak Arief dengan sedemikian mempesonanya mengeluarkan ide-ide cerdas pada setiap meeting. Atau tingkah polah para AE yang terkadang menggelikan. Sani, Heru, Mbak Tatu, Sinta, dan lain-lainnya. Saya pasti rindu si elang ganteng yang berdiri angkuh di depan lobby 2. Begitu pun saya akan rindu masakan ala cafe yang entah bagaimana jarang sekali sesuai selera saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan rindu para satpam dan resepsionis yang menyapa saya ramah sambil bercanda-canda ria. Saya akan rindu senyum manis Pak Tua penjaga masjid saat saya datang atau ketika dia baru saja menemukan kejutan untuknya yang saya sembunyikan di dalam lemari mukena. Saya rindu wajah-wajah senyum yang menatap saya di sepanjang koridor. Dan mungkin saya akan rindu kucing-kucing kantor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya lay out ruang baru merupakan pertanda bahwa kemesraan marketing memang harus berakhir sampai disini. Saya benci mengatakan kata berpisah. Saya bangga pernah menjadi bagian dari hidup kalian. Saya ingin bilang, I love you all. Maafkan bila selama ini saya banyak salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada farewell party, saya tidak akan merayakan hari perpisahan saya yang sulit. Saya bahkan tidak tahu apakah saya sanggup mengucapkan selamat tinggal di hari akhir saya. Mungkin saya akan lebih banyak diam di hari-hari terakhir ini. Saya sedang mudah menangis....mellow terbawa suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya akan berhenti sampai di sini. Mungkin jikalau pertemanan kita masih berlanjut, semuanya pasti akan berbeda. Tidak akan sama. Semuanya berubah. Pertemuan dan perpisahan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, karena perpisahan akan membawa kita akan pertemuan yang lain. Setiap manusia harus menyiapkan mental untuk keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dalam bilangan hari saya akan segera pergi meraih asa. Semoga asa itu membawa kebahagiaan, keceriaan yang lebih dan tidak bisa saya temukan ketika kita bersama. Saya akan merajut masa depan yang selama ini hanya mimpikan. Cerita telah  usai sampai di sini, namun kenangan akan kalian akan selalu ada di hati saya.&lt;br /&gt;#Bersambung ke bagian  ’Ketika Saya Memilih Passion”#&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-2118543980691072288?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/2118543980691072288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=2118543980691072288' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/2118543980691072288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/2118543980691072288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2011/12/surat-resign.html' title='Surat Resign'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-eYYW_3E-0GA/TvK2I2jkybI/AAAAAAAAAW4/GK-KvSEiQBk/s72-c/7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-2336025108814821918</id><published>2011-07-12T18:32:00.000-07:00</published><updated>2011-07-13T00:16:46.442-07:00</updated><title type='text'>NEVER SAY GOODBYE, VIZA!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-N5cAErWiYG4/Thz6BEm9wnI/AAAAAAAAAWM/8Bm-XPgFHu0/s1600/sesi3%2B044.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-N5cAErWiYG4/Thz6BEm9wnI/AAAAAAAAAWM/8Bm-XPgFHu0/s320/sesi3%2B044.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628648530630263410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini lagi-lagi aku akan kehilangan satu orang penting dalam hidupku. Orang yang sedikit banyak telah membantu aku memaknai hidup yang tak selalu manis. Bahwa terkadang hidup juga harus kecut bahkan pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Teja Ofteviza. Namun aku biasa memanggilnya dengan sebutan Mbak Viza. Kupanggil mbak, karena dia lebih senior beberapa tahun di atas aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalanku dengannya layaknya perkenalan dengan teman-teman kantor lainnya. Saat itu aku masih perawan kencur di kantor pemberitaan itu. Dengan malu-malu kusodorkan tangan kepada perempuan manis yang kurus di hadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Viza..." Dia tersenyum padaku sambil meraih tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Risma..." Aku jawab dengan senyum yang tak kalah manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Dari IPB?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Iyah..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Viza mengangguk dan dia segera melanjutkan pekerjaannya. Aku melirik sekejap deretan angka dan tabel-tabel yang bertebaran di layar monitornya yang sungguh tidak aku mengerti. Aku pun segera beringsut menghampiri penghuni ruang marketing lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan aku tahu, Mbak Viza adalah senior riset marketing di kantor pemberitaan itu. Dialah orang di belakang layar yang meramu data AC  Nielsen menjadi laporan yang digunakan para decision maker untuk berdiskusi dan bertindak. Dia juga yang membuatkan data 'maha penting' untuk para account executive kami berjualan iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang statistika dari sebuah universitas ternama bernama IPB membuatnya memiliki nalar logis yang melebihi orang-orang kebanyakan. Semua didasarkan atas sebuah fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Dia selalu menggelitik pikirku yang sangat imajinatif dengan hal-hal riil. Dia selalu membuat hipotesa berdasarkan asumsi yang kelihatannya sudah dipikirkan masak-masak dengan memakai teori statistika. Kelihatan sekali pasangan hidupnya yang juga ahli riset, mencekoki alam pikirannya dengan hal-hal logis dan 'berat'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dia menjadi 'partner in crime' yang tidak terpisahkan. Terutama dalam hal belanja dan diskon. Dimana ada aku hampir selalu ada dia. Puri Mall, Taman Anggrek, Tanah Abang, Sarinah menjadi saksi bisu betapa aku dan dia telah menghabiskan masa-masa ceria kami bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mirip ibuku, Sagitarius. Kalau menginginkan sesuatu harus terjadi saat itu juga. Walau akhirnya dia akan menyesalinya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat bagaimana hebohnya dia ketika menginginkan sepasang sepatu crocs warna putih seharga 500 ribu. Dia nekat menjemput sepatu impiannya di sebuah pusat perbelanjaan Sudirman saat lunch break. Dan dia tidak melupakan aku, dia pun membelikannya untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Viza adalah online shopper yang tidak pernah kapok walau sudah ditipu berkali-kali. Kepribadiannya yang sangat independen hampir tidak membutuhkan nasihat orang lain.&lt;br /&gt;Satu hal yang membuat aku terkagum-kagum dengannya adalah dia satu-satunya perempuan tangguh di tim kami dengan jarak rumah ke kantor terjauh. Setiap hari Bogor-Jakarta-Bogor bukanlah hal yang mudah bagi ibu beranak dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi buta saat kebanyakan warga Jakarta termasuk aku, masih di alam mimpi. Dia sudah bangun dan berjibaku dengan aktivitasnya. Memacu motornya dari rumah ke stasiun Bogor. Naik KRL Express tujuan Gondangdia. Dari Gondangdia, dia kembali memacu motor yang dititipkannya ke Kedoya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dipastikan, dirinya hampir selalu tidak bisa datang tepat 8.30 pagi. Namun sebelum jam 9 dia sudah tiba di ruangan dengan penuh peluh, namun tetap dengan wajah penuh senyum. Semangat yang menyala-nyala. Tepat jam 17.30 dia sudah melesat memacu motornya, mengejar kereta. Bayangan dua anaknya sudah menari-nari di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun jarak yang teramat jauh untuk ditempuh, Mbak Viza tetap berusaha untuk profesional. Satu-satunya alasan dia tidak masuk selain cuti tahunan adalah sakit anaknya. Atau dia benar-benar sudah tak berdaya untuk mengejar kereta. Dia selalu berkata, betapa malunya bila dia harus membolos karena alasan yang dibuat-buat. Tentu saja kata-kata itu menjadi tamparan tersendiri buat aku. Kala aku sedang tak bersemangat 'ngantor' maka bayangan Mbak Viza yang mengejar kereta dengan penuh peluh adalah semangatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali di salah satu pusat perbelanjaan tempat aku dan dia menghabiskan waktu untuk shopping dia berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mau resign."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja aku mendelik dan membuatku hampir tersedak oleh minuman dingin yang sedang kuseruput. Hal itu membuatku terkejut, karena kutahu dia adalah superwoman yang paling loyal di tim-ku. Masa 9 tahun pengabdian adalah buktinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia mengangguk, sambil buru-buru mengalihkan pandangannya. Dia menyeruput lemon ice tea-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi mbak Viza menatapku yang penasaran. Dia terlihat menghela nafas demi membentuk kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku berusaha keras menjadi ibu yang baik buat Darell dan Abel.Tidak mungkin karir profesional selaras dengan karir sebagai ibu dan istri. Harus ada yang dikorbankan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara mbak Viza semakin parau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku hampir tidak bisa melihat tumbuh kembang anak-anakku.Aku pergi saat mereka masih tertidur dan tiba di rumah saat mereka sudah beranjak tidur. Aku terlalu lelah. Perjalanan Jakarta-Bogor yang sudah 9 tahun kutekuni kini terasa cukup melelahkan.Rasanya sudah saatnya aku memutuskan memilih salah satu. Dan aku tidak mau lagi mengorbankan keluargaku demi materi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pembicaraan itu berbulan-bulan lalu. Mbak Viza berusaha keras membulatkan tekadnya yang berulang kali nyaris batal. Dia memikirkan bagaimana jadinya jadi Full Time Mommy yang bergantung 100% pada gaji suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana dia mengatur uang yang hanya bersumber dari gaji suami? Bagaimana dia bisa memenuhi gaya hidup sebelumnya? Bagaimana dia mencari penghasilan tambahan tanpa mengorbankan keluarga agar dapur tetap mengebul? Dan pertanyaan-pertanyaan lain berseliweran di pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya dia telah memutuskan setelah melewati pergulatan batin. Berkali-kali dia berdialog dengan Tuhan melalui istikharah. Dan dia belajar ikhlas akan keputusannya. Dia yakin Allah Maha Kaya, Allah lah yang kelak akan menolongnya kala sempit seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah hari terakhir Mbak Viza di kantor. Aku masih bisa melihat betapa berat hatinya meninggalkan 'surga'-nya. Di akhir masa jabatannya, dia masih saja mengkhawatirkan hal remeh temeh tentang apakah Agung partner risetnya akan baik-baik saja sepeninggalnya. Apakah Imam si anak baru sudah siap mental melebur diri di riset?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari awal pasti akan berat. Dia akan kehilangan aku yang berceloteh tentang kucing-kucing dan hal-hal lain dengan gaya lebay dan suara keras. Salam super Mas Fatah si Mario Teguh gadungan. Gaya sok bijak Mas Syaiful. Mas Miko sang BOD yang datang dan pergi sesuka hati. Fred Mr. Serok Khan preman Labuhan Bajo yang takut dengan boneka atau kucing. Emiria sang juragan pulsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedu si anak musholla , Imam sang misterius. Celoteh Agung tentang perempuan yang ditaksirnya namun tak pernah berani didekatinya. Si Nanet, putri Cina Bangsawan. Rima dengan kehamilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Azzust dengan kulet-kuletnya. Gaya nyentrik Nova. Pak Dosen AM yang memaparkan teori komunikasi. Bu Kepala Sekolah CK yang sangat baik dan cantik. Bang Parlin sang pendeta yang selalu berbicara berdasar Injil. Avi si Cina Pasar yang selalu dibandingkan dengan Nanet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yani sang sekretaris dengan agenda meetingnya. Meitha Bieber, si alay Wiwit, si Cablak Fina. Atau celoteh Mas Sofyan yang selalu mengaku-ngaku sebagai mantan pacar Mbak Viza. Kisah Mbak Besty dengan petinggi Japfa dan Camat Sukabumi. Fahmi si kreatif yang biasa dipanggil Cun oleh si Tomboy Nova. Dan sudah pasti si Mr. Telat Kiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tahu apa yang paling aku syukuri dalam hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku punya sahabat-sahabat seperti kamu dan yang lainnya. Orang-orang yang selalu membuatku tersenyum sekalipun aku sedang terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini aku bahagia. Aku tidak merasa bekerja sekalipun seringkali dikejar deadline. Betapa banyak kenangan manis yang tertoreh di sini. Menjadi elang, berkumpul dengan sekawanan elang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Mbak Viza akan pergi meraih asa. Kudoakan semoga asa itu membawa kebahagiaan, keceriaan yang tidak ditemukannya di sini. Cerita telah usai sampai disini. Namun kenangan akan mbak Viza selalu ada di hati kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Never say Goodbye!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sejatinya perpisahan itu tidak pernah ada untuk sahabat sejati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-2336025108814821918?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/2336025108814821918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=2336025108814821918' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/2336025108814821918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/2336025108814821918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2011/07/never-say-goodbye-viza.html' title='NEVER SAY GOODBYE, VIZA!'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-N5cAErWiYG4/Thz6BEm9wnI/AAAAAAAAAWM/8Bm-XPgFHu0/s72-c/sesi3%2B044.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-1454902271652059600</id><published>2011-04-07T21:11:00.000-07:00</published><updated>2011-04-07T21:16:57.675-07:00</updated><title type='text'>BAD LUCK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-FcAJ4BZMl2w/TZ6Log0HxMI/AAAAAAAAAPk/BDalYk3GlOk/s1600/bad_luck.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 256px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-FcAJ4BZMl2w/TZ6Log0HxMI/AAAAAAAAAPk/BDalYk3GlOk/s320/bad_luck.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5593061315360310466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih berbaring di ranjang. Sambil membayangkan setiap detil peristiwa yang terjadi kemarin. Sambil menghela nafas demi melegakan rasa yang menggelegak. Campuran antara rasa sakit, sedih, syukur, luka sekaligus bungah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin hari Kamis tanggal 7 April 2011, saya seperti mengalami kejadian naas yang bertubi-tubi. Dimulai semenjak pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang agak kelelahan pagi itu. Saya bangun sedikit lebih siang, karena saya yakin Kamis tidak akan semacet hari-hari kerja sebelumnya. Saya memesan taksi langganan saya, dan entah mengapa sang taksi tidak datang juga setelah sekian lama. Karena tidak sabar saya membatalkan pesanan saya. Dengan harapan saya bisa memberhentikan taksi di jalan raya depan komplek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mood saya memang sudah tidak baik saat itu. Hingga saya bertemu orang gila yang memaki-maki dengan mata mendelik-delik ke arah saya. Berteriak-teriak dan mempermalukan saya, karena seluruh pasang mata menatap saya. Saya bingung, apa yang terjadi. Saya hampir balas memaki kalau saya tidak ingat dia tidak waras. Tidak terbayang kalau saya memaki-makinya juga. Bisa-bisa ada pertunjukan dua orang gila saling memaki.Jadi saya hanya tersenyum, dan meninggalkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas bertemu dengan orang gila. Mungkin karena saya yang tidak berhati-hati dan memperhatikan jalan. Sebuah motor dengan kecepatan tinggi melaju dan hampir menabrak saya. Saya yang terkejut hanya berdiri mematung menantangnya. Untung saja si pengendara dengan sigap menghentikan laju motornya. Dan lagi-lagi saya dimaki-maki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Pake mata dong kalau menyebrang…!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata saya sudah berkaca-kaca dan memutuskan pulang saja kalau tidak ingat sejumlah tugas yang harus saya kerjakan di kantor. Singkat cerita akhirnya saya sampai di kantor. Tentu saja dengan mood yang tidak terlalu baik. Saya memilih diam seribu bahasa. Saya ingin hari itu segera berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan siang, saya memilih makan di luar dengan beberapa rekan. Tujuan saya sekaligus mengambil uang tunai dari salah satu ATM bank asing. Dan  saya lagi-lagi dikagetkan dengan saldo saya yang berkurang secara gaib, ratusan dolar. Entahlah mungkin terdebet dua kali atau sistem charge fee yang tidak beres saat saya mengambil uang di ATM bank nasional. GREAT! Saya lemas dan semakin kesal. Makan siang saya juga jadi berantakan karena saya juga tidak mendapatkan menu makanan yang saya mau.&lt;br /&gt;Dan akhirnya saya berhasil menyelesaikan hari Kamis. Saya pulang dengan selamat sampai di rumah. Hingga akhirnya kejadian mengerikan itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya saya tahu kalau hari itu adalah hari naas saya. Maka saya tak usah kemana-mana lagi sesampai di rumah. Saya malah berjalan keluar gerbang untuk suatu keperluan. Saya berjalan tenang di pedestrian di luar gerbang hingga ada sebuah truk es krim yang berjalan oleng menuju ke arah saya. Saya panik, tetapi saya tidak bisa berkutik. Hingga badan truk itu sukses menyerempet saya hingga saya terjatuh. Kurang dari 1 menit, saya dengan sigap menarik kaki kanan saya yang nyaris terlindas ban raksasa. Semua orang teriak histeris melihat kejadian mengerikan itu. Saya masih bingung hingga truk itu melarikan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa seperti dalam salah satu adegan film 'final destination'. Setelah terhindar dari satu marabahaya, saya harus berhadapan dengan yang lainnya. &lt;br /&gt;Untunglah, saya tidak apa-apa. Tidak seperti kejadian 6 bulan lalu ketika saya mengalami kecelakaan cukup parah dan membuat saya harus operasi dan opname. Ajaib, dihantam truk besar. Saya hanya memar-memar, dan kaki kanan saya yang nyaris terlindas hanya mengalami cedera otot tulang sehingga untuk sementara waktu saya harus berjalan dengan terpincang-pincang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu memang saya menangis sejadi-jadinya. Tetapi sekarang saya malah tersenyum. Tuhan hanya sedang mengingatkan saya. Mungkin akhir-akhir ini saya sering salah melangkahkan kaki makanya saya diingatkan kembali. Dan mungkin ini adalah kesempatan saya untuk mengistirahatkan kaki saya sejenak dan lebih banyak kontemplasi. Dan mungkin ini cara Tuhan untuk mempertemukan saya lagi dengan sang dokter specialis tulang tampan yang 6 bulan lalu merawat tangan saya pasca kecelakaan. Dialah sang dokter tampan yang juga perwira Angkatan Udara. Uhuy &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kata pangeran saya, “setiap segala sesuatu pasti ada hikmahnya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kata Agung, “ini saatnya untuk berdoa, karena doa orang yang terkena musibah diijabah”. Makanya dia juga ikut titip doa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kata sesepuh,“ Oalahhhh nduk, kowe iku mesti diruwat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kata teman, “OMG again?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, saya mau memanfaatkan waktu istirahat saya dulu yah. Sambil mengistirahatkan si kaki kanan. Dan saya mengikuti adegan dalam sekuel ‘Final Destination’. Saya mengisolasi diri saya dulu, sampai kutukan hari sial itu benar-benar lepas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-1454902271652059600?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/1454902271652059600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=1454902271652059600' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/1454902271652059600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/1454902271652059600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2011/04/bad-luck.html' title='BAD LUCK'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-FcAJ4BZMl2w/TZ6Log0HxMI/AAAAAAAAAPk/BDalYk3GlOk/s72-c/bad_luck.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-2457341674459223476</id><published>2011-02-28T14:31:00.000-08:00</published><updated>2011-02-28T14:37:48.686-08:00</updated><title type='text'>COMING SOON A NOVEL "CATATAN HARIAN LAILA"</title><content type='html'>Dear all, ini adalah bocoran sedikit dari buku kelimaku yang sebentar lagi akan segera nampang di toko-toko buku kesayangan anda di seluruh Indonesia dan Insya Allah seantero jagat ;-). Novel ini adalah novel yang dibuat dengan sepenuh jiwa. Novel ini sekaligus sebagai record halaman terbanyak sebanjang saya menulis buku. Berharap, semoga buku kelima ini akan menjadi awal karirku sebagai penulis dunia. Dan semoga novel ini juga akan meramaikan jagat perfilman. Amiiiinnnnn.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mau jadi 'My very first reader', tentu saja namanya akan terukir di kata pengantar.Ini penawaran terbatas yah ;-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, nantikan kehadirannya segera yah! Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SINOPSIS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layla, you've got me on my knees.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layla, I'm begging, darling please.&lt;br /&gt;Layla, darling won't you ease my worried mind.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikianlah cuplikan bait lagu Eric Clapton yang menggambarkan kekagumannya pada seorang perempuan jelita bernama Laila. Perempuan yang memporak-porandakan hatinya karena cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah seorang perempuan bernama Laila, seorang penulis dari sebuah kantor pemberitaan ternama. Seorang perempuan sederhana yang menjunjung tinggi kesucian cinta, namun harus terperangkap dalam sebuah suratan takdir yang memilukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Ali, lelaki pemuja Laila. Dialah kekasih, suami sekaligus sahabat Laila. Baginya Laila adalah separuh nafasnya. Seperti layaknya pecinta gila dalam legenda, Ali ingin mempersembahkan sebuah istana cinta untuk kekasihnya Laila.  Istana tempat dirinya, Laila, buah hati dan bermilyar cinta di antara mereka. Walau Ali harus menebusnya dengan sebuah perpisahan pedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramzi layaknya oase dalam padang gersang bagi Laila yang dirundung sepi. Ramzi mengajarkan Laila tentang kerasnya hidup. Bukan salah Laila bila Ramzi hadir di tengah-tengah cinta Ali dan Laila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramzi seorang wartawan perang, yang belakangan diketahui Laila memiliki tanggal lahir yang sama dengan kekasihnya Ali. Ramzi dan Ali bagaikan pinang dibelah dunia. Dua-duanya memiliki sikap dan pembawaan yang sama. Laila hampir-hampir dibuat gila dengan keberadaan Ramzi yang tiba-tiba mencuri hatinya tanpa ampun. Namun sejatinya cinta Laila pada Ali tidak pernah berkurang sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramzi adalah pemuja Laila. Baginya Laila adalah bidadari dalam mimpinya. Perempuan yang selama ini dinanti di usianya yang kian senja. Ramzi diam-diam mengagumi mata Laila yang memancarkan segenap keceriaan, dan ketegaran hatinya. Semakin Ramzi mengenal Laila, semakin hatinya menggila karena cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramzi hanya bisa mencintai Laila dalam diam, hanya dia dan Tuhan saja yang tahu. Demikian cintanya Ramzi pada Laila, hingga ia tak mampu menghancurkan kesucian cinta Ali dan Laila. Biarlah Laila hanya menjadi bidadari dalam mimpi Ramzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada siapakah akhirnya hati Laila akan tertambat? Ali ataukah Ramzi pengagum rahasianya. Bilakah akhir kisah cinta Ali, Laila, dan Ramzi harus berakhir tragis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini hendak menunjukkan bahwa tiada yang salah dengan jatuh cinta. Karena cinta adalah sebuah anugerah terindah dari Tuhan Yang Maha Kasih. Sedang akhir dari kisah cinta adalah sebuah pilihan yang harus dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Catatan Harian Laila yang menjalin manis setiap kisah yang kemudian menjadi saksi perjalanan kisah cinta Laila, Ali dan Ramzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Contoh babak Ramzi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, seandainya Ramzi menemukan Laila jauh sebelum Laila menikah. Pastilah Ramzi tidak semerana ini. Mungkin yang bersanding di istana cinta mendampingi Laila adalah dirinya bukan Ali. Lelaki beruntung, suami Laila. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tuhan, mengapa hidupku terasa membelit seperti ini. Mengapa harus Laila yang hadir dalam hidupku yang gersang. Bukan perempuan lajang lainnya. Mengapa kau tidak tumbuhkan sedikit cinta pun di hatiku kepada perempuan-perempuan pengagumku. Mengapa harus Laila?” Gumam Ramzi di balik kemudi. Matanya memang terlihat memandang lurus ke depan. Namun alam pikirannya melayang jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Laila berkelebat di pelupuk matanya. Senyumnya, ekspresi matanya yang melenakan, keluguannya, semangatnya, ah….. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramzi masih merasa ini adalah sebuah kesalahan suratan takdir. Seharusnya dirinya yang berada di sisi Laila, bukan  Ali. Seharusnya dirinya, bukan Ali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gigi Ramzi saling bergemeratak menahan emosinya yang meletup-letup. Rasa cintanya pada Laila yang menggila, membuat dirinya posesif dan seperti menginginkan Laila seutuhnya. Tidak hanya sebagai penggemar rahasia yang hanya bisa mengagumi dari kejauhan. Yang hanya bisa bercumbu dengan bayangnya di kesenyapan yang menyiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Arrggggggghhhhhhhh….” Ramzi bergumam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bila takdir berbalik. Ali menghilang, lenyap di telan bumi. Maka mungkin, dirinya masih punya kesempatan untuk merebut hati Laila. Atau misalkan Laila harus bercerai dengan Ali. Maka dirinya akan hadir menjadi dewa penolong Laila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buru-buru Ramzi menepis angan bodoh sekaligus jahat itu dari pikirannya. Ramzi tidak bisa membayangkan betapa menderitanya Laila bila harus kehilangan separuh jiwanya, Ali. Tiba-tiba ingatan Ramzi melayang pada suatu waktu. Kala Laila mengungkapkan rasa hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bagiku Ali adalah separuh nafasku. Aku mencintainya sepenuh jiwaku, melebihi rasa cintaku pada diriku sendiri. Kami saling memuja dan mencinta. Aku adalah tulang rusuk yang dicipta Tuhan untuknya. Bila dia pergi, mungkin aku akan mati…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raut wajah Ramzi berubah sedih. “ Ah… untuk apa merebut Laila bila cintanya tidak pernah ada untukku. Jangan-jangan sedetikpun diriku tidak pernah ada di hati atau pun di pikirannya.” Ramzi bergumam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Ramzi meraih tombol Radio di samping kirinya. Dia mencari-cari saluran favoritnya. Tangan Ramzi berhenti ketika dia mendengar lagu yang tidak asing di telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laila, you've got me on my knees.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laila, I'm begging, darling please.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laila, darling won't you ease my worried mind.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah…itu lagu Laila milik Eric Clapton. Ramzi tersenyum. Dan dirinya mulai menggerakkan bibirnya ikut bernyanyi bersama. Hati Ramzi sedemikian gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“  Aku cinta kamu, Laila.” Ramzi bergumam pelan di antara bait lagu berjudul Laila itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramzi sempat membayangkan, apakah Laila-nya Eric Clapton secantik Laila-nya? Ramzi tersipu malu. Entah kekuatan dari mana yang tidba-tiba menyelusup dalam dada Ramzi hingga memantapkan hatinya. Tak penting apakah Laila mencintainya atau tidak, yang terpenting dirinya memuja dan mencintai Laila. Bilakah Tuhan tidak pernah mempertemukannya dengan Laila di Dunia. Mungkin Ramzi ingin menuntut keadilan Tuhan untuk mempertemukannya di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramzi terus melajukan mobilnya menembus kegelapan malam. Mungkin Ramzi ingin mencari sebuah masjid, agar ia bisa singgah menyampaikan kerinduannya pada Illahi Rabb. Mungkin Ramzi harus sealim Ali untuk bisa mendapatkan Laila. Mungkin…ah…semuanya hanya mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Contoh Babak Ali dan Laila:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Laila dan Ali bergetar ketika keduanya mulai memasuki selasar bandara. Kedua kekasih itu saling bergandengan dengan langkah gontai. Ali pun tak berniat mempercepat langkahnya menuju gerbang keberangkatan internasional, walau dia tahu waktu boarding hampir habis.Ali memegang erat tangan lembut istrinya. Rasa hatinya sungguh tak menentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di depan gerbang keberangkatan internasional yang lengang, langkah mereka terhenti. Ali dan Laila saling bertatapan. Ali bisa melihat mata Laila yang bengkak karena semalaman Laila menangisi  kepergiannya hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih teringat jelas bagaimana Laila merajuk semalam, memohon kepada dirinya agar tinggal dan menemaninya di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Cinta, tinggallah bersamaku di sini. Demi aku, demi jabang bayi di dalam kandunganku.” Laila menangis sejadi-jadinya saat itu. Kala Ali dan Laila merebah saling berhadapan di ranjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Seandainya aku bisa tinggal. Tetapi tugas telah menanti.” Ali berusaha keras menenangkan hati Laila seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tetapi aku tidak mau. Aku ingin kamu di sini bersamaku.” Nafas Laila tersengal-sengal karena memaksakan diri untuk berkata di antara tangisnya yang belum juga mereda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku juga.” Ali dengan nafas yang tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Apa kau tidak cinta kepada diriku?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali menempelkan jari telunjuk kanannya ke bibir Laila, menatap kekasihnya lekat-lekat sambil menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Lantas?” Laila menatap Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Justru karena aku sangat mencintai kamu dan anak kita, maka aku harus pergi. Aku harus bekerja keras untuk mendapatkan uang yang banyak agar dapat membahagiakan kamu dan anak kita. Aku ingin membangun istana cinta yang kita mimpikan.” Ali memaksakan diri tersenyum agar Laila berhenti menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Tetapi aku tak ingin itu semua, Aku hanya ingin kau di sisiku seperti keluarga normal lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Aku pergi takkan lama, Laila.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Seberapa lama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Sampai kontrakku selesai, dan kita akan memulai hidup baru lagi sebagai keluarga yang utuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bagaimana bila usiaku tidak sampai hingga saat itu.” Entah apa yang merasuk dalam hati Laila, hingga dirinya berkata sedemikian. Ali hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya. Ali mendelik menatap Laila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Mengapa kau berkata demikian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Karena tidak ada yang tahu kapan aku atau kamu dipanggil oleh Sang Kuasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali memeluk Laila. “ Tidak sayang. Insya Allah tidak. Insya Allah, Tuhan memberikan kita umur panjang, melihat anak-anak kita tumbuh besar, menikah sampai memiliki cucu.” Suara Ali terdengar bergetar, seakan Ali juga ketakutan bila apa yang dikatakan Laila adalah benar. Ali memejamkan mata, ia tidak ingin membayangkan hal-hal buruk terjadi pada diri Laila. Dalam hati Ali berdoa untuk keselamatan Laila kepada Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali mempererat pelukannya dan membiarkan Laila menangis sesenggukan di pelukannya. Jemari tangan kanan Ali mempermainkan kerudung Laila dengan lembut. Ali menciumi kening istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Aku mencintaimu karena Allah, Laila.” Ali membisikannya perlahan di telinga Laila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku sangat mencintaimu karena Allah, suamiku.” Laila susah payah mengatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali mencium wangi tubuh Laila dengan jelas saat ia mendekap erat. Tidak ada lagi yang mampu memisahkan mereka. Gairah Ali pun muncul, bergesekan sekian lama dengan Laila. Laila dengan perut buncitnya terlihat teramat cantik dan seksi di hadapannya. Ali membelai kerudung biru yang membalut rambut Laila dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadanya berdesir hebat. Ali benar-benar tak mampu menguasai diri. Ali memagut bibirnya yang ranum. Laila yang tak kalah bergairahnya, membalas tanpa melepaskan pelukannya. Mereka pun terbakar api asmara. Dua anak manusia mulai memadu kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Aku ingin ikut denganmu,terbang menggapai pelangi", kata Laila sambil tersedu tiba-tiba menyadarkan lamunan Ali yang sedang membayangkan percintaan dahsyatnya semalam dengan Laila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali tak menyahut hanya hatinya yg berdegup kencang dan menjerit. Ali semakin mempererat pelukannya pada perempuan berperut buncit yang sangat dicintainya. Yah bagi Ali, ini adalah perpisahan terberatnya dengan Laila. Hati suami mana yang tega meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua sendirian di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali memeluk Laila penuh seluruh. Matanya terpejam, hening. Begitu heningnya hingga Ali bisa mendengar deru jantung Laila yang berkejaran antara menahan tangis dan menahan gejolak. Sesekali Ali bisa merasakan si jabang bayi dalam kandungan Laila ikut protes agar Ali mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkannya dan Laila. Si jabang bayi sedemikian lincah menendangi perut Laila dari dalam. Ali tersenyum getir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ah…mengapa tiba-tiba hati Ali menjadi kecut. Hati Ali meleleh. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana istrinya yang sedang hamil 6 bulan menjalani hari-harinya tanpa seorang suami di sisinya. Bahkan Laila sendiri terlihat kepayahan membawa perutnya yang buncit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali menarik nafas dalam demi membentuk sebuah kekuatan. Ali pun mulai bersenandung. Lagu yang biasanya selalu dinyanyikannya kala ia meninggalkan Laila di bandara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"So kiss me and smile for me, tell me that you'll wait for me. Hold me like u'll never let me go. Cause I'm leaving on a jet plane..." Lama-kelamaan suara Ali mulai berat, menahan tangis. Tanggul pertahanan seakan tak mampu lagi menahan air mata Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan tapi pasti, air mata Ali berlinang. Laila apalagi. Ali mencium kening dan bibir Laila dengan lembut. Tiba-tiba Ali melepaskan pelukannya dan meninggalkan Laila menuju gerbang keberangkatan internasional itu tanpa menoleh. Namun Laila tahu hati suaminya menjerit, berlinangan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Laila mengamati Ali hingga dirinya lenyap dari pandangannya. Laila berharap Ali menoleh sejenak untuk melihatnya, namun Ali sama sekali tidak melakukannya. Ali memang berusaha menguatkan hatinya untuk menoleh ke belakang melihat istrinya. Karena sekali ia melihat Laila yang sedang berurai air mata, maka melelehlah hatinya. Ali tidak sanggup melihat kekasihnya bersedih, sekalipun rasa sedihnya itu karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Laila berdiri mematung di depan gerbang yang memisahkan dirinya dengan Ali. Matanya melihat ke layar monitor. Status pesawat CX719 departed. Ia menggigit bibir. Bulir-bulir air matanya membasahi pipi. Ia menyeka air mata dan membiarkan bedaknya luntur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Selamat jalan cinta, aku teramat sangat mencintaimu.” Bisik Laila sebelum berbalik menuju pintu keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang Ali menatap keluar jendela pesawatnya. Sejauh mata memandang, Ali hanya melihat hamparan awan putih yang menggumpal. Putih bersih tanpa noda, seputih perasaan cintanya pada Laila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layla, you've got me on my knees.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layla, I'm begging, darling please.&lt;br /&gt;Layla, darling won't you ease my worried mind&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba suara merdu Eric Clapton terdengar dari ear-phonenya. Bayangan Laila menari-nari di pelupuk matanya. Bayangan kekasih yang sangat dipuja dan dicintainya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-2457341674459223476?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/2457341674459223476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=2457341674459223476' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/2457341674459223476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/2457341674459223476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2011/02/coming-soon-novel-catatan-harian-laila.html' title='COMING SOON A NOVEL &quot;CATATAN HARIAN LAILA&quot;'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-8611106188563214208</id><published>2010-07-21T01:37:00.000-07:00</published><updated>2010-07-21T02:48:05.325-07:00</updated><title type='text'>CATATAN PERJALANAN CALDERA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Day 1 (16 Juli 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jum’at tanggal 16 Juli 2010, menjadi momen yang paling menegangkan buat saya. Hati saya berkerjap-kerjap membayangkan kelak akan seperti apa petualangan yang akan saya dapatkan dua hari mendatang. Karena pada hari sabtu dan Minggu, kami akan melaksanakan serangkaian kegiatan outbound ‘Tim Building’ yang dirancang oleh Personalia untuk departemen kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kali pertama, saya mengikuti outbound di markas besar elang. Karena memang sepanjang hampir tiga tahun saya berjibaku di sini, tim kami belum pernah mengadakan kegiatan serupa. Saya sudah memikirkannya sepanjang waktu, kiranya petualangan seperti apa yang akan kami hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“  Kita akan tinggal di pondok kayu yang terbuka di hampir setiap sisinya…” Suatu kali Yani sang sekretaris bercerita. Saya hanya mengangguk-angguk dengan penuh antusias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Rafting, flying fox, kamu pasti tidak akan pernah membayangkan segenap keseruan yang ditawarkan…” Mata Yani berbinar-binar menjelaskannya pada saya. Dan alam pikiran saya dipenuhi oleh khayalan-khayalan akan petualangan-petualangan seru yang akan terjadi nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kamu ikut kan?” Sorot mata Yani tajam melekat pada mata saya. Dalam hitungan detik, saya mengangguk pasti tanpa keraguan sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Terus kita naik apa?” Tanya saya kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bis…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bis?” Saya memastikan, dan Yani mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Wew…. Bis!” Saya berseru dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah lupa bagaimana rasanya tamasya dengan rombongan dalam sebuah bis yang besar. Terakhir kali saya ingat, tamasya terakhir saya bersama rombongan adalah bertahun-tahun silam ketika saya masih duduk di bangku kuliah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itupun sejatinya bukan sebuah perjalanan tamasya. Kami hanya serombongan mahasiswa bau kencur yang sedang siap-siap bertugas KKN di wilayah Rangkas Bitung.Itu pun rasanya sudah seperti rombongan sirkus yang sedang bertamasya. Seisi bis hampir tidak pernah sepi oleh tawa, canda, nyanyi dan teriakan-teriakan histeris para gadis yang digoda bujang. Acara saling ledek dan cerca menjadi hiburan tersendiri yang menyenangkan untuk mengusir bosan selama perjalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya berpikir akan jauh berbeda bila yang berada dalam rombongan bis tersebut adalah sekumpulan orang berusia dewasa yang bekerja di sebuah kantor pemberitaan. Saya sempat memikirkan bahwa mereka akan menjadi sangat serius. Hanya pembicaraan formal seputar politik, ekonomi, atau target kantor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata perkiraan saya salah besar. Saya hampir tidak menyangka bahwa saya sedang duduk di dalam bis yang membawa rombongan para professional. Suasana bis sama riuhnya dengan bisa yang saya tumpangi bersama teman-teman saya saat usia saya masih menginjak usia hampir dua puluh tahun. Bahkan lebih heboh. Semua tertawa dan saling berkelakar, melempar lelucon dewasa yang terkadang menggelikan, terkadang juga membuat wajah bersemu merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya seperti tanpa beban. Walau sebelumnya, seharian penuh mereka berjibaku di kantor hingga jam tujuh malam. Sepertinya energi mereka tidak ada habisnya. &lt;br /&gt;Beberapa di antara kami yang semula mengutuk keadaan bis kami yang tidak sempurna mulai berhenti mengeluh. Bahkan sepertinya mereka lupa dan mulai mafhum pada keadaan.&lt;br /&gt;Ketika malam semakin larut, suara tawa mulai berhenti. Bertukar dengan suara musik-musik yang mengalun dari beberapa blackberry. Sedang yang lain mulai hanyut terbawa mimpi, termasuk saya. Yang lain masih bertahan dengan berbincang-bincang. Ada juga yang memuaskan diri dengan mengedarkan pandangan jauh ke luar jendela bis, menembus kegelapan malam. Melihat dengan asyik pemandangan pegunungan di malam hari. &lt;br /&gt;Saat bis yang kami tumpangi memasuki jalanan mendaki yang berkelok-kelok. Beberapa di antara kami termasuk saya mulai terbangun dari tidur. Sang supir memacu bis dengan lihai di jalan berkelok. Tidak hanya dengan kecepatan standar, tetapi dengan kecepatan yang ‘luar biasa’. Kami serasa naik roller coaster. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya kami memang merasa tertantang. Suasana bis menjadi riuh oleh sorak-sorai menyemangati sang supir yang bak pembalap handal. Namun lama-kelamaan suara mulai melemah seiring dengan semakin mengerikannya laju bis kami. Saya yakin beberapa di antara kami termasuk saya, mulai merapal doa dengan bibir yang berkomat-kamit. &lt;br /&gt;Puncaknya adalah ketika tiba-tiba sang supir mengerem bis dengan mendadak. Hingga kami terloncat dari posisi duduk kami. Saya terkesiap, dengan harap-harap cemas berdiri dari tempat saya duduk agar saya dapat melihat dengan jelas gerangan apa di depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah lubang cukup besar yang memakan hampir setengah dari bahu jalan. Dan bila sang supir tidak sigap mengerem bis. Maka kami semua akan celaka. Saya pikir setelah kejadian ini, sang supir akan mengurungkan niatnya untuk menunjukkan kelihaiannya dalam memacu kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata, sekalipun di jalanan terjal dan berkelok-kelok. Ternyata, sang supir tidak juga gentar. Setelah itu dia masih terus memacu bisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi syukurlah, setelah lebih dari 5 jam, tepat jam setengah satu malam. Akhirnya kami tiba dengan selamat di pondokan Caldera tempat kami akan menghabiskan dua hari ke depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana bis kembali riuh oleh seisi bis yang sedang bersiap-siap hendak turun dari bis. Sesekali suara teriakan ikut mewarnai di antara derai tawa. Suasana bis menjadi hiruk-pikuk oleh kesibukan penumpang bis yang saling berebut untuk turun. Semua terlihat begitu antusias untuk melihat kejutan apa yang menanti kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ini adalah kali pertama saya. Saya sempat tertegun menatap deretan rumah panggung yang terbuat dari kayu dan beratapkan daun kelapa kering. Luar biasa, ingatan saya langsung melayang beberpa tahun silam ketika saya menghabiskan waktu di rumah-rumah tradisional milik suku primitif Baduy di pedalaman Rangkas Bitung. Tetapi tentunya ini lebih tertata rapih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa3sp9SIWI/AAAAAAAAAL4/uQr1jJ9MeQ8/s1600/Kedatangan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 230px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa3sp9SIWI/AAAAAAAAAL4/uQr1jJ9MeQ8/s320/Kedatangan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496282373057290594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memuaskan mata saya dengan memandang sekeliling. Saya tersadar, beberapa teman sudah beranjak pergi meninggalkan halaman parkir. Saya pun segera meninggalkan halaman parkir sambil menenteng tas saya menuju penginapan yang disediakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah meletakkan barang bawaan kami di pondokan. Kami semua digiring ke sebuah tenda di antara pondokan perempuan dan lelaki. Rupanya Caldera sudah menyiapkan penyambutan untuk kami. Aneka penganan kecil dan minuman hangat telah menanti kami. Tentu saja kami girang bukan kepalang, perjalanan panjang Jakarta-Caldera cukup membuat kami lapar, walau sebetulnya di dalam bis kami juga disuguhi nasi kotak.&lt;br /&gt;Kami diperkenalkan dengan fasilitator kami, Mas Ucup dan Mas Thamrin. Mas Ucup dan Mas Thamrin juga memperkenalkan kami sapaan khas ala Caldera. Jika fasilitator menyapa ‘Halo’ maka kami harus membalasnya dengan ‘Hai’. Begitupun sebaliknya. Di Caldera tidak ada sapaan hari selain ‘Selamat Pagi’. Dan ketika fasilitator menyapa, ‘Apa Kabar Metro TV?’ kami harus menjawab dengan kompak ‘Siap, Luar biasa!’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa33a6YeBI/AAAAAAAAAMA/DGUKj4Z3q0k/s1600/Kedatangan+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 245px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa33a6YeBI/AAAAAAAAAMA/DGUKj4Z3q0k/s320/Kedatangan+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496282557997152274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kami para perempuan segera bergegas pergi ke pondokan untuk mandi malam dan pergi tidur. Sedang para lelaki masih melanjutkan perbincangan hingga larut malam. Bahkan ketika saya terbangun jam 3 pagi. Saya masih mendengar suara-suara dari pondokan lelaki. Saya tidak tahu, jam berapa mereka tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Day 2 (17 Juli 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan jadwal, tepat jam 6 pagi kami sudah berkumpul di lapangan untuk berolahraga pagi. Mas Ucup dan Mas Thamrin sudah menanti kami di lapangan. Kami semua berdiri membuat lingkaran, dengan pemandu di tengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEazywmjs8I/AAAAAAAAAKw/34Hkz8rYeiY/s1600/Olahraga+pagi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEazywmjs8I/AAAAAAAAAKw/34Hkz8rYeiY/s320/Olahraga+pagi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496278079873725378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang tidak biasa di dalam lingkaran tim kami. Tiga orang penumpang gelap ikut serta dalam tim kami. Mereka adalah tiga lelaki Arab yang katanya turis dari Yaman. Dengan penuh percaya diri, mereka masuk di barisan kami dan mengikuti instruksi yang diberikan oleh pemandu kami tanpa menghiraukan pandangan aneh kami kepada mereka. &lt;br /&gt;Setelah pemanasan untuk melemaskan otot-otot yang kaku. Sang pemandu memulai permainan-permainan yang membutuhkan konsentrasi sekaligus olah tubuh agar kami tidak mengantuk. Maklum, saat itu keadaan kami seperti orang yang sedang mabuk. Terhuyung-huyung dan sedikit sulit membedakan antara kenyataan dan alam khayal. Separuh nyawa kami serasa berada di alam yang berbeda. Inilah akibat kurang tidur. Sebagian besar dari kami terutama para lelaki hanya tidur kurang dari 3 jam. Dan sekarang kami sama sekali tidak bisa mencerna instruksi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil banyak di antara kami yang terkena hukuman. Saya pikir ini adalah hukuman paling menyenangkan sejagat. Hukumannya adalah bergaya ala foto model. Bahkan di kehidupan nyata sekali pun tanpa di suruh kami adalah banci-banci kamera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa0ICVgDBI/AAAAAAAAAK4/7N7w_x5YVhw/s1600/Olahraga+pagi+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 258px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa0ICVgDBI/AAAAAAAAAK4/7N7w_x5YVhw/s320/Olahraga+pagi+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496278445411273746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa satu jam telah berlalu. Setelah berolahraga pagi. Pemandu menggiring kami ke tenda yang telah disediakan untuk jamuan sarapan pagi yang lezat. Hanya menu sederhana berupa nasi goreng, suwiran ayam goreng, telor ceplok berbentuk bintang dan bunga, tempe &amp; tahu goreng, garnish beruba tomat dan timun, emping. Tak lupa teh dan kopi hangat, air putih, dan jus jeruk sebagai pelengkap hidangan. Kami makan dengan lahap. Karena kami tidak ingin kelaparan selama beraktivitas nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sarapan pagi, kami diberi waktu kurang dari satu jam untuk istirahat sebelum masuk ke sesi selanjutnya. Sang fasilitator pun mewanti-wanti kami agar tidak datang terlambat pada sesi selanjutnya. Bila terlambat, akan ada sangsi hukuman menanti. Beberapa perempuan memilih untuk mandi. Sedang yang lainnya lebih senang duduk-duduk dan bercerita di beranda pondokan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat jam delapan pagi, Mas Ucup dan Mas Thamrin menggiring kami ke tanah lapang tak jauh dari pondokan kami. Namun untuk mencapai tanah lapang tersebut kami harus berjalan kaki kurang lebih sepuluh menit melewati pematang sawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu yang lainnya berkumpul. Mata saya sempat tertumbuk pada aktivitas sekelompok lelaki di dekat deretan toilet. Para lelaki sedang sibuk mengisi plastik-plastik bening berukuran satu kilo dengan air kemudian diikat dan dikumpulkan ke satu sisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sebagian besar peserta berkumpul, seperti biasa kami membuat lingkaran. Instruksi pertama yang kami lakukan adalah kami saling menghadap punggung teman. Ketika fasilitator memberikan aba-aba ‘Hujan!’ maka kami menggunakan telunjuk kami untuk memijat punggung teman dengan jari telujuk. Jika fasilitator menyebut ‘Petir!’ maka kami menggunakan sisi telapak kanan untuk memijat. Jika ‘Batu!’ maka kami harus memijat dengan kepalan tangan. ‘Long beach’ maka kami harus memijat dengan gerakan memijat yang sesungguhnya. Sedangkan ‘Badai’ berarti kita harus mengguncang-guncangkan bahu teman kita. Selanjutnya kami ditantang untuk duduk dengan nyaman di pangkuan teman kami dalam lingkaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berasumsi, permainan ini selain untuk melatih konsentrasi, ini juga merupakan tahapan awal dalam sebuah Team Building yaitu perkenalan. Kami saling berkenalan agar menjadi saling percaya dan nyaman satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami berkenalan barulah menginjak pada permainan selanjutnya yang lebih seru. Masih di dalam lingkaran. Fasilitator memberi instruksi gerakan ‘Patung Pancoran’, ‘Lampu Merah’, ‘Dansa’, ‘Bunga Matahari’. Masing-masing instruksi memiliki gerakan yang berbeda dan aturan main yang berbeda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa0VSESXwI/AAAAAAAAALA/YxMVNMqmo_k/s1600/Permainan+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 219px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa0VSESXwI/AAAAAAAAALA/YxMVNMqmo_k/s320/Permainan+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496278672972340994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika fasilitator memberi aba-aba ‘Patung Pancoran’ maka kami harus bergaya ala ‘Patung Pancoran’. Sedangkan bila fasilitator memberi aba-aba ‘Dansa’ maka kami harus mencari pasangan untuk menari ala orang gila sambil menyuarakan gending gebo giro ‘ning nang ning gung…ning nang ning gung’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila fasilitator menyebut ‘Lampu Merah’, kami harus berkelompok 3 orang dalam posisi tangga sambil kedua tangannya menyerupai kelap-kelip lampu. ‘Bunga Matahari’ berarti kami harus berkelompok yang terdiri dari 5 orang untuk bergandengan tangan dalam lingkaran membuat gerakan buka matahari mekar dan menguncup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian yang paling menggelikan dalam sesi ini adalah ketika salah seorang dari kami yang bernama Mr. G. Begitu hebohnya dia menari hingga celana pendeknya robek. Namun di antara kami hanya tertawa cekikikan saja melihat hal itu. Dan anehnya Mr. G sama sekali tidak menyadari kalau celananya sudah robek parah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa0jPHJHgI/AAAAAAAAALI/uX0fPeFwlm8/s1600/Permainan+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 306px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa0jPHJHgI/AAAAAAAAALI/uX0fPeFwlm8/s320/Permainan+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496278912697179650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan berikutnya adalah kami di ajak berhitung. Tetapi bukan dengan hitungan yang biasa. Peraturannya, untuk angka ganjil kami harus menyebut ‘bing’ dan untuk angka genap harus disebut lengkap. Namun entah kurang konsentrasi atau memang ‘lemot’, selama hampir dua puluh kali percobaan, kami belum juga menemui titik temu. Kami masih saja salah sebut. Sampai akhirnya salah satu pimpinan dalam kehidupan kantor kami yang sebenarnya memberi solusi agar kami bisa menyelesaikan permainan ini dengan cepat. Dan ajaib! Kami pun bisa menyelesaikan permainan itu dengan cepat dan tanpa cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEbBnZzDW4I/AAAAAAAAAMw/hZeL3HPGU5k/s1600/Pedang.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 247px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEbBnZzDW4I/AAAAAAAAAMw/hZeL3HPGU5k/s320/Pedang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496293277936343938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan berikutnya, kami diajak oleh fasilitator untuk membayangkan diri kami sebagai seorang samurai yang siap berperang dengan ‘katana’ kami. Kami diajari membuat kuda-kuda, selebihnya adalah instruksi biasa yang sebenarnya sepele. Anehnya saat kami disuruh untuk menutup mata selagi kami melakukan gerakan yang dinstruksikan, posisi akhir kami berbeda jauh. Sebagian besar dari kami salah mengartikan instruksi depan, belakang. Jika belakang berarti balik arah, maka ketika instruksi berikutnya adalah depan, kebanyakan dari kami berbalik arah ke posisi semula. Padahal seharusnya depan adalah maju pada posisi kita sebelumnya. Kami sempat mengalami perdebatan yang sangat alot sebelumnya akhirnya menemukan titik temu. Permainan ini menggambarkan betapa perbedaan persepsi dapat mengaburkan makna instruksi. Peranan pemimpin penting untuk menyampaikan perintah sekaligus menyamakan persepsi anak buahnya agar tujuan organisasi berjalan sesuai rencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat yang dinanti-nanti tiba. Waktunya Coffee break. Hidangan risol goreng dan pisang molen yang ditaburi gula halus menjadi pengganjal perut yang sudah mulai lapar akibat beraktivitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mata saya masih mengamati sekelompok lelaki yang sedang asyik mengumpulkan plastik-plastik bening berisi air. Saya masih bertanya-tanya untuk apakah gerangan plastik air tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah coffe break, fasilitator menggiring kami ke suatu area di bawah pohon. Sang Fasilitator menaruh beraneka-ragam gambar di atas rumput. Dan kami disuruh mengamati dan mengambil salah satu gambar sekehendak hati kami. Gambar yang kita ambil harus mewakili ke arah mana Metro TV akan dibawa. Di akhir permainan harus ada satu kesepakatan, setelah melewati perundingan yang cukup alot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat berandai-andai seandainya di situ ada gambar elang, maka tanpa berpikir lagi saya akan memilih elang yang merupakan maskot Metro TV. Saya tahu benar betapa filosofi elang menjiwai setiap gerak dan langkah Metro TV. Namun sayang di sana tidak ada gambar elang. Saya sempat berpikir untuk mengambil gambar pesawat agar Metro TV bisa terbang tinggi. Namun pesawat itu sudah diambil kelompok lain. Saya malah tergoda mengambil taburan warna-warni. Bagi saya itu menggambarkan universalitas Metro TV, agar Metro TV tetap menjadi ‘Knowledge to Elevate’ yang menaungi berbagai bangsa, ras, kelompok, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir permainan, gambar tangan berjabatan menjadi kesepakatan kami. Karena untuk mencapai semuanya, perlu kebersamaan antara personel di dalam sebuah organisasi. Bila tidak ada kebersamaan, maka suatu organisasi akan tampak sebagai sebuah kapal tanpa arah tujuan yang jelas, masing-masing bercerai berai memilih tujuan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah permainan tadi, kami dibagi menjadi tiga kelompok. Kami digiring ke suatu tempat yang berbeda. Di sana sudah tersedia tiga batang bambu panjang yang di letakkan di atas penyangga berupa paku kecil. Tugas kami hanyalah memindahkan bambu secara berbarengan dengan jari telunjuk ke tempat yang hanya berjarak kurang dari 10 centimeter dari tempat semula. Saya sempat berpikir itu adalah tantangan paling mudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa_YeN3sOI/AAAAAAAAAMY/jvkfpr_eBPk/s1600/Bambu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa_YeN3sOI/AAAAAAAAAMY/jvkfpr_eBPk/s320/Bambu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496290822401274082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ternyata itu adalah tantangan tersulit. Entah bagaimana, bambu kami tidak mau diajak berdamai. Dia seperti punya kekuatan sendiri untuk bergerak sesuka hati, tidak mau diatur untuk dipindahkan ke tempat baru. Kami sempat ditakut-takuti oleh sang fasilitator, bahwa bambu itu memiliki kekuatan magis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah hampir satu jam kami berjibaku dengan bambu ajaib, kami bisa memindahkannya. Rahasianya adalah, kami harus menjadi satu tim yang utuh. Tidak ada yang saling mendahului, atau tidak ikut aturan. Harus ada satu pemimpin yang mengatur bawahan agar bergerak sesuai aturan. Setelah Mr. G memimpin…dan bravo! Bambu-bambu kami pun berhasil dipindahkan. Dan kami bisa segera beristirahat makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa4wKy94mI/AAAAAAAAAMQ/lLxLbXsP6U4/s1600/Makan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa4wKy94mI/AAAAAAAAAMQ/lLxLbXsP6U4/s320/Makan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496283532923626082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa basa-basi, kami segera menyerbu tenda tempat panitia menyuguhkan hidangan makan siang. Menu kali ini adalah sayur asam, ayam goreng, tempe-tahu goreng, lalapan, nasi panas, karedok, kerupuk dan sambal terasi. Yummy…! Hidangan sederhana itu tampak sangat istimewa, kamipun melahapnya dengan semangat empat-lima.&lt;br /&gt;Tepat jam satu siang, kamipun berkumpul di lapangan tempat kami berkegiatan sebelumnya. Fasilitator tahu benar kalau kami dalam keadaan sangat ngantuk. Kami diajak bernyanyi-nyanyi yang katanya itu adalah nyanyian khas suku Aborigin saat akan pergi berperang. Saya lupa liriknya, tetapi seingat saya nyanyian itu cukup menyegarkan kami yang semula mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai bernyanyi-nyanyi. Barulah fasilitator membagi kami dalam dua kelompok besar. Kelompok saya di pandu oleh Mas Ucup. Mas Ucup segera menginstruksikan kami agar berdiri melingkar. Setelah memberi penjelasan secukupnya. Maka permainan bola tangkap pun dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula fasilitator melempar satu bola tenis. Kami pun saling melempar dan menangkap bola dam pola yang teratur dan terstruktur. Setelah kami lihai menguasai satu bola. Tiba-tiba masuk bola kedua yang lebih kecil berwarna biru dan dapat mengeluarkan bunyi bila kami meremasnya terlalu kencang. Setelah itu boneka karet berbentuk kura-kura, bola berwarna merah yang sangat ringan. Kami masih bisa menguasai keadaan walau kami agak sedikit bingung. Konsentrasi salah seorang dari kami pecah saat sebutir telur pecah di tangannya. Ternyata di antara lima bola ada satu telur mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun belajar dari kesalahan dan bertekad untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Tim kami mulai kompak. Kami berhasil melewati tantangan bermain bola tangkap di lingkaran hingga lima bola sekaligus. Setelah dirasa fasilitator, tim kami sudah cukup mumpuni. Fasilitator mengajak kami menuju pojok yang berbeda di bawah pohon rindang, sambil membawa alat tulis tulis. Fasilitator mengajak kami berpikir apa maksud dari permainan itu sambil beristirahat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan dunia kerja, kita seringkali dihadapkan pada beraneka ragam tugas  dari yang ringan hingga yang berat. Terkadang tugas itu datang bertubi-tubi pada saat yang bersamaan. Siap atau tidak siap, kita harus siap karena itu adalah tugas. Dan dalam mendelegasikan perkerjaan ada aturan yang jelas. Kita tidak bisa ‘asal’ menyerahkan tugas kepada rekan lainnya yang tidak kompeten. Begitulah kira-kira maksud permainan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEbAqxgSPoI/AAAAAAAAAMo/Yb8u6j0xxA4/s1600/Bola+Gelinding.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEbAqxgSPoI/AAAAAAAAAMo/Yb8u6j0xxA4/s320/Bola+Gelinding.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496292236328058498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami berdiskusi. Mas Ucup memberikan tantangan lain. Kali ini hanya satu bola, dan kami harus melakukan bola tangkap dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kami menghabiskan waktu 17 detik untuk satu putaran. Kemudian 15 detik dan 9 detik. Mas Ucup mengatakan bahwa rekor yang sudah diraih adalah 2 detik untuk sejumlah orang yang sama dengan tim kami. Kami sempat tidak percaya. Namun fasilitator membangkitkan rasa kepercayaan diri kita. Hingga muncul ide-ide brilian dari berbagai orang untuk mendekatkan posisi kami, dan kali ini kami hanya perlu menggelindingkan bola dalam posisi jari telunjuk kami berdekatan. Dan kami mencatat rekor baru di bawah satu detik atau sekitar 40 frame.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan permainan bola tangkap, kami digiring ke sudut lain. Di sana sudah ada holahoop yang digantung sedemikian rupa. Tantangannya adalah kami harus bisa melewati holahoop tanpa menyenggolnya dan tidak boleh terputus dengan anggota lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa4KFVcfFI/AAAAAAAAAMI/mHuxLNuicJ8/s1600/Permainan+3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 262px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa4KFVcfFI/AAAAAAAAAMI/mHuxLNuicJ8/s320/Permainan+3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496282878622596178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu bukanlah hal yang sulit bagi orang semungil saya. Tetapi bagaimana dengan teman saya yang berukuran jumbo. Dan kami masih harus ditantang untuk saling terkait, tidak bercerai-berai sekalipun kami kerepotan berusaha melewati holahoop.&lt;br /&gt;Tetapi kami punya solusi. Barisan paling depan adalah orang yang berukuran sedang, yang bisa melewati holahoop dengan mudah. Setelah itu anggota tim lainnya dan terakhir saya. Saat satu anggota melewati holahoop, kami yang dibelakang harus membantunya mengangkat kakinya. Begitupun setelah berhasil melewatinya, mereka masih harus berpegangan. Dan kebetulan kelompok saya yang berhasil memenangkan pertandingan melewati holahoop tanpa menyenggolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan berikutnya, kami dua tim besar diberi sekitar 8 karet hitam berbentuk kotak berukuran 40 cm X 40 cm. Dan kami ditantang untuk menyeberangi jalan sepanjang 300 meter dengan alas tadi. Sedangkan satu tim terdiri dari dari 16 orang. Kami memutar otak bagaimana caranya kami bisa menyeberang bersama-sama tanpa menyentuh rumput. Namun hingga hampir 45 menit, kami belum juga bisa memecahkan tantangan tersebut. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk menyatukan seluruh kekuatan. Kami bekerja-sama untuk menyeberangi jalan, dengan 16 alas hitam dan 32 orang. Dan kami berhasil. Inti dari permainan ini adalah, dalam satu organisasi kita harus bekerja-sama untuk mencapai satu tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru menyadari bila kantong-kantong plastik berisi air sudah disebar di hampir setiap titik. Beberapa jalur ditandai dengan tali. Dan di sisi kolam lumpur ada bendera Metro TV yang belum berkibar. Saya bertanya-tanya kira-kira tantangan apa yang sedang dipersiapkan oleh fasilitator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata di ujung garis start ada obor untuk menyalakan lilin. Dan kami harus bekerja bahu membahu untuk menyelamatkan nyala lilin tersebut dari serangan air hingga garis finish. Tepat di garis finish ada jaring berbentuk lingkaran kecil seukuran bokong orang dewasa, dengan empat tali di keempat sisinya. Sang pembawa lilin harus duduk di atasnya dan diangkat oleh seluruh anggota kelompok. Sang pembawa lilin harus menyalakan obor yang berada di tengah kubangan lumpur. Obor itulah yang akan membakar tali pengait bendera. Saat tali itu putiyus karena terbakar api obor, maka saat itulah bendera Metro TV akan berkibar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penyerang yang melemparkan kantong plastik berisi air adalah perumpamaan para kompetitor yang siap menyerbu kapan saja. Nyala lilin adalah nyawa Metro TV yang harus dipertahankan dengan penuh pengorbanan oleh segenap karyawan Metro TV. Dan semuanya harus bersatu-padu untuk mengibarkan kejayaan Metro TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah pengalaman paling menegangkan. Kami sudah menggunakan berbagai taktik agar nyala lilin tersebut luput dari serangan begundal-begundal yang melempar air. Namun kami selalu gagal, hingga akhirnya kami membuat scenario pembawa lilin bayangan. Agar para penyerang terkecoh dan tidak tahu manakah pembawa lilin yang sebenarnya. Dan taktik ini berhasil sampai di finish walau semua pakaian kami basah kuyup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEbCJwhY4CI/AAAAAAAAAM4/evHgLPOaLng/s1600/Membawa+Obor.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEbCJwhY4CI/AAAAAAAAAM4/evHgLPOaLng/s320/Membawa+Obor.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496293868151824418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini giliran saya menyalakan obor kemenangan. Saya sampai harap-harap cemas. Saya takut nyala lilin itu malah padam di tangan saya. Itu berarti saya sudah melukai banyak orang yang telah mengorbankan ‘jiwa dan raga’ demi nyala sang lilin. Dan akhirnya, saya berhasil juga. Bendera Metro TV berkibar dengan gagah diiringi dengan sorak-sorai seluruh tim. Ada haru, rasa suka dan kegembiraan yang teramat sangat. &lt;br /&gt;Sambil menikmati kue dadar gulung dan risol, setelah permainan petang itu berakhir. Alam pikiran saya melayang jauh. Mungkinkah di kehidupan sebenarnya para elang juga akan bahu-membahu menyelamatkan markas besar elang (Metro TV) dari gempuran luar. Mungkinkah mereka akan mengorbankan ‘pikiran-jiwa-raga’ seperti dalam permainan ini. Wallahualam bisshawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa022JKa1I/AAAAAAAAALQ/OI0pkjaD3cE/s1600/Senyum+Kemenangan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 268px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa022JKa1I/AAAAAAAAALQ/OI0pkjaD3cE/s320/Senyum+Kemenangan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496279249592150866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah permainan itu berakhir kami punya waktu kurang lebih dua jam untuk istirahat dan berbenah diri. Tepat jam 7 kami baru berkumpul kembali untuk makan malam di aula. Di sana sudah tersedia nasi panas, tumis kangkung, Tom Yam, ikan kakap, calamari, sambal, krupuk sebagai menu makan malam kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja kami menyelesaikan makan malam kami, Mas Thamrin sudah berseru, “Halo!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan spontan kami menjawab, “ Hai!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pemanasan, kami diajak bernyanyi bersama dengan gerakan yang khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Marina…Marina… Menari di Menara&lt;br /&gt;Marince…Marince Menari di Menara.&lt;br /&gt;Mas Epoy…Mas Epoy menari di menara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pemanasan di rasa cukup. Fasilitator memberikan kami gambar dan kami dipersilahkan untuk membaca gambar tersebut dengan seksama selama beberapa menit. Kami tidak boleh memperlihatkan gambar kami kepada orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu masing-masing dari kami menceritakan gambar yang dimiliki. Mas Zul membuka ceritanya tentang seorang anak kecil yang mengintip keluar jendela, terlihat beberapa ekor ayam, babi/kuda kecil, dan lain-lainnya layaknya sebuah peternakan. Kemudian seperti biasa pemimpin kami Pak Arif memberikan ide agar kami berkelompok sesuai dengan gambar yang kami miliki untuk mempermudah terkuaknya misteri gambar.&lt;br /&gt;Setelah berdiskusi, kami pun menaruh gambar-gambar kami berderetan dalam posisi tertutup. Dan ternyata setelah dibuka, gambar tersebut memiliki cerita yang berurutan. Luar biasa! Saya sampai tak habis pikir betapa ajaibnya jika kita saling menyatukan pikiran dan bekerjasama, maka tidak ada yang tidak mungkin dalam mencapai tujuan. Bahkan dengan mata tertutup sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa1adiZDuI/AAAAAAAAALY/_G_ysQyHbh4/s1600/Gambar.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 155px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa1adiZDuI/AAAAAAAAALY/_G_ysQyHbh4/s320/Gambar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496279861462372066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berakhirnya permainan ‘picture sequences’ maka berakhirlah serangkaian permainan Team Building pada outbound kali itu. Luar biasa! Dari permainan remeh, dapat terlihat dengan jelas karakter asli dari seseorang, mana yang manja, berjiwa pemimpin, lemot, egois, pemberontak, cerdas, sok tahu, setia kawan, dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;Selesai dengan permainan ‘picture sequences’, kami digiring ke aula yang berada tepat di bawah posisi aula tempat kami makan malam. Acara selanjutnya adalah bernyanyi dan berjoget dangdut. Sayang sekali saya melewatkan acara ini, karena kebetulan pada saat itu saya sedang mengobrol dengan pangeran saya yang merasa kesepian di rumah. Ternyata tidak hanya saya yang tidak hadir dalam acara itu. Mbak Linda dan Mbak Nurul sudah terlebih dulu menyingkir untuk memanjakan otot-otot yang kaku karena kelelahan yang teramat sangat dengan tukang pijat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya masih mengingat beberapa momen penting. Seperti ketika primadona tim kami, Mbak Livy menyanyikan lagu ‘Jablay’ dengan goyangan mautnya. Seluruh peserta bersorak-sorai, sambil berjoget ikut irama. Saya juga sempat mendengar suara sumbang Mas Miko menyanyikan lagu ‘Kemesraan’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa1ksC-_tI/AAAAAAAAALg/52dMObrpjVQ/s1600/Joget+dangdut.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 235px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa1ksC-_tI/AAAAAAAAALg/52dMObrpjVQ/s320/Joget+dangdut.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496280037155864274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malam itu pun berakhir, seiring dengan berakhirnya acara ‘gila-gila-an’ dengan bernyanyi dan berjoget dangdut. Jika malam sebelumnya kami hampir tidak tidur. Maka malam itu kami tidak ada alasan lagi untuk tidak tidur. Kelelahan teramat sangat sudah menyerang bersama kantuk yang tak tertahankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berbaring di atas selembar kasur tipis yang terhampar di atas lantai kayu, saya berusaha memejamkan mata. Dalam gelap, saya sempat mengedarkan pandang ke sekeliling. Yani yang tidur di sebelah kiri saya tampak sudah pulas, begitu juga Mbak Yanti. Dan sebagaian besar perempuan di pondokan kami. Hanya mbak Linda dan Mbak Nurul yang masih belum menyelesaikan sesi pemijatannya di bagian bawah pondokan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunyi mulai terasa seiring dengan malam yang merambat naik. Saya pun tidak mendengar suara apa pun dari pondokan lelaki. Tampaknya mereka juga sudah terlelap karena kelelahan. Dan perlahan tapi pasti, saya pun terlelap. Saya tidak sabar menyambut pagi. Hoahem….zzzzzz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Day 3 (18 Juli 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa_1HB6-3I/AAAAAAAAAMg/wXuLo9dOvgI/s1600/persiapan+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa_1HB6-3I/AAAAAAAAAMg/wXuLo9dOvgI/s320/persiapan+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496291314393348978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikmati sarapan pagi berupa nasi uduk lengkap, kami pun digiring oleh pemandu menuju tempat perlengkapan rafting. Kemudian kami dipersilakan untuk mulai mengenakan perlengkapan rafting.  Perlengkapan terdiri dari Life Jacket, Helmet dan dayung.  Life Jacket disesuaikan dengan ukuran badan, mulai dari S-XL.  Setelah tiap orang telah mengenakan perlengkapan dengan lengkap, kami pun dikelompokkan menjadi beberapa kelompok.  Masing-masing terdiri 4 orang dan dipandu oleh 1 orang guide. Beberapa kelompok dipandu oleh dua guide. Ada juga tim yang dipandu oleh lebih dari satu guide.  Biasanya mereka adalah guide baru yang jam terbangnya belum sebanyak guide senior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa1xn3hEVI/AAAAAAAAALo/fuzYOWMXVIE/s1600/Persiapan+Rafting.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 275px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa1xn3hEVI/AAAAAAAAALo/fuzYOWMXVIE/s320/Persiapan+Rafting.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496280259372323154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan saya  sekelompok dengan Mas Miko, Agung, Mas Epoy, dengan guide bernama Lalan.  Setelah semua siap, kami diberangkatkan ke tempat start dengan mobil pickup. Masing-masing mobil pick up terdiri dari 2 kelompok, lengkap dengan para pemandunya. &lt;br /&gt;Dan pengalaman waktu di bus saat menuju caldera pun terulang kembali.  Berkelok-kelok, naik-turun, terguncang-guncang.  Benar-benar memacu adrenalin. Hal yang paling mengerikan adalah ketika pick up kami harus mendaki dengan ketinggian yang nyaris mencapai 90 derajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian mobil pick up yang kami tumpangi berhenti di suatu tempat. Saya pikir perjalanan kami telah berakhir. Ternyata tidak! Kami masih harus menuruni jalanan becek berbatu-batu yang curam, berjalan di pematang sawah nan becek, semak belukar, dan lain-lain. Kami benar-benar merasakan suasana desa yang sesungguhnya. &lt;br /&gt;Dalam hati saya berdoa, semoga desa-desa itu tetaplah begitu. Tidak tergerus arus modernisasi yang terbawa oleh para turis peserta wisata rafting. Semoga, sawah-sawah itu juga tidak diambil-alihkan menjadi pondokan-pondokan baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di tempat start, kami pun mengantri untuk naik ke perahu karet.  Sambil menunggu antrian, kami diberi pengarahan oleh leader mengenai kode-kode yang akan dia ucapkan saat nanti kami rafting.  Karena ini pengalaman pertama saya berarung jeram. Maka saya mendengarkan dengan cermat setiap penjelasan dari arung jeram. &lt;br /&gt;‘Maju’ berarti mendayung ke arah belakang. ‘Mundur’ berarti mendayung ke arah depan.&lt;br /&gt;Terkadang pada beberapa kasus, perahu karet kami harus menghindari batu di sebelah kiri atau pun kanan. Maka ketika guide memberi aba-aba ‘Pindah kiri’, maka orang di sebelah kanan pindah ke kiri. Begitu pun ketika guide memberi aba-aba ‘Pindah Kanan’ maka orang di sebelah kiri pindah ke kanan.  Sedangkan aba-aba ‘bump’ berarti penumpang perahu karet harus segera menunduk / duduk di lantai perahu untuk menghindari ranting-ranting pohon di sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang leader juga tidak henti-hentinya mengingatkan agar dalam kondisi apapun, tangan kiri kita harus menutupi ujung dayung agar tidak mencederai penumpang lainnya. Karena dari sekian banyak kasus kecelakaan di dalam perahu karet terjadi karena akibat terbentur gagang dayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu kami juga diajarkan tentang apa yang harus kita lakukan kalau-kalau anggota tim tercebur. Bagian yang harus diangkat adalah pelampungnya, bukan tangan atau malah kepala. Hingga akhirnya tiba giliran kami untuk masuk ke boat dan rafting pun dimulai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Miko salah satu anggota tim kami yang katanya sudah berkali-kali berarung jeram tampak sangat antusias dan terkesan tidak sabaran. Saat sang guide belum memberi aba-aba, Mas Miko sudah mendayung. Bahkan Mas Miko mengabaikan cara peletakan kaki yang benar untuk keselamatan. Kami cemas dengan kelakuan Mas Miko yang bisa berdampak buruk bagi keselamatan seluruh awak. Akhirnya kami mulai mendayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami akan mengarungi sungai citarik sepanjang 9 km dan akan menghadapi 21 jeram selama kurang lebih 2 jam.  Jeram pertama yang kami lewati adalah jeram Ayu, sesuai dengan namanya jeramnya terlalu kemayu alias tidak terasa. Saya tidak terlalu ingat nama-nama setiap jeram, saya hanya ingat beberapa seperti jeram which way (karena di bawahnya ada 2 jalur), jeram kincir (karena dulu ada kincir angin kecil buatan belanda di pinggir sungai), jeram sirkuit (karena di jeram tersebut para instruktur berenang semasa pelatihan), dan jeram yang paling dahsyat adalah jeram Jumping Jackless, dll.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berarung jeram, seperti yang kami duga sebelumnya. Mas Miko lah yang paling sering bermasalah. Saat guide memberi aba-aba maju, Mas Miko malah diam. Saat tidak ada aba-aba, Mas Miko malah mendayung. Mas Miko mengabaikan kemana harus meletakkan kaki selama berarung jeram. Akibatnya, Mas Miko lah yang paling sering terjatuh saat perahu karet kami mengalami goncangan hebat akibat arus liar. Puncaknya adalah ketika Mas Miko terjatuh keluar. Untung saja ada perahu tim lain yang berada di antara perahu kami dan tebing batu, kalau tidak mungkin Mas Miko bisa celaka. Saya bisa lihat jelas betapa saat itu Mas Miko panik. Kami pun bahu-membahu saling membantu untuk mengangkat Mas Miko naik ke atas perahu karet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saya ditarik oleh tangan kekar yang tidak lain adalah Mas Miko hingga terjatuh ke dalam air sedalam lebih dari dua meter. Saya yang kaget dan panik hampir tidak dapat menguasai diri selain pasrah meminum air sungai butek, dan membiarkan air masuk ke lubang hidung dan telinga saya. Saya tenggelam dan ini tidak bercanda. Kontan, Mas Miko dan anggota tim yang lain menyelamatkan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun mulai menikmati berenang-renang di air. Saya hanya mencemaskan kalau-kalau sepatu crocs kesayangan saya ikut hanyut. Suasana mencekam berubah menjadi derai tawa. Akhirnya seluruh anggota tim, ikut berenang-renang di dalam air sungai yang cukup tenang. Hingga sang guide mengisyaratkan untuk naik kembali ke dalam perahu karet dan melanjutkan perjalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Pak Lalan. Dia adalah guide tim kami. Pak Lalan termasuk salah satu guide senior yang sudah hampir 10 tahun menjadi guide arung jeram. Sebelum bekerja di Caldera, dia pernah beberapa kali bekerja di tempat-tempat serupa, termasuk di Bali. Keahlian Pak Lalan dalam mengendalikan perahu karet di arus liar tidak perlu diragukan lagi. Pak Lalan pun sangat jenaka, dia tahu benar bagaimana memanfaatkan kecemasan kami untuk bercanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa2AEPplPI/AAAAAAAAALw/AVWUcYN0uOM/s1600/Rafting.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 255px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa2AEPplPI/AAAAAAAAALw/AVWUcYN0uOM/s320/Rafting.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496280507507905778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali Pak Lalan memberi aba-aba ‘bump’. Dan kami dengan cekatan menunduk menghindari sesuatu yang kami sendiri tidak tahu. Pak Lalan tertawa terbahak-bahak. Rupanya Pak Lalan menipu kami. Kali lain Pak Lalan melempar tali menyerupai biawak sambil berseru ‘Biawak!’ ke arah saya. Dan seketika itu pula saya berteriak sekencang-kencangnya memecah kesunyian. Dan para lelaki hanya tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Lalan juga mengajak kami merasakan “komedi putar” yang berarti adalah mengarungi jeram dengan perahu karet yang sambil berputar-putar.  Caranya adalah orang disebelah kanan mendayung mundur sedangkan orang di kiri mendayung maju.  Jadilah kami terombang-ambing sambil terputar-putar. Tidak terasa hampir dua jam telah berlalu. Perahu karet kami telah tiba di garis finish. Sesampainya kami di sana, kami langsung disuguhi kelapa muda, bakwan dan Tom Yam hangat. Sungguh hidangan yang pas untuk kami yang sedang kelelahan dan kehausan sekaligus lapar. Kami saling bersendera-gurau melepas lelah sambil menikmati hidangan istimewa. Namun sayang dua orang dari kami, terluka. Bang Parlin, anggota senior kamilah yang terparah. Luka akibat terpelanting dari perahu karet dan tergores batu tajam membuatnya harus dibantu dua orang untuk berjalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup beristirahat, kami pun diantarkan kembali ke pondokan dengan mobil pick up. Jalur yang kami lewati masih sama terjalnya dengan keberangkatan kami. Yang berbeda hanyalah, kali ini pakaian kami basah kuyup dan didera kelelahan yang teramat sangat. Saya tidak sabar untuk mengikuti permainan selanjutnya. Flying Fox.&lt;br /&gt;Sesampainya di Caldera, kami melompat dari pick up dengan sisa tenaga yang tersisa. Setelah kami mengembalikan semua peralatan rafting ke tempat semula, kami berlari-lari kecil menuju tempat persiapan flying fox. Beberapa orang sudah memisahkan diri dari rombongan untuk membersihkan diri. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang memiliki phobia dengan ketinggian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan beberapa orang lainnya dalam keadaan basah kuyup yang telah siap dengan peralatan keselamatan untuk flying fox segera menyeberangi jembatan kayu setapak yang diberi pengaman jaring-jaring di sisi kanan dan kirinya. Jembatan akan bergoyang-goyang seirama dengan langkah kaki kita. Untuk keamanan, kami hanya diperbolehkan menyeberang lima orang dalam sekali jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sukses menyeberangi jembatan, kami berbaris antri untuk menunggu giliran flying fox. Walaupun itu pengalaman pertama saya melakukan flying fox, sedikitpun hati saya tidak merasa kecut. Saya malah merasa sangat antusias untuk terjun bebas dengan bantuan tali pengaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turun dari flying fox, kue Putri Ayu berwarna hijau dengan taburan parutan kelapa di atasnya dan risoles goreng sudah menanti di meja. Yummy! Tanpa basa-basi, saya dan beberapa teman yang lain langsung menyerbu untuk menyantapnya. Setelah puas dengan sajian camilan alakadarnya itu, saya pun memilih segera kembali ke pondokan untuk membersihkan diri dan berbenah, karena tepat jam 12 siang kami akan meninggalkan tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sajian menu makan siang berupa nasi panas, ayam goreng, empal goreng, urap, soto babat, emping, sambel merupakan makan terakhir kami sebelum meninggalkan Caldera. Bis ‘White Horse’ dan mobil lainnya yang membawa rombongan kami sudah menanti di halaman parkir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan makan siang, mengambil foto petualangan rafting kami, dan berpamitan dengan fasilitator dan segenap kru yang telah membantu kami. Akhirnya kami naik ke dalam bis dan kembali ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tinggal Caldera! Saya pasti akan kembali, entah kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 21 Juli 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-8611106188563214208?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/8611106188563214208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=8611106188563214208' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/8611106188563214208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/8611106188563214208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2010/07/catatan-perjalanan-caldera.html' title='CATATAN PERJALANAN CALDERA'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TEa3sp9SIWI/AAAAAAAAAL4/uQr1jJ9MeQ8/s72-c/Kedatangan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-6862639226237771589</id><published>2010-07-16T02:06:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T02:09:50.693-07:00</updated><title type='text'>TENTANG MALAIKAT</title><content type='html'>(Lanjutan dari JANGAN AMBIL MALAIKATKU!)&lt;br /&gt;Sepanjang kehidupan saya, para malaikat datang dan pergi silih berganti. Satu-persatu dari mereka datang saat saya sedang kepayahan melangkah, kemudian kembali pergi setelah saya mampu berdiri dengan tegak dan tersenyum. Para malaikat tanpa sayap dalam bentuk manusia ini seperti dikirim Tuhan untuk menemani masa-masa sulit saya. Mereka dikontrak dengan periode kontrak yang telah ditentukan. Setelah waktunya berakhir, maka dia juga akan segera pergi dan pindah ke kontrak barunya dengan menjadi ‘guardian angel’ untuk orang yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak pernah bisa menerka kapan Tuhan akan mengirimkan malaikatnya untuk saya. Bahkan terkadang saya baru bisa mengenali malaikat saya di penghujung waktu atau malah setelah takdir memisahkan kami dan membawa saya pada malaikat lain yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu saya kembali dalam posisi yang tidak menguntungkan. Saya dirundung kesedihan setelah mengalami beberapa ujian, dan ketika saya mencoba memahaminya. Tuhan mengirimkan malaikat lagi untuk menemani saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak datang sebagai malaikat sempurna seperti sebelumnya. Dia justru datang dengan segenap permasalahannya. Namun justru dari permasalahannyalah saya bisa belajar banyak, bahwa hidup tidak selamanya mulus sesuai rencana. Saya belajar untuk mensyukuri hidup saya yang jauh lebih beruntung darinya. Dan saya belajar untuk memahami bahwa segala sesuatu pasti ada alasannya. Sekalipun itu adalah tindakan yang kejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya dia datang, saya adalah perempuan yang terluka. Dia datang menyembuhkan dengan caranya sendiri. Karena dia ternyata adalah gambaran dari seseorang yang menyakiti saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menemani saya memahami hidup dalam kesenyapan. Dia membuka mata hati saya bahwa hidup ini adalah kejam, tidak seputih yang saya bayangkan. Dia juga yang mematahkan teori-teori saya tentang bagaimana membalas kejahatan dengan kebaikan dan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengajari saya dengan kebencian dan kemarahannya yang teramat sangat pada hidupnya, juga pada orang-orang yang pernah menyakitinya. Dia tidak hanya mengurai hidupnya yang getir, tetapi juga menularkan kebenciannya pada saya. Hingga saya ikut menangis dan meradang pada mereka yang telah menyakiti malaikat saya. Bahkan saya ikut merasakan kehancuran yang sama seperti yang dia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamanya saya seperti ikut serta dalam hidupnya yang seperti roller coster, melambat kemudian menghentak dan bergerak sedemikan cepat bersama deru emosi, kemudian melambat lagi dan kemudian jungkir-balik dalam roda ceritanya. Saya yang semula takut dan mengambil jarak tiba-tiba ingin ikut menyelesaikan akhir perjalanan dari roller coster tersebut. Saya tidak mau berhenti di tengah, atau saat saya berada dalam posisi jungkir-balik, kepala di bawah bergantung pada pengaman pinggang, yang siap menjatuhkan saya kapan saja dengan gaya gravitasi bumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengajarkan saya sebuah pembalasan dendam yang sempurna. Bersamanya saya seperti menjadi seorang agen rahasia yang sedang melancarkan aksi rahasia dengan sembunyi-sembunyi. Tidak boleh ada seorang pun yang tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya terkagum-kagum ketika dia mengurai sederet taktik yang sudah dipersiapkannya dengan sempurna. Dia tahu benar kapan harus maju menyerang dan kapan harus mundur untuk menghilangkan jejak. Dia mengajari saya menjadi spionase ulung yang semula hanya saya lihat di film-film Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menceritakan hampir setiap detil rencananya kepada saya. Dan saya hanya ternganga mendengar setiap kejutan yang dia lontarkan. Dia menawari saya untuk menjadi bagian dari aksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Aku harap kamu mau membantu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sampai terkesiap ketika tanpa terduga dia mengatakan hal itu. Saya sempat menimang-nimang, hingga akhirnya dengan gegap gempita saya menerima tantangan itu. ” Baik... siapa takut.” Mata saya berbinar-binar dan dia mengangguk. Setelah itu saya resmi menjadi Ms. Spy dari seorang James Bond.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat saya mengajari saya untuk bermimpi. Dia menularkan mimpinya kepada saya. Mimpinya untuk mengejar suksesnya yang juga merupakan bagian dari pembalasan dendamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Kamu tahu, suatu hari nanti mereka yang pernah mencampakkan aku, akan menyesal...” Dia mengatakan hal itu berkali-kali di hadapanku, sambil sorot matanya memancarkan emosi yang meletup-letup.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;” Dalam waktu dekat, aku akan mendapatkannya....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Kamu tahu, sebentar lagi Ferrari itu akan jadi milikku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Suatu hari nanti, kamu pasti akan sulit bertemu denganku. Karena aku akan menjadi orang sukses yang teramat sibuk....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hampir setiap hari saya dicokoli dengan kalimat afirmatif positif tentang mimpinya. Saya tidak menghindar, malah saya terus mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun saya adalah seorang pemuja mimpi. Saya percaya benar bahwa apa yang terjadi nanti tergantung dari apa yang kita pikirkan sekarang, You are what you think all day long. Saya berkali-kali membuktikannya. Dan saya terus-menerus membesarkan hatinya dan menyemangatinya agar tidak menyerah merebut mimpinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” You are what you think all day long!” Saya dengan berapi-apinya menyemangatinya ketika dia kembali menceritakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Well, I’m thinking I’m Brad Pitt but neever been Brad Pitt. Bahkan mungkin tidak akan pernah menjadi Brad Pitt.” Katanya saat itu. Saya dibuat melongo, hampir bingung mau membalas apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Yah....bermimpi juga mesti realistik, bung!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Well, itu berarti teorimu tidak valid...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya memilih untuk diam daripada harus mendebat sang jago berkelit. Saya tahu, mungkin dia hanya sedang menguji hati saya yang mudah kecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Dan aku bingung, kenapa kamu mau bertahan dalam keadaan seperti ini. Aku benci melihat orang dengan talenta seperti kamu berada dalam posisi tidak berguna seperti ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leher saya hampir tercekat ketika dia mengatakan hal tersebut kepada saya. &lt;br /&gt;” Kamu seharusnya bisa menjadi lebih baik lagi dengan memanfaatkan semua potensi kamu? Dan kamu malah memilih terpenjara tanpa penghargaan yang pantas.” Sorot matanya yang tajam lekat menghujam hati saya yang paling dalam. Saya hampir menangis kehabisan kata. Saya tidak sanggup membela diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huh....Saya kesal setengah mati saat itu. Walau dalam hati saya membenarkan kata-katanya. Bahwa saya, hampir saja menjauh dan mengambil arah yang berbeda dari mimpi saya. Saya bahkan hampir tidak sanggup memunguti kepingan-kepingan mimpi yang sempat tercerai-berai. Saya menunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan matanya mulai melembut, mungkin dia mulai melihat kerapuhan saya. ” Well, itu semua pilihanmu....” Dia mengangkat bahunya sambil mulutnya komat-kamit.&lt;br /&gt;Saya mengangkat wajah menatapnya, dan dia membalasnya dengan senyum sinis membuat hati saya semakin kecut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Pilihanmu untuk memasrahkan diri pada sesuatu yang kamu sebut takdir. Sambil terus berkisah tentang betapa nyamannya dirimu pada orang-orang sekelilingmu. Kamu pikir mereka benar-benar peduli dengan kamu?” Matanya mendelik. Saya melongo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Tidak...tidak ada yang lebih peduli kepada diri kamu selain diri kamu sendiri. Camkan itu...berlarilah mengejar mimpimu! Tinggalkan omong kosong itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali lain dia menceritakan tentang kegilaannya pada seorang wanita. Kegilaan karena cinta yang menyakitkan. Dia lagi-lagi menceritakan tentang betapa getir adalah teman akrabnya, begitu juga dalam hal percintaan. Satu-persatu cintanya memilih mundur teratur demi sebuah cinta yang dirasionalisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Semua perempuan itu sama saja...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Maksudmu?” Saya mengernyitkan dahi menatap wajahnya yang penuh  kegeraman teramat sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Perempuan mengejar kenyamanan, financial security alias materialistis. Cinta bagi mereka adalah memanjakan dirinya dengan berlian, mobil mewah, rumah mewah, dan ...”&lt;br /&gt;” Maksudmu?” Saya memutusnya sambil mendelik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Ya perempuan itu pada dasarnya materialistis...” Kegeramannya masih belum berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Aku tidak...” Saya membela diri, dia melihat saya sejenak, sebelum akhirnya dia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Well, mungkin kamu adalah pengecualian. Tapi kurasa tidak juga. Aku tidak yakin kamu siap hidup susah...” Saya terkesiap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terserahlah saya malas berdebat dengannya. Saya pasti kalah. Saya benci kalah. Dia memang malaikat yang aneh, dia membuat saya nyaman dengan caranya sendiri.&lt;br /&gt;Malaikat saya mengajarkan bagaimana mengejar cinta. Dan saya terang-terangan menolak teorinya. Saya setuju pendapat John Powell, konselor dan penasihat spiritual. Bahwa dalam mencinta, yang terjadi adalah: cinta bersyarat atau cinta tak bersyarat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak ada kemungkinan ketiga!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila untuk mencintai kita memerlukan syarat, berarti cinta itu bukan cinta sejati. Cinta sejati adalah harus dan merupakan hadiah yang diberikan secara cuma-cuma. Kita benar-benar cinta bila orang yang kita cintai mendapatkan cinta kita, bukan karena ia pantas menerima cinta kita. Disebut pantas karena cantik, anggun, ganteng, baik hati, dsb. Kita sadar bahwa orang yang kita cintai bukanlah orang yang terbaik, bukan orang yang paling hebat, bukan yang paling cocok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, itu semua tidak menjadi persoalan. Yang penting adalah bahwa kita telah memilih untuk memberikan kepada orang yang kita cintai berupa cinta kita, dan juga telah memilih untuk mencintai kita. Dalam kondisi inilah cinta dapat tumbuh dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, orang yang dicintai karena alasan pantas atau dianggap berhak menerima cinta, selalu menimbulkan keraguan: mungkin saya tak dapat membahagiakan orang yang saya inginkan mencintai saya. Atau mungkin selalu ada rasa cemas, jangan-jangan suatu waktu cinta akan lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, cinta yang didapat karena alasan pantas menerimanya selalu meninggalkan rasa getir dalam kesan: bahwa orang dicintai bukan karena dirinya, tetapi kemampuannya membuat orang lain senang. Ini bukan cinta, tetapi manipulasi! Cinta sejati tanpa syarat, dan bersifat membebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kamu tidak tahu apa-apa tentang sakit hati…” Dan dia pun geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku pernah kehilangan cinta... Saiful Malook?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Saiful Malook itu berbeda…dia maya. Dan aku nyata.”  Dia membuat saya kecut untuk kesekian kalinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, Dia dengan cepat menguasai hidup saya. Membenahi hal-hal yang perlu dibenahi dalam hidup saya. Setiap satu hal terselesaikan, saya mulai cemas kalau malaikat saya ini juga akan pergi meninggalkan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Tuhan saya tidak rela bila saya harus kehilangan malaikat saya kali ini. Malaikat yang telah menceriakan hari-hari saya. Malaikat yang telah memberi warna dalam hidup saya, dan bahkan menginspirasi saya pada novel saya berikutnya.&lt;br /&gt;Hingga saya memohon kepada Tuhan  agar Dia tak mengambil malaikat saya kali ini.&lt;br /&gt;” Tuhan, tolong jangan ambil malaikatku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menjadi serakah dan egois. Saya tidak ingin siapa pun memiliki dia. Saya mencoba merampasnya dari Tuhan. Agar Tuhan tidak bisa memindah-tugaskan malaikat saya pada orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali saya bertanya padanya, ” Apakah kamu juga akan terbang meninggalkanku sendiri seperti malaikat-malaikat lain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membalikkannya dengan, ” You are what you think all day long. Tergantung dari apa yang kamu pikirkan.” Dia tersenyum sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Aku tidak mau...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Maka aku akan menjadi malaikatmu selamanya...” Dia membesarkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan waktu, perlahan tapi pasti. Dia mulai menjauh dan bersiap terbang. Mula-mula, kedua kakinya berdiri tegak sambil memandang saya. Kemudian dia menghiraukan saya sambil merentangkan sayapnya  yang membuat saya terpukau, karena sebelumnya saya pikir dia tidak bersayap. Hingga dia mulai mengangkat kakinya satu, sambil menoleh ke arah saya yang memelas agar dia tidak terbang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saya hampir kehabisan alasan untuk menahannya agar tidak terbang. Begitu pun saya mulai kehabisan alasan untuk menangis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya masih memandang sudut-sudut dimana dia menemui saya. Saya masih memandang setiap jengkal jalan tempat dia pernah membawaku terbang. Sambil terus mengingat setiap kisah yang meluncur dari mulutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudut-sudut itu masih sama, jalan raya, rambu, bangunan, dan lainnya masih sama. Yang berbeda hanyalah tidak ada lagi dirinya. Dan pasti tidak akan sama. &lt;br /&gt;Pertemuan dan perpisahan adalah dua sisi mata uang yang tak akan terpisahkan. Tidak akan pernah ada pertemuan bila tidak ada perpisahan. Begitu juga tidak pernah ada perpisahan tanpa pertemuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin di belahan bumi lain, ada seseorang yang sedang membutuhkan hangatnya sayap sang malaikat. Mungkin Tuhan tahu, saya sudah cukup kuat berjalan. Dan mungkin, Tuhantelah mempersiapkan malaikat lain untuk menemani saya. Mungkin juga anda adalah malaikat saya berikutnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 16 Juli 2010 &lt;br /&gt;Risma Budiyani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-6862639226237771589?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/6862639226237771589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=6862639226237771589' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/6862639226237771589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/6862639226237771589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2010/07/tentang-malaikat.html' title='TENTANG MALAIKAT'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-4193529481876686764</id><published>2010-06-24T09:14:00.000-07:00</published><updated>2010-06-26T07:15:03.842-07:00</updated><title type='text'>MAAFKAN, AKU SELINGKUH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TCOHKbtZkVI/AAAAAAAAAKQ/CC6K0PIuSr8/s1600/girl_flirt.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TCOHKbtZkVI/AAAAAAAAAKQ/CC6K0PIuSr8/s320/girl_flirt.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5486377384374014290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah perempuan bersuami , yang sangat mencintai suamiku. Karena hampir tidak ada yang perlu kusangsikan untuk tidak mencintai pangeran tampan yang telah mendampingiku dalam suka dan duka, dalam gelisah dan mendesah, dalam temaram dan terang. Setiap detik desah nafasku adalah hanya wajahnya yang selalu membayangi. Tidak ada yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintainya tanpa syarat. Sedang debar hatiku masih sama kerasnya ketika aku pertama kali menjumpainya. Senyumnya menceriakan duniaku, sekalipun saat itu duniaku seperti neraka. Dia memanjakanku dengan segenap perhatian. Seandainya aku meminta bulan sekalipun, dia akan bersusah-payah untuk mendapatkannya asal aku bisa tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia selalu berusaha keras untuk tidak membuat aku menangis. Satu tetes air mataku jatuh akan membuatnya terluka hingga dia tidak henti-hentinya menyalahkan kebodohannya yang telah menyia-nyiakan anugerah terindah dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya, aku adalah anugerah terindah yang pernah ada dalam hidupnya. Dia telah melewati perjalanan panjang untuk mencari seorang bidadari untuk menemani hidupnya yang gersang. Dan akulah bidadari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersanjung? Tentu saja aku tersanjung. Dan aku yakin perempuan mana pun akan tersanjung bila kekasihnya, suaminya memujanya setengah mati. Hingga kau sampai tidak tahu lagi, bahwa di sana ada ratusan juta pasangan yang saling mengkhianati pasangannya. Hingga kau pikir bahwa kamu adalah perempuan paling beruntung sedunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah aku bahagia? Tentu, tentu saja aku bahagia. Setiap detik yang terlewati ada senyum, canda dan tawa. Aku sudah lupa bagaimana rasanya menangis ketika aku kehilangan sesuatu. Aku sudah lupa bagaimana rasanya kecewa karena aku tidak mendapatkan sesuatu yang aku inginkan. Aku sudah lupa rasanya bersedih. Karena semenjak aku berjumpa dia, yang ada adalah episode bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau misalkan kisah Sampek – Engtay, Romeo – Juliet, Laila Majnun, Rama-Shinta, Maka kamilah kisah itu. Aku yakin bila sesuatu yang buruk terjadi pada diriku. Pangeranku akan mati perlahan. Atau malah parahnya dia akan mati bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya aku adalah separuh jiwanya. Bila separuh jiwanya pergi, maka dia tidak akan bertahan hidup lebih lama. Sama seperti elang yang setia sampai mati dengan pasangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya aku adalah dunianya. Aku dan segenap pesona yang kumiliki telah mengalihkan dunianya. Telah menutup matanya dari para gadis-gadis muda belia lagi cantik yang berseliweran. Aku…aku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah… Tidak ada lagi yang patut aku ceritakan selain kami adalah pasangan serasi. Kami berharap, cinta kami tidak akan pernah lekang di makan oleh waktu. Biarkan kami mencinta sampai nyawa ini terlepas dari raga. Dan izinkan kami mencinta hingga masanya kami berkumpul di surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu hari aku bertemu dengan lelaki lain dalam kehidupanku. Lelaki itu tidak lebih tampan dari pangeranku. Tetapi pesonanya seakan mampu mengalihkan sebagian duniaku yang semula dikuasai oleh pangeranku. Bagiku pangeran dan dia adalah dua sosok berbeda yang saling melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya James. Entah bagaimana tiba-tiba Tuhan mengirimkan lelaki itu di salah satu episode dalam hidupku. Dan menurutku ini adalah episode yang salah. Mengapa James datang terlambat? Mengapa tidak dahulu ketika aku masih lajang dan belum bertemu pangeran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;James adalah lelaki yang tampan. Dia selalu terlihat percaya diri, dalam setiap kesempatan. Dia seperti tahu apa yang ingin dilakukannya. Aura positifnya terlihat sedemikian kuatnya memancar dan menjadi daya tarik tersendiri. Aku yakin James, mampu memikat siapa saja yang bertemu dengannya. Tidak hanya para gadis lajang, mungkin siapap pun orangnya akan suka memandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak pernah berkenalan langsung dengan James. Tetapi aku mengenalnya. Dan aku yakin semua orang yang tinggal sekomplek dengannya akan mengenalnya tanpa berkenalan dengannya. James memang berbakat menjadi seorang selebritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;James sangat tampan. Suatu kali aku pernah berpapasan dengan James. Dan Oh Tuhan, bola matanya yang perpaduan biru dan hijau demikian cantiknya menghias matanya. Aku hampir tidak berkedip melihatnya. Tiba-tiba saja, mata coklat pangeranku di rumah yang selama ini aku puja dan aku kagumi, tidak ada apa-apanya dibandingkan mata James.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sampai menghentikan langkahku demi untuk melihat James lebih dekat. Sambil menciumi habis aroma tubuhnya yang harum. Walaupun sebenarnya, wangi James tidak lebih harum dari Obsession for Men-nya Calvin Klein milik pangeran. Tetapi aku menyukainya. Terlihat sekali bahwa James adalah lelaki yang merawat diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh, sejak kapan aku menyukai lelaki berkumis? Dahulu aku tidak pernah suka lelaki berkumis yang terlihat sangat kebapakan. Tetapi kumis James, sungguh memikatku. Dan justru kumis itu membuatnya tampak maskulin di usianya yang aku yakin masih muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku masih belum berani berkenalan langsung dengannya. Selain malu, aku juga masih menjaga diri. Apa kata orang kalau seorang perempuan bersuami berkenalan dengan lelaki yang bukan muhrim. Lagipula apa alasan aku untuk berkenalan dengan James?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya PR seperti di masa-masa sekolahku dulu? Tanya laporan revenue penjualan program untuk melengkapi laporan mingguanku? Atau menanyakan mengapa hukum ekonomi tidak lagi bisa menjelaskan keadaan negara kita? ATau malah menanyakan kredibilitas hukum di Indonesia? Ah sepertinya itu terlalu mengada-ada. Jangan-jangan James malah mundur teratur dan lari tunggang-langgang karena aku mendekatinya dengan cara yang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku hanya berani memandangnya dari kejauhan. Dalam jarak yang tidak terlalu jauh namun juga tidak cukup dekat. Asalkan dari tempatku berdiri, aku bisa dengan leluasa mengamati James.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sampai hafal jadwal James. Di pagi-pagi buta biasanya James berlari pagi keliling kompleks. Kemudian sekitar jam setengah tujuh pagi. James akan berdiri di sekitar taman, mengamati orang-orang yang berlalu-lalang. Aku tidak pernah tahu James sebenarnya bekerja sebagai apa? Dan dimana? Tetapi aku tidak peduli dan tak perlu tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku memajukan sedikit jam pergi ke kantorku agar aku bisa melihat James pada jam-jam itu. Suatu kami pangeran curiga, mengapa kini aku berangkat pagi lebih cepat dari biasanya. Dan aku hanya berkelit,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Pekerjaan kantor sibuk sekali…” Kemudian aku mengambil tas dan laptop-ku, kemudian menciumnya mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dagh…honey, sampai sore nanti…” Kemudian aku dengan tergesa-gesa meninggalkan halaman rumah diiringi tatapan heran pangeran. Aku berharap semoga Pangeran tidak curiga oleh perubahan sikapku yang lebih ceria dan selalu berangkat pagi hanya demi melihat James.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali pangeran memaksa, “Hari ini aku antar kamu ke kantor?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oow…. Gawat…! Aku sedikit gugup, namun aku berusaha menguasai diriku. “ Gak usah sayang, nanti kamu telat ke kantor.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal aku tahu kalau pangeran sudah memanaskan mobil semenjak pagi buta, hanya demi mengantar aku bidadarinya. Namun aku memutus harapannya dengan merajuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tapi ini kan hujan sayang…” Pangeran lagi. Aku tersenyum mesra, kemudian menggelendot manja pada pangeran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Cuma gerimis, nanti aku bisa naik taksi.” Aku sambil memeluk pangeran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran agak berat membiarkan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Boleh ya sayang?” AKu merajuk. Lama menunggu jawaban, Pangeranku mengkerutkan dahinya seperti menimang-nimang. Kemudian dia menatapku yang sedang memasang tampang memelas. Dia agak ragu sebelum akhirnya memutuskan untuk membiarkan istrinya pergi sendiri. Pangeran tersenyum, dan mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ YES !” Dalam hatiku berseru, sambil melonjak kegirangan. Tentu saja aku tidak mau membiarkan suamiku mengetahui rencanaku. Tentang aku yang sengaja menolak suamiku untuk mengantarku. Karena sebenarnya aku ingin melihat James. Aku pun mencium bibir suamiku dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Thanks honey…” Suamiku tersenyum, kemudian kedua tangannya menegakkan kepalaku dengan lembut, agar dia bisa dengan leluasa menciumku keningku. Kupeluk dia dengan erat untuk yang terakhir kalinya. Sebelum aku meninggalkannya dan menyambar tasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Don’t you want to call cab, beloved?” Tanya suamiku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ya biar aku stop taksi di depan jalan. Kalau telpon takutnya kelamaan.” Aku menjawab dengan spontan, sambil mataku pura-pura sibuk mencari sesuatu dalam tasku. Aku tidak ingin pangeranku melihat mataku. Karena kalau dia sampai melihatnya, dia akan tahu bahwa aku sedang membuat alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Okey honey….I’m going. Assalamualaikum…” Aku berlalu meninggalkannya dengan sedikit terburu-buru. Karena aku takut aku tidak bisa melihat James lagi, karena dia sudah masuk ke dalam rumahnya atau malah sudah pergi meninggalkan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Jemput gak?” Suamiku setengah berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghentikan langkahku dan menatapnya sambil memperagakan gerakan menelpon dan bibir komat-kamit, “I’ll call you…” Pangeran mengangguk. Aku pun tidak membuang waktu lagi. Aku segera berlari meninggalkannya. Ah, mungkin pangeran sedikit curiga mengapa aku begitu bersemangatnya meninggalkan rumah demi kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mempercepat langkahku namun tidak berjalan lurus ke depan jalan raya, tetapi memutar arah menuju blok yang berbeda. Agar aku bisa melewati rumah James. Sengaja aku memperlambat langkahku, sambil mataku menatap sekeliling kalau-kalau ada James di situ. Aku sampai harus menghentikan langkahku agar aku bisa melihat dengan jelas ke arah rumah besar berpagar putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja apa yang aku khawatirkan. James sudah pergi. Jam segini pasti James sudah ada jadwal lain. Karena didorong oleh rasa penasaran, akhirnya aku mendekati rumah James. Dari balik jeruji pagar besi berwarna putih itu, aku melihat sebuah mobil merci E-Series dan sebuah mobil Nissan X-Trail yang masih terparkir di halaman rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ups, mobilnya masih lengkap ada kemungkinan si Mata Biru ada di dalam. Mataku menyelidik, menembus jeruji pagar. Tetapi aku tidak melihat siapa pun di sana. Agak lama aku menunggu, hingga aku melirik jam tangan yang melingkar di jemari tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha?!? Jam setengah delapan…” Aku terkejut setengah mati. Hari ini aku ada jadwal meeting tepat jam setengah Sembilan. Aku bisa telat… Buru-buru aku berlari meninggalkan rumah James.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari tanpa melihat James adalah hal yang paling mengerikan bagiku semenjak mengenal James. Makanya setiap pagi aku berusaha meluangkan waktu mengintip James. Melihat tampang James yang innocence adalah sensasi tersendiri. Efeknya sangat dahsyat. Dadaku berdebar hebat, sama seperti gadis kecil yang baru saja mengenal cinta. Melihat James di pagi hari sudah seperti ritual yang harus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berminggu-minggu aku hanya berani menjadi penggemar rahasia James. Aku mengagumi James dalam diam. Bahkan aku pikir aku benar-benar telah jatuh cinta. Dan aku merahasiakannya. Hanya aku dan Tuhan saja yang boleh tahu, bahwa aku jatuh cinta lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali aku mencoba mendiskusikan perasaanku yang teramat musykil ini pada sahabatku di kantor, Selvi. Sorot matanya tajam menatapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kamu memang benar-benar sudah gila! Tidak waras!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Cinta yang membuatku gila, Vi.” Aku membela diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Cinta?” Selvi menatapku dengan pandangan yang meremehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iyah cinta….perasaan yang sama ketika hati kamu tertambat pada seseorang…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Suamimu tahu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya menggeleng pelan. “ Tidak…tidak akan kuberitahu. Tadinya aku hanya ingin menyimpan rahasia ini sendirian, hanya aku dan Tuhan saja yang tahu. Sekarang ada kamu, maka ini rahasia segitiga. Hanya aku, kamu dan Tuhan. Berjanjilah padaku, kamu tidak akan mengkhianati kepercayaanku!” Awalnya Selvi ragu, hingga akhirnya dia mengangguk juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku ingin memeluknya….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan saja Selvi mendelik mendengar perkataanku tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iyah…memeluk, dan kalau boleh menciumnya…” Aku menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kau gila!” Selvi membentakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ya itu dia, aku sudah gila.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku pikir kamu mencintai pangeranmu seorang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iya…aku masih mencintai pangeran. Tidak berkurang kadarnya sedikit pun. Tapi itu bukan berarti aku menutup diri pada cinta yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selvi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatapku. AKu tersenyum sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku juga ingin memilikinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut Selvi terbuka lebar, dia begitu shock dengan apa yang didengarnya. “ Memilikinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yah…” Aku tidak ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Pangeran?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iyah….dia tetap pada tempatnya begitu juga James.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ku pikir kamu sudah diguna-guna. Kamu bukan sahabat yang kukenal. Aku hampir-hampir tidak percaya kalau aku sedang berbicara dengan….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kupikir James bisa mengisi kesenyapan kala suamiku tidak ada di rumah.” Aku tersenyum sinis lagi. Dan Selvi mengangguk pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ah terserah kau sajalah! Aku tidak mau ikut-ikutan…” Selvi lepas tangan. Maka semenjak saat itu, aku tidak lagi membicarakan perkara hatiku pada Selvi. Aku lebih senang menyimpannya dalam hati. Tentang kisahku dan James. Biar saja rahasia ini hanya aku dan Tuhan saja yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan James benar-benar tidak pernah lekang dari alam pikiranku. Senyum manisnya, mata biru-hijaunya, tangan dan kakinya yang berbulu panjang, harumnya, badannya yang terlihat sedap dipandang, dan segenap kelebihan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan bayangan James hampir tidak mau pergi, walau pun aku sedang berdua dengan suamiku. Mungkin ini yang namanya jatuh cinta. Selalu teringat pada sang pujaan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali aku berkesempatan untuk berkenalan secara langsung. Aku menyentuh tangannya. Lembut sekali. Seperti ada aliran listrik maha dahsyat ketika aku menyentuh tangannya. Aku senang berlama-lama menyentuh tangannya. Karena dengan begitu, aku bisa memuaskan mataku dengan memandang wajahnya yang tampan, matanya yang biru-hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sejak saat itu. James selalu menungguku di depan rumahnya. Dia akan mempersembahkan senyum termanisnya untukku. Senyum yang menceriakan pagiku. Senyum yang tidak pernah bisa aku lupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama berkenalan dengan James, membuat aku jadi tahu benar kesukaan James. Tentang wewangian kesukaan James, makanan favoritnya, sampai tentang hal-hal yang paling membuatnya jengkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;James suka sekali ikan. Maka hampir tiap hari aku menyiapkan sushi segar untuknya. Mata James berkerjap-kerjap ketika aku memberikan ikannya. Tak henti-hentinya dia mencium tangan kananku ala pangeran dari kerajaan antah berantah yang sedang memperlakukan seorang putri. Romantis….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin dekatnya hubunganku dengan James, membuat hubunganku dengan suami semakin renggang. Demi James, aku hampir tiap hari memasak ikan. Makanan yang paling dibenci pangeranku. Dan tentu saja pangeranku terlalu baik. Dia tidak akan pernah protes tentang apa yang aku suguhkan. Makanya pangeran adalah pria tersabar seantero jagat. Dia hampir tidak pernah marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintar-pintarnya menyimpan bangkai, pasti suatu saat tercium juga. Dan suamiku akhirnya mencium gelagatku yang aneh. Tentang aku yang tiba-tiba menjadi sering berangkat ke kantor lebih pagi, tentang aku yang tiba-tiba menyukai ikan, tentang aku yang agak acuh tak acuh dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sayang….can we talk?” Suatu kali suamiku bertanya kepadaku yang sedang asyik memonopoli remote control. Tanpa menoleh dan sambil memencet-mencet tombol remote. Aku menjawab asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ngomong aja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ This is serious…” Suamiku masih berusaha lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yah…I’m ready to listen.” Aku masih tetap acuh tak acuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Honey!” Pangeran sudah mulai membentak, terpaksa aku pun menoleh dan mematikan televisi. Aku memandangnya dengan perasaan enggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kamu berubah…” Katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Me? Berubah?” Tanyaku heran. Suamiku hanya mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku malah tambah bingung, aku menatapnya dengan tatapan penuh tanda-tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yah sikapmu berubah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iyah….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sebenarnya ada apa ini? Apakah kau mulai bosan tinggal denganku?” Tanya Suamiku tiba-tiba hingga aku terkejut dibuatnya. AKu mendelik…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ngomong apa sih kamu? Jangan ngaco deh…” Aku mengalihkan pandanganku sambil melipat tanganku di atas dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Come on honey…I know who you are. Kamu tidak bisa berdusta. Aku melihat gelagat anehmu yang selalu terburu-buru meninggalkan rumah. Kamu juga hampir tidak pernah mau kalau aku antar. Kamu juga jadi lebih sering tersenyum sendiri. Tidak jelas…dan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tidak ada yang aneh….Aku biasa saja. Mungkin kamu yang aneh.” Aku masih berusaha berkelit.&lt;br /&gt;“ Apakah ada lelaki lain dalam….” Suamiku ragu-ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan saja aku marah, aku menoleh sambil menatap tajam ke arah suamiku. “ Maksud kamu aku selingkuh? “ Sorot mataku menatap jauh ke dalam matanya, menguliti setiap dusta yang barangkali tersembunyi. Atau sejumput keraguan yang membuat pendapatnya tidak lagi diakui validitasnya. Tetapi semakin aku melihat matanya, semakin aku tidak menemukan keraguan atau pun dusta. Aku menunduk, sambil menghitung kancing. Dalam hatiku bergulat hebat memikirkan langkahku. Apakah aku harus menceritakannya atau hanya menyimpannya saja sendirian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami dalam diam agak lama. Suamiku duduk di depanku sambil mengamati, menanti dengan sabar agar bicara. Aku mengangkat wajah dan menatapnya. Aku meminta dukungannya untuk menceritakannya. Suamiku hanya mengangguk, berusaha untuk sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap lagi wajah suamiku. Sebenarnya berat sekali untuk mengatakannya. Tetapi ini harus aku lakukan, karea suamiku sudah mencium semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghirup nafas kuat-kuat, kemudian melepaskannya perlahan. Demi membentuk sebuah kekuatan dalam dirikju untuk berkata jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Benarkah ada lelaki lain dalam hatimu?” Suamiku menyadarkan lamunanku sejenak. Aku mengangguk pelan sambil menunduk. Aku lihat suamiku menahan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan berikutnya adalah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dengan siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bagaimana kamu kenal dia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Apakah kamu mencintainya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Apakah kau tidak mencintaiku lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Mengapa kau lakukan ini dan itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Apakah dia lebih daripadaku…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan segudang pertanyaan lainnya yang bernada investigasi. Lagi-lagi aku menghela nafas kuat-kuat sebelum menjawab serentetan pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Namanya James. Dia tinggal tidak jauh dari komplek kita. Kupikir aku sudah jatuh cinta dengannya…” Muka pangeran merah padam berusaha menahan diri dan membiarkan aku menggunakan hak bicaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku salah apa? Dimana kurangnya aku?” Nada suara suamiku mulai terdengar bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatapnya, “ Tidak, tidak ada yang salah dengan kamu. Kamu masih sosok yang sempurna di mataku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Lalu apa lebihnya James?” Tanyanya lagi dengan nafas memburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tidak, bagiku kau dan James berbeda…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dia lebih tampan, putih, tinggi, kaya atau apa?” Suamiku mulai memaksa, kini matanya memerah.&lt;br /&gt;“ Dia tidak lebih tampan darimu, tetapi dia memiliki mata biru yang indah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Oh jadi itu masalahnya, mataku tidak sebiru dia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tidak…ini bukan tentang mata biru….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Baiklah apa yang dia miliki sedang aku tidak memilikinya? Apa kelebihannya di banding aku?” Suamiku berusaha berbicara walau dengan nafas tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Karena….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Karena apa?” Suamiku tidak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Karena kau dan James berbeda, dan kalau bisa aku juga ingin memiliki James agar aku tidak hanya menjadi penggemar rahasianya yang harus mencuri waktu hanya untuk mengintipnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Katakan sejujurnya! Apa lebihnya dia dibandingkan aku!” Suamiku mulai agak marah. Intonasinya meninggi dengan suara yang lebih keras. Aku mulai tidak nyaman. Tadinya aku bersikeras untuk tidak mengatakan siapa sesungguhnya James kepada suamiku. Aku hanya ingin menyimpannya dalam hati sampai waktunya tepat. Tapi kurasa ini adalah waktunya. Aku pun menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ James….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Cepat katakan! Jangan buat aku kesal !” Suara suamiku membuat hatiku kecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Karena James bisa mengeong, bulu abu-abunya yang panjang begitu indah. Mata birunya terlihat cantik….dan kalau bisa aku ingin memiliki dia bersamamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan suamiku melongok, menyadari kalau saingannya sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Maafkan, aku telah berselingkuh. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah hampir tidak bisa lebih lama lagi menahan tawa. “ Kalau boleh izinkan James kucing Persia di blok sebelah, untuk tinggal bersama kita, menggantikan si Ciprut yang sudah mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan suamiku pun pingsan…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 24 Juni 2010&lt;br /&gt;Risma Budiyani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dilarang menjiplak atau mempublikasikan tulisan ini tanpa seizin dan mencantumkan nama penulisnya).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-4193529481876686764?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/4193529481876686764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=4193529481876686764' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/4193529481876686764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/4193529481876686764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2010/06/maafkan-aku-selingkuh.html' title='MAAFKAN, AKU SELINGKUH'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TCOHKbtZkVI/AAAAAAAAAKQ/CC6K0PIuSr8/s72-c/girl_flirt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-3517671319030033231</id><published>2010-06-20T10:26:00.000-07:00</published><updated>2010-06-20T10:40:06.858-07:00</updated><title type='text'>JANGAN AMBIL MALAIKATKU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TB5SY_ujyOI/AAAAAAAAAKI/ZOwWoBPcwnc/s1600/Angel.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TB5SY_ujyOI/AAAAAAAAAKI/ZOwWoBPcwnc/s320/Angel.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5484911985560897762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali saya pernah menonton acara Oprah Winfrey di televisi. Kala itu Oprah sedang membahas definisi ‘jodoh’. Selama ini kita mungkin berpikir bahwa kata ‘jodoh’ hanya digunakan untuk melabeli pasangan hidup kita, suami atau istri. Jodoh adalah belahan jiwa yang tidak akan pernah terpisahkan sampai maut sendiri yang memisahkan.Sedang seseorang yang sudah sekian lama bercinta dengan kekasihnya atau pasangan hidup resminya, namun kemudian oleh karena suatu sebab mereka terpisahkan oleh suatu keputusan cerai misalnya. Orang langsung terburu-buru mengatakan, “ Yah namanya belum jodoh…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah jodoh seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertarik ketika Oprah dan bintang tamu yang merupakan narasumber berkompenten merumuskan definisi jodoh. Di acara itu jodoh berarti seseorang yang datang dan memberi warna dalam kehidupan kita dalam kurun waktu tertentu. Tidak mesti harus sehidup semati. Bisa saja jodoh itu hanya berbilang hari, bulan, maupun sampai bertahun-tahun. Tidak sedikit juga yang berjodoh sampai mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dikatakan lagi bahwa jodoh tidak hanya untuk seseorang yang memiliki hubungan cinta kepada kita. Jodoh bisa siapa saja, asal dia pernah datang dan memberi warna dalam hidup kita pada masa tertentu. Dia bisa saja teman sepermainan, tim sekerja, guru, orang asing, bahkan mungkin hewan-hewan peliharaan yang memberi kesan teresendiri dalam kehidupan kita. Dan Manusia biasanya memiliki lebih dari satu jodoh selama hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya agak bingung dengan definisi itu. Karena saya mencoba menetralkan pikiran saya akan definisi jodoh yang sebelumnya saya terima. Kalau saya boleh menyimpulkan, jodoh adalah seseorang yang bisa memberikan euphoria ‘click’ di dalam hati kita ketika bertemu dengannya. Dari reaksi ‘click’ itu kemudian berkembang menjadi suatu kedekatan yang sangat monumental. Dan ketika dia pergi, kita merasakan ada sesuatu yang hilang dan menyadari bahwa dia telah memberi warna dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan saya pun melayang pada para sosok malaikat yang datang dan pergi dalam kehidupan saya. Saya berpikir mungkin mereka-mereka inilah jodoh-jodoh saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang usia saya, saya ingat beberapa nama yang mendapat tempat khusus dalam hati saya. Mereka-mereka ini meskipun kehadirannya amatlah singkat, namun mewarnai hidup saya. Bahkan tak jarang di antara mereka yang membentuk karakter positif dalam diri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menamai mereka ‘Guardian Angel’ atau ‘Malaikat Penjaga’. Tentu saja mereka tidak seperti tampak malaikat dalam dongeng-dongeng, yang selalu berjubab putih, memiliki sayap putih dan bermahkota, senyumnya lembut menghangatkan. Tidak tentu saja tidak. Saya juga tidak mau menyamakan dia seperti malaikat sesungguhnya dalam kitab-kitab suci. Demi Tuhan, saya tidak mau dianggap sedang meracau tidak jelas dan dituduh membawa aliran sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat-malaikat saya adalah orang-orang biasa tanpa sayap yang telah memberi arti dalam kehidupan saya. Mengapa saya menamakannya malaikat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mereka terlalu baik, hingga saya tak punya ide lagi bagaimana menamakan orang-orang istimewa ini. Saya menganggap dan membayangkan mereka benar-benar sesosok malaikat yang mungkin saja dikirim Tuhan untuk menjaga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hidup, pasti kita pernah dihadapkan pada ujian kesabaran yang terkadang membuat kita harus berlinang air mata, tanpa tahu kemana harus bercerita. Selain mengadu ke Sang Pencipta, manusia terkadang membutuhkan manusia lain untuk berbagi. Karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian. Manusia membutuhkan seseorang yang bisa mendengarkan keluh-kesahnya, menjadi bahu untuk bersandar ketika menangis, menemani dalam senyap yang tak berujung, mengingatkannya agar tidak salah langkah, sekaligus menyemangatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya pikir setiap Tuhan memberikan cobaan, Dia tidak serta-merta hanya memberikan cobaan tanpa rencana baik di dalamnya. Begitupun Tuhan tidak memberikannya terpisah dari solusi dan bagaimana mendapatkan solusi tersebut. Tuhan mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk membantu Hamba-Nya. Tuhan tidak membiarkan Hamba-Nya sendirian mengatasi perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita tidak pernah tahu kapan malaikat penolong itu datang atau menebak-nebak jati diri sang malaikat sebelum malaikat itu pergi dalam kehidupan kita. Kita baru menyadari betapa berjasanya dia dalam hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah tidak, suatu kali anda sedang terjepit dan amat sangat membutuhkan uang. Anda tidak tahu harus kemana. Hingga tiba-tiba ada salah seorang teman anda datang meminjamkannya. Padahal hubungan pertemanan anda dengan dia mungkin belum terlalu dekat. Tetapi bagaimana mungkin justru dia yang datang membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah suatu kali saat anda sedang dirundung masalah yang teramat pelik, dan anda tidak tahu bagaimana menyelesaikannya selain anda mengadu pada Illahi Rabb. Tiba-tiba anda berkenalan dengan seseorang yang serta-merta memecahkan permasalahan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah anda tersesat di suatu daerah yang teramat asing untuk anda, dan anda sama sekali tidka mengenal siapapun di sana. Tetapi tiba-tiba ada seseorang yang menunjukkan arah.&lt;br /&gt;Pernahkah anda sedang membutuhkan jawaban dari suatu persoalan, ternyata datang orang yang tidak diduga-duga meenawarkan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah anda teramat kehausan dan tidak tahu bagaimana mendapatkan air, tiba-tiba ada seseorang yang menawarkan segelas air dingin untuk melepas dahaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah anda sedang merasa ‘terbuang’, rendah diri, tak berguna, dan lain sebagainya. Tiba-tiba ada kenalan kamu yang datang dan membangkitkan semangat anda hingga anda merasa menjadi orang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah anda bertemu dan berkenalan dengan seseorang di kereta, bis ataupun pesawat yang membuat anda merasa ‘click’ dan seiring dengan perjalanan waktu dia ternyata memiliki andil besar dalam merapikan hidup anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bukan siapa-siapa. Mereka hanyalah manusia biasa yang entah bagaimana, mereka datang tepat pada waktunya. Mereka seperti malaikat penolong yang sengaja dikirim Tuhan untuk menyelesaikan masalah kita. Mereka seperti jawaban dari doa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka datang pada saat yang tepat. Kemudian pergi saat kita tidak lagi membutuhkannya. Seperti ada sebuah kontrak kerja terselubung antara Tuhan dan para malaikat penolong ini. Mereka hanyalah pegawai kontrak waktu tetap, yang bisa dipekerjakan dan diberhentikan sesuai kebutuhan. Saat kontrak kerja itu berakhir, malaikat penolong akan pergi dan meninggalkan saya sendiri lagi setelah saya lepas dari suatu masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kehidupan saya, ada banyak sekali malaikat yang datang dan pergi. Namun hanya beberapa yang saya ingat. Malaikat itu biasanya amat sangat berpengaruh dalam kehidupan saya selanjutnya. Dan sampai kapan pun saya tak akan pernah lupa pada jasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja itu bukan berarti saya mengabaikan malaikat lain yang telah datang dan pergi dalam kehidupan saya. Saya tidak sengaja melupakannya, karena malaikat itu datang di episode hidup saya yang sangat silam. Dan saya tidak ingat. Bukankah setiap manusia memiliki ingatan terbatas? Saya harus merelakan ingatan lama saya lenyap sebagian, demi sedikit ruang untuk ingatan baru saya. Pada kesempatan kali ini saya akan memncoba menceritakan sebagian dari malaikat-malaikat saya semenjak saya di bangku kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat tanpa sayap saya yang pertama adalah ketika saya adalah gadis lugu yang tengah jatuh cinta pada kekasih maya bernama Saiful Malook. Ketika Saiful Malook dengan tiba-tiba lenyap tanpa kabar. Saya yang tengah dirundung asmara tak terima begitu saja pada takdir saya. Begitu sedihnya saya, hingga saya jatuh sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya benar- benar seperti sebuah karakter dalam roman picisan. Saya tidak bisa makan, karena setiap saat saya selalu memikirkan kemana perginya Saiful Malook. Saya tidak habis pikir, mengapa Tuhan mengambil Saiful Malook dari hidup saya tanpa permisi. Saya meminta pertanggung-jawaban Allah atas perginya dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama saya tidak mendapat kabar. Saya akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan diplomatik pada pemerintah Pakistan, negara tempat Saiful Malook berasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir apa yang saya lakukan adalah hal tergila yang pernah dilakukan seorang pecinta. Dengan gagah beraninya saya datang ke Kedubes Pakistan di Jakarta. Saya meminta langsung bertemu dengan Sang Duta Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya tentu saja, petugas keamanan menghalau saya. Mengingat saya bukan siapa-siapa dan alasan untuk bertemu, sangat tidak masuk di akal. Setelah melalui sedemikian perdebatan, entah bagaimana saya akhirnya bisa masuk ke dalam ruang sang duta besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang duta besar mempersilahkan saya bercerita. Saya pun mempergunakan waktu berharga saya untuk bercerita dari A-Z tentang Saiful Malook, bagaimana kita bertemu dan betapa saya mengenal Pakistan darinya. Ternyata cerita saya memukau Sang Duta Besar. Karena pengetahuan saya akan Pakistan saat itu cukup banyak. Bahkan saya bisa berbicara lancar dalam Bahasa Urdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tidak disangka-sangka, beliau menerima saya dengan baik. Bahkan Sang Duta Besar yang kebetulan berpangkat Mayor Jenderal dan pernah menjadi atasan dari Presiden Pervez Musharraf, berjanji untuk mengerahkan bala bantuan dalam pencarian Saiful Malook di Peshawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pencarian tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya tidak segera mendapatkan titik terang hingga bertahun-tahun kemudian. Namun saya tidak peduli. Saya tetap memupuk harapan bahwa suatu kali saya akan menemukan Saiful Malook yang entah ada dimana. Begitu besarnya pengharapan saya, hingga skripsi saya pun mengambil tema yang tidak jauh-jauh dari Pakistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menganggap Sang Duta Besar itu adalah seorang malaikat yang dikirim oleh Tuhan ke bumi untuk menolongku. Siapapun beliau, ia pasti orang suci yang tak sampai hati melihat orang lain menderita. Siapapun orangnya. Walau pun saya hanya seorang gadis kecil yang bukan anak pejabat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak yang saya ketahui dari malaikat saya. Selain bahwa dia adalah seorang pisces sejati. Seperti kebanyakan pisces, dia lebih suka berada dalam dunia mimpi dibandingkan dalam dunia nyata. Tipikal yang lemah dan sensitif untuk masalah hati. Seseorang yang bisa menangis jika sahabat baiknya bersedih dan patah hati. Dan ia akan merasa sangat bahagia jika teman baiknya mendapat kebahagiaan walaupun hal itu sama sekali tidak berhubungan dengannya. Seperti juga aku. Mungkin karena itu beliau empati kepada saya yang juga pisces.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malaikat saya pergi setelah saya bisa bangkit dari kesedihan saya akan kehilangan cinta. Setelah saya menyelesaikan skripsi dan menyelesaikan kuliah saya. Setelah saya menyelesaikan novel pertama saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat saya berikutnya, adalah salah seorang teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) saya yang sering membuat menangis dan kesal. Di minggu-minggu awal pertemanan kami di Desa Bojong Cae. Saya berasa hidup dalam neraka.Karena setiap hari ketua kelompok kami di Desa Bojong Cae yang biasa saya panggil Abang selalu mencari perkara yang membuat saya menangis. Sebetulnya saya tidak serta-merta menyalahkan dia karena telah membuat saya menangis. Pada saat itu saya belum terbiasa tinggal serumah dengan orang yang memiliki watak keras dan tidak bisa berbicara lembut. Saya akan beegitu mudahnya menganggap dia sedang memarahi saya. Maklum, Abang ini adalah orang Batak Tulen yang terbiasa berbicara keras dengan intonasi yang tegas dan tidak suka berbasa-basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa KKN itu, kebetulan saya ditaksir oleh pemuda pujaan Desa Bojong Cae yang kebetulan adik kepala desa. Lelaki itu sedemikan agresifnya mendekati saya, hingga saya merasa jengah. Namun sebetulnya kami justru bisa mengambil keuntungan dari lelaki ini. Karena sedemikian naksirnya dia dengan saya, hingga dia tidak sampai hati membiarkan tim kami yang terdiri dari lima orang termasuk saya kelaparan. Setiap hari selalu ada saja bingkisan makanan untuk rumah kontrakan kami di dusun. Bahkan kami seringkali ditolong oleh lelaki yang juga ustad kampung. Namun kami memanggilnya dengan sebutan Ustad keparat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu Saya masih terlalu naif untuk bisa menebak tipu muslihat lelaki. Saya layaknya gadis kecil yang tidak tahu apa-apa. Selama proses pendekatan lelaki itu yang terkesan membabi-buta dan terkesan direstui oleh seluruh tokoh desa. Saya tidak kurang pengawasan dan bantuan dari sahabat-sahabat saya di Istana Bojong Cae.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bojong Cae desa yang kecil. Tidak ada yang rahasia di desa ini. Hubungan antara Saya dan Ustad keparat tersebar luas. Padahal Saya sama sekali tidak tahu apa-apa. Dengan skenario yang terorganisir, Saya masih saja didaulat sebagai pembonceng tetap lelaki itu. Sekeras apapun Saya menolak. Saya tidak akan bisa menghindari. Karena jumlah motor terbatas. Dan selalu Saya yang mendapat bagian terakhir, dan pengendara motor itu tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Dadang. Lagipula yang menyuruh Saya ikut dengannya banyak termasuk tetua kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu saat Saya tertinggal jauh dari rombongan. Si ustad keparat sepertinya mengendarai motor dengan sangat pelan. Dan dia terus menerus mengajak saya berbincang. Padahal Saya sudah ketakutan setengah mati. Saya hanya berdua saja dengan dia di gelapnya malam. Seandainya terjadi apa-apa dengan saya dan Saya berteriak. Tak akan ada seorang pun yang mendengarnya. Hanya ada rerimbunan pohon, suara jangkrik dan kodok. Mungkin juga derik ular. Dan parahnya saat itu Saya sama sekali tidak membawa telepon genggam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya komat-kamit berdoa seperti merapal mantra, “Audzubillahiminassyaitan ni rrajim. Saya berlindung dari godaan syetan yang terkutuk yang mungkin saja menyelinap di dalam raga lelaki ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hembus angin malam yang biasanya terasa menyegarkan. Kali ini terasa menusuk kalbu. Saya benar-benar menggigil ketakutan. Saya memperhatikan jalan. Berusaha mengingat-ingat bagaimana tampak jalannya ini bila siang hari. Jadi seandainya terjadi hal buruk, Saya tahu kemana harus melarikan diri. Saya benar-benar tidak konsentrasi lagi pada omongan si Ustad keparat. Saya menyibukkan diri untuk berpikir keras bagaimana menyelamatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Saya melihat sesosok pengendara motor sambil berjongkok seperti membenarkan motornya. Ya Allah! Semoga itu penolongku. Ya sosok itu kian jelas. Saya rasa Ustad keparat juga melihatnya. Tunggu dulu! Bukannya itu....itu ... Abang. Yah itu abang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menghampiri abang. Ustad keparat itu berbasa-basi menanyakan gerangan apa yang membuat Abang berhenti di tengah jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh tahu nih tiba-tiba mogok”. Abang menjawab. Maka ustad keparat menghentikan motornya dan menghampirinya.Agak lama juga kami berhenti. Sampai akhirnya motor yang abang tumpangi kembali berfungsi. Ustad keparat kembali ke motornya. Sebenarnya Saya ingin ikut abang, tetapi motor abang tidak menyediakan tempat boncengan. Maka Saya terpaksa duduk lagi di belakang ustad keparat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Ustad keparat mempersilahkan abang untuk melajukan motornya dahulu. Abang dengan basa-basi malah mempersilahkan kami untuk lewat dahulu. Abang ingin memastikan motornya baik-baik saja. Maka dengan berat hati Ustad keparat melajukan kendaraannya. Saat kami sudah berjalan. Baru abang mengikuti kami dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan Saya baru tahu, bahwa itu adalah tipu muslihat abang. Abang tiba-tiba menyadari motor yang ditumpangi Saya dan si usatad keparat tertinggal jauh dari rombongan. Abang merasa khawatir dengan keselamatan dan kehormatan saya makanya dia melambatkan motor dan berhenti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpura-pura motornya mogok tak lain agar dia bisa mengawasi saya dari belakang. Kejadian itu benar-benar tak pernah lekang dari ingatan saya. Sosok abang yang sering membuat saya menangis ternyata telah menyelamatkan saya. Dia adalah malaikat saya. Walau Abang tidak benar-benar lenyap dari kehidupan saya, tetapi saya tidak bisa banyak berinteraksi lagi dengannya oleh karena kesibukan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat saya yang lain adalah salah seorang teman kuliah saya bernama Dicky. Dicky adalah salah seorang dari teman lelaki terdekat. Dia hampir selalu ada dalam episode hidupku. Saya memang selalu merasa nyaman berbicara dan berada di dekatnya. Walau dia berasal dari daerah yang sama dengan abang. Namun dia memiliki tabiat yang sama sekali berbeda dengan abang. Walau logat Bataknya terdengar kental. Namun tutur katanya lembut. Tak pernah sekali pun kulihat dia marah atau berbicara keras. Bicaranya lembut dan menyenangkan. Dia bisa menjadi pendengar terbaik. Bila Saya bercerita padanya, maka dengan sabar matanya akan mengamati Saya penuh rasa ingin tahu. Membuat Saya yang bercerita menjadi semakin bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali Saya pernah meminta pertolongan kepadanya. Dan beberapa kali itu pula ia mengabulkan permintaan saya tanpa banyak komentar. Dari berpura-pura menjadi tunangan saya untuk mengelabui si ustad keparat dari Bojong Cae yang tergila-gila kepada diri saya, bahkan hingga menemani Saya menemui sang duta besar Pakistan. Dia partner setia saya. Saya menyebut-nyebutnya dengan penuh hormat dan penghargaan namanya dalam novel perdana saya sebagai malaikat penyelamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak orang yang mau dan punya cukup nyali untuk menemani seorang teman menemui petinggi negara asing untuk urusan apa pun. Mungkin pula mereka akan mundur teratur sedetik setelah Saya minta dengan banyak alasan. Tidak lancar berbahasa Inggris lah, bingung harus memakai baju apa lah, tidak cukup percaya diri lah, dan lain-lain. Maka si Dicky ini adalah lelaki yang memiliki cukup nyali besar untuk menolong siapa pun tanpa pamrih. Dia adalah teman yang teramat menyenangkan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu hebatnya Saya mengelu-elukan namanya di antara Saiful Malook dan nama-nama lain di novelku, membuat banyak pembaca saya yang mempertanyakan kedekatan saya dengan Dicky. Bahkan ketika akhirnya tersiar kabar Saya telah melepas masa lajang. Maka berbondong-bondong email masuk mempertanyakan apakah Dicky yang telah menggantikan tempat seorang Saiful Malook yang malang. Saya tersenyum simpul. Dan di balon-balon imajinasiku bermunculan nama Dicky. Saya sempat berpikir mungkin Dicky adalah tipikal pria idaman bagi saya. Hanya saja takdir berkata lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat saya yang lain adalah Pak Didik, penerbit pertama saya. Saat itu saya adalah penulis baru yang sama sekali awam di dunia kepenulisan dan penerbitan. Bahkan pada masa itu saya belum mengenal dunia per-blogging-an. Saya benar-benar baru dan tidak terdengar. Saya yakin semua orang menyangsikan kemampuan saya menulis. Bahkan saya pun menyangsikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saat itu saya mengenal satu orang penerbit yang ingin mengorbitkan saya. Tetapi entah bagaimana saya tidak merasa ‘click’ dengan orang itu. Maka di tengah-tengah kebingungan saya setelah menyelesaikan tulisan saya tentang Saiful Malook, saya berselancar di dunia maya. Saya berusaha mencari tahu perihal bagaimana saya bisa menerbitkan tulisan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, hati saya tergerak untuk mengintip salah satu website yang saat itu saya tidak tahu kalau itu adalah website penerbit. Namanya Escaeva. Saya melihat artikel tentang bagaimana bisa menerbitkan suatu novel. Saya baca dengan cermat artikel itu. Kemudian saya melakukan setiap langkah yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat ulang dan merapihkan setiap detil tulisan dengan cermat. Kemudian saya membuat sinopsis mengenai garis besar tulisan saya. Saya juga membuat daftar poin penting mengapa novel ini bernilai jual, termasuk tentang kata pengantar dari salah satu saksi hidup, Sang Duta Besar Pakistan. Saya juga membuatkan satu contoh bab pertama dari bakal novel saya. Keesokan harinya saya mengirimkan email berisi proposal, contoh novel, biodata saya ke penerbit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eureka! Tidak perlu menunggu lama. Tepat di Hari Juma’at, hari keberuntungan saya. Kabar baik datang. Pak Didik menelpon saya. Kemudian kami mengatur waktu untuk bisa bertemu membicarakan kontrak. Rasanya saat itu dunia adalah milik saya. Semuanya datang tepat waktunya. Dan Tuhan mengirimkan malaikat untuk menjawab doa saya yang ingin segera menunjukkan pada dunia, bahwa saya bisa menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata malaikat saya saat itu adalah seorang Pisces. Luar biasa, kala itu Tuhan mengirimkan saya dua orang Pisces untuk menjadi malaikat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Didik benar-benar telah membimbing saya, hingga saya bisa meluncurkan novel yang benar-benar mengguncang dunia. Dia menghantarkan saya pada impian terbesar saya saat itu. Ketika saya butuh terapi untuk melupakan Saiful Malook dengan menuliskan kisah kami. Dia menjadi pendukung utama saya. Saya benar-benar menemukan mitra yang luar biasa. Saya merindukan saat-saat kebersamaan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang, Escaeva tidak lagi bergerak di lini buku fiksi. Hingga detik ini saya belum bisa meluncurkan buku non-fiksi. Maka saya belum bisa lagi berjalan dengan Escaeva lagi. Saya berharap suatu hari nanti saya akan mengulang masa-masa indah itu bersamanya lagi. Menjadi penulis di bawah bendera Escaeva.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat saya berikutnya adalah Pak Karim. Dia adalah GM saya di perusahaan terdahulu. Entah bagaimana saya dan dia sedemikian ‘nyambung’-nya walau kami berbeda zaman. Lelaki berdarah Belanda berusia tiga puluh tahun itu tidak suka budaya senioritas yang biasa tumbuh di sebuah perusahaan. Hubungan kami tanpa jarak layaknya teman. Bahkan, sebutan “bapak” begitu menyiksa telinganya. Saya yang agak rikuh memanggil nama seperti rekan-rekan lain yang seumuran dengan atasan saya, akhirnya memakai kata “babeh”. Lebih akrab namun tetap penuh hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyukai pekerjaan saya dan juga orang-orang di sana. Saya punya alasan kuat untuk bangun pagi dan berangkat ke kantor dengan riang. Mungkin juga karena euphoria seorang pekerja baru. Sama rasanya ketika baru duduk di bangku sekolah menengah. Sama rasanya ketika baru menginjakkan kaki di kampus biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya karyawan termuda sekaligus satu-satunya perempuan di divisi ini. Tiga orang lainnya adalah pria beristri yang sudah berusia matang. Saya layaknya penggembira di tengah-tengah mereka. Saya juga yang memberikan sentuhan perempuan di ruangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hari pertama datang ke kantor, Saya membayangkan bakal menjadi perawan di sarang penyamun. Ruangan ini lebih mirip sebuah sarang atau markas para lelaki. Bau asap rokok memenuhi ruangan ber-AC. Exhaust fan dan pengharum ruangan tak mampu melenyapkan bau asap, terutama dari rokok Pak Thomas. Belum lagi hingar-bingar musik Rock sekelas Megadeth, Metallica, atau Black Sabbath yang memekakkan telinga. Kebisingan itu bahkan tidak mampu teredam hingga sampai ke lantai satu. Di minggu pertama, Saya harus terbatuk-batuk akibat alergi asap. Seiring dengan berjalannya waktu, alergi pun lenyap. Saya mulai terbiasa dengan asap rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berempat, sang GM, Pak Thomas, Pak Hafiz, dan Saya adalah tim yang kompak. GM merumuskan tujuan dan target yang akan dicapai lengkap dengan strateginya, sedang para manajer mengerahkan daya upaya untuk mewujudkannya. Saya bertindak sebagai intelijen yang menyediakan semua data-data yang dibutuhkan mereka. Sesekali, Saya juga dilibatkan dalam rapat-rapat penting yang memerlukan negosiasi kepada pihak terkait. Proyek besar batu bara hampir selalu menjadi topik pembicaraan. Kami memiliki hampir semua data, mulai dari cadangan, jumlah produksi, konsumsi, hingga pengangkutan. Rencananya, perusahaan kami akan merambah di bidang itu. Setelah isu konvensi bahan bakar minyak berkembang, banyak perusahaan beralih pada batu bara. Selain lebih murah, kualitasnya pun baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, perusahaan kami yang bergerak di bidang transportasi hanya mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan pengangkutan batu bara, mulai dari pengangkutan dari tambang menuju terminal di tepi laut dan sungai besar, pengangkutan dengan kapal, hingga pengangkutan dari pelabuhan di pulau Jawa menuju lokasi konsumen. Jika proyek ini berjalan, kami akan benar-benar memiliki tambang sendiri.&lt;br /&gt;Diferensiasi usaha adalah hal yang lazim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hal mengherankan bila tiba-tiba perusahaan shipping yang mengurusi kargo bergerak di bidang lain. Toh, semuanya dilakukan untuk mendukung kelangsungan usaha inti sekaligus menangguk untung besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babeh Karim membantu masa transisi saya dari seorang fresh graduate menjadi seorang pekerja sungguhan yang penuh dedikasi. Saya belajar banyak dari dia dan tempat kerja saya. Suatu kali saya pernah menangis sesenggukan karena dimarahi oleh rekan kerja dari divisi yang berbeda karena dia memang terkenal sebagai orang yang tidak memiliki attitude yang baik. Rupanya Pak Thomas yang juga manajer saya mengadu ke bos besar yakni Babeh Karim. Beliau sampai meminta bos dari teman saya yang tidak punya manner itu untuk memperingati orang kurang ajar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya hubungan saya dengan Babeh Karim dan manajer lainnya sangat baik. Pak Thomas dan Pak Hafiz tidak kalah baiknya dengan saya. Kami memang tim yang sangat kompak. Saya sampai berpikir saat itu Tuhan mengirimkan 3 malaikat sekaligus dalam kehidupan saya. Saya berada dalam satu fase yang paling nyaman saat itu. Bekerja dengan para malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu lengketnya hubungan kami, sampai kami merasa kami tidak berada dalam lingkungan pekerjaan. Tetapi persahabatan, bahkan lebih mirip seperti saudara. Kami sering kali menghabiskan waktu untuk liburan bersama. Tidak hanya dengan mereka bertiga tetapi juga dengan istri dan anak-anak mereka. Dan biasanya kami juga mengajak Mbak Tini, office girl kesayangan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akhirnya Babeh Karim pergi ke tempat yang bisa menghargai dia lebih baik dari perusahaan kami. Saya adalah orang yang paling merasa kehilangan. Saya sedih bukan kepalang. Mungkin karena tipikal dari seorang pisces yang bisa dengan mudah menjadi ’mellow’ dan sensitif. Karena dia bukan hanya sebagai bos, tetapi juga mitra, sahabat dan kakak saya. Kami pernah terlibat proyek rahasia dalam bisnis ekspor-impor. Bahkan dia juga yang membantu saya menemukan passion saya akan dunia tulis menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga detik ini kami sudah berpisah. Hubungan saya dengan dia masih terjalin baik. Saya masih bisa meminta pertolongan dia, begitu pun dia. Namun sudah pasti semuanya berbeda. Tidak seperti dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat berikutnya adalah seorang India yang kebetulan adalah sahabat pena saya. Saya memanggilnya Surya, karena dia seperti surya yang menerangi hari setelah kegelapan. Saat itu memang saya sedang dalam masa krisis kepercayaan diri. Dan dia membangkitkan kembali semangat saya sekaligus menemukan saya pada mimpi-mimpi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama menjadi sahabat pena namun kami baru bertemu tanggal 1 April 2006. Suatu hari teman saya yang pernah bekerja sebagai tim ahli Microsoft Amerika ini menyurati saya bahwa dia akan singgah di Jakarta sebelum mengikuti konferensi IT di Singapura. Berbekal surat terakhir, saya pun datang menjemputnya di Bandara pada hari yang disebutkan. Tanggal 1 April 2006 tepat pada jam 10 pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hampir meninggalkan bandara, karena lewat pukul dua belas siang. Dia belum juga datang. Saya hampir berpikir bahwa itu adalah gurauan ala April Mop. Saya tak henti-hentinya menyalahkan kebodohan saya. Namun entah dorongan darimana, ada keyakinan dalam hati saya bahwa Surya tidak berdusta. Saya menunggunya hingga telepon genggam saya berdering tepat jam satu siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Budi where are you?” Surya memang lebih suka memanggil nama tengah saya sebagai panggilan kesayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Surya....where are you?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” In US....” Dia diam dan kemudian dia meralat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Ofcourse in airport Jakarta as i told you.” Dia terkekeh, saya menghela nafas lega. Berbekal ingatan saya akan fotonya, saya mencari dia. Ternyata dia yang mengenali saya, dan memanggil saya dari kerumunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah pertemuan paling aneh dalam hidup saya. Kami hanya bertemu muka selama lima jam saja. Di akhir pertemuan sebelum kami berpisah di bandara, dia memberikan saya sebuah buku berjudul ” The Power Of Subsconscious Mind” karangan Joseph Murphy. Buku luar biasa dengan sampul putih yang telah mengubah hidup saya untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sempat berkata, bahwa buku itu telah menginspirasi dirinya dan sekarang sudah waktunya buku itu berpindah tangan kepada orang yang lebih berhak, yaitu saya. Dia tahu kalau saya sedang berada di titik nol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slogan saya, ’You Are What You Think All Day Long. Think good, good follows, think evil, evil follows’ adalah kata-kata yang saya ambil dari salah satu kutipan buku itu. Kata-kata ajaib yang mengubah saya selamanya menjadi pribadi yang positif. Saya selalu berusaha memupuk diri untuk memandang segala sesuatu dari sudut pandang positif. Karena segala sesuatu yang akan terjadi nanti, bergantung dari apa yang kita pikirkan sekarang. Kalau kita berpikir buruk, maka keburukan yang akan kita dapatkan. Sebaliknya bila kita berpikir positif, maka kecemerlangan yang akan kita dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The treasure house is within you. Look within for the answer to your heart’s desire.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Never use such expressions as, ’I can’t afford it’ or ’I can’t do it’. Your subsconscious mind takes you at your word. It sees to it that you do not have the money or the ability to do what you want to do do. Affirm, ’I can do all things through the power of my subsconscious mind.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You are like a captain navigating a ship.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The law of life is the law of belief.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalimat-kalimat positif lainnya yang menginspirasi saya. Saya percaya bahwa selain ketetapan QADHA, takdir yang tidak bisa diubah lagi seperti kiamat, jenis kelamin, kematian, kelahiran, dll. Sisanya adalah konsekuensi dari pilihan hidup. Tidak ada yang tidak mungkin untuk diwujudkan kalau kita percaya. Kita bisa mengubah hidup kita menjadi apa yang kita mau dengan seizin Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Tuhan tidak akan mengubah mengubah nasib suatu kaum bila kita tidak mengubahnya sendiri.” (Ar Ra’d: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan berbuat sesuai dengan prasangka hambanya, berdoa, berharap dan berusahalah sekeras mungkin. Dan kamu akan mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang bila kita tidak juga mendapatkan apa yang kita inginkan padahal kita sudah berusaha sekeras mungkin. Percayalah bahwa Cuma Tuhan yang tidak akan pernah mengecewakan kita, saat semua hal yang ada di dunia ini berkali-kali mengecewakan kita. Anggap itu sebagai sebuah keberhasilan yang tertunda. Kebaikan dari Tuhan, Karena Tuhan Maha Tahu Yang Terbaik untuk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berhutang besar pada Surya. Sayangnya Surya seperti lenyap begitu saja di telan bumi. Saya tidak tahu bagaimana menghubungi dia. Tetapi saat saya jatuh dan sedih, dia hampir selalu menghubungi saya. Saya sempat berpikir jangan-jangann Surya adalah malaikat dalam arti sebenarnya. GHAIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya bertemu dia, saya ingin katakan bahwa saya sudah menjadi pribadi yang positif. Saya telah mewujudkan hampir semua impian saya, termasuk menulis buku. Saya ingin dia membaca salah satu tulisan saya, agar dia tahu betapa dia telah mengubah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat berikutnya adalah seseorang Pemred dari sebuah majalah Islam yang saya temui secara tidak sengaja di dunia maya. Ketika saya sedang menyelesaikan novel The Chosen Prince. Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada sebuah nama dari sekian banyak artikel yang melukiskan siapa dia. Dan ternyata tanpa disangka-sangka, nama itu mengundang saya untuk menjadi temannya di facebook. Dan pertemanan kamipun dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seperti pendengar setiap ide-ide gila saya untuk buku-buku saya. Saya banyak berdiskusi dengan dia tentang banyak hal. Saya memaksa dia untuk membaca habis ’The Chosen Prince’ sebelum siapapun juga. Padahal tebalnya beratus-ratus halaman. Dan dia dengan sabar meneliti satu persatu,mengkritik, dan memberi saran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai, saya masih terus mengganggunya dengan sekian banyak pertanyaan tentang hidup dan juga tentang ide-ide saya. Dari perbincangan kami, saya sempat membuat draft untuk novel berjudul ’Airport’ dan ’Kali-Kali Laki-Laki’ yang entah kapan saya akan menyelesaikannya. Karena saya sedang jatuh cinta dengan tokoh Ramzi dan Ali dalam ,Catatan Harian Laila. Setelah sebelumnya berjibaku dengan ’Istana Bojong Cae’. Dia pula yang membuat ide gila tentang’ Nasi Goreng Untuk Obama’ jadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyadarkan saya untuk tidak ikut serta dalam perang komersialisasi idealisme. Biarkan menulis dengan sepenuh hati, maka hasilnya akan memuaskan. Dan mengingatkan saya jangan berhenti menulis, walau dicaci dan dimaki. Karena segala bentuk kritikan akan mendewasakan diri saya dalam menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pula yang membantu saya memilih di antara dua pilihan yang sulit ketika harus memilih penerbit. Saya ingat kata-kata dia, ” Kamu macam Pak Belalang dalam dongeng yang kebingungan hendak bersampan ke dua pulau berbeda untuk menghadiri hajatan. Karena Pak Belalang terlalu lama menimbang, akhirnya dia kehilangan dua kesempatan besar untuk dapat nasi berkat. Jangan membiarkan kesempatan besar terlewat tanpa arti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya benar-benar mengingatnya. Entah apakah dia mengingatnya atau tidak. Dia pernah bercerita, kalau suatu waktu dia juga akan menulis buku pertamanya. Dan dia mungkin akan memakai sudut pandang karakter yang berbeda dalam satu waktu seperti ketika saya menuliskan The Chosen Prince.&lt;br /&gt;Selebihnya kami banyak bercerita tentang hidup kami. Tentang Ratunya yang cantik dan tentang dua anaknya yang menggemaskan.Begitupun saya yang tidak pernah bosan menceritakan tentang pangeran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun entah mengapa, sedikit demi sedikit dia juga mulai menarik diri dalam kehidupan saya. Perlahan tapi pasti dia meninggalkan saya, seperti malaikat lain dalam hidup saya saat kontrak kerjanya dengan Tuhan yang mengirim dia telah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu saya kembali dalam posisi yang tidak menguntungkan. Saya dirundung kesedihan setelah mengalami beberapa ujian, dan ketika saya mencoba memahaminya. Tuhan mengirimkan malaikat lagi untuk menemani saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak datang sebagai malaikat sempurna seperti sebelumnya. Dia justru datang dengan segenap permasalahannya. Namun justru dari permasalahannya aku bisa belajar banyak, bahwa hidup tidak selamanya mulus sesuai rencana. Saya belajar untuk mensyukuri hidup saya yang jauh lebih beruntung darinya. Dan saya belajar untuk memahami bahwa segala sesuatu pasti ada alasannya. Sekalipun itu adalah tindakan yang kejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya dia datang, saya adalah perempuan yang terluka. Dia datang menyembuhkan dengan caranya sendiri. Karena dia ternyata adalah gambaran dari seseorang yang menyakiti saya.&lt;br /&gt;Dia menemani saya memahami hidup dalam kesenyapan. Dia membuka mata hati saya bahwa hidup ini adalah kejam, tidak seputih yang saya bayangkan. Dia juga yang mematahkan teori-teori saya tentang bagaimana membalas kejahatan dengan kebaikan dan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali saya berkata pada dirinya yang diliputi rasa sakit hati dan dendam pada seseorang, ” Kalau kita disakiti, maka kita tidak perlu membalasnya dengan kejahatan yang sama. Justru kita mendoakannya. Setiap perkataan dan doa akan di-amin-kan oleh malaikat dan berbalik ke kita. Kalau kita mendoakan kebaikan, maka kebaikan yang akan kita dapatkan. Doa orang teraniaya itu dikabulkan, maka jangan buang kesempatan emas itu dengan mengucapkan sumpah serapah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta merta dia mendebatnya, ” Apa kamu bilang? Apa kita juga harus diam ketika Israel menganiaya Palestina. Ketika Israel menyerang kapal pembawa bala bantuan dan lain sebagainya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memang pintar berdebat, maka saya dibuat tidak berkutik ketika dia malah memberi contoh yang tidak diduga-duga. Perkataan dia membuat saya berpikir lebih keras mengenai jawaban saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Iya...” Saya menjawab sedikit ragu. Saya yakin dengan teori saya, tetapi untuk masalah Israel dan kekejamannya saya tidak setuju. Palestina yang tersakiti, tetapi saya juga merasa teraniaya. Tetapi saya tidak pernah mau mendoakan segenap kebaikan untuk Israel. Akhirnya saya malah diam daripada harus berdebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia dengan cepat menguasai hidup saya. Membenahi hal-hal yang perlu dibenahi dalam hidup saya. Setiap satu hal terselesaikan, saya mulai cemas kalau malaikat saya ini juga akan pergi meninggalkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Tuhan saya tidak rela bila saya harus kehilangan malaikat saya kali ini. Malaikat yang telah menceriakan hari-hari saya. Malaikat yang telah memberi warna dalam hidup saya, dan bahkan menginspirasi saya pada novel saya berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali saya berbincang pada Tuhan, ” Tuhan...Terima kasih kau telah mengirimkan dia dalam kehidupanku. Tapi tolong Tuhan, kali ini aku ingin kontraknya adalah seumur hidup, tidak hanya sampai semua permasalahan saya selesai. Tetapi selamanya. Tuhan tolong jangan ambil malaikatku! Karena aku menyayanginya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk malaikat-malaikatku, terima kasih telah hadir dan memberi warna dalam kehidupan saya. Saya tidak akan pernah melupakan kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Tuhan, tolong jangan ambil malaikatku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 21 Juni 2010 (00:24)&lt;br /&gt;Risma Budiyani&lt;br /&gt;(Dilarang menjiplak atau menyalin tulisan ini tanpa seizin dan mencantumkan nama penulisnya!)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-3517671319030033231?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/3517671319030033231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=3517671319030033231' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/3517671319030033231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/3517671319030033231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2010/06/jangan-ambil-malaikatku.html' title='JANGAN AMBIL MALAIKATKU'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/TB5SY_ujyOI/AAAAAAAAAKI/ZOwWoBPcwnc/s72-c/Angel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-7793802624032953429</id><published>2010-05-17T01:58:00.000-07:00</published><updated>2010-05-17T02:10:39.100-07:00</updated><title type='text'>AKHIRNYA MENIKAH JUGA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/S_EGN4XRgDI/AAAAAAAAAKA/giEMLbdRi80/s1600/pernikahan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 241px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/S_EGN4XRgDI/AAAAAAAAAKA/giEMLbdRi80/s320/pernikahan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472161857769930802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Liat-liat tulisan lamaku, ternyata nyambung dengan kisah temanku si Melati. Baca yah!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam membaca cerita-cerita roman, kita selalu berharap, di akhir cerita tokoh utama dapat menikah dengan pujaan hatinya dan kemudian hidup bahagia selama-lamanya. Sepertinya, pernikahan adalah titik awal dari segala kebahagiaan manusia. Kunci untuk membuka kotak kebahagiaan yang tak pernah habis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja, tanpa pernikahan, hidup Romeo dan juliet berakhir tragis. Kisah Laila Majnun menjadi kisah cinta yang memilukan. Karamnya kapal Van Der Wijck lebih dari sebuah tragedi bagi Zainudin, lebih dari hanya tenggelamnya sebuah kapal, tapi berarti hilangya kepingan hati yang dibawa Hayati. Tanpa pernikahan cerita Jasmine dan Saiful Malook menjadi sebuah cerita yang menyedihkan dalam novel Surat Cinta Saiful Malook buah karya Risma Budiyani. Saiful menggila, karena dunianya lenyap, di bawa Jasmine. Kekasih maya yang tak pernah bisa direngkuh. Jasmine tertatih membawa cintanya, sambil terus berharap suatu hari kelak ada seorang pangeran yang mencintai Jasmine seperti Jasmine pernah mencintai Saiful Malook. Tulus tanpa tendensi. Sama seperti tragisnya Sampek-Engtay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan pernikahan Cintanya Zulaikha kepada Yusuf menjadi suci. Dengan pernikahan Cita-cita seorang Kartini lebih mudah tercapai. Abu Kasan Sapari berbahagia dengan Lastri. dan Kebahagiaan Fahri menjadi lengkap bersama Aisha dalam ayat-ayat cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan adalah sebuah episode yang diharapkan akan juga dilalui oleh setiap insan. Sebuah titik kehidupan yang akan dilalui, yang juga telah ditetapkan sebelum manusia hidup kedunia. Cepat atau lambat, pernikahan menjadi sebuah momen yang direncanakan dalam benak manusia. Sadar atau tidak, setiap langkah kehidupan mengarah ketitik sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan adalah penawar dari hidup yang ditakutkan manusia : sepi, sendiri. Dengan menikah berarti memastikan ada teman disamping disaat kau sendiri. Ada punggung yang tegak yang siap dijadikan sandaran saat lelah menjalani hidup. Ada dada yang lapang untuk berlindung dan menumpahkan kekesalan hidup. Ada tangan yang menggemgam teguh memberi harapan di saat mulai ragu akan pilihan hidup. Ada kaki yang kuat yang siap berjalan mengiringi entah seberapa jauh perjalanan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun banyak sudah cerita, lirik, lagu, langgam, puisi, pepatah, tulisan mengadopsi dari imaji pernikahan. Banyak sudah cerita di buat, bertemakan pernikahan. Buku dicetak sebagai solusi pernikahan. Tulisan di muat utuk menginspirasi kehidupan pernikahan. Konsultasi dibuka sebagai pusaran masalah dalam pernikahan. Nyatanya walaupun begitu, adalah fakta yang sulit untuk maju ke pernikahan. Banyak pertimbangan dan pikiran-pikiran yang membebani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan menjadi bukan hanya sebuah prosesi untuk menyatukan dua insan, Tapi menyatukan dua cita-cita yang mungkin berbeda dan mungkin akan berubah pula kelak. Pernikahan bukan hanya sebuah upacara untuk menyatukan dua keluarga, tapi darinya, akan lahir sebuah keluarga dari dua keluarga yang berbeda. Sebuah keluarga yang harus dibimbing dan dihidupi. Pernikahan bukan hanya menjadi sebuah ikatan untuk terus bersama dalam sebuah suka dan bahagia. Tapi ikatan yang harus terus dijaga dalam sakit dan duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan adalah sebuah perjanjian yang agung antara seorang pria dan seorang wanita. Allah menyatakannya dalam al-Qur’an sebagai perjanjian yang kuat, mitsaqan galizha. Sebuah pernikahan hanya akan berarti apabila dilandasi oleh dasar saling cinta dan berniat menjalankan sunnah rasul. Pernikahan dalam Islam tidak bermakna apabila hanya didasari oleh keinginan hawa nafsu: nafsu melihat kecantikan, nafsu melihat kekayaan, pangkat, jabatan dan status sosial. Sekalipun hal itu merupakan hiasan namun dalam hal memilih jodoh Nabi berpesan agar menomorsatukan agamanya, niscaya kamu akan merasa tenang karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ajaran Islam, pernikahan mengandung beberapa tujuan. Pertama, pernikahan adalah melaksanakan sekaligus menghidupkan sunnah rasul. Kata Nabi SAW: "Nikah itu sunnahku barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka ia bukanlah golonganku". Menikah adalah menyempurnakan pengamalan kita dalam beragama. Nabi pernah menyatakan menikah adalah setengah melaksanakan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Nikah bertujuan untuk menjaga keberlangsungan eksistensi manusia. Allah SWT mengangkat manusia sebagai khalifahNya, wakilnya, mandatarisNya di muka bumi. Untuk terus memelihara dan melanjutkan risalahNya maka Allah meminta kita untuk memperhatikan, memelihara dan membina keturunan. Jalan halal yang ditempuh untuk memperoleh keturunan adalah dengan menikah. Firman Allah dalam surat Annisa ayat 9 "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang merasa anak-anak yang lemah". Dengan menikah diharapkan lahir generasi-generasi baru yang dapat melanjutkan amanat-amanat Allah dan risalah NabiNya.. &lt;br /&gt;Ketiga, menikah adalah memperjelas nasab/keturunan. Tanpa pernikahan dapat dibayangkan banyaknya anak-anak yang lahir tanpa nasab yang jelas, siapa ayahnya dan siapa ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Pernikahan adalah upaya menghindari dekadensi moral. Ucapan Ijab kabul sangatlah pendek mungkin hanya satu menit. Namun ucapan yang hanya sesingkat itu telah merobah dengan luar biasa status hukum seseorang terhadap lainnya. Kalau dahulu berdua-duaan antara seorang laki-laki dengan wanita yang bukan mahram itu diharamkan maka setelah ijab kabul melakukan hubungan yang mesra antara suami istri justru mendapat pahala karena sudah dihalalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, menikah adalah pintu gerbang mencapai keluarga sakinah. Tidak ada kenikmatan yang luar biasa kecuali memiliki keluarga yang harmonis, damai, tentram, penuh cinta dan kasih dalam satu bahtera. Sebaliknya tidak ada penderitaan yang luar biasa selain memiliki keluarga yang penuh konflik, jauh dari kedamaian, cinta dan harmoni. Kalau di dunia ini ada surga maka itulah pernikahan yang bahagia, sebaliknya bila di dunia ini ada neraka maka itulah pernikahan yang gagal. Masyarakat yang baik akan muncul dari keluarga yang baik sebagaimana juga keluarga yang buruk akan menghadirkan masyarakat yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga adalah tempat yang pertama sekaligus utama membentuk generasi yang shalih. Jadikan ia tempat untuk menanamkan bibit-bibit unggul generasi masa depan demi kejayaan Islam dan kaum Muslimin. Doa demi doa harus selalu menyertai perjalanan hidup kita dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahumma Barik lahuma fi khairin. Rabbana Hab Lana min azwajina wa zurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lilmuttaqina imama. Rabbana Atina Fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina azabannar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******************&lt;br /&gt;Hampir setiap hari saya mendengarkan curhatan teman-teman saya yang belum menikah. Curhatan semua hampir sama tentang rintihan, gumaman, gerutuan, sumpah serapah, bahkan rutukan tentang mengapa mereka belum menikah juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi mereka resah, akan jodoh yang belum juga datang menghampirinya. Mereka juga masih harus menghadapi pertanyaan bertubi-tubi dari orang tentang kapan mereka menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok belum nikah-nikah sih? Kapan nyusul? Memangnya tidak kepengen? Memangnya gak ada yang cocok? Sampai kapan melajang, nanti jadi perawan tua/bujang lapuk loh. Memangnya belum laku-laku yah? Sebenarnya kamu normal l tidak sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah pasti pertanyaan ini akan membuat kuping seorang lajang menjadi panas, muka merah padam menahan amarah atau malah kentut. Dada bergelora, tangan mengepal tinju, kaki siap melayang bebas ke muka si penanya atau komentator parah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-kelamaan pertanyaan ini bisa membuat seorang lajang yang sudah sedikit depresi dalam penantian menjadi semakin depresi. Dan akhirnya mencari jalan pintas untuk segera membuat perburuan jodoh. Targetnya hanya satu, sesegera mungkin mencari seseorang yang akan dikawini atau mengawini dirinya demi untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan dari seluruh penjuru mata angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan seperti kehilangan esensinya karena tujuannya bukan lagi untuk membangun keluarga sakinah mawaddah warrahmah. Tetapi untuk masuk dalam standarisasi yang ditetapkan oleh manusia. Agar tidak mendapat malu karena ‘gak laku-laku’ atau ‘perawan tua’ dan ‘bujang lapuk’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang orang-orang beriman memohon-mohon kepada Tuhan-Nya untuk segera diberikan jodoh atau segera menggerakkan hati kekasihnya untuk menikahinya. Tidak hanya memohon, tetapi doa yang mengancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah adalah Dzat Yang Maha Pemurah. Siapapun yang berdoa kepadanya dengan penuh kesungguhan, pasti akan dikabulkan. Seandainya kamu meminta sekarang juga agar kekasih yang kau cintai untuk menikahimu sekarang juga mungkin akan kabulkan. Tetapi apakah kamu yakin dia adalah seseorang yang tepat untuk menemani hidupmu. Apa kamu yakin waktunya telah tepat? Apa kamu yakin pernikahan akan menyelesaikan masalah dan membuatmu bahagia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu berpikiran positif terhadap Allah. Saya selalu menekankan dalam diri saya bahwa apapun yang diberikan Allah kepada saya adalah yang terbaik. Setiap detik yang diberikan Allah kepada saya adalah waktu-waktu terbaik saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belajar untuk berdoa dengan penambahan kata-kata, “Ya Allah berikanlah kepadaku yang terbaik menurut-Mu.” Karena kacamata manusia terlalu buram untuk melihat jauh ke masa depan tentang hal-hal yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin seperti teman saya, yang waktu lajang dia terburu nafsu untuk menikah dengan kekasihnya. Hingga dalam setiap doanya dia selalu ‘mengancam’ agar dipasangkan dengan kekasihnya dalam pernikahan. Pernikahan memang terjadi, namun setahun kemudian perceraian memisahkan mereka dengan teramat pahit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau seorang teman yang terburu-buru menikah. Dan ternyata belakangan dia tahu pasangannya itu bajingan . Dan terlambat untuk mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang gagal menikah di detik-detik menjelang pernikahannya. Dan itu sangat menyakitkan dan memukul perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saat doa-doa itu mengetuk pintu Ar Rasy. Allah sudah tahu bahwa lelaki itu sangat tidak baik untuk dirinya. Namun kasih sayang Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang tak sanggup melihat hamba-Nya merajuk. Maka dikabulkan juga, namun resikonya harus ditanggung sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi sebenarnya bila dia mau bersabar sedikit, atau menyerahkan urusan jodohnya kepada Allah tanpa mengabaikan ikhtiar. Allah telah menyiapkan jodoh yang teramat sesuai untuk dirinya. Tetapi teman saya tidak sabar. Cinta telah membutakan matanya, dan dia juga sudah bosan ditanya ‘kapan menikah’. Maka pernikahan tanpa esensi itu pun dilakoninya. Bukan kebahagiaan yang diraihnya, namun kekecewaan yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kapan yah giliran aku yang bersanding di situ?” Seorang teman lelaki dan perempuan yang sudah di ambang batas menikah menanyakan hal itu kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ I’m cursed.......Semua perempuan meninggalkanku untuk pria yang lebih mapan dan kaya dari aku. Menurutmu itu cobaan atau kutukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kenapa aku belum juga menikah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku sudah menjaga diriku sedemikian rupa untuk bersabar hingga pernikahan. Tapi Tuhan juga tidak tergerak hatinya untuk mempertemukan aku dengan jodohku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Apakah menurutmu aku akan menikah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Menurutmu ada gak yang cinta denganku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku benci ditanya kapan nikah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak curhatan lain yang lebih miris dan memilukan untuk didengar. Karena begitu menyiratkan kesedihan yang teramat sangat, sekaligus kemarahan.&lt;br /&gt;Perkara jodoh memang misterius, kita tidak pernah bisa memilih kapan, dimana dan dengan siapa kita akan berjodoh. Boleh jadi pasangan kita terpisah ribuan mil di sana atau tetangga sebelah rumah yang sekaligus teman sepermainan. Boleh jadi dia berbeda zaman dengan kita atau malah sebaya. Boleh jadi dia musuh besar kita atau malah pujaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya menangis bahagia. Salah satu teman lamaku mengabarkan kalau dia telah menikah di usia yang menjelang 40 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Melati (bukan nama sebenarnya). Dia dilahirkan dari sebuah keluarga yang nyaris sempurna. Orang tuanya adalah orang terpelajar yang memiliki karir bagus. Bisa dibilang hidup mereka tidak kurang suatu apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempurnaan adalah hal yang wajar bagi mereka. Dan segala sesuatu harus berjalan sempurna. Hal itu diterapkan juga dengan criteria calon-calon mantu anak-anaknya. Teman saya adalah anak pertama, perempuan dan dua bersaudara saja. Beruntung adiknya yang cantik terlebih dahulu menikah dengan lelaki pilihannya yang juga masuk criteria orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Melati, harus melajang di usia yang tidak muda lagi. Padahal Melati juga tidak kalah cantik dibandingkan adiknya. Melati gadis cantik, tinggi, putih, karir bagus, pandai, supel, dan lain dan lain. Hanya lelaki bodoh yang tidak menyukai Melati. Dan anehnya hubungan cinta Melati tidak pernah berjalan mulus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pacar-pacarnya memilih mundur teratur, karena mereka semua tidak memenuhi karakter ideal dari orang tuanya. Semuanya kurang. Padahal menurut kasat mata orang awam tidak ada yang salah dengan pacar-pacarnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melati frustasi dan depresi, sedang usianya semakin lama semakin tua. Dan Melati masih dihadapkan pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman, saudara-saudara, kolega-koleganya bahkan kenalan barunya tentang kapan dia akan menikah. Hal itu semakin membuat frustasi Melati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Melati juga tidak mau durhaka pada orang tua. Di satu sisi Melati sangat ingin menikah, namun Melati tidak ingin menikah tanpa restu. Melati pasrah namun marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali Melati hampir nekad menikah dengan seorang lelaki gaek dari negeri seberang yang sudah memiliki dua istri. Apakah Melati mencintai lelaki itu? Tidak, sama sekali lagi tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku hanya ingin anak, Ris. Seorang anak yang akan menemaniku di masa tuaku. Tapi aku juga tidak ingin berzina. Aku harus menikah. Tidak peduli dengan siapa…” Melati mengucapkannya sambil berkaca-kaca. Begitu pun aku yang mendengar. Sedemikian inginnya Melati menikah dan punya anak. Melati sampai tidak bisa berpikir jernih. Di otaknya waktu itu adalah bagaimana caranya dia menikah dalam waktu dekat sebelum dia beranjak tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja orang tua Melati murka.&lt;br /&gt;“ Terserah kalau kamu mau nikah dengan lelaki gaek itu. Tetapi mulai detik ini, kamu bukan lagi anak kami!” Kata-kata papa Melati seperti tamparan keras di pipi Melati. Melati benci papanya. Namun Melati tak kuasa melawannya. Melati tidak mau jadi anak durhaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga Melati berusaha pasrah. Bahkan Melati sudah menyiapkan dirinya bila dia harus menjadi perawan suci sepanjang hayatnya. Melati menyibukkan diri pada karirnya sambil terus berusaha membuang jauh-jauh impiannya untuk menikah. Karir Melati tetap melaju pesat. Namun Melati tetap sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, Melati menghadiri acara reuni SD. Melati padahal hampir saja tidak menghadirinya, karena dia benci berkumpul dengan teman-teman seangkatannya. Melati iri dengan teman-temannya yang slaing pamer jumlah anak. Bahkan Melati, calon saja belum punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung Melati datang ke acara reuni itu. Di sana dia bertemu dengan teman SD-nya yang dulu terlihat paling charming di mata Melati. Dan ternyata dia juga belum menikah. Usut punya usut, kesibukan karir dan studinya di luar negeri membuat pria itu belum menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melati dan pria itu akhirnya menjalin hubungan special. Dan kemarin mereka menikah. Beruntung Pria ini juga masuk criteria orang tuanya. Semua orang bersuka cita menyambut pernikahan itu. Akhirnya Melati mengakhiri masa lajang tepat pada waktunya dengan orang yang tepat. Melati tersenyum lebar di hari pernikahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk umatnya. Terkadang umatnya tidak sabar dan terburu-buru mengecap Tuhan tidak adil. Terkadang kita harus mencintai orang yang salah sebelum mencintai orang yang tepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya masih berpikir, restu orang tua itu teramat penting dalam menjalani biduk rumah tangga. Baiklah kalau anda pikir ini adalah hidup anda, karena anda dan pasangan yang akan menjalani. Tetapi ingatlah hubungan dengan orang tua anda lebih lama terjalin dari pasangan anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, Percayalah! Apa yang diberikan Tuhan adalah yang terbaik. Setiap kejadian pasti ada hikmah di baliknya. Jangan bersedih! Menikah bukan masalah siapa jodoh anda. Tetapi juga apakah waktunya sudah tepat atau belum? Tanya diri sendiri apakah anda siap untuk menghadapi konsekuensinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enjoy your single time! Setiap orang punya kebahagiaannya masing-masing. Baik single maupun double. Sejujurnya aku merindukan masa-masa lajangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LOVE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedoya, 17 Mei 2010&lt;br /&gt;Risma Budiyani&lt;br /&gt;(Dilarang meng-copy paste tulisan ini tanpa seijin dan mencantumkan nama penulisnya).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-7793802624032953429?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/7793802624032953429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=7793802624032953429' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/7793802624032953429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/7793802624032953429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2010/05/akhirnya-menikah-juga.html' title='AKHIRNYA MENIKAH JUGA'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/S_EGN4XRgDI/AAAAAAAAAKA/giEMLbdRi80/s72-c/pernikahan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-6709533419964169468</id><published>2010-04-22T22:40:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T23:21:10.518-07:00</updated><title type='text'>IZINKAN KAMI HIDUP SATU HARI LAGI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/S9Ey-vi0lII/AAAAAAAAAJ4/9a8-jeDdmbE/s1600/Beruang.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 151px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/S9Ey-vi0lII/AAAAAAAAAJ4/9a8-jeDdmbE/s320/Beruang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463203876472919170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Mama….kenapa es mencair?” Si kecil terus saja mengganggu tidurku dengan pertanyaan yang sama. Namun aku berusaha untuk tidak pernah bosan menjawabnya. Anak cerdas memang selalu memiliki segudang pertanyaan kritis yang luar biasa. Dan aku bangga dengan anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Es mencair karena panas…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Panas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iyah….panas bisa melelehkan es menjadi air, sayang!” AKu tersenyum menatapnya. Kuharap jawabanku mampu memuaskan rasa ingin tahunya yang besar. Namun sepertinya tidak. Anakku menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kenapa bisa panas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Karena ada api.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dimana ada api? Aku tidak melihatnya mama.” Si kecil mengedarkan pandangannya ke segala arah, seperti mencari-cari sesuatu. Aku tersenyum gemas melihatnya. Kucubit pipi chubby-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sayang…apinya bukan di sana…di sana dan di situ.” Aku menunjuk-nunjuk ke segala arah. Mata mungilnya mengikuti kemana telunjukku mengarah. Kemudian dia menatapku, matanya berkedip-kedip. Dia mengangkat bahunya dengan ekspresi yang lucu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Terus dimana mama?” Dengan manja si kecil bergelendot di bahuku. Aku merengkuhnya penuh seluruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Di sana…” Aku menunjuk ke atas. Lagi-lagi matanya mengikuti kemana telunjukku mengarah. Kemudian matanya yang polos menatapku bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku tidak lihat api, mama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Lalu apa yang kamu lihat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak si kecil mengerutkan dahinya, seperti sedang berpikir sesuatu. “ Aku lihat awan….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iyah terus apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku lihat matahari…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iyah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku lihat….burung laut…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iyah… terus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Mmmhhh apa lagi yah…” Si kecil mendongak ke atas berusaha mengingat-ingat. AKu hanya tersenyum simpul melihatnya. Diam-diam aku mengagumi dia. Anak semata wayangku. Dia menuruni kecerdasan papanya. Dan kecerdasan papanya lah yang telah memikatku hingga aku tergoda dan pasrah mengikat janji setia kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Gak ada Ma. Cuma itu…” Si kecil mengagetkan lamunanku. Aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Benar kan Ma, tidak ada api.” Aku mengangguk pelan sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Terus apinya mana mama?” Si kecil penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa kecil, “ Mari mama tunjukkan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kamu lihat itu!” Telunjukku menunjuk ke atas, tepat pada satu benda raksasa yang berkilauan terang berdiri angkuh di antara awan. Dari ekor mataku aku melihat si kecil sedemikian antusiasnya mengikuti kemana telunjukku mengarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Itu mama!” Si kecil ikut menunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yes my dear…” Mata kami beradu pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Itu kan matahari mama…” Mata si kecil berkedip-kedip dia terlihat bingung.&lt;br /&gt;“ Benar sekali sayang, dan matahari itu adalah sumber panas terbesar di bumi ini. Cahayanya, panasnya adalah sumber kehidupan di bumi ini. Jika tidak ada dia, mungkin tak aka nada kehidupan di dunia ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap Si kecil yang tampak bingung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kok aku jadi bingung mama?” Si kecil melepaskan pelukannya, dia seperti hendak melihatku dengan jelas, menguliti setiap kebenaran yang terpancar dari sorot mataku.&lt;br /&gt;“ Bingung?” Aku bertanya. Si kecil mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Apanya yang bingung…” Tanyaku lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kalau matahari adalah sumber kehidupan, dan kita tak bisa hidup tanpa matahari. Kenapa dia melelehkan istana kita mama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan! Aku tidak menyangka si kecil sedemikian kritis. Rasanya baru kemarin aku menyapihnya, menidurkannya dalam buaian di istana kami. Dan sekarang si kecil sudah pandai bicara. Sama persis seperti papanya. Cerdas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Karena keadaan yang membuatnya seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Maksud mama, matahari marah oleh keadaan?” Sorot matanya yang tajam menjelajahi ruang hatiku lewat mataku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk pelan, “boleh jadi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Mengapa harus marah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tidak, matahari tidak marah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tapi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Matahari hanya korban dari keadaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Korban? Korban apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Korban dari alam yang tidak lagi bersahabat.” Aku mengatakannya dengan berat hati. Tiba-tiba aku teringat pembicaraan terakhirku dengan suamiku hampir 6 bulan yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Revolusi harus segera dilakukan…!” Ujar suamiku dengan berapi-api kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tapi kamu tidak harus meninggalkan aku dan si kecil sendirian bukan?” Aku saat itu sambil menangis sesenggukan. Suamiku menoleh ke arahku, dia mendekatiku dan memelukku penuh seluruh. Membiarkan aku menangis di dadanya yang bidang dan hangat. Aku tumpahkan semuanya di atas dadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Tuhan aku marah sekaligus sedih. Mengapa? Mengapa harus suamiku yang pergi? Bukan yang lain? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sayang….” Tangannya yang kekar membelai punggungku dengan lembut, berusaha menenangkan diriku. Tapi aku hanya menangis sesenggukan. Aku biarkan air mataku membasahi tubuh kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku adalah pemimpin di bangsa kita. Aku harus memimpin para lelaki untuk melakukan ekspedisi itu. Sebuah revolusi yang sudah lama kita nantikan. Ekspedisi menuju daratan es lain untuk kehidupan kita. Untuk aku, kamu, si kecil dan semua saudara dan teman-teman kita.” Suami berusaha menerangkan dengan suaranya yang berat. Aku tahu, suamiku juga sedang menahan tangis. Tapi dia tak ingin membiarkanku larut. Dia tahan-tahankan tanggul pertahanan air mata agar tidak jebol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tapi kenapa kamu, sayang? Kenapa? Kita baru saja memiliki buah hati yang sudah lama kita nantikan. Apakah kamu tidak cinta dengan kami?” Aku protes dengan payah. Aku sebenarnya sudah hampir kehabisan tenaga karea terlalu banyak menangis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Justru karena aku sayang dengan kalian, makanya aku harus melakukan revolusi ini. Segera setelah aku menemukan daratan itu. Aku akan kembali, memboyongmu dan anak kita. Kita akan membangun istana yang baru. Disana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Apa tidak ada cara lain?” Aku masih tidak bisa terima alasannya. Aku menangis sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sayang….kita tidak mungkin bertahan di sini. Seperti juga kita tidak bisa protes kepada para manusia yang menebang hutan, membangun pabrik-pabrik, memakai AC di rumah-rumah mereka, menambah jumlah kendaraan bermotor yang penuh polusi dan lain-lainnya yang membuat alam marah. Iklim berubah, bumi mulai menghangat dan kita tidak mungkin bertahan di sini. Aku dan beberapa lelaki harus pergi mencari dreamland itu.” Dengan bergetar suamiku berusaha menjelaskannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku ikut!” Aku berontak, aku melepaskan diri dari pelukannya. Aku menatap wajahnya dengan sorot mata tajam yang memaksa sekaligus mengancam. Aku melihat matanya berkaca-kaca. Dia hampir saja tidak bisa menahan diri untuk menangis. Dia memaksakan dirinya untuk menyungging senyum untukku. Namun sayang sekali senyumnya yang biasa meneduhkanku kala lara, gundah gulana tak tentu arah. Kini tak berarti lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tidak bisa sayang…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Karena kita punya si kecil. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi sepanjang perjalanan ekspedisi berbahaya ini. Bagaimana dengan si kecil?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Biar aku yang gendong si kecil.” Aku meyakinkan sambil memohon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum getir, “ Tidak semudah itu, perjalanan sangat panjang. Mungkin kita tak hanya berjalan tetepai juga harus berenang mengarungi lautan dalam. Dan ada banyak sekali predator di luar sana. Mungkin kita masih bisa menghindar dari predator laut. Tapi apakah kita mampu mengelak dari para pemburu. Mungkin peluru nyasar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengeraskan tangisku, aku berontak, “ Sayang! Tolong izinkan aku selalu bersamamu dalam suka dan duka. Seperti janji setia yang telah kita ucapkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tapi aku juga sudah berjanji di hadapan Tuhan akan selalu bertanggung jawab dan menjagamu dunia dan akhirat, memberikan kalian penghidupan yang layak dan istana tempat aku, kamu, anak-anak kita dan bermilyar cinta di antara kita.” Matanya yang sudah merah semakin merah dan suaranya hampir tidak terdengar karena dia menahan diri untuk tidak menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku bisa hidup dalam kesusahan asal kau di sampingku.” Aku menantang suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tapi aku tidak akan sanggup membuatmu susah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tapi dengan kamu meninggalkan aku kau telah membuatku susah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tidak sayang, percayalah. Aku pergi tak akan lama. Sebelum es mencair aku akan kembali dan memboyong kamu dan si kecil ke istana kita yang baru.”  Suamiku berusaha keras meyakinkanku. Tangannya membelai kepalaku lembut. Dia biarkan aku memasrahkan diri di dadanya, mencari sebentuk kehangatan dari seorang kekasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kamu yakin kamu akan dating sebelum es mencair?” Aku menatapnya saat tangisku mulai mereda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yah….tentu saja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Secepat itu?” Aku menatapnya dengan pandangan menyelidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tentu….Apakah aku pernah berdusta padamu?” Dia membalas tatapanku dengan pandangan yang meyakinkan. Sekeras apapun usahaku untuk menguliti keraguan dari matanya, aku malah semakin tidak menemukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng pelan, menyerah. Aku percaya pada suamiku, dia tidak akan pernah berdusta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kapan kau pergi?” Aku mulai mereda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Besok sayang….” Kali ini dia menjawabnya dengan senyum.&lt;br /&gt;Walau aku sudah berusaha keras menerimanya, tapi sungguh aku masih tidak bisa benar-benar jujur dalam hatiku bahwa aku ikhlas melepasnya. Namun aku hanya bisa mengikhlaskannya saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Besok pagi-pagi buta…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkesiap, “Pagi-pagi buta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iya sayang.” Iya berusaha mesra di malam perpisahan kami.&lt;br /&gt;Aku merengut, dia tahu isi hatiku. Dia memegang kedua kepalaku dan menegakkannya hingga pandangan kami beradu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dengar sayang, aku pergi tidak akan lama. Sebelum es mencair, aku akan kembali dan membawa kamu dan anak kita pergi ke tempat yang baru….. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tatap wajahnya, memelas berusaha mengusik sedikit rasa belas kasihannya. Seperti biasanya aku berusaha untuk merayunya saat aku sedang merajuk. Namun percuma, niat suamiku sudah bulat, untuk mencari daratan impian untuk kami semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk pelan. Suamiku tersenyum, dan aku pun menunduk. Aku memilih diriku untuk menyembunyikan rasa dukaku yang teramat sangat di hari kepergiannya. Aku ingin melepasnya dengan senyum walau hatiku terlalu sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku memelukku penuh seluruh, lirih dia berkata, “ Aku teramat sangat mencintaimu dan anak kita. Aku ingin memberikan berjuta kebahagiaan untuk kalian. Karena kalian sangat berharga untuk hidupku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membalas pelukannya, kami berpelukan dengan erat sekali. Membiarkan kami lebur satu sama lain di hari perpisahan kami. Dia mengangkat wajahku, memandangku dengan pandangan syahdu. Romantis sekali. Dia menciumku dengan segenap perasaan. Aku pun membalasnya. Kami saling berpagutan dan memeluk. Kuserahkan semua untuk suamiku, sementara buah hati kami sedang tertidur di ranjangnya. Aku tidak tahu apakah suamiku benar-benar akan kembali sebelum es mencair. Tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Mama…mama….” Suara si kecil menyadarkan lamunanku. Tanpa sadar bulir air mataku berlelehan di pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Mama menangis?” Si kecil bertanya, matanya menyelidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ah nggak…” Buru-buru aku hapus air mata yang mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Mama cuma kelilipan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kecil tertawa cekikikan, “ Kelilipan? Mana ada debu di es?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum getir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Mama kangen papa?” Si kecil menebak. Aku hanya mengangguk pelan. Sudah enam bulan dia pergi tanpa kabar, dan beberapa lelaki lain yang dulu serombongan dengan suamiku tidak pernah kembali. Enam bulan waktu yang teramat lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Es sudah mulai mencair. Tidak ada lagi yang tersisa kecuali secuil daratan tempat aku dan si kecil berpijak. Tinggallah kami berdua, sunyi, sepi sendiri di sini. Semuanya telah pergi, menyelamatkan diri masing-masing. Dan aku tidak pernah tahu bagaimana nasib mereka kini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak pernah tahu siapa yang harus dipersalahkan. Matahari atau manusia jahat yang membuat kerusakan di muka bumi. Hingga iklim berubah dan bumi memanas. Kemudian menghancurkan istana kami, habitat kamu dan merebut kebahagiaan kami di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Mama menangis lagi?” Suara si kecil kembali menyadarkan lamunanku. Aku tak bisa menyembunyikan lagi perasaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tidak nak…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Mama bohong!” Aku tersenyum mendengar mulut kecilnya yang ceriwis. Aku memeluknya. Dia memasrahkan dirinya dalam pelukanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengedarkan pandang ke segala penjuru. Tidak ada siapapun di sana. Hanya aku dan si kecil dengan secuil daratan tempat kami berpijak yang belum mencair. Kubiarkan airmataku mengalir sambil terus mempererat pelukanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati aku merintih, “  Tuhan izinkan kami hidup satu hari lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari kian memancarkan sinarnya. Dalam hatiku berdegup kencang. Kekhawatiran teramat sangat menyergap hatiku. Aku takut sinarnya melelehkan es terakhir di dataran Arktik. Mungkin tidak akan pernah ada hari esok bagi kami para beruang kutub. Dan kami akan mati di sini seperti saudara, teman dan kolega kami di sini. &lt;br /&gt;Aku menatap anakku. Membelai kepalanya, dan badannya yang ditutupi bulu-bulu halus nan lembut berwarna putih. Kupandangi wajahnya yang tampan, mata polosnya yang meredup, hidungnya, pipinya. Garis-garis wajahnya mengingatkanku pada suamiku, yang kini entah ada dimana. Aku tersenyum getir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan….dia masih teramat kecil untuk bisa memahami bahwa manusia-manusia keparat itu yang menyebabkan climate change, global warming dan prahara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(http://nasional.kompas.com/read/2008/09/17/1153384/lapisan.es.terus.mencair.beruang.kutup.terancam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ilmuwan NASA telah mengamati lapisan es Kutub Utara sejak 1979. NASA mengembangkan kemampuan untuk mengamati lapisan itu dan konsentrasi es laut dari udara selama sensor microwave pasif. Es tersebut menyusut hingga batas minimumnya pada 12 September 2008, ketika es itu menutupi wilayah seluasa 4,52 juta kilometer persegi, dan kini tampaknya berkembang, saat Kutub Utara mulai memasuki musim dingin, kata National Snow and Ice Data Center.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu terusan di Northwest Passage, jalur laut yang telah lama diinginkan antara Eropa dan Asia, terbuka pada 2007 dan 2008. Pada tahun ini juga terjadi pembukaan Northern Sea Route yang melewati Samudra Kutub Utara di sepanjang pantai Siberia.&lt;br /&gt;Ice Center tersebut bulan lalu menyatakan terjadi pencairan es mendasar di Laut Chukchi di lepas pantai Alaska, Eastern Siberian Sea, di lepas pantai Rusia timur,  salah satu habitat populasi terbesar beruang kutub di dunia. Karena beruang kutub menggunakan gumpalan es terapung sebagai landasan untuk berburu anjing laut, mereka terpaksa berenang menempuh jarak yang lebih jauh ketika es mencair sehingga sangat mungkin mereka akan kelelahan dan terancam mati tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Es kutub merupakan satu faktor dalam pola cuaca dan iklim global. Perbedaan antara udara dingin di kutub dan udara hangat di sekitar Khatulistiwa mengirim udara dan arus hangat, termasuk arus pekat. Es laut membantu menahan udara dingin di sekitar Kutub Utara karena warna putihnya memantulkan sinar matahari. Ketika es laut menghilang, air gelap yang baru terbuka menyerap lebih banyak sinar matahari sehingga mempercepat dampak pemanasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Hari Bumi!&lt;br /&gt;Sadarkah anda di belahan bumi sana ada yang sedang meregang nyawa karena ulah kita? Mulai dari sekarang selamatkan bumi dari global warming!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedoya, 23 April 2010&lt;br /&gt;Risma Budiyani&lt;br /&gt;(Dilarang meng-copy paste tulisan ini tanpa seijin dan mencantumkan nama penulisnya).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-6709533419964169468?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/6709533419964169468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=6709533419964169468' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/6709533419964169468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/6709533419964169468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2010/04/izinkan-kami-hidup-satu-hari-lagi.html' title='IZINKAN KAMI HIDUP SATU HARI LAGI'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/S9Ey-vi0lII/AAAAAAAAAJ4/9a8-jeDdmbE/s72-c/Beruang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-4956517012302198381</id><published>2010-04-15T21:35:00.000-07:00</published><updated>2010-04-16T00:52:40.409-07:00</updated><title type='text'>SMS TERAKHIR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/S8fsq2lLUgI/AAAAAAAAAJw/IQQQMTGbzIE/s1600/sms+terakhir.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 315px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/S8fsq2lLUgI/AAAAAAAAAJw/IQQQMTGbzIE/s320/sms+terakhir.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460593294160122370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap wajah lelaki yang duduk di depanku. Dalam keremangan lampu malam aku masih bisa melihat wajahnya yang tampan, pipinya sedikit tirus, namun sama sekali tidak mengurangi ketampanannya. Matanya syahdu sekali ketika menatapku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sama sekali tidak memperhatikanku. Ketika aku berulang kali mencuri pandang ke arahnya. Dia masih asyik memandangi lalu-lalang orang yang memadati pelataran Monas di malam Minggu. Dan aku membiarkan mataku asyik memandang Bang Udin, kekasihku.&lt;br /&gt;Ketika akhirnya ekor matanya menangkap mataku yang asyik menguliti dirinya. Dia tersenyum mendapatiku yang tersipu malau karena tertangkap basah sedang mengamati dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera kutundukkan kepalaku. Menyusuri setiap jengkal con-block sambil menyembunyikan perasaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kenapa Sayang?” Mata Bang Udin menyelidikiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum, kemudian mengangkat wajahku perlahan hingga mata kami bisa beradu pandang dengan leluasa. “ Ah nggak Bang…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Udin tersenyum mafhum memahamiku. “ Oh ya sudah, kamu laper belum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Laper Bang…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Makan yuk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Abang ada duit?” Mataku berbinar-binar menatap Abang untuk memastikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadjudin tersenyum, “ Yah…, biar jelek-jelek begini kan Abang Satpol PP, pegawai walikota. Kalau cuma nasi goreng sama Aqua mah enteng.” Si Abang membusungkan dadanya dengan bangga. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ya deh yang Satpol PP.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Jadi makan gak nih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Jadi dong Bang…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ya udah tunggu bentar yah.” Tadjudin bangkit berdiri dan berteriak memanggil tukang nasi goreng keliling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bang…Woy…Nasi Goreng!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadjudin juga menepuk kedua belah tangannya dengan kasar agar si tukang nasi goreng mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya si tukang nasi goreng mendengar suara Abang Tadjudin. Dia menoleh dan segera mengarahkan gerobak nasi gorengnya ke kami. Setelah tukang nasi goreng berada sangat dekat dengan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Nasi gorengnya dua, bang! Pedes…” Abang Udin alias Tadjudin dengan mantap.&lt;br /&gt;Dan Si tukang nasi goreng pun segera memanaskan minyak goreng dalam wajannya. Sembari mengiris-iris kol dan bawang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bang…” Aku memanggil kekasihku yang duduk di sampingku dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ya Sayang…” Si Abang pun membalasnya dengan lembut. Matanya berbinar-binar menatapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Abang cinta gak sih sama Neng?” Aku dengan manjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Abang tersenyum, “ Ya cinta dong Neng. Kalo gak cinta, mana mungkin Abang melamar. Kan sebentar lagi kita bakalan kawin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersipu malu, sambil menunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bentar lagi kan?…abis lebaran…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin tertunduk, padahal jauh di dalam hatiku. Jantungku berdebar-debar, melonjak-lonjak gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Eh iya ya Bang…” Aku menatap wajah Udin dengan mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iyah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Gak nyangka yah, kita udah empat tahun aja pacaran yah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iyah…gak nyangka…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Padahal dulu pas kita ketemuan di Setia Bakti, gak nyangka kalau kita bakalan nikah gitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua melemparkan pandangan jauh menyusuri pepohonan, lalu-lalang orang yang sedang melintasi taman Monas, juga pada deretan gedung-gedung tinggi yang berjajar mengelilingi Monas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku masih berdegup kencang. Layaknya debaran seorang pencinta yang sedang kasmaran. Aku berusaha menguasai diriku agar Bang Udin tidak terlalu mendengar debaran jantungku. Kira-kira Bang Udin, berdebar juga tidak yah?&lt;br /&gt;Lama kita terjebak dalam kebisuan. Namun hati kami saling bicara dalam hening. Kami tahu bahwa di taman ini, kami bukanlah satu-satunya pasangan yang sedang kasmaran. Masih ada pasangan-pasangan lain yang sedang berasyik-masyuk menghabiskan malam minggu. Namun kami merasa dunia itu hanya ada kami berdua. Yang lainnya cuma ngontrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bang…” Suara tukang nasi goreng yang menyodorkan dua piring nasi goreng kepada kami menyadarkan lamunan kami masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Eh iya…” Abang Udin dengan tanggap mengambil piring nasi gorengnya. Kemudian baru giliran aku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Terima kasih ya Bang…” Ujarku sambil mengambil piring nasi goreng yang disodorkannya. Si tukang nasi goreng hanya mengangguk. Dan dia berlalu memberi tempat kepada aku dan Abang Udin untuk bisa menikmati makan malam romantis kami, di bawa sinar rembulan. Syahdu sekali. Walau kami hanya duduk di bangku taman monas dan menikmati nasi goreng. Namun rasanya seperti menikmati sajian makan malam mewah nan romantis di sebuah restoran megah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kami asyik dalam pikiran kami masing-masing. Aku sibuk menikmati nasi goreng pedas yang masih mengepul itu. Abang Udin juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Abang…” Aku dengan lirih, membuat Abang Udin menoleh ke arahku. Mulutnya sibuk mengunyah halus nasi gorengnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kalau kita kawin…Abang maunya kita punya anak berapa Bang?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak Bang Udin berpikir, “  paling dikit tiga deh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kenapa tiga bang?” Aku mengunyah cepat makananku agar bisa mengajukan pertanyaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yah…kalo satu kan kedikitan. Tar kalo kawin kita cuma berdua di rumah. Kalau cuma dua juga masih sepi. Nah tiga tuh pas dah…” Bang Udin beralasan dengan logat Betawi yang kental. Aku hanya mengangguk-angguk saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yah sebetulnya sih kalau bisa, Abang mah pengennya anaknya banyak.  Biar rame. “ Bang Udin melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Banyak bang…ih bagaimana ngurusnya? Mana sekarang harga-harga mahal lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yah Neng…banyak anak banyak rezeki. Insya Allah setiap anak mah pasti ada rezekinya..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iya yah Bang…” Aku mengangguk-angguk sambil menyendukkan suapan nasi gorengku yang sudah hampir habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Itu mah gak usah dipikir. Nih doain aja neng, tar kalau karir Abang bagus. Ntar kan habis jadi Satpol PP. Abang bisa jadi Ketua Satpol PP. Mana tahu nasib baik, Abang bisa jadi walikota. Ntar kan Eneng jadi ibu Walikota.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa cekikikan mendengarnya. Kekasihku memang seorang pekerja keras, dia memiliki mimpi yang besar. Abang yakin sekali suatu hari nanti dia akan menjadi seseorang. Itulah yang membuat aku semakin cinta kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi wajah kekasihku yang sedang berkonsentrasi dengan nasi gorengnya. Kupandangi dengan penuh perasaan cinta. Cinta yang bergejolak. Oh Tuhan…Demi Tuhan aku mencintainya. Izinkan kami saling mencintai hingga akhir hayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seketika itu pun khayalanku melayang jauh, kepada rencana pernikahan kami yang tinggal berbilang bulan. Kurang dari enam bulan kami akan menikah. Sebulan setelah lebaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membayangkan diriku dan dirinya yang sedang duduk di singgasana pengantin. Saling memandang dengan penuh cinta. Menyalami setiap tamu yang dating. Dan… dan… oh banyak sekali khayalan indah tentang aku dan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi. Enam bulan tidak akan lama lagi. Aku hanya perlu bersabar sedikit saja. Dan kami akan sah menjadi suami-isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengobrol banyak hal hingga nasi goreng dalam piring kami ludes tak bersisa. Ketika akhirnya kami menyadari bahwa jam  sudah menunjukkan pukul sepuluh. Bang Udin mengajakku pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yuk… Neng kita pulang. Tar kalau kemaleman dimarahin lagi.” Bang Udin sambil bangkit berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ya deh…” Aku tersenyum dan mengikutinya bangkit dari duduk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membayar nasi goreng dan teh botol. Kami berdua berjalan beriringan menuju tempat parkir motor. Dan tanpa mengulur waktu, Abang Tadjudin menyalakan mesin motor dan memacu motornya membelah jalanan ibukota yang mulai lengang. Sedang aku yang duduk di belakang memegang pinggangnya dengan erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abang mengantarku dengan selamat sampai di depan rumah. Abang tidak terlalu lama di rumahku. Dia segera mohon diri setelah bertatap muka dengan orang tuaku sebentar. Aku melepas kepergiannya di depan rumahku. Memandangnya hingga sosoknya lenyap ditelan kegelapan malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fiuh…hari yang melelahkan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur. Berbaring dengan kedua kaki yang masih menggantung di pinggir ranjang, sambil menatap langit-langit. &lt;br /&gt;Sederetan rekaman kegiatan sepanjang hari melintas di pelupuk mataku seperti film. Semua terputar jelas dalam mataku. Berganti-ganti episode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini bayangan Tadjudin menari-nari di pelupuk mataku. Aku tersenyum tipis membayangkannya. Oh…aku ingat semenjak malam minggu kemarin aku belum berjumpa dengannya. Walau kami tidak sama sekali putus komunikasi. Kami masih saling berkirim pesan cinta lewat sms. Sesekali dia juga mengomentari statusku di facebook atau sekedar mengirim pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan malas aku meraih telepon genggamku yang tadi sempat kulempar di atas ranjang. Kuraba-raba untuk mengetahui letak si telepon genggam. Setelah dapat aku segera meraihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam hitungan detik setelah telepon genggam itu ada di genggamanku aku sudah terhubung dengan situs pertemanan Facebook. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Wow, satu pesan baru.” Gumamku. Buru-buru aku lihat dan ternyata dari arjunaku. Kubaca perlahan pesan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Doain aku. Aku ada taruna pembongkaran di Priok." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan ini dikirim Tadjudin melalui BlackBerry miliknya Selasa silam sekitar pukul 23.00. &lt;br /&gt;Dan dengan lincah jari-jemariku mengetikkan balasannya: "Ya, aku doain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum puas akhirnya balasanku terkirim dengan sukses. Dalam hatiku berdoa, “Ya Allah lindungilah arjunaku besok…Aku mencintai dia ya Allah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam hitungan detik aku pun melayang jauh ke alam mimpi. Telepon genggamku pun terlepas dari genggamanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadjudin dan ratusan Satpol PP lainnya sudah berada di dalam truk yang akan mengangkut mereka ke Koja. Tadjudin tidak tahu pasti apa tugas yanga akan dijalaninya. Dia hanya tahu dari briefing pagi ini, bahwa mereka ditugaskan untuk menjaga ketertiban persiapan pengosongan lokasi makam. Katanya Makam Mbah Priok yang selama ini sering dikunjunginya akan direnovasi. Tapi entahlah, Tadjudin tidak tahu pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadjudin sedikit bingung mengapa banyak untuk mengamankan lokasi dibutuhkan ratusan Satpol PP. Sebetulnya apa yang akan dihadapinya. Tadjudin hanya terdiam. Dia bahkan tak berminat lagi untuk terlibat pembicaraan dengan rekan-rekan seperjuangannya. Rasa kecut dalam hati Tadjudin diam-diam muncul ke permukaan. Dan Tadjudin buru-buru menepisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tidak…Aku harus kuat. Insya Allah ini adalah tugas Negara.” Tadjudin menguatkan dirinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sampai satu jam, truk yang ditumpanginya sudah memasuki wilayah Koja. Tadjudin celingukan mengintip ke luar melihat keadaan. Dan Tadjudin melihat adala puluhan truk serupa. Dan dia juga melihat beberapa mobil besar milik media televisi ternama di Indonesia. Hati Tadjudin bertanya-tanya, sebenarnya ada apa di luar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat komandan batalyon Satpol PP menyuruh rombongannya untuk turun dari truk. Tadjudin kini bisa melihat dengan jelas bahwa disitu tidak hanya ada pasukan Satpol PP yang jumlahnya ratusan tetapi juga ada polisi. Namun dia berusaha untuk tidak terlalu memusingkannya. Dia menyadari tugasnya disini hanya mengamankan. Bukan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tempatnya berdiri, Tadjudin juga melihat puluhan atau mungkin ratusan penduduk sipil yang sedang berjaga-jaga di sekitar makam. Satpol PP sudah berulang kali diingatkan agar tidak gampang terprovokasi. Mereka diam saja biarpun mereka meledek dan mencerca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari mulai meninggi. Teriknya seakan membakar tubuh dan hati. Satu persatu bom Molotov pun mulai beterbangan menyerang. Pasukan Tadjudin terpancing. Dengan beringasnya mereka menyerbu masyarakat. Tadjudin sempat menimang-nimang apakah dirinya harus ikut dalam perseteruan itu atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadjudin bingung, bagaimana mungkin dirinya bisa terjebak dalam polemik ini. Tadjudin tidak tahu mengapa harus dia yang dilibatkan untuk membantai jemaahnya sendiri. Disitu Tadjudin biasa berziarah dan Tadjudin mengenal beberapa.&lt;br /&gt;Ini harus dihentikan. Tadjudin berlari bersama pasukannya yang merangsek masuk memukul mundur masyarakat Koja. Tadjudin hanya ingin berteriak, agar teman-temannya menghentikan semua ini. Semua ini salah. Seharusnya ini tidak ada dalam skenario pengamanan penggusuran. Seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Hai Tunggu!!!” Tadjudin berteriak hingga lehernya tercekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ini semua salah…! Tahan…Kita tidak boleh…” Tadjudin semakin histeris. Namun percuma tidak ada yang mendengar teriakan Tadjudin. Semua teman-temannya mulai terpancing emosi. Begitupun masyarakat. Tadjudin terbawa arus. Dia dipukuli, nyaris terinjak-injak ketika Tadjudin hendak melerai teman-temannya yang kesetanan memukuli seorang pemuda tanggung yang sudah berdarah-darah. Tadjudin berhasil melepaskan diri dari kerumunan. Namun Tadjudin tidak tahu lagi nasib pemuda tanggung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadjudin berhenti sejenak sekitar pukul 13.30. Buru-buru dia mengeluarkan blackberrynya untuk mengirimkan pesan pada kekasih hatinya.. "Pundakku cedera, tangan kananku keseleo."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon istri Tadjudin pun membalas: "Kamu baik-baik aja? Kamu di mana?" &lt;br /&gt;Tadjudin menyimpan blackberrynya dengan segera. Dia ikut berlari mengikuti teman-temannya untuk menyelamatkan diri. Tadjudin tertinggal jauh. Keadaan semakin bahaya. Semua lari tungang-langgang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadjudin sempat mendengar teriakan teman-temannya agar segera berlari menuju kapal boat yang sudah disiapkan oleh polisi laut untuk melarikan diri. Tadjudin berlari sekencang-kencangnya. Namun, Tadjudin yang sudah tertinggal jauh memilih untuk bersembunyi, karena Tadjudin tidak tahu harus bagaimana lagi. Sekuat mungkin Tadjudin berlari, tak akan sanggup mengejar kapal boat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadjudin menyerah, dalam hatinya dia berdoa agar Tuhan menyelamatkannya. Bajunya basah oleh keringat yang mengucur deras di sekujur tubuhnya. Kerongkongan Tadjudin tercekat, haus sekali rasanya. Terik matahari benar-benar membuat Tadjudin semakin kepayahan, namun Tadjudin menahan diri agar persembunyiannya tidak diketahui masyarakat yang mulai kalap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Woy…tuh disana. Ada Satpol kampret. Ayo serbu!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar teriakan beringas masyarakat mendekati tempat persembunyian Tadjudin. Tadjudin bergidik ngeri. Dalam hati ia sempat berteriak, “Ya Allah…lindungi aku!” &lt;br /&gt;Dalam hitungan detik, masyarakat yang kalap berkerumun. Mereka memukuli Tadjudin dengan kayu, batu. Tadjudin di tonjok, ditendang. Darah segar mengucur dari pelipis Tadjudin. Tadjudin tak bisa berkutik, dia tak sanggup lagi berlari. Tadjudin sempat melihat beberapa orang yang berusaha menyelamatkannya, melindungi tubuhnya yang sudah lemah berlumur darah dengan tubuhnya. Tapi tubuh orang itu tak terlalu kuat untuk melindunginya dari amukan orang-orang yang sudah kalap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya satu orang yang berusaha melindungi Tadjudin, seorang bapak-bapak berpeci pun berusaha melindunginya, sambil berteriak “Jangan-jangan dipukul, tahan. Dia juga hamba Allah!” Namun orang-orang yang sudah kalap tidak memperdulikan seruan dewa penolongnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadjudin tidak kuat lagi. Dia sempat berteriak minta ampun dan minta tolong. Minta segera disudahi penderitaannya. Namun lengkingannya tak diindahkan oleh siapapun. Tiba-tiba Tadjudin teringat ibu dan bapaknya di rumah. Tadjudin belum menunaikan janjinya untuk menyelesaikan kuliahnya. Tadjudin juga ingat Aida, kekasihnya, jantung hatinya yang akan dinikahinya Oktober ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadjudin menangis, menitikkan air matanya. Tadjudin teringat dirinya belum menunaikan shalat Dzuhur. Dan  tiba-tiba suara teriakan masyarakat yang beringas mulai terdengar samar. Dan semuanya berubah menjadi gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, isak tangis mewarnai pemakaman Ahmad Tajudin (26), Satpol PP yang meninggal dunia dalam bentrokan dengan warga di Koja, Jakarta Utara. Keluarga, kerabat, dan calon istri korban Aida Apriani tampak tak kuasa menitikan air mata saat jenazah almarhum mulai dimasukkan ke liang lahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai disemayamkan di rumah duka di Jalan HH RT 09/01 No 40, Kebonjeruk, Jakarta Barat, jenazah kemudian dibawa ke Masjid Assurur, yang lokasinya berdekatan dengan rumah korban untuk disholatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata keluarga maupun rekan sejawat, almarhum dikenal sebagai sosok yang ramah dan sangat disukai oleh rekan-rekannya. Selain itu, korban juga dikenal rajin beribadah. Ironisnya, ternyata korban merupakan salah satu jemaah pengajian yang pada Sabtu (10/4) lalu sempat berziarah ke makam Mbah Priok. Bahkan sebelum menemui ajalnya, korban sempat mengirimkan pesan singkat kepada rekan-rekannya di pengajian Taruna Masjid Assurur (Tamasur), yang isinya, meminta maaf kepada umat muslim lantaran ia hanya menjalankan tugas untuk membongkar gapura dan pendopo makam Mbah Priok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aida memandangi gundukan tanah basah tempat kekasihnya Tadjudin dikuburkan. Dia mengusap air matanya sambil menarik nafas dalam-dalam demi membentuk kekuatan dalam hatinya yang teramat lara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal keramat 10-10-2010 yang sudah lama dinantikannya sebagai hari pernikahannya kini tinggal kenangan. Pernikahan itu tidak pernah ada. Sampai kapanpun Aida tidak akan pernah menikah dengan Tadjudin kekasihnya.  Tadjudin meninggalkannya sendirian di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aida memandang gundukan tanah basah itu dengan pilu. Kedua tangannya di letakkan di atas dadanya. Sudah hampir dua hari dua malam dia menangis sesenggukan hingga air matanya kering. Namun hari ini dia telah membulatkan tekatnya untuk merelakan kepergian kekasihnya menemui Tuhan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aida mencium gundukan tanah basah itu. Sebelum bangkit berdiri. Aida sempat ragu meninggalkannya. Tapi ia ingat pesan guru ngajinya, “ Arwah tidak bisa kembali kepada Tuhan-Nya dnegan tenang bila tidak diikhlaskan pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aida menggigit bibirnya pelan tak sampai berdarah. Aida menahan diri sekeras mungkin agar tak ada lagi air mata yang jatuh. Aida ikhlas melepas Tadjudin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Pergilah Tadjudin, Sampai kapanpun aku akan mengingat bahwa aku pernah mencintaimu. Sampai jumpa Tadjudin!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aida memandangnya untuk yang terakhir kali. Sebelum dia menguatkan hatinya untuk beranjak pergi meninggalkan kuburan kekasihnya. Mungkin Aida tidak ingin menghapus sms terakhir dari Tadjudin, karena itulah satu-satunya kenangan terindah dari Tadjudin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RISMA BUDIYANI&lt;br /&gt;Jakarta, 16 April 2010&lt;br /&gt;Mengenang tragedi Koja. Berdamailah saudaraku!&lt;br /&gt;( Sambil berlinang air mata)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilarang keras meng-copy paste cerpen ini tanpa seizin penulisnya dan tanpa mencantumkan nama penulisnya!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-4956517012302198381?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/4956517012302198381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=4956517012302198381' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/4956517012302198381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/4956517012302198381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2010/04/sms-terakhir.html' title='SMS TERAKHIR'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/S8fsq2lLUgI/AAAAAAAAAJw/IQQQMTGbzIE/s72-c/sms+terakhir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-2484020007775465601</id><published>2010-03-10T17:41:00.001-08:00</published><updated>2010-03-10T17:58:11.220-08:00</updated><title type='text'>SAYEMBARA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/S5hLca23Z2I/AAAAAAAAAJg/AJpzmvqdig8/s1600-h/COVER.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/S5hLca23Z2I/AAAAAAAAAJg/AJpzmvqdig8/s320/COVER.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447186700922480482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau dapat novel gratis NASI GORENG UNTUK OBAMA plus tanda tangan penulisnya??? Ikuti sayembara membuat nasi goreng istimewa. Caranya? Posting resep nasi goreng andalan anda beserta fotonya semenarik mungkin dengan judul 'NASI GORENG UNTUK OBAMA' di blog anda atau kirimkan email anda ke FoUmediapublisher06@yahoo.com paling lambat akhir Maret 2010.&lt;br /&gt;Tersedia 10 novel gratis untuk 10 pemenang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-2484020007775465601?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/2484020007775465601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=2484020007775465601' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/2484020007775465601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/2484020007775465601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2010/03/sayembara.html' title='SAYEMBARA'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/S5hLca23Z2I/AAAAAAAAAJg/AJpzmvqdig8/s72-c/COVER.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-4092219286782347027</id><published>2010-03-10T05:58:00.000-08:00</published><updated>2010-03-10T06:04:11.688-08:00</updated><title type='text'>NASI GORENG UNTUK OBAMA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/S5emCVAOoQI/AAAAAAAAAJY/4im_6flrdg8/s1600-h/COVER.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/S5emCVAOoQI/AAAAAAAAAJY/4im_6flrdg8/s320/COVER.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447004833255956738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEGERA TERBIT DI BULAN MARET! Sebuah novel terbaru dari Risma Budiyani untuk menyambut kedatangan Presiden Obama di Indonesia (20-22 Maret 2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NASI Goreng, siapa yang tak kenal dengan makanan satu ini. Apalagi, masakan yang berbahan nasi dingin ini ternyata bisa diolah menjadi berbagai rasa. Makanan ini tidak hanya menjadi favorit orang Indonesia, tetapi juga semua orang yang pernah tinggal di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, siapa pun. Tak terkecuali Presiden terpilih Amerika Serikat, Barack Obama. ”I miss nasi goreng” cetus Si Barry kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono suatu ketika, melalui percakapan telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUAEB BIN NGATMO, seorang pemuda miskin yang meninggalkan kampung halamannya menuju Jakarta untuk meraih impiannya mencari kerja. Suaeb ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar dia bisa berkuliah. Namun ternyata Jakarta tidak seindah bayangan. Mencari pekerjaan bukan hal yang mudah. Namun Suaeb tidak pernah berhenti bermimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasi goreng mempertemukan Suaeb dengan orang nomer satu di Amerika Serikat sekaligus membawanya kepada impian terbesarnya. Bagaimana intrik pertemuan tak terduga antara Suaeb dengan Presiden Barack Obama? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tebaran fakta di dalamnya, membuat novel ini tidak sekedar fiksi biasa. Anda akan mendapatkan segudang informasi yang mungkin belum anda ketahui; seperti apa makanan favorit Obama? Siapakah konseptor pembuat pidato kenegaraan Obama? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kelucuan, haru, senyum, dan yang terpenting novel ini mengajarkan anda bagaimana meraih mimpi paling musykil sekalipun dengan segenap keterbatasan. Dulu siapa yang menduga suatu hari Amerika Serikat akan memiliki presiden berkulit hitam? Bagaimana dengan mimpi anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Presiden Barack Obama pernah merindukan nasi goreng. Tapi bagi Suaeb bin Ngatmo, Nasi Goreng Untuk Obama ini bisa jadi penentu masa depannya. Sebuah novel inspiratif, terutama buat Anda yang punya banyak mimpi untuk diwujudkan.”                                                                     Andy F. Noya, host Kick Andy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Indonesians have a genuine affection for Barack Obama, and Risma's story&lt;br /&gt;captures that quite nicely.  I think the former Jakarta resident, now U.S.&lt;br /&gt;president, will enjoy reading this book himself." &lt;br /&gt;- Dalton Tanonaka, Metro TV news anchor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk mencapai tujuan dan menggapai cita-cita, kerap membutuhkan banyak perjuangan. Tak jarang, usaha untuk meraih hal tersebut, juga menelan pengorbanan yang tidak kecil. Suaeb bin Ngatmo, merupakan contohnya. Di tangan Risma Budiyani, kisah fiksi pemuda asal Desa Jelok, Purworejo, Jawa Tengah ini seakan jadi cermin bagi kita semua. Bahwa ketabahan hati dan ketawakkalan dalam menjalani perjuangan mewujudkan mimpi bakal berbuah baik. Bukan hanya mimpi yang terwujud, tetapi juga bonus berupa kejutan yang tak disangka-sangka menunggu kita di ujung sana. Bagi para pengejar mimpi dan peraih asa, saya rekomendasikan novel ini bagi Anda.."                                                                              Hagi Hagoromo, pekerja media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penerbit FoUmedia Publisher&lt;br /&gt;* Ilustrator gambar Agoes Djatmiko&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-4092219286782347027?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/4092219286782347027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=4092219286782347027' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/4092219286782347027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/4092219286782347027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2010/03/nasi-goreng-untuk-obama.html' title='NASI GORENG UNTUK OBAMA'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/S5emCVAOoQI/AAAAAAAAAJY/4im_6flrdg8/s72-c/COVER.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-8465679546201409393</id><published>2009-10-06T19:28:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T19:59:12.568-07:00</updated><title type='text'>SELAMAT JALAN, YUSUF</title><content type='html'>Aku berjalan menyusuri lorong dengan interior desain mewah ala hotel. Masih dengan kekaguman, mataku menerawang pada setiap detil lorong. Sesekali mengintip sepintas lalu dari kaca pintu-pintu yang tertutup rapat. Rasa ingin tahuku yang besar di antara segenap kekaguman yang membuncah mendorongku untuk mencari tahu ada apakah gerangan di dalam pintu-pintu yang mirip kamar hotel itu. Bila gelagatku tertangkap mata orang yang lalu-lalang, aku buru-buru mengalihkan pandangan ke permadani cantik yang menutupi seluruh lantai di lorong. Lagi-lagi otakku sibuk menghayalkan apakah di balik karpet itu ada ubin keramik, marmer atau malah tanah. Ah tak penting….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih berjalan di lorong yang sebetulnya tidak terlalu panjang. Namun aku menikmati sekali setiap langkahku. Ini kali pertamaku menginjakkan kaki di sebuah kantor pemberitaan. Hari ini ada serangkaian tes yang harus aku lalui. Bila aku mampu melewatinya, maka dalam bilangan minggu aku akan menjadi bagian dari tempat ini. Perasaan senang tiba-tiba menyeruak tanpa permisi dari dalam hatiku. Namun segera kutepis dengan kegalauan alami yang mengalir begitu saja. Galau, khawatir, berdebar, semua bercampur menjadi satu. Aku menghentikan langkah sejenak demi membenarkan posisi tas tanganku, menarik nafas dalam dan menghembuskannya kembali secara perlahan demi sebentuk perasaan lega. Kemudian aku melangkahkan kaki dengan gagah layaknya seorang prajurit yang siap bertempur di medan laga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku menemukan meja bundar besar di dekat dua mesin fotokopi. Aku sedikit celingak-celinguk memastikan bahwa aku tidak salah menafsirkan petunjuk ibu-ibu personalia yang baru beberapa menit yang lalu kutemui. Damn! Tidak ada tulisan atau papan nama yang memberikan sedikit informasi tentang ruangan apa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sempat menghentikan langkah lagi. Kali ini aku mengedarkan pandang pada lebih dari 5 orang berpakaian hitam putih sama seperti yang aku pakai. Terlihat dari ekspresinya, mereka pasti sedang menantikan sesuatu. Kesemuanya perempuan, kecuali satu-satunya laki-laki berbadan tinggi tegap, dengan rahang yang kuat, berkulit agak gelap, hidung sedikit mancung dan bermata polos. Dia satu-satunya makhluk ganteng di antara sejumlah perempuan yang mengelilingi meja bundar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun menghampiri mereka, sambil sedikit berbasa-basi. Dari situ aku tahu bahwa mereka semua sedang menantikan hal yang sama dengan diriku.&lt;br /&gt;“Silahkan!” Lelaki tegap itu berdiri dan menyorongkan kursinya kepadaku sebagai isyarat dia mempersilahkan aku duduk.&lt;br /&gt;What a gentleman…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Serius?!?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tentu saja serius….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak cingcong aku pun menghempaskan pantatku ke kursi kulit imitasi berwarna hitam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terimakasih…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sama-sama…” Pria itu kelihatannya masih bersikap sok gentleman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ohya aku Risma….” Aku mengulurkan tanganku kepadanya. Mata kami saling bersirobok. Tangannya meraih tanganku dan kami pun berjabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yusuf…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya kami bercakap-cakap untuk mencairkan suasana. Dari situ aku tahu dia masih satu almamater dengan diriku, fresh graduate, dan sedang menanti babak kualifikasi selanjutnya untuk menjadi tenaga riset marketing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pertemuan pertamaku dengan Yusuf. Ternyata takdir mempertemukan aku kembali. Aku menjadi bagian yang sama dengan dirinya. Saat aku memperkenalkan diriku kepada seluruh anggota tim, tibalah giliran aku memperkenalkan diri ke mejanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Aku sambil mengingat-ingat sosok bermata polo situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Saya pikir tidak….” Dia sambil cengengesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Whuat….?!? Sepertinya aku belum linglung deh. Kamu Yusuf kan? Kita menjelang tes. Kamu yang satu almamater denganku kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya masih belum berpindah menatapku, dia masih asyik melihat deretan angka di layar monitor sambil tangannya tetap asyik menari-nari di atas keyboard. Cool! Menyebalkan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Salah lihat kali…” Matanya menatapku tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ah mana mungkin….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang menangkap perdebatan kami ikut memojokkan. Hampir aku percaya bahwa aku hanya sedang mengalami ‘dejavu’ merasa sok kenal dengan pria itu. Tapi aku tetap yakin, aku tidak salah. Namun sekeras aku memastikan, saat itu pula aku merasa tenggelam karena malu salah menyapa orang. Sok kenal…. Belakangan aku tahu, aku hanya dikerjai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada semacam tradisi tidak tertulis di tim kami. Bahwa setiap anggota tim harus melewati masa perpeloncoan untuk menajamkan intuisi kami dalam membedakan mana yang dusta mana yang benar dan membiasakan mental kami. Maka dua minggu pertama aku di tempat itu adalah masa-masa dimana aku berusaha memilah-milah mana yang dusta mana yang benar. Antara kenyataan dan rekaan adalah hal teramat tipis perbedaannya. Mereka sangat kompak mengerjai aku. Namun sejatinya hal itu tidak membuat aku sedih atau luka. Yang ada masa perpeloncoan itu meringankan beban masa adaptasiku. Kelucuan demi kelucuan malah mencairkan suasana dan menambah keakraban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dalam bilangan minggu, Yusuf menjadi popular di tim kami. Kami memanggilnya Ucup. Yusuf  pun sepertinya tidak berkeberatan dengan panggilan barunya. Dia malah mengukuhkan nama bekennya itu dengan menuliskan sendiri di kursinya dengan tulisan ‘UCUP’. Dia memanggil dirinya sendiri dengan nama Ucup, dan dia merasa bangga dengan nama itu. Pria bermata polos itu terlalu lugu dan polos. Dia adalah sasaran bulan-bulanan  kami. Entah mengapa, selalu saja ada hal lucu tentang dia yang membuat kami seruangan dengan kompak mengolok-oloknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf adalah pria lugu dari planet yang berbeda dengan bumi. Dia seperti merasa asing dengan planet bumi. Sepanjang umurnya dia hanya mengenal hitam dan putih. Baginya tidak ada abu-abu. Yang ada di benaknya hanya benar dan salah. Kalau berjalan lurus dan benar maka akan dapat pahala, kalau salah jalan maka akan mendapat dosa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaannya yang sangat polos dan menggelikan malah semakin menambah keyakinan kami bahwa dia benar-benar makhluk planet lain yang tidak mengenal ‘dosa’. Dan kami merasa seperti ‘setan-setan’ yang menggoda anak kecil yang baru disapih.&lt;br /&gt;Entah mengapa setiap tingkah polah yang dilakukan Yusuf selalu menggelikan. Membuat kami tertawa terpingkal-pingkal dan menggoda kami untuk semakin membuatnya bersemu merah karena menjadi bulan-bulanan kami. Hingga suatu ketika kami mengetahui bahwa Yusuf adalah perjaka ting-ting yang belum pernah jatuh cinta. Maka dimulailah usaha perjodohan kami dengan gadis-gadis pilihan untuk Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tapi lo normal kan?” Mas Sofyan memancing tawa seisi ruangan. Yusuf yang polos hanya bersemu merah, sambil membela diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali aku merasa kasihan sekali dengan pria itu jika intensitas dan kualitas ejekan sudah semakin keterlaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sabar ya Cup! Orang sabar disayang Tuhan. Orang yang teraniaya itu doanya dikabulkan. Jadi kamu kalau merasa teraniaya doa aja. Nanti pasti dikabulkan. Doanya yang bagus-bagus aja, rugi banget kalo kesempatan emas digunakan untuk menyumpah-nyumpah. Sekalian yah gue titip doa….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka seketika itu juga tawa meledak. Semua ingin ikut bicara. Ada yang mengaminkan ada yang ikutan  titip doa agar cepat menikah dan lain-lain. Maka Yusuf orang paling teraniaya di tim kami menjadi tukang doa dadakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf adalah orang yang paling perhatian di ruangan. Jika salah satu dari kami seruangan curhat atau mengeluhkan sesuatu, semisal sakit perut. Maka dia akan menasihati kita dengan kekhawatiran yang teramat sangat untuk segera ke klinik atau minum obat. Dan dia akan menjadi orang paling cerewet yang menanyakan kabar atau malah menyuruh pulang untuk istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugasnya sebagai tukang riset menjadikannya menjadi kamus berjalan acara televisi. Setiap ada acara televisi terbaru, dia pasti akan mengatakan kepada kami dan mengomentarinya hamper setiap saat. Kalau perlu merekomendasikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat ketika ‘Termehek-mehek’ melejit. Dia merekomendasikannya kepada semua orang di ruangan untuk melihat reality show itu. Dia menceritakannya penuh semangat dengan bumbu-bumbu penyedap yang membuat kami tergoda untuk menonton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun salah seorang korban yang tergoda untuk menonton atas promosi Yusuf. Saat aku mengkonfirmasi kepadanya bahwa aku mulai menonton ‘Termehek-mehek’. Maka dia me-maintain aku sebagai downline-nya untuk selalu menontonnya. Setiap akhir pekan dia akan sangat rajin mengingatkanku akan ‘Termehek-mehek’ yang ditontonnya. Tujuannya tak lain tak bukan agar aku tergoda untuk menonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi pesannya singkat dan menggelikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Lihat deh Termehek-mehek, cowoknya itu ternyata jalan bareng sama tante-tante.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Istrinya memergoki suaminya lagi di rumah istri muda…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Lihat deh rumahnya. Kayaknya gue tau daerah itu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka keesokan harinya kami akan membahasnya dengan seru. Obrolan kami memancing orang lain untuk ikut menonton acara tersebut. Hingga akhirnya kami mengetahui sendiri bahwa itu hanyalah DRAMA yang bertajuk REALITY SHOW. Aku berhenti menontonnya, dan balik melontarkan bulan-bulanan ke Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Reality Show is a bullshit! Masa iya semua orang disitu selalu tertangkap pake make up dan baju bagus. Trus kok kayak acting yah…?” Yusuf hanya manggut-manggut dan menarik diri secara  drastic dari perkumpulan penggemar ‘Termehek-mehek’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain kali kami di ruangan kami yang nyaman, disela-sela masa rehat. Kami membicarakan sebuah reportase di TV swasta yang mengungkap dangdut kampung yang bergoyang seronok di suatu daerah. Namanya ‘Cangdoleng-doleng’. Kami yang penasaran berusaha mencari tahu dengan browsing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu hari aku sudah lupa tentang si ‘Cangdoleng-doleng’. Sebuah pesan singkat masuk di telepon genggamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ada cangdoleng-doleng di TRANS sekarang!” Aku pun bergegas menyalakan TV dan menonton. Maka keesokan harinya kami akan membahasnya. Dan dia dengan berapi-api tak henti-hentinya mengomentari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gila….kebayang gak sih di situ ada anak kecil ikutan nonton.” Yusuf dengan gaya ekspresif menggambarkan bocah ingusan mendongak sambil matanya melotot,mulut terbuka dan liur menetes. Ngiler melihat biduan ‘Cangdoleng-doleng’ bergoyang seronok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus ibu-ibunya ikutan nonton aja sambil tepuk tangan.” Yusuf pun menirukan gerakan itu untuk menambah bumbu dalam ceritanya. Kami serius mendengarkan sambil tertawa geli melihat tingkah polah Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat akhirnya Barack Obama terpilih menjadi presiden Amrik. Kami jadi sering membanding-bandingkan Yusuf dengan Barack Obama. Keduanya sama-sama berkulit gelap, berhidung mancung, berambut agak ikal, tinggi, tegap, bermuka agak tirus, dan memiliki sorot mata yang penuh pengharapan. Namun Yusuf agak lebih polos. Maka kami menjulukinya Berak Obama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf juga seringkali membanggakan darah Arab yang mengalir di dalam dirinya. Kami pun sebetulnya tidak tahu dari mana ke Arab-annya muncul. Kami hanya tertawa saja mengiyakan sambil sesekali mengoloknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf sebenarnya pria yang tampan. Namun auranya tertutup oleh tingkah polahnya. Kalau ada yang mengoloknya untuk membuatnya nyalinya ciut sebagai pria tampan. Maka aku serta-merta membelanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Eh jangan dong teman-teman. Ucup dinamain Yusuf sama orang tuanya karena berharap Ucup akan setampan Nabi Yusuf. Nama itu doa. Yah lumayan lah segini….” Alhasil Yusuf kan terdiam sambil merasakan panasnya kuping menjadi bulan-bulanan. Tetapi sesekali aku juga yang menjadi bulan-bulanan. Yusuf sudah semakin mahir melancarkan balas dendam kepada semua orang yang turut serta mengolok-olok. Sudah pasti semuanya sekedar lelucon untuk menyegarkan suasana di tengah-tengah pekerjaan kami yang serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf agak sedikit tidak sabaran. Suatu ketika kami seisi ruangan melakukan wisata kuliner di bebek Janus untuk makan siang kami. Masing-masing dari kami mendapatkan bagiannya. Kami tanpa basa-basi langsung bergegas menikmati makanan kami, tanpa mempedulikan sekitar kami. Ternyata Yusuf belum juga mendapatkan makanan, padahal para lelaki sudah hampir ronde kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tidak sabaran, Yusuf berteriak dengan lantang. “Pak punya saya mana, Pak?”&lt;br /&gt;Bapak penjual bebek goreng yang kerepotan melayani pembeli hanya berkata, “Sabar ya!”&lt;br /&gt;Yusuf melihat teman-teman lelakinya sudah meminta tambahan seporsi nasi. Yusuf semakin blingsatan dibuatnya. Bagaimana tidak? Pesanan nasinya sama sekali belum dating. Padahal teman sebelahnya sudah hampir ronde kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo ambil nasi gue aja!” Mas Saiful menawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf menolak, namun Yusuf semakin menciptakan kehebohan sendiri menanyakan nasinya yang belum datang. Kami menggodanya, yang digoda malah semakin blingsatan. Yusuf malah meminta bebek goreng dan nasinya dibungkus saja. Karena dia takut terlambat menyelesaikan makannya dan ditinggal. Yusuf melihat para lelaki sedang menyelesaikan nasi porsi kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Loh Ucup kenapa makan di kantor? Makan sini aja nanti juga ditungguin.” Mas Sofyan.&lt;br /&gt;“Tau nih Ucup, cewek-cewek aja belum selesai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Gak ah….”  Dengan mata sedikit memerah dan agak menahan marah. Dia kembali menanyakan pesanannya dengan lebih tegas, nada suara agak bergetar. Aku malah jadi geli sendiri,  di mataku Ucup tampak seperti bocah yang merajuk karena mainannya diambil atau tidak diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Yusuf menjadi sasaran bulan-bulanan kami. Namun Yusuf tetap pada pendiriannya untuk membungkus pesanannya saja, karena dia tidak ingin makan terburu-buru dan membuat kami menunggunya. Dia mau menikmati bebek gorengnya di ruangan tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf yang hanya mengenal hitam dan putih, menganggap satu kesalahan kecil adalah dosa besar yang tak termaafkan. Dia sering dengan lantang dan berapi-api menceritakan kebobrokan moral para pejabat. Dan dia nyata-nyata menyatakan ketidak-sukaannya dengan hal tersebut. Dia mengecam habis tindakan mereka yang tidak berbudi. Yusuf yang polos bercita-cita untuk memutihkannya kelak. Yusuf ingin menjadi abdi Negara yang jujur dan menjadi oase di tengah padang gersang dimana kejujuran adalah hal langka dan musykil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu Yusuf yang baru saja membaca kenaikan gaji hingga berpuluh-puluh persen bagi para guru negeri. Yusuf dengan semangat mengkalkulasi bahwa gaji guru lulusan S1 akan mendapatkan paling tidak 6 juta. Yusuf tiba-tiba ingin jadi guru, dengan asumsi gajinya akan segera mencapai angka tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi dengan idealisme dia yang sungguh polos untuk menjadi pak guru di desa terpencil. Dia sangat bergairah mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa pamrih. Pengabdian untuk sadaqah jariyah jika azal telah menjemput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ucup guru baru belum tentu langsung PNS. Semua butuh proses. Sudah pasti kamu harus menunggu giliran jadi PNS. Ribuan guru honorer bergaji 300 ribu sudah menanti pra-jabatan. Sebagian dari mereka malah sudah menjadi guru honorer/bantu selama puluhan tahun. Kamu tega dengan mereka? Sudahlah cari rezeki yang lain, jangan ambil ladang orang. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama idealisme ‘karbitan’. Maka cita-cita luhur itu pun segera musnah tanpa jejak. Ucup tidak lagi berkoar-koar ingin menjadi guru. Aku rasa membayangkannya saja, dia sudah ngeri. Rasanya menjadi guru bukan jalan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf adalah pekerja keras. Dia mendedikasikan seluruh waktunya untuk pekerjaannya. Sekalipun libur, dia akan datang ke kantor bila atasan menyuruhnya. Dia paling ringan kaki di antara kami. Dia selalu menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Seandainya ada pekerjaan yang menharuskan dia pulang larut malam pun, pasti akan dilakukannya dengan sepenuh hati. Tidak pernah mengeluh. Tak mengherankan bila dia sangat diandalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah lelaki shalih. Makanya dia kami daulat untuk menjadi dubes dari salah satu partai politik Islam terbesar di negeri ini. Kesalahan kecil dari seorang Yusuf akan menambah poin bagi kami untuk mengolok-oloknya sebagai dubes yang tidak becus dan tidak menggambarkan spirit dari sebuah partai beraliran kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun akhirnya takdir kebersamaan kami sudah sampai di sini. Yusuf hendak meraih mimpinya yang luhur menjadi seorang abdi Negara yang jujur. Ketika akhirnya dia dinyatakan lulus tes CPNS. Kami berlomba-lomba mengomentarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Jangan lupa sama janji kamu untuk jadi abdi Negara yang jujur!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Awas yah kalau aku ketemu kamu, kamu sudah bawa mobil Jaguar. Itu indikator kamu sudah korupsi. Karena gaji PNS jujur tuh gak akan mampu beli Jaguar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Awas ya kalau beberapa bulan dari sekarang, ganti HP mahal, motor besar atau apalah yang mewah-mewah. Berarti kamu sudah lupa sama idealismemu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidung Yusuf yang dikomentari hanya kembang kempis, pipi bersemu merah. Dahinya berkerut-kerut mencari alasan yang tepat untuk membalas komentar kami yang sungguh pedas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ya nanti kalo mau ketemuan, ganti lagi sama HP dan motor bututku.” Yusuf berusaha berkilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tapi disana kamu pasti merindukan suasana ini. Kamu bakalan rindu setengah mati dengan banyolan-banyolan segar kita bahkan olok-olok kami yang mengerikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf tersenyum masih dengan ekspresi tidak peduli. Tetapi aku tahu hatinya berkejap-kejap menanti kejutan apa di tempat yang baru. Dalam bilangan hari dia juga akan kehilangan semua tawa, canda dan keceriaan bersama kami di sini. Tidak ada lagi yang mengolok-oloknya dan membuatnya kesal sekaligus tertawa terbahak-bahak hingga sakit perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kamu pasti akan memohon-mohon ke kami di telepon agar kami mengolok-olok kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf masih tersenyum, aku tahu hatinya pasti luka akan meninggalkan kami. Tidak akan ada lagi suara cempreng Mas Sofyan yang menceriakan. Tidak ada lagi atasan sebaik Mas Agus dan Mbak Viza yang selalu mau mengerti. Tidak ada lagi Bang Parlin yang berceramah tentang jalan kristus. Tidak ada lagi cerita tentang Mas Miko, sang seniman nyentrik yang selalu berpikiran ‘out of the box’. Tidak adalagi cerita Mas Fatah dan istri-istrinya. Tidak adalagi cerita Tari tentang Axel yang semakin menggemaskan dan bisnis rajutnya. Tidak ada lagi cerita tentang Hanum dengan buah hatinya yang baru saja menceriakan hari-harinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun Yusuf tidak akan mendengar kelanjutan kisah Agung dan Ugi. Apakah Agung dan Ugi akan berakhir bahagia atau duka. Tidak akan lagi mendengar kisah Mas Syaiful dengan kehidupan barunya kelak dengan sang istri. Tidak lagi mendengar perjodohan setengah olok-olok dengan perawan-perawan di kantor. Tidak lagi mendengar kisah cinta sepasang kelinci Emiria. Atau tentang kucing-kucing sepanjang sejarah Risma. Atau teriakan lantang Yani sang assistant to assistant GM sewaktu memberikan pengumuman penting. Tidak ada lagi cerita Wahyu yang menerangkan konsep bisnis dan marketing atau sekadar menyadarkan Yusuf bahwa dia hidup di dunia nyata yang penuh intrik. Tidak ada lagi kisah burung-burung kesayangan Mamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf tidak akan mendengar lagi kisah sukses Mas Murti dan Baby Zone. Celotehan seru Mbak Rika dan Avi. Atau cerewetnya Mbak Christine untuk mengingatkan hal-hal yang perlu diingatkan. Dan sudah pasti Yusuf tidak akan lagi mendengar cerita Selvi, gadis di tim berbeda yang ikhlas menyiapkan bekal rantang setiap hari untuk sang suami yang PNS bergaji kecil. Dan yang sudah pasti tidak akan mendapatkan jatah oleh-oleh lagi dari CK. Begitu pun Yusuf tidak ada lagi teman yang bisa ditanya tentang perkembangan fashion dan make up seperti Dewa. Dan tidak dapat jatah traktiran ulang tahun Mbak DA Desember ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya akan berhenti sampai di sini. Mungkin jikalau pertemanan kita masih berlanjut, semuanya pasti akan berbeda. Tidak akan sama. Semuanya berubah.&lt;br /&gt;Pertemuan dan perpisahan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, karena perpisahan akan membawa kita akan pertemuan yang lain. Setiap manusia harus menyiapkan mental untuk keduanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dalam bilangan hari Yusuf akan segera pergi meraih asa. Kudoakan semoga asa itu membawa kebahagiaan, keceriaan yang lebih dan tidak bisa kau temukan ketika bersama kami. Cerita telah usai sampai di sini, namun kenangan akan Yusuf akan selalu ada di hati kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan Yusuf! Semoga idealisme itu tidak menguap bersama angin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-8465679546201409393?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/8465679546201409393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=8465679546201409393' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/8465679546201409393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/8465679546201409393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2009/10/selamat-jalan-yusuf.html' title='SELAMAT JALAN, YUSUF'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-7347739880678019195</id><published>2009-07-17T00:11:00.000-07:00</published><updated>2009-07-17T00:28:24.030-07:00</updated><title type='text'>THE CHOSEN PRINCE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/SmAmqWs6QaI/AAAAAAAAAHM/gHvNWWA9ZHQ/s1600-h/The+Chosen+Prince+br+ok.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 218px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/SmAmqWs6QaI/AAAAAAAAAHM/gHvNWWA9ZHQ/s320/The+Chosen+Prince+br+ok.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359326065661198754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah novel terbaru dari Risma Budiyani, akan menyapa anda di akhir bulan Juli 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;“The &lt;st1:place st="on"&gt;Chosen&lt;/st1:place&gt; Prince. Adalah seorang Jasmine, gadis berusia 25 tahun yang dikejar waktu agar segera menemukan pasangan hidupnya, dikejar keluarga dan orang sekitarnya perihal ‘kapan menikah?’ sementara ia sendiri mengejar mimpinya mendapatkan sang pangeran ‘The Chosen Prince’, pria idaman yang ia cintainya dan mencintainya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Disinilah dilema seorang gadis yang belajar dari pengalamannya pernah jatuh cinta dan patah hati sehingga cinta tidak lagi menjadi sesuatu yang alami, mengalir dan datang dengan tiba-tiba sebagai misteri kehidupan yang indah, namun menjadi sebuah keinginan dan visi-misi beserta berbagai macam kondisi yang terkait seolah sebuah obyek yang dapat dicari, suatu proposal bisnis yang ditawarkan.  Dan bila tidak sesuai, cintapun tidak akan berkembang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Cinta tidak lagi buta tapi harus begini dan begitu, datang dari seseorang yang tidak boleh terlalu muda, tapi harus matang, dari orang yang harus memiliki kepribadian tertentu, cara pandang yang dapat diterima, memiliki cita-cita yang layak, disambut baik oleh keluarga dll. dll.  Sehingga cinta tidak lagi merupakan getaran hati yang bermula dari tatapan pandang dan membuat sepasang kekasih menyelami misteri alam yang melahirkan cinta diantara mereka, namun diawali oleh angan-angan terhadap arti cinta yang walaupun berdalih kepentingan religi, akan tetapi sebenarnya termotivasi oleh ego masing-masing yang telah terlebih dahulu mendefinisi cinta dengan membatasnya dalam pagar perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing tokoh, Jasmine, Rashid dan Mike Carlos, memiliki aliran berfikir yang sama:  mengungkung cinta dalam kesempitan ruang egonya dan pengalaman mereka terhadap cinta.  Rashid yang memandang cinta sebagai permen yang diinginkan seorang anak kecil, harus direngek, diemis-emis, dipaksakan untuk didapat.  Bila tidak hidupnya penuh kekecewaan.  Mike Carlos, yang melihat cinta sebagai pelengkap terhadap jalan hidup yang ia pilih dalam usianya yang cukup matang – setelah pindah agama, mengganti nama, kini ia memerlukan pendamping yang pas untuk mendapatkan kesempurnaan hidup dan cocok untuk membesarkan anak.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Sementara Jasmine, yang tak henti-hentinya memanjatkan doa bukan untuk bersyukur melainkan meminta diberikan sang Pangeran dalam kehidupannya namun pada saat yang sama ia menutup erat hatinya.  Sebaliknya perasaan cintanya murni dikendali oleh otaknya, yang menimbang, mengevaluasi, mengkritik dan pada akhirnya, setelah semua persyaratan dan kondisi yang ia cantumkan terpenuhi, barulah ia siap menanam benih-benih cinta.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;‘The Chosen Prince’ merupakan sebuah kisah yang menarik dimana bila cinta telah kehilangan esensi romantikanya, akhirnya menjadi kepanjangan ego yang penuh pertimbangan dan tawar menawar karena dijadikan komoditas dan tuntutan sosial semata. Mengutip pernyataan Jasmine, ‘love is unconditional, but marriage is not.’  Bravo, Risma. (&lt;b style=""&gt;Desi Anwar&lt;/b&gt;, senior anchor/journalist).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Siapa tak kenal Barrack Hussein Obama, Jr? Presiden Amerika Serikat ke-44 ini punya campuran menarik: &lt;st1:country-region st="on"&gt;Kenya&lt;/st1:country-region&gt; – Amerika - &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Tiga negara itu juga memiliki arti tersendiri bagi Jasmine. Setelah terombang-ambing di &lt;i&gt;Surat Cinta Saiful Malook&lt;/i&gt;, kini ia kembali dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Di novel keduanya ini, Risma Budiyani kian mengeksplorasi kemampuannya meracik kata. Lewat &lt;i&gt;The Chosen Prince&lt;/i&gt;, pembaca dibawa menyelami permasalahan yang acap dihadapi kaum lajang: soal jodoh dan keputusan untuk menikah. Amat menggelitik. Terutama jika sedang dihadapi sendiri dan pertanyaan bernada dorongan untuk segera menikah sudah datang dari segala penjuru.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Jadi, bagi para lajang yang tengah bimbang membuat keputusan dan menentukan pilihan, saatnya membaca buku ini. Semoga bisa memutuskan dan menentukan dengan tepat: jodoh dan waktu untuk menikah. Selamat memilih. (&lt;b style=""&gt;Hagi Hagoromo&lt;/b&gt;, pekerja media)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;br /&gt;MULAI BEREDAR DI KOTA ANDA 30 JULI 2009. DAPATKAN DI TOKO-TOKO BUKU KESAYANGAN ANDA.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-7347739880678019195?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/7347739880678019195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=7347739880678019195' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/7347739880678019195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/7347739880678019195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2009/07/chosen-prince.html' title='THE CHOSEN PRINCE'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/SmAmqWs6QaI/AAAAAAAAAHM/gHvNWWA9ZHQ/s72-c/The+Chosen+Prince+br+ok.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-7288555076326601356</id><published>2009-06-21T18:16:00.000-07:00</published><updated>2009-06-21T18:22:45.882-07:00</updated><title type='text'>1001 PERTANYAAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sepanjang perjalanan hidup, kita sering dihadapkan pada rentetan pertanyaan yang tiada henti.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pertanyaan yang seringkali terlalu retoris dan tak perlu penjelasan yang gamblang. Pertanyaan yang terlalu pribadi yang terkadang tak perlu dipertanyakan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketika masih bocah kencur berusia SD. Pertanyaan basa-basi yang keluar dari mulut orang-orang dewasa adalah pertanyaan seputar;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kapan naik kelas? rangking berapa? NEM berapa? &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kapan lulus SD? Mau masuk SMP mana? Negeri atau swasta?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saat kita beranjak remaja, pertanyaan sudah mulai berbeda. Kapan lulus SMA? Kapan kuliah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saat kita di bangku kuliah, pertanyaan berikutnya adalah; Kapan skripsi? Kapan lulus? Atau lebih parahnya adalah kok gak lulus-lulus? Betah ya di kampus? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saat lulus kuliah, kita kembali diberondong pertanyaan; Kapan kerja?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini masih bisa ditolerir dan dianggap sebagai pemicu dan motivasi bagi kita. Karena dengan berhasilnya kita memuaskan jawaban si penanya, disitulah titik prestasi kita. Pertanyaan itu masih bisa dianggap sebagai suatu standar keberhasilan bagi seseorang. Patokan usia menjadi standar mutlak bagi seseorang menempuh jenjang karirnya, dari SD hingga lulus kuliah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Adalah keterlaluan bila seseorang bertahan di bangku SD saat dirinya menginjak usia 17 tahun.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Atau sudah usia 27 tahun belum juga menamatkan bangku SMA tanpa sebab. Makanya pertanyaan itu bisa dijadikan standar keberhasilan seseorang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan menurut saya lulus SD, rangking, lulus kuliah, dll bukan merupakan takdir mutlak. Tuhan masih memberikan pilihan baginya untuk bisa menjadi apa yang diinginkannya dengan ikhtiar. Bila seseorang ingin lulus SD/SMP/SMA, dapat ranking, masuk sekolah atau perguruan tinggi negeri ya harus belajar dengan sungguh-sungguh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tapi bagaimana dengan pertanyaan yang telah menanti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lajang ketika di usia dewasa, seperti; Sudah menikah? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pertanyaan ini masih sopan dan bisa ditolerir. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Begitu juga dengan pertanyaan “Kapan nikah?” Tetapi ketika pertanyaan sudah berubah menjadi kesinisan dari seorang penanya/komentator kurang ajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Kok belum nikah-nikah sih?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kapan nyusul? Memangnya tidak kepengen? Memangnya gak ada yang cocok? Sampai kapan melajang, nanti jadi perawan tua/bujang lapuk loh.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Memangnya belum laku-laku yah? Sebenarnya kamu normal l tidak sih?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sudah pasti pertanyaan ini akan membuat kuping seorang lajang menjadi panas, muka merah padam menahan amarah atau malah kentut. Dada bergelora, tangan mengepal tinju, kaki siap melayang bebas ke muka si penanya atau komentator parah ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lama-kelamaan pertanyaan ini bisa membuat seorang lajang yang sudah sedikit depresi dalam penantian menjadi semakin depresi. Dan akhirnya mencari jalan pintas untuk segera membuat perburuan jodoh. Targetnya hanya satu, sesegera mungkin mencari seseorang yang akan dikawini atau mengawini dirinya demi untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan dari seluruh penjuru mata angin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pernikahan seperti kehilangan esensinya karena tujuannya bukan lagi untuk membangun keluarga sakinah mawaddah warrahmah. Tetapi untuk masuk dalam standarisasi yang ditetapkan oleh manusia. Agar tidak mendapat malu karena ‘gak laku-laku’ atau ‘perawan tua’ dan ‘bujang lapuk’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tak jarang orang-orang beriman memohon-mohon kepada Tuhan-Nya untuk segera diberikan jodoh atau segera menggerakkan hati kekasihnya untuk menikahinya. Tidak hanya memohon, tetapi doa yang mengancam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Allah adalah Dzat Yang Maha Pemurah. Siapapun yang berdoa kepadanya dengan penuh kesungguhan, pasti akan dikabulkan. Seandainya kamu meminta sekarang juga agar kekasih yang kau cintai untuk menikahimu sekarang juga mungkin akan kabulkan. Tetapi apakah kamu yakin dia adalah seseorang yang tepat untuk menemani hidupmu. Apa kamu yakin waktunya telah tepat? Apa kamu yakin pernikahan akan menyelesaikan masalah dan membuatmu bahagia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya selalu berpikiran positif terhadap Allah. Saya selalu menekankan dalam diri saya bahwa apapun yang diberikan Allah kepada saya adalah yang terbaik. Setiap detik yang diberikan Allah kepada saya adalah waktu-waktu terbaik saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya belajar untuk berdoa dengan penambahan kata-kata, “Ya Allah berikanlah kepadaku yang terbaik menurut-Mu.”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena kacamata manusia terlalu buram untuk melihat jauh ke masa depan tentang hal-hal yang terbaik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya tidak ingin seperti teman saya, yang waktu lajang dia terburu nafsu untuk menikah dengan kekasihnya. Hingga dalam setiap doanya dia selalu ‘mengancam’ agar dipasangkan dengan kekasihnya dalam pernikahan. Pernikahan memang terjadi, namun setahun kemudian perceraian memisahkan mereka dengan teramat pahit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mungkin saat doa-doa itu mengetuk pintu Ar Rasy. Allah sudah tahu bahwa lelaki itu sangat tidak baik untuk dirinya. Namun kasih sayang Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang tak sanggup melihat hamba-Nya merajuk. Maka dikabulkan juga, namun resikonya harus ditanggung sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Boleh jadi sebenarnya bila dia mau bersabar sedikit, atau menyerahkan urusan jodohnya kepada Allah tanpa mengabaikan ikhtiar. Allah telah menyiapkan jodoh yang teramat sesuai untuk dirinya. Tetapi teman saya tidak sabar. Cinta telah membutakan matanya, dan dia juga sudah bosan ditanya ‘kapan menikah’. Maka pernikahan tanpa esensi itu pun dilakoninya. Bukan kebahagiaan yang diraihnya, namun kekecewaan yang mendalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kepada pasangan menikah yang belum dikaruniai anak, seringkali dihadang dengan pertanyaan, “Kapan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;punya momongan?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Parahnya pertanyaan lama-lama mulai bernada sinis dari orang-orang yang merasa dirinya lebih beruntung daripada orang yang ditanyai. Sepertinya penanya merasa lebih tahu dari Tuhan tentang arti bahagia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Kok belum-belum punya momongan? Sengaja ditunda yah? KB yah? Kenapa ditunda? “ Dan banyak lagi pertanyaan yang tidak penting untuk dijawab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tidak sedikit pasangan yang bubar jalan saat kelahiran anak pertama. Saya tidak bermaksud untuk mengeneralisasi kasus ini. Namun ini hanya sebagai contoh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Albaqarah:216)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jangan membuat standar kebahagiaan sendiri hingga mendahului Allah. Allah Maha Tahu Yang Terbaik untuk kita semua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seorang sahabat saya adalah sosok shalihah. Sudah beberapa bulan ini pertanyaan tentang anak menghantui hari-harinya yang telah menikah selama dua tahun. Rasa kecewa, sedih dan hampir putus asa mendera. Berganti-ganti dengan kepasrahannya sebagai seorang hamba yang shalih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mungkin dia tak tahan juga untuk berdoa kepada Allah untuk meminta kehadiran anak yang menurutnya adalah sebuah kebahagiaannya kali ini. Dalam kesungguhan doa-Nya yang mengancam, dia lupa menambahkan kalimat, “….Jika kehadiran anak adalah yang terbaik untukku menurut-Mu. Hadirkanlah anak ke tengah-tengah kami. Jika tidak, siapkan kami dan berikan kami saat yang tepat…”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setiap desah nafasnya doanya hanyalah meminta kehadiran seorang anak. Lagi-lagi i Allah yang Maha Pemurah mengabulkannya, namun dengan konsekuensi segala sebab akibat dari doanya. Harap ditanggung sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sahabat saya diberikan kesempatan mengandung janin di luar kandungan, tanpa sepengetahuannya. Yang ia tahu, dirinya dalam sudah berada di salah satu kamar operasi rumah sakit untuk mengeluarkan janin di luar kandungan. Setelah mengalami pendarahan parah dan mungkin nyaris dipanggil Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya hanya mengatakan hal singkat di masa pemulihannya, “Mungkin ini yang ditakutkan Allah kenapa kamu belum juga hamil. Waktunya belum tepat, kamu akan kepayahan….”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sahabat saya bertekad untuk tidak lagi mengancam Allah dengan doanya. Dia hanya berikhtiar tanpa harus memaksa. Pasrah karena Allah Maha Tahu yang terbaik untuk Hamba-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya juga hampir terjerumus kepada hal yang sama. Namun hikmah-hikmah yang hadir di sekeliling saya menjadikan saya untuk berhenti menjadi manusia yang egois dalam menetapkan standar hidup. Saya yakin Allah telah menyiapkan sesuatu yang sangat indah. Saya hanya perlu berikhtiar tanpa harus mengancamnya dengan doa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setelah Jumat lalu terbakar amarah dan menangis oleh pernyataan sinis yang katanya spontan dari salah seorang teman saya, “Daripada ngurusin kucing mending kamu bikin anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kenapa sih gak bikin anak aja?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Itu bukan pernyataan sinis pertamanya. Sebelumnya dia telah melontarkan pertanyaan dan pernyataan sinis yang sungguh lebih sadis. Saya yakin orang itu sudah lupa.Tapi saya yang sudah berusaha untuk melupakannya tiba-tiba diingatkan kembali oleh kejadian Jumat lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kali ini saya bisa dengan tegar menyatakan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Saya tahu Allah akan selalu memberikan hal yang terbaik untuk Hamba-Nya. Dan saya tidak akan pernah menjalani hidup hanya demi untuk memuaskan 1001 pertanyaan orang. “&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya yakin setelah kelahiran anak pertama akan ada lagi pertanyaan lain yang siap menghadang dari seluruh penjuru mata angin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kapan nih si sulung punya adik? Kapan menyekolahkan? Kapan anaknya jadi sarjana? Kapan menikahkan anaknya? Kapan punya cucu? Dan lain sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Hingga pertanyaan berikutnya saat kita di usia uzur adalah, “Kapan nih mati? Kan udah bangkotan, cepetan deh sana! Kuburan dah menanti loh”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jodoh, kelahiran, dan kematian adalah sebagian dari suratan takdir yang tidak dapat diganggu gugat. Allah telah menyiapkan waktu yang tepat untuk perihal itu. Kalau cepat atau tidaknya seseorang menikah, punya anak-cucu dianggap sebagai sebuah prestasi membanggakan yang merupakan standar kebahagiaan hidup seseorang. Seperti halnya lulus SD/SMP/SMA/Kuliah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Maka seharusnya KEMATIAN juga merupakan sebuah standar kebahagiaan hidup seseorang. Semakin cepat mati semakin baik, sama seperti kasus semakin cepat menikah, punya anak, dll semakin baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jangan pernah menjalani hidup demi untuk menjawab pertanyaan orang! Hanya pecundang yang berlaku begitu. Begitu pun hanya orang-orang kerjaan yang menanyakan hal itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ukuran kebahagiaan seseorang tidak sama satu sama lain. Rezeki seseorang tidak sama satu sama lain. Namun setiap orang bisa berbahagia bila mampu mensyukuri setiap detik yang diberikan Allah kepada kita. Pernikahan, kehamilan, kelahiran, kematian, dll akan indah pada waktunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saya pasti akan segera hamil tetapi bukan untuk menjawab pertanyaan orang perihal ‘kapan hamil?’. Tetapi pada saat yang tepat menurut Allah. Karena saya juga tidak mau dipaksa untuk segera MATI oleh orang-orang gila kurang kerjaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Jadi kapan nih mati???”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;" lang="FI"&gt;*Dilarang menyalin sebagian atau seluruhan artikel ini tanpa seizin penulis, atau mencantumkan nama penulis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;RISMA BUDIYANI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-7288555076326601356?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/7288555076326601356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=7288555076326601356' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/7288555076326601356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/7288555076326601356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2009/06/1001-pertanyaan.html' title='1001 PERTANYAAN'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-1360535609100256516</id><published>2009-06-08T20:58:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T21:15:41.349-07:00</updated><title type='text'>PLAGIATOR</title><content type='html'>Sudah dua hari ini saya dibuat jengkel dengan keberadaan http://maniacstory.blogspot.com Bagaimana tidak? Tulisan saya yang berjudul USTAD KEPARAT BOJONG CAE di copy-paste oleh orang tidak bertanggung jawab MANIAC STORY. Tulisan bertanggal posting 1 Februari 2009 itu nyata-nyata adalah tulisan saya persis, hanya saja diganti judul PISAN. Saya marah, karena orang ini bahkan tidak menyertakan nama saya disitu apalagi permisi dan minta izin. Menyebalkan!!! Saya yakin ini akan sering terjadi di Indonesia. Plagiat sudah merupakan hal biasa di bumi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga mohon maaf, jika ada gambar-gambar anda yang saya posting disini. Silahkan komentar dan saya akan segera menghapusnya. Terima kasih! Dan semoga MANIAC STORY menyadari kekhilafannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita bumi hanguskan kegiatan plagiat di bumi Indonesia!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-1360535609100256516?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/1360535609100256516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=1360535609100256516' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/1360535609100256516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/1360535609100256516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2009/06/plagiator.html' title='PLAGIATOR'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-8023694695913311400</id><published>2009-05-06T02:26:00.000-07:00</published><updated>2009-05-06T02:31:42.595-07:00</updated><title type='text'>AKU DAN DIA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/SgFYsRXIa6I/AAAAAAAAAHE/TUqHlltXYLY/s1600-h/cat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 118px; height: 129px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/SgFYsRXIa6I/AAAAAAAAAHE/TUqHlltXYLY/s320/cat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332640951381289890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dengar yah James! Kamu itu punya status yang berbeda dengan perempuan-perempuan kampung itu. Berkacalah dengan dirimu! Siapa kamu? Dimana kamu tinggal?" &lt;/span&gt;Nyonya itu berteriak-teriak penuh emosi. Suaranya memekakkan telinga, aku hanya diam. Sekali lagi aku hanya diam. Aku tak mampu bersuara, bahkan mengangkat kepala demi untuk melihat ekspresinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa bayangkan bagaimana nyonya tua itu bila marah. Maka rambutnya yang tersasak tinggi akan semakin meninggi. Mukanya yang mulus lagi putih akan memerah seperti udang rebus. Sama mengerikannya ketika dia baru saja mengelupaskan kulitnya yang berjerawat di salon. Matanya akan mendelik-delik dan menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, aku tahu. Sejak aku lahir. Dialah yang merawatku. Memenuhi semua kebutuhanku, hingga aku sedewasa ini. Aku tinggal di rumah mewah bertingkat tiga dengan halaman yang cukup luas, dengan kolam renang ukuran olimpiade. Rumah kami teramat luas hingga kami membutuhkan lebih dari dua pelayan. Karena kami juga punya koki, tukang kebun, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku biasa memanggil mereka dengan sebutan tuan dan nyonya. Karena begitulah orang-orang biasa memanggilnya. Tentu saja seharusnya aku memanggil mereka mama papa. Tetapi aku lebih suka memanggilnya tuan dan nyonya. Karena mereka seperti tukang perintah yang tidak bisa dibantah sedikitpun. Sekalipun oleh aku anak kesayangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan adalah orang terpandang. Dia memiliki beberapa perusahaan besar. Setiap hari mobil yang digunakan berganti-ganti. Maka aku benar-benar tinggal di sebuah istana. Aku bermandikan kesenangan. Semua menyayangiku dan memanjakanku. Tidak ada yang tidak terpenuhi. Makanan lezat, pelayanan tingkat satu, perawatan terbaik, pendidikan terbaik, dan hal-hal lain yang kata orang membanggakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan dan nyonyaku memiliki anak-anak yang sudah dewasa dan lepas dari pengawasan mereka. Mereka bahkan bertebaran di beberapa negara. Hanya aku yang tinggal di rumah untuk menyenangkan mereka. Aku lah yang membuat mereka tertawa lebar saat suntuk dan stress. Bagaimanapun juga aku bahagia tinggal bersama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan hampir tidak pernah bicara dengan orang rumah. Bila tidak penting. Apalagi bercanda. Hanya Nyonya yang lebih punya banyak waktu untukku. Aku adalah kebanggaannya. Aku sering diajak beliau kemana-mana. Hingga aku sebesar ini. Nyonya hampir tidak pernah marah padaku. Kecuali saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "James, dengar kataku! Jangan sekali-kali kau meninggalkan rumah untuk alasan apapun tanpa aku atau pengawasan siapapun suruhanku. Orang di luar sana jahat. Bisa-bisa kamu diculik dan memintaku sejumlah tebusan. Ingat kata-kataku!" &lt;/span&gt;Nyonya itu lalu berlalu dari hadapanku setelah sebelumnya membelaiku lembut dan menciumku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku jengah. Aku kan sekarang sudah dewasa. Tepatnya pria dewasa. Makanya aku patut untuk memilih jalanku sendiri. Aku juga ingin melihat dunia luar. Pastilah indah bermain dengan sebayaku. Dan mungkin jatuh cinta dengan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku bulatkan tekadku untuk keluar dari rumah ini. Istana yang telah memberikanku kebahagiaan tiada tara. Tidak untuk selamanya. Hanya sekejap. Aku hanya ingin bertemu perempuan sebayaku. Yang mungkin bisa menjadi pujaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjuang keras mengendap-endap. Akhirnya aku benar-benar keluar. Oh nikmatnya udara luar. Aku melihat kesekeliling. Sebagian besar rumah tidak sebesar istanaku. Itulah yang aku heran bagaimana mereka bisa hidup di rumah seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku berjalan sendirian. Aku merasa seluruh pasang mata menatapku dengan kagum. Yah, aku memang memiliki ras asing. Makanya perawakanku berbeda. Aku hanya menebar senyum kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Hai.....selamat pagi! Selamat pagi semua. Hai....aku James!" &lt;/span&gt;Aku terus menyapa dan menebar senyum. Tetapi mereka tidak membalas. Mereka hanya menatapku kagum dan penuh keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat mereka berbisik-bisik, "Eh...ada bule...ada bule lewat...". Sebagian besar yang bergumam adalah para perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Tampan ya..." &lt;/span&gt;beberapa memujiku. Aku jadi tersanjung terbang ke atas awan. Aku hanya tersenyum. Sampai akhirnya aku melihat seorang gadis cantik menawan hatiku. Terlihat sekali penampilannya sederhana. Tentu saja dia adalah gadis lokal. Anehnya dia tidak menatapku heran. Dia malah asyik berjalan tanpa mempedulikanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang ajar! Yah memang wanita itu cantik dan menawan. AKu bertekad untuk mencari tahu siapa dia. Ah tapi ini sudah terlalu jauh. Bagaimana kalau ada yang menculikku? Bagaimana apa yang dikatakan nyonya alias mama benar tentang orang-orang di luar sini. Tetapi, aku tidak peduli. Aku akan mendekatinya. Hanya untuk tahu nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku mendekatinya perlahan. Yah...aku berjarak kurang dari semeter dari tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Mhhh....Oh..." &lt;/span&gt;Aku gugup untuk memulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Nnnnamaku....James kamu siapa?" &lt;/span&gt;Aku lagi. Tapi tiba-tiba, seseorang mengejutkanku. Tangannya ingin mencengkeramku kuat. Aku....aku.........aku nyaris pingsan ketakutan. Benar kata mama. Mungkin aku ....aku akan mati disini. Mama maafkan aku. Mereka tidak hanya satu orang tetapi dua orang penculik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Tuhan kalau aku masih hidup, maka aku akan selalu mendengar apa kata nyonya...eh mama".&lt;/span&gt;.......Aku menutup mata, dan berdoa. Dan tiba-tiba kekuatanku muncul. Aku berontak. Dan akhirnya aku berhasil melepaskan diri dari mereka. AKu berlari sekencang-kencangnya hingga mereka tak bisa mengejarku. Aku menuju istanaku dan segera menerobos masuk. Anjing Rotweillerku melihat ku dan menggonggong. Ah aku tidak peduli. Akju berlari menuju sofa. Dan segera beringsut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uh tadi benar-benar mengerikan. Benar, aku tidak akan mau keluar rumah tanpa seseorang disampingku. Sekali lagi mama benar. Biar bagaimanapun mama selalu benar dan tahu yang terbaik untukku. Mama bukan nyonya dia adalah mamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "James.........james.! dimana kamu?" &lt;/span&gt;Tiba-tiba teriakan khas mamaku yang khas mengagetkan lamunanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Oh disini rupanya kamu. Yuk waktunya minum susu!" &lt;/span&gt;Mama membelaiku lembut dan menciumiku. Aku membalas ciumannya. Aku rindu mama. Maka tanpa menunggu lama aku segera bangkit dari sofa dan berlari-lari kecil di belakang mama menuju mangkuk susuku di dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Meong! meowww!"&lt;/span&gt; Aku mengeong gembira mendapat susu lezat. Aku memang beruntung. Sudah sepatutnya aku mensyukuri keadaanku. Aku tidak perlu iri dengan kucing kampung yang bebas. Aku memang terkungkung. Tetapi terkungkung di dalam istana yang penuh kenikmatan. Takdirku sebagai kucing rumahan ras Persia. Suatu saat aku juga akan menikah tetapi dengan Persia atau dengan Anggora. Bukan kucing kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah James si kucing Persia. Aku bangga dengan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***Yes, I'm a cat lover***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-8023694695913311400?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/8023694695913311400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=8023694695913311400' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/8023694695913311400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/8023694695913311400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2009/05/aku-dan-dia.html' title='AKU DAN DIA'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_d_41p7hLaSg/SgFYsRXIa6I/AAAAAAAAAHE/TUqHlltXYLY/s72-c/cat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-371779084153637361</id><published>2009-01-18T17:41:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T20:33:23.361-08:00</updated><title type='text'>USTAD KEPARAT BOJONG CAE</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Namanya Dadang. Dia adalah adik satu-satunya dari kepala desa Bojong Cae yang beristri dua. Badannya tinggi dan tegap, walau dia tidak bisa menutupi perutnya yang sedikit membuncit. Kulitnya coklat matang seperti kebanyakan orang Indonesia. Matanya sendu tetapi jalang. Hidungnya tidak mancung dan tidak terlihat pesek. Usianya saat itu menjelang dua puluh tujuh tahun. Logat Sundanya terdengar kental bila berbicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Dadang selalu berusaha berpenampilan perlente ala orang kota. Untuk menunjukkan statusnya yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di sebuah universitas Islam negeri di kotanya. Di setiap kesempatan dia tidak pernah lepas dengan topi warna merah berlabel merek NIKE, yang aku berani bertaruh bahwa itu PALSU. Bila dia tidak sedang bertopi maka dia memilih peci sebagai penutup kepalanya. Aku tidak pernah tahu ada apa dengan kepalanya sehingga dia tidak bisa lepas dengan penutup kepala. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Tetapi tentu saja hanya dia dan orang desa yang menganggap dia perlente. Bagi kami orang kota, dia tidak ubahnya seperti pria kampung yang berlagak kota. Dia senang memadukan kaus tangan panjangnya dengan celana bahan resmi dan ikat pinggang. Lengkap dengan topi NIKE satu-satunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Saat mengendarai sepeda motor tuanya dia akan dengan gayanya menambah aksesoris jaket kulit imitasi lengkap dengan kacamata hitam ala tukang pijatnya. Lantas dia berlagak layaknya pengendara motor gagah yang digilai para gadis. Maklum, tidak banyak orang yang memiliki kendaraan bermotor seperti dia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Memang benar, banyak gadis yang tergila-gila pada kumbang kampung ini. Itu pun menurut penuturan Minul dan kawan-kawan sejawatnya. Bila Dadang lewat, para gadis kampung yang sedang asyik bercengkrama serta-merta segera mengatur sikap agar terlihat anggun dan ayu sebelum menyapa lelaki itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Kang, bade kemana?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Hanya segelintir gadis yang berani melontarkan pertanyaan seperti itu.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Oh, bade ke surau”,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; dengan senyum simpul sang Dadang yang sengaja ditebarkan untuk menyenangkan para gadis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Maka setelah sang Dadang berlalu dari hadapan, para gadis akan berjingkrakan senang. Tertawa senang. Dan si penanya tak henti-hentinya menceritakan peristiwa itu kepada gadis lainnya. Sambil berapi-api mendeskripsikan bagaimana rupa Dadang saat itu. Senyumnya, pakaiannya, matanya, dan lain-lain. Layaknya obrolan para gadis yang sedang menggilai seorang pemuda tampan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dadang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah menengah Islam di Rangkas. Tetapi aku tidak pernah tahu dan mau tahu apa mata pelajaran yang diajarkan. Dadang yang dianggap paling mumpuni di bidang agama Islam, didaulat untuk menjadi guru mengaji di Bojong Cae. Sesekali dia juga berceramah agama. Makanya orang-orang kampung menghormati dirinya. Dia adalah ustad muda kebanggaan Bojong Cae.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Awal perkenalan kami adalah pada sebuah rapat desa. Dia yang memimpin doa dan memberikan ceramah agama. Maklum sebagai adik seorang raja desa, dia memiliki aktivitas segudang. Selain mengetuai Ikatan Remaja Surau Bojong Cae. Dia juga menjadi pelindung di organisasi Karang Taruna Desa Bojong Cae. Maka tidak mengherankan bila hampir di setiap acara desa, dia selalu hadir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mulanya sebelum kami tahu dia adalah seorang Ustad. Kami hanya memanggilnya dengan sebutan Aa Dadang. Namun ketika kami tahu dia juga seorang Ustad, maka kami agak rikuh juga memanggil seakrab itu. Kami memutuskan untuk memanggilnya dengan sebutan Pak Dadang. Lagipula kemudaan usianya tidak terlihat oleh wajahnya yang kebapakan alias bertampang tua itu. Pantaslah dia dipanggil bapak oleh kami yang muda belia lagi ‘bau kencur’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk menyesuaikan diri dan mulai bergaul dengan Pak Dadang. Dia senang melontarkan lelucon garing yang membuat kami merasa bersalah bila tidak tertawa. Kami pun tertawa setelah sekian detik berpikir keras mencari tahu dimana letak kelucuannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setelah itu baru kami tertawa dengan ekspresi yang penuh kepalsuan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pak Dadang ini pria baik. Teramat baik malah. Kami sering sekali terbantu oleh kehadirannya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kami pun seringkali mendapatkan kiriman makanan gratis darinya. Hal itu tentu saja menguntungkan kami. Maklum, saat itu kami masih merupakan mahasiswa kere yang sedang masa pertumbuhan. Sering merasa lapar tetapi tidak ditunjang dengan keuangan kami yang pas pasan. Maka kami dengan senang hati dan tangan terbuka menerimanya. Sebagai imbalannya, kami menjadikan dia sebagai teman bicara kami. Kami harus sukarela menemani dia mengobrol hingga larut malam. Tetapi lebih sering Abang yang menemaninya untuk berbicara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pak Dadang adalah penyokong utama dari setiap kegiatan kami. Bahkan ketika kami harus menembus gelapnya malam melewati hutan untuk menuju dusun terpencil di Bojong Cae. Dia dengan sukarela menyiapkan transportasi dengan mengerahkan beberapa teman yang memiliki motor untuk mengantar kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tetapi entah mengapa setiap kali kami bertugas dan membutuhkan motor sebagai transportasi. Dari sekian banyak motor. Aku selalu didaulat untuk menjadi pembonceng tetap Pak Dadang. Temanku yang lain bisa berganti-ganti. Hanya aku yang selalu membonceng Pak Dadang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun aku yang saat itu teramat polos, menganggap itu hanya sebagai suratan takdir yang tidak disengaja. Yah sudahlah daripada aku sama sekali tidak mendapatkan tumpangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pak Dadang juga memperlihatkan keanehan yang teramat sangat bila berdekatan denganku. Dia lebih senang beraku-kamu bila berbicara denganku. Dan dia berkali-kali mengingatkanku untuk memanggilnya Aa. Namun aku selalu lupa dengan memanggilnya bapak. Karena aku menaruh hormat padanya yang seorang ustad. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sudah menjadi kebiasaanku untuk tidak memegang atau memeluk pengendara motor laki-laki yang bukan muhrim ketika dibonceng. Maka kebiasaan itu juga kuterapkan pada Pak Dadang yang menjadi tumpangan tetapku. Dia selalu mengingatkanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Pegang yang erat Ris! Aku khawatir kamu terjatuh. Perjalanan kita melewati medan yang cukup sulit” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dia mengingatkanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Maka aku mengeratkan peganganku pada badan motor. &lt;i style=""&gt;“Oh sudah, saya sudah pegang kok”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Maksudku kamu bisa pegang aku bila kamu khawatir jatuh”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. Dia menjelaskan lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Insya Allah tidak”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku menyahut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Yah hanya jaga-jaga saja”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seketika itu Pak Dadang memacu motornya dengan cepat. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dia seperti menyari-nyari jalan yang sulit untuk dilewati. Sehingga posis motor agak oleng. Aku di belakang ketakutan setengah mati, pucat pasi membayangkan bila aku harus terjatuh di bebatuan. Aku mengeratkan penganganku pada ekor motor di belakang. Tetapi percuma, tubuhku malah hampir limbung ke belakang dibuatnya. Sedangkan lelaki itu sama sekali tidak memelankan motornya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Akhirnya aku menyerah juga. Aku mulai memegang jaketnya, seperti memegang pinggangnya. Dan sialnya lelaki itu malah semakin mencari jalan yang terjal, agar aku mempererat peganganku. Dan itu berhasil. Aku memegangnya. Sial! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pak Dadang sering sekali mengunjungi istana kami di Bojong Cae. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sesekali waktu membawa teman seorang tokoh desa. Sering juga hanya sendiri. Dan itu dilakukan hampir setiap malam selepas Isya. Dia akan memakai pakaian yang sama yaitu baju koko berwarna biru lengkap dengan peci. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Suatu kali aku memang pernah tanpa sengaja mengungkapkan kecintaanku pada warna biru. Maka sejak saat itu, dia selalu berusaha memakai baju berwarna biru di hadapanku di setiap kesempatan. Dia juga menebarkan aroma harum minyak &lt;i style=""&gt;nyong-nyong&lt;/i&gt; yang menusuk hidung. Aku, Fian, Abang, Deci dan Dije sering sekali bergurau bahwa Pak Dadang bermandikan parfum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Lelaki itu selalu berusaha mencari tahu semua kesukaanku. Dan dia akan berusaha memenuhi itu. Ketika aku berkata, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Dingin-dingin begini enaknya makan nasi goreng panas yang super pedas”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Maka dia akan dengan senang hati membelikannya di kota Rangkas. Tidak hanya satu, tetapi juga untuk Abang, Fian, Deci dan Dije. Semua kebagian. Ketika aku berkata,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Panas terik sungguh nikmat bila ada air kelapa muda yang manis untuk melepas dahaga.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Maka tanpa menunggu lama Lima butir kelapa muda akan dikirimkan ke istana kami oleh sang kurir. Atau bila dia menemani kami melakukan penyuluhan di siang hari. Dia akan menggiring kami ke kebun warisan dari orang tuannya untuk mengambilkan kelapa kopyor muda terbaik untuk kami. Dia bahkan mengupasnya untukku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Atau bila aku gelisah menahan lapar saat kami rapat membicarakan rencana program di malam hari. Maka dia serta-merta menyuruh kurir untuk membelikan martabak telur kesukaanku. Sepanjang aku makan martabak itu dengan lahap. Matanya jalang mengamati aku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saat aku memergokinya, &lt;i style=""&gt;“Kenapa?”&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dia hanya berdalih, &lt;i style=""&gt;“Ah tidak apa-apa”.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dia hampir setiap hari berkunjung ke istana kami. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Terkadang aku sangat jengah untuk sekedar menyapanya. Maka hanya Abang yang menemaninya berbicara. Saat itulah lelaki itu mencari-cari alasan untuk bisa melihatku barang sekejap di dalam istana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;“Nuhun, bade ke kamar mandi?” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Dia beralasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;“Sok atuh. Silahkan masuk aja”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt; Abang mempersilahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Pak Dadang melenggang masuk ke dalam rumah. Dia memergoki kami para gadis yang sedang menonton televisi kecil di ruang tamu. Kami beradu pandang, dan dia tersnyum salah tingkah. Aku hanya bingung dibuatnya. Dia akan memperlambat langkahnya demi untuk melihat aku. Atau aku yang kege-eran yah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Waktu itu aku masih terlalu naif untuk bisa menebak tipu muslihat lelaki. Aku layaknya gadis kecil yang tidak tahu apa-apa. Selama proses pendekatan lelaki itu yang terkesan membabi-buta dan terkesan direstui oleh seluruh tokoh desa. Aku tidak kurang pengawasan dan bantuan dari sahabat-sahabatku di Istana Bojong Cae.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Bojong Cae desa yang kecil. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Tidak ada yang rahasia di desa ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hubungan antara aku dan Ustad keparat tersebar luas. Padahal aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Dengan skenario yang terorganisir, aku masih saja didaulat sebagai pembonceng tetap lelaki itu. Sekeras apapun aku menolak. Aku tidak akan bisa menghindari. Karena jumlah motor terbatas. Dan selalu aku yang mendapat bagian terakhir, dan pengendara motor itu tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Dadang. Lagipula yang menyuruh aku ikut dengannya banyak termasuk tetua kampung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pernah suatu saat aku tertinggal jauh dari rombongan. Si ustad keparat sepertinya mengendarai motor dengan sangat pelan. Dan dia terus menerus mengajakku berbincang. Padahal aku sudah ketakutan setengah mati. Aku hanya berdua saja dengan dia di gelapnya malam. Seandainya terjadi apa-apa denganku dan aku berteriak. Tak akan ada seorang pun yang mendengarnya. Hanya ada rerimbunan pohon, suara jangkrik dan kodok. Mungkin juga derik ular. Dan parahnya saat itu aku sama sekali tidak membawa telepon genggam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku komat-kamit berdoa seperti merapal mantra, &lt;i style=""&gt;“Audzubillahiminassyaitan ni rrajim. Aku berlindung dari godaan syetan yang terkutuk yang mungkin saja menyelinap di dalam raga lelaki ini”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hembus angin malam yang biasanya terasa menyegarkan. Kali ini terasa menusuk kalbu. Aku benar-benar menggigil ketakutan. Aku memperhatikan jalan. Berusaha mengingat-ingat bagaimana tampak jalannya ini bila siang hari. Jadi seandainya terjadi hal buruk, aku tahu kemana harus melarikan diri. Aku benar-benar tidak konsentrasi lagi pada omongan si Ustad keparat. Aku menyibukkan diri untuk berpikir keras bagaimana menyelamatkan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tiba-tiba aku melihat sesosok pengendara motor sambil berjongkok seperti membenarkan motornya. Ya Allah! Semoga itu penolongku. Ya sosok itu kian jelas. Aku rasa Ustad keparat juga melihatnya. Tunggu dulu! Bukannya itu....itu ... Abang. Yah itu abang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kami menghampiri abang. Ustad keparat itu berbasa-basi menanyakan gerangan apa yang membuat Abang berhenti di tengah jalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Oh tahu nih tiba-tiba mogok”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Abang menjawab. Maka ustad keparat menghentikan motornya dan menghampirinya.Agak lama juga kami berhenti. Sampai akhirnya motor yang abang tumpangi kembali berfungsi. Ustad keparat kembali ke motornya. Sebenarnya aku ingin ikut abang, tetapi motor abang tidak bisa dibonceng. Maka aku terpaksa duduk lagi di belakang ustad keparat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saat Ustad keparat mempersilahkan abang untuk melajukan motornya dahulu. Abang dengan basa-basi malah mempersilahkan kami untuk lewat dahulu. Abang ingin memastikan motornya baik-baik saja. Maka dengan berat hati Ustad keparat melajukan kendaraannya. Saat kami sudah berjalan. Baru abang mengikuti kami dari belakang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Belakangan aku baru tahu, bahwa itu adalah tipu muslihat abang. Abang tiba-tiba menyadari motor yang ditumpangi aku dan si usatad keparat tertinggal jauh dari rombongan. Abang merasa khawatir dengan keselamatan dan kehormatanku makanya dia melambatkan motor dan berhenti. Berpura-pura motornya mogok tak lain agar dia bisa mengawasiku dari belakang. Kejadian itu benar-benar tak pernah lekang dari ingatanku. Sosok abang yang sering membuatku menangis ternyata telah menyelamatkanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Suatu kali ada nomer telepon masuk ke telepon genggamku. Nomer yang sama sekali tidak aku kenal. Aku pun mengangkatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Assalamualaikum”,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; suara lelaki di ujung sana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“waalaikumsalam”,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jawabku ragu-ragu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Risma?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Iya saya sendiri. Ini siapa ya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Aduh masak lupa yah. Ini teh Dadang”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Otakku bekerja berusa keras mengingat siapakah Dadang. Dan sekian detik kemudian sosok Pak Dadang melintas di mataku. Ustad keparat? Hah! Bagaimana mungkin dia mengetahui nomer teleponku. Padahal aku sama sekali tidak pernah mengumbar nomer teleponku kepada siapapun di desa ini. Kecuali........Oh ya kecuali pada awal pencatatan daftar tamu lapor waktu pertama kali kami tiba di desa ini. Yah...Itu dia. Sial! Kalau tahu begitu, aku tidak akan menulis nomer yang benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Oh iya...........Pak Dadang. Ada apa yah?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt; Aku dengan hormat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Oh nggak, Cuma tanya kabar saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apa kabar Risma?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Baik. Alhamdulillah”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt; Singkatku tanpa berminat untuk menanya balik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Oh ya katanya mau naik sampan di Kali Ciujung. Jadi nggak?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Kali Ciujung? Apalagi ini? Oh ya aku ingat. Tempo hari saat kami melakukan kunjungan desa di Kali Ciujung untuk melihat proses penambangan pasir dan batu Kali Ciujung. Kami sempat berfoto-foto di Kali Ciujung. Kami melihat sampan-sampan dan perahu yang agak besar berseliweran di sekitar kali Ciujung. Aku sempat berujar dengan noraknya,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Ih pasti seru kalau kita naik perahu itu. Terus kita berfoto ria”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Namun saat itu aku juga tahu bahwa itu mustahil dilakukan karena tidak ada perahu yang bersandar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Naik perahu. Wuah seru tuh. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Serius?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt; Aku menimpali Pak Dadang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Tentu saja serius. Kapan sih aku main-main dengan kamu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Oh ya, kapan?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; Aku antusias.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Hari ini”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Loh ini kan sudah sore?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Iya, kan memang perahunya bersandar setelah jam 5 sore”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Sama yang lain kan. Maksudku sama Abang, Fian, Deci dan Dije?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;“Oh nggak, sama kamu saja. Sampannya kecil soalnya. Takut nggak muat”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; Jawab lelaki itu dnegan diplomatis. Aku malah semakin curiga. Saat itu aku dan penghuni Istana Bojong Cae sedang berkumpul di ruang tamu. Aku memberi isyarat kepada mereka bahwa yang menelpon adalah Pak Dadang. Maka aku serta-merta menyalakan fungsi loadspeaker di telepon genggamku. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Agar mereka juga ikut mendengarkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Terus berangkatnya kapan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Nanti jam 6”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Loh kok maghrib-maghrib kesananya. Terus sholatnya bagaimana?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Iya itu nanti gampang”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saat itu musnahlah rasa hormat dalam hatiku untuk lelaki itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seorang Ustad dari Bojong Cae. Ustad macam apa yang mengajak seorang perempuan bukan muhrim untuk berjalan bersama menikmati pemandangan Kali Ciujung saat maghrib hanya berdua saja? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku membayangkan bagaimana otak lelaki itu bekerja. Bagaimana pikiran kotor lelaki itu yang sudah merencanakan sebuah kencan romantis menaiki sampan melintasi Kali Ciujung sambil menikmati indahnya malam. Serasa naik gondola di tengah kota Venezia. Atau malah dia sedang membayangkan adegan romantis Leonardo Decaprio dan Kate Winslet di kapal Titanic. Aku akan merentangkan tangan sambil berdiri di ujung kapal dan menghirup udara segar malam hari, melepas segenap ketegangan yang membuncah. Kemudian dia menghampiri aku bak Leonardo Decaprio, dan memegang tanganku. Kemudian kami berdua ikut menikmati deru ombak Kali Ciujung dengan debar jantung dua orang pencinta yang membara. Huek!!! Please deh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Maaf saya tidak tertarik dengan tawaran anda. Lagipula, saya tidak terbiasa keluar maghrib. Apalagi dengan lelaki yang bukan muhrim. Saya harus sholat dan mengaji”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku pun menutup telepon dengan marah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Lelaki itu masih berusaha meneleponku. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Namun aku segera menonaktifkan telepon genggamku. Aku benci lelaki itu. Dia menganggapku layaknya perempuan murahan yang mudah terpikat dengan segenap kebaikannya. Mungkin dipikirnya keramah-tamahanku selama ini adalah tanda aku suka padanya. Padahal sekali pun tidak terbersit pikiran suka, simpati apalagi &lt;i style=""&gt;Naudzubillahiminzalik&lt;/i&gt; untuk suka pada lelaki itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kami hanya berbasa-basi untuk sekedar beramah –tamah.Toh kami hanya tamu. Kami memang sudah diwanti-wanti untuk bisa bergaul dengan baik dengan orang kampung, terutama dengan tokoh kalau kita tidak mau diusir sebelum masa KKN berakhir. Namun setelah suatu kali si Ustad keparat benar-benar menyatakan cintanya di suatu malam selepas pertemuan. Aku benar-benar menarik diri sejauh mungkin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kami di Istana Bojong Cae seringkali membincangkan masalah. Sebelumnya abang sempat mempertanyaan perasaanku pada si Ustad keparat. Hanya untuk memastikan bahwa cinta si Ustad keparat tidak bersambut olehku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;“Demi Allah. Tidak terbersit sedikitpun perasaan tertarik dengan si Ustad keparat itu!”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt; Aku dengan penuh ketegasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;“Aku hanya perlu kepastian saja. Habis kulihat kau terlalu lemah. Kupikir kau juga terpikat.” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Abang naik pitam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Setelah dia tahu apa perasaanku. Maka kami semalaman membahas skenario apa yang harus dilakukan untuk menghindarkan aku dari perangkap Ustad Keparat. Maka kami mengambil keputusan untuk membuat skenario bahwa aku tengah bertunangan dengan Dicky Pasaribu, seorang teman kami yang bertugas di Desa Kadu Agung Barat. Mengapa Dicky? Yah karena Dicky pandai bersandiwara, lagipula Dicky dan aku sama-sama tidak terikat dengan hubungan percintaan dengan siapapun. Jadi kami bisa lebih menjiwai sandiwara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Maka kami pun segera mengkomunikasikan dengan Dicky dan rekan-rekan lain di desa lain. Kami pun sepakat mensukseskan sandiwara itu. Dicky selalu datang di acara penyuluhan kami. Dan kami bersandiwara layaknya sepasang kekasih. Dan aku memproklamirkan dengan terang-terangan bahwa Dicky tunanganku, juga kepada Ustad keparat itu. Hahahha................si Ustad mulai menjauh dan lari tunggang langgang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Salah satu program KKN kami adalah menyediakan taman bacaan di surau. Nah aku salah satu penyumbang buku terbanyak. Sebagian besar bukuku di waktu SD memiliki label nama dan alamatku. Walau aku sudah tidak tinggal di alamat rumah itu lagi, namun orang-orang masih mengenalku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Suatu kali surat dari Ustad keparat itu benar-benar sampai ketanganku. Ketua RT dari lingkungan rumah masa kecilku mengantarkan ke rumah baruku. Aku ketakutan setengah mati bila, ustad keparat benar-benar menghampiriku. Telepon-telponnya masih sering mampir. Walau aku sering&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak mengangkatnya. Dia memakai nomer yang berganti-ganti. Hingga aku memutuskan untuk mengganti nomer telepon genggamku. &lt;/span&gt;Agar cerita itu musnah sampai disitu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Moral: &lt;i style=""&gt;Dont judge book from its cover!&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-371779084153637361?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/371779084153637361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=371779084153637361' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/371779084153637361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/371779084153637361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2009/01/ustad-keparat-bojong-cae.html' title='USTAD KEPARAT BOJONG CAE'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-5271371613213935873</id><published>2009-01-04T17:15:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T17:22:20.869-08:00</updated><title type='text'>WARNA-WARNI PERSAHABATAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dua bulan bukan waktu yang sebentar untuk memulai sebuah persahabatan. Juga bukanlah waktu yang lama untuk bisa mengenal pribadi seseorang. Sepanjang dua bulan masa KKN. Kami mendapatkan banyak sekali hikmah tentang arti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;persahabatan yang sejati. Setidaknya kami telah belajar banyak untuk bertoleransi pada segala bentuk perbedaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Salah seorang rekan kami di Kadu Agung Barat bernama Lala. Dia satu desa dengan Irma, Dicky, Wulan dan Yopi. Walau kami berbeda desa. Tetapi kami sering bertemu, dalam pertemuan rutin tim KKN di Kecamatan Cibadak Kabupaten Lebak. Maka beberapa kali kami terlibat perbincangan. Sekadar berbasa-basi ala teman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Lala adalah teman kami yang misterius. Entah di sengaja atau tidak. Dia seperti menarik diri dari pergaulan sesama kami. Kalau kami perempuan seringkali bercanda dengan ceria. Maka Lala memilih untuk duduk menyendiri di pojok. Padahal kami sudah berusaha keras mengajaknya tertawa dan berbincang bersama. Tetapi sepertinya dia masih merasa tidak nyaman dengan kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Perkenalanku dengannya bermula ketika bus yang mengantar kami tiba di Kecamatan Cibadak. Kami terdampar agak lama di sebuah surau kecil. Ketika kami semua menunaikan shalat, maka Lala hanya terdiam di pojok ruang. Kupikir itu mungkin persoalan bulanan perempuan yang tidak perlu lagi dipertanyakan. Toh Lala adalah seorang muslimah berjilbab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ketika kami sesama anggota KKN saling bercengkerama dan berkenalan satu sama lain. Maka Lala memilih untuk duduk di tepian. Aku mendekatinya demi mencari tahu apakah gerangan yang terjadi. Lala terlalu asyik menekuni buku catatan kecilnya, menulis-nulis sesuatu hingga ia tak menyadari aku mendekatinya. Aku mencuri lihat. Aku bisa melihat jelas bahwa Lala sedang merinci rupiah demi rupiah yang sudah dikeluarkannya hari itu. Rapih sekali seakan tidak ada yang tertinggal. Karena pembelian permen pun di catat dengan sangat teliti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Lala, sedang apa?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Tanyaku basa-basi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Oh...eh........... bukan apa-apa,” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lala terlihat gugup, segera menutup buku catatannya dan menyembunyikannya di tas tangannya. Kemudian dia memberikan senyumannya padaku. Dia memainkan pulpen di tangannya demi untuk menutupi rasa groginya yang berloncatan di dadanya. Aku pun memberi senyuman yang tak kalah indah untuk menentramkan hatinya. Sekedar memberi bukti bahwa aku tidak sedang menginterogasi. Aku hanya ingin membuka wacana sebuah persahabatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Saat itu aku masih memegang mukena. Maka dengan nada basa-basi juga aku menyodorkan mukena itu kepadanya sambil tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;”Mau pinjam?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Lala hanya menggeleng pelan dan melemparkan senyum ke arahku. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Maka aku membalas senyumnya dengan mafhum. Mungkin benar dugaanku bahwa itu adalah persoalan bulanan perempuan. Aku pun segera memasukkan mukenaku ke dalam tas. Bukannya berlalu aku malah duduk di sampingnya. Aku tergelitik untuk menanyakan sebuah pertanyan bodoh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="PL"&gt;”Lagi halangan yah?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="PL"&gt; Aku malu-malu. Lala yang ditanya hany atersenyum. Beberapa detik kemudian baru dia menjawab. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="PL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="PL"&gt;”Tidak kok.......”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="PL"&gt; Setelah itu dia berusaha untuk mengalihkan pandangan ke arah lain. Suasana jadi semakin tidak enak. Aku pun segera mungkin mengalihkan pembicaraan ke arah yang lebih netral. Seperti mengomentari teman-teman kami yang sedang bertingkah lucu. Mengomentari orang-orang desa yang melihat ke arah kami, dan hal-hal lain yang remeh tetapi cukup bisa mencairkan suasana. Itu pengalaman pertamaku berinteraksi dengan Lala. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="PL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Aku berusaha mencari tahu keanehan yang terjadi pada Lala pada teman sedesanya. Terutama Irma dan Wulan, mereka pasti tinggal satu kamar. Sudah barang tentu mereka saling bercakap-cakap tentang apa saja. Tetapi percuma, Irma dan Wulan juga tidak pernah terlibat percakapan yang pribadi layaknya para gadis bergosip. Lala pendiam sekali. Namun di balik diamnya dia menyimpan sebuah misteri, rahasia hidupnya yang ingin ditutupinya. Ternyata Lala juga tidak terbuka dengan Irma dan Wulan. Namun dari percakapanku dengan Irma dan Wulan aku sedikit banyak bisa menilai Lala. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Menurut penuturan Irma, di awal kedatangan mereka di Desa Kadu Agung Barat. Lala baru menyadari bahwa Ia tidak membawa jilbab instan yang praktis. Sudah barang tentu Irma dan Wulan dengan senang hati menawarkan jilbabnya. Namun Lala menolaknya dengan serta-merta. Dia lebih memilih mengenakan mukena panjangnya sebagai jilbab daripada meminjam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tidak hanya itu, keesokan harinya Lala meminta izin untuk tidak menginap di &lt;i style=""&gt;case camp&lt;/i&gt;. Sepanjang dua bulan, Lala akan menginap di rumah saudaranya yang tinggal di pinggiran Kota Rangkas. Padahal jaraknya hampir dua jam perjalanan. Namun itu akan dilakoninya selama KKN. Anehnya selama itu, kami tidak pernah melihat Lala shalat. Ketika hal itu kami tanyakan kepada Lala. Dia hanya menjawab singkat,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Aku menggabungnya dalam satu waktu di malam hari saat aku tiba di rumah saudaraku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Beberapa kali kami terlibat perbincangan dengan sedikit bumbu perdebatan perihal keanehannya. Kami juga sedikit menginterogasi Lala. Maka terungkaplah bahwa menurut keyakinan Lala, dalam menunaikan shalat juga ada aturan. Adalah najis bila melaksanakan sholat di tempat orang yang tidak segolongan. Di dalam keyakinan Lala, jarak antara tempat wudhu dan sajadah shalat harus sedekat mungkin. Dan harus berada di lingkungan suci kaumnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Lala dan kaumnya memiliki masjid khusus di setiap daerah untuk memudahkan jamaatnya menunaikan shalat. Tidak ada pinjam meminjam alat-alat shalat atau apapun juga yang berhubungan dengan peribadatan antara golongan Lala dan orang di luar golongan. Bahkan bila ada yang tak sengaja meminjam, menyentuh, apalagi menggunakan barang-barang pribadi golongan Lala, padahal mereka tidak seideologi. Lala dan golongannya akan segera mungkin mencuci dan membersihkannya agar tidak bernajis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;”Oh jadi kita ini najis, begitu?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="PL"&gt;Ujar Deci bernada sewot suatu kali saat kami membincangkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="PL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Yah dia kan juga korban dari sebuah sistem. Bila satu keluarga penganut kepercayaan tersebut, maka Lala hanya akan jadi pengikut. Tak bisa sepenuhnya disalahkan. Lala menjadi seperti itu karena dia terbelenggu dalam suatu paham yang tidak sepenuhnya dimengerti.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Aku memberikan pledoi pembelaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Iya, suatu kali kami telah berdebat berdasarkan Al Quran dan Hadits, dan dia sama sekali tidak mengerti landasan dalilnya.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Irma ikut memberikan pendapat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Kasihan juga dia ya”,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Ari teman kami dari Bojong Leules ikut berbicara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Tidak punya teman”,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Lilis dari Desa Cibadak berempati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Yah sudah sepantasnyalah dia demikian tidak ditemani, lah wong kita ini dianggap barang najis sejenis anjing.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Deci masih saja berapi-api. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Dia sendiri yang membuat jarak”, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dije.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Iya benar. Aku ingat suatu kali kelompok kami diundang makan bersama di saung selepas penyuluhan. Kami makan bersama dengan sesepuh desa dan beberapa penyuluh pertanian. Saat makanan tersaji, Lala malah memilih memakan biskuit yang dibawa dari rumah. Dengan alasan tidak lapar.” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Wulan membenarkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Di desa-desa terpencil di Kabupaten Lebak, Kami memang memiliki kegiatan makan bersama untuk menghormati tamu. Tradisi makan ini cukup unik. Karena makanan tidak terhidang di atas piring, tetapi di hamparkan di atas daun pisang yang lebar. Nasi dan lauk pauk menjadi satu plus sambal terasi. Kemudian setelah dipersilahkan dan berdoa kami makan bersama dengan tangan. Tidak ada rasa jijik dan malu-malu semua bercampur tidak kenal kasta dan status, makan dalam satu daun pisang dengan nikmat. Adalah merupakan suatu penghinaan, bila tamu menolak makanan yang dihidangkan oleh tuan rumah. Dan tindakan Lala yang menolak untuk makan bersama adalah sungguh menyakitkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Namun Yopi sang koordinator kecamatan, bisa dengan bijak memberikan alibi untuk menutupi kesalahan Lala. Sekaligus untuk menghindari prasangka buruk yang berlebihan kepada tim mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;”Oh................si Lala ini ada gangguan dengan pencernaan. Jadi sejam sebelum makan harus diisi dengan biskuit. Mohon maaf bila menyinggung.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt; Yopi berdiplomasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Lala terkucilkan. Namun Lala tidak pernah merasa terganggu. Lala sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Di setiap kelas yang diikutinya Lala memang selalu terkucil. Dia selalu mengambil tempat di pojok ruangan yang jauh dari kerumunan mahasiswa. Agar dia tak perlu berinteraksi dengan mahasiswa lainnya. Tatapan aneh dari orang di sekelilingnya adalah santapan sehari-harinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sepanjang KKN aku dan beberapa perempuan masih dengan sabar berusaha mendekati hatinya. Berusaha menjadi tukang cerita yang baik saat dia membisu. Begitu pun berusaha menjadi pendengar setia ketika dia berbicara. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan berusaha untuk mafhum atas semua hal aneh yang dilakukannya. Berusaha untuk tidak bertanya dan menganggapnya sebuah kebiasaan. Meniadakan keanehan yang ada pada dirinya, menganggap dia tak berbeda dengan diriku dan teman-teman lainnya untuk memberikan rasa nyaman pada dirinya. Agar tidak merasa terasing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sepertinya kami berhasil. Di akhir perpisahan kami kaum perempuan makan cilok&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam tempat yang sama. Aku, dia dan beberapa gadis. Dia tidak merasa jengah, begitu pun aku. Walau sejenak dia sempat ragu kan apa yang dilakukannya. Namun dia mengabaikannya. Kami menikmati santapan lezat cilok atau sejenis somay dalam satu wadah dengan suka cita. Yah........kami benar-benar berhasil menerjang dan meniadakan perbedaan yang mengungkung. Sampai detik ini aku masih mengingat sosok Lala. Bila ada yang tahu keberadaan Lala, gadis yang terasing di Fakultas Ekonomi Manajemen. Katakan padanya aku merindukannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Aku sudah mengenal Yopi sejak lama. Kami terlibat banyak sekali kerjasama dalam kelompok-kelompok tugas yang secara tidak sengaja terbentuk. Maka aku sudah mengenalnya sebagai pribadi yang penuh welas asih dan bijak, namun tetap menyimpan ketegasan seorang pemimpin. Sepanjang ingatanku, dia memang hampir&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;selalu menjadi pimpinan proyek dan tim kami di setiap kesempatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kenangan saat kami melaksanakan tugas membuat laporan tentang pertanian di daerah Sukabumi untuk mata kuliah Dasgron. Yopi menjadi mengepalai aku, Widi, Irma, Ari, Afif, Anita dan siapa lagi aku lupa. Mungkin lain kali akan aku ceritakan juga episode ini. Yopi mampu memnggiring kami dengan baik. Aku juga ingat, setelah draft kotor selesai dibuat. Aku yang merangkainya menjadi kata-kata yang indah dalam laporan sebanyak lebih dari tigapuluh halaman. Dan itu adalah rekor laporan terpanjang seluruh kelas Dasgron. Aku meramunya dengan kata-kata bunga-berbunga bak pujangga. Hal yang paling menggelikan adalah Aku menuliskan kata-kata &lt;i style=""&gt;’dua batang kara’&lt;/i&gt; untuk mendeskripsikan sepasang suami istri petani yang hanya tinggal berdua di gubuknya. Bodoh! Rupanya sedari dulu, aku sudah pandai merangkai kata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Yopi lelaki baik hati. Sekali pun aku tidak pernah melihat dia marah. Walau pun kami telah membut kesalahan yang teramat fatal. Dia hanya tersenyum dan segera mencari solusi untuk memperbaikinya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Dia juga lihai dalam berdiplomasi kepada bapak-bapak. Makanya dia selalu ditunjuk menjadi ketua. Tanpa harus menunggu konfrensi yang menjemukan. Bila dia jadi ketuanya, dijamin semuanya beres dan teratasi dengan baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dicky adalah salah seorang dari teman lelaki terdekat. Dia hampir selalu ada dalam episode hidupku. Aku memang selalu merasa nyaman berbicara dan berada di dekatnya. Walau dia berasal dari daerah yang sama dengan abang. Namun dia memiliki tabiat yang sama sekali berbeda dengan abang. Walau logat Bataknya terdengar kental. Namun tutur katanya lembut. Tak pernah sekali pun kulihat dia marah atau berbicara keras. Bicaranya lembut dan menyenangkan. Dia bisa menjadi pendengar terbaik. Bila aku bercerita padanya, maka dengan sabar matanya akan mengamati aku penuh rasa ingin tahu. Membuat aku yang bercerita menjadi semakin bersemangat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Beberapa kali aku meminta pertolongan kepadanya. Dan beberapa kali itu pula ia mengabulkannya permintaanku tanpa banyak komentar. Dari berpura-pura menjadi tunanganku untuk mengelabui si ustad keparat dari Bojong Cae yang tergila-gila kepada diriku, bahkan hingga menemani aku menemui sang duta besar Pakistan. Dia partner setiaku. Aku menyebut-nyebutnya dengan penuh hormat dan penghargaan namanya dalam novel perdanaku sebagai penyelamat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tidak banyak orang yang mau dan punya cukup nyali untuk menemani seorang teman menemui petinggi negara asing untuk urusan apa pun. Mungkin pula mereka akan mundur teratur sedetik setelah aku minta dengan banyak alasan. Tidak lancar berbahasa Inggris lah, bingung harus memakai baju apa lah, tidak cukup percaya diri lah, dan lain-lain. Maka si Dicky ini adalah lelaki yang memiliki cukup nyali besar untuk menolong siapa pun tanpa pamrih. Dia adalah teman yang teramat menyenangkan hati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Begitu hebatnya aku mengelu-elukan namanya di antara Saiful Malook dan nama-nama lain di novelku, membuat banyak pembacaku yang mempertanyakan kedekatanku dengan Dicky. Bahkan ketika akhirnya tersiar kabar aku telah melepas masa lajang. Maka berbondong-bondong email masuk mempertanyakan apakah Dicky yang telah menggantikan tempat seorang Saiful Malook yang malang. Aku tersenyum simpul. Dan di balon-balon imajinasiku bermunculan nama Dicky. Kupikir Dicky adalah tipikal pria idaman bagiku. Hanya saja takdir berkata lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sedang Wulan, dia adalah sosok gadis yang baik dan sederhana. Satu yang kuingat dari dia adalah sorot matanya yang tajam setajam mata Najwa Shihab presenter Metro TV. Dia cantik dan agak kearaban. Sekali aku pernah menanyakan tentang asal muasalnya, apakah dia memiliki darah Arab. Maka dia menjawab tegas bahwa dia sama sekali bukan Arab dan tak memiliki darah Arab selain dari garis Nabi Adam. Dia Indonesia tulen dan berdarah Jawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Namun dia sempat memberikan asal muasal yang terdengar cukup aneh perihal tempat lahirnya yang di Saudi Arabia. Maka mungkin udara Saudi Arabia yang pertama kali menerpa wajahnya membuatnya memiliki kemiripan dengan gadis keturunan Arab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Semenjak kami berpisah hampir enam tahun lalu, kami tidak pernah bertemu kembali. Kami berpisah tepat saat KKN berakhir. Sekali waktu aku pernah melepas rindu dengan mengiriminya SMS beberapa bulan lalu, hanya untuk menanyakan kabar berita. Wulan masih seperti yang dulu. Hanya saja dia kini ibu muda beranak satu dari seorang suami yang berpangkat tinggi di angkatan laut. Dia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, meninggalkan karir untuk selamanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Irma adalah salah satu dari sahabatku yang masih akrab hingga detik ini. Kami banyak menghabiskan waktu bersama. Irma adalah melankolik sejati yang terkadang merepotkan orang-orang sanguinis yang ingin bebas dan tak ingin terkungkung seperti aku. Ritual merayu dan mengajaknya pergi ke suatu tempat adalah ritual menggelikan yang memerlukan tahap wawancara menjemukan. Kapan? Dimana? Untuk apa? Dengan Siapa? Dan lain-lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Di antara sahabat-sahabatku, dia adalah yang terpintar dengan nilai IPK tertinggi di antara kami. Dia juga yang dulu serta merta menghujat kelakuan bank-bnk konvensional sekaligus bersumpah-sumpah untuk bekerja di bank tersebut. Maka kini dia mengingkarinya. Irma menghabiskan lebih dari tiga tahun menjadi kuli di Citibank. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bank konvensional yang nyata-nyata pioner dari segala bank konvensional. Praktek-praktek kredit yang melibatkan riba dalam jumlah besar adalah jenis usahanya. Irma benar-benar termakan sumpah serapahnya sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sumiyati sejatinya adalah salah seorang teman dekatku semenjak di bangku kuliah. Hanya saja kemudian kesibukannya menjalani sebuah lembaga pernikahan mengaburkan persahabatan kami. Selama bertugas di Bojong Leules pun dia hampir sering sekali mangkir dari tempat tugas. Namun kemudian anggota tim yang lain beramai-ramai memakluminya. Entah apa karena Sumi sudah berumah tangga atau karena Sumi menyogok teman-teman dengan makanan-makanan enak yang tergolong langka di desa sepulangnya dari Rumah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ketika aku melarikan diri dari Bojong Cae, kepada Sumilah aku berlindung dan berpelesiran tak tentu arah di Serang. Sumi memang hampir selalu ada untuk tempatku berkeluh kesah. Namun aku hampir tidak pernah ada untuknya ketika dia kesulitan. Ketika saat ini dia mencalonkan diri menjadi Caleg. Maka aku sungguh tak punya waktu bahkan sekedar untuk mendukung ide gilanya. Padahal dia selalu menjadi pendukung nomor satu ide gilaku di masa lampau. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ariyanah juga merupakan salah satu dari sahabatku. Dia adalah pribadi yang menyenangkan. Beberapa tahun yang lalu dia adalah sosok yang sedikit maskulin. Dan tidak begitu menyukai hal-hal yang berbau wanita. Namun kini dia telah berubah seratus delapan puluh derajat lebih dewasa dan matang sebagai wanita dewasa. Ari tidak lagi berpenampilan ala akhwat yang maskulin. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku agak lupa beberapa teman di Bojong Leules. Bukan karena mereka tertendang dari hatiku. Demi Allah aku hanya lupa sedikit. Aku hanya ingat Sumiyati dan Ariyanah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sedang tim di desa Cibadak aku mengenal hampir semuanya. Mereka adalah Lilis, Ane, Jusmarwan dan Ofan. Dulu aku sempat berfikir Lilis agak menyukai Ofan yang bertampang lumayan bagus. Kakak kelas yang tertinggal jauh dari teman-teman seangkatannya. Karena Lilis selalu bertindak kemayu dan manis di hadapannya. Oh tidak, Lilis memang selalu tampak manis di hadapan semua orang. Hanya saja Lilis suka malu-malu kucing bila kami meledek perihal kedekatannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Aku juga sempat berasumsi, Jusmarwan itu menyukai Lilis. Gelagatnya memang terlihat mencurigakan sebagai layaknya orang yang sedang kasmaran. Dia selalu bertindak layaknya lelaki sejati di hadapan perempuan. Tetapi Jusmarwan memang terkesan terlalu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;over acting&lt;/span&gt; di hadapan kami. Lagaknya seperti orang yang sangat serius dan bertanggung jawab akan proyek-proyek KKN-nya. Dia selalu membuat kami iri hati dengan keluwesannya membuat rencana proyek yang sedikit bombastis Ketika Jusmarwan sudah memulai membuat papan nama jalan, kami masih kebingungan menentukan arah proyek besar kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ofan hampir tidak pernah berada di lokasi. Dia selalu menghilang tanpa jejak. Kegiatan proyek lebih sering diatasi oleh Jusmawran, Lilis dan Aneh. Mungkin mereka juga tidak enak hati untuk menegur kakak kelas yang usianya jauh di atas mereka. Namun justru kegiatan mereka berjalan dengan baik tak kurang suatu apapun walau tanpa Ofan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ane itu adalah pribadi yang sedikit biasa dan tak menonjol kala itu. Dia hanya menampakkan keluwesannya dalam bergaul. Aku dan dia seringkali terlibat pembicaraan yang penuh tawa. Karena pada dasarnya dia anak yang baik. Dia bisa menjadi pendengar yang baik. Makanya Lilis dan Ane adalah sejoli. Lilis seorang yang agak ekspresionis dan selalu butuh teman bicara, sedangkan Ane selalu siap sedia mendengarkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sepanjang ingatanku. Ane memiliki orang tua yang teramat memperhatikannya. Suatu ketika Ane terserang penyakit parah. Kalau tidak salah magnya kambuh atau malah dia sedang PMS. Maka keesokan harinya orang tua Ane langsung meluncur ke lokasi. Apa Ane itu anak tunggal yah? Atau setidaknya anak perempuan satu-satunya yang menjadi kesayangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kami paling senang berkunjung ke Desa Kadu Agung Barat. Bila kami berkunjung disana, dijamin kami akan mendapatkan jamuan makan yang teramat enak. Maklum tuan rumah mereka adalah kepala desa Kadu Agung Barat. Dan kebetulan mereka termasuk keluarga kaya yang terpandang. Mereka memperlakukan anak-anak KKN layaknya anak mereka sendiri. Maklum anak mereka sesungguhnya telah terpencar-pencar diberbagai daerah. Daging dan ayam adalah makanan yang teramat biasa di Kadu Agung Barat. Hebatnya tuan rumah tidak membebankan biaya apa pun kepada mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Lain lagi bila di Desa Cibadak. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tuan rumah memberlakukan tarif kos &lt;i style=""&gt;all in &lt;/i&gt;termasuk makan untuk anak-anak KKN. Nyaman memang. Mereka tak perlu lagi memikirkan makan. Bahkan tuan rumah juga menyediakan cemilan di pagi hari seperti arem-arem. Gorengan dan aneka kueh jajan pasar lainnya. Dan itu benar-benar buatan tangan. Aku paling suka arem-aremnya. Maka bila kami berkunjung ke desa itu, aku kan menyerbu arem-arem terlebih dahulu. Kami selalu menyempatkan diri untuk mampir sepulang dari Kota Rangkas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sedang Bojong Leules benar-benar bukan merupakan tempat tujuan mampir. Tuan rumah menyewakan kontrakannya kepada mereka. Untuk makan mereka harus memasak. Karena tuan rumah memiliki masalah intern keluarga. Tuan rumah yang juga sekaligus kepala desa itu memiliki lebih dari satu istri seperti di Bojong Cae. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Terus apa hubungannya? Tidak ada hubungannya memang. Aku hanya menegaskan saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kami menikmati warna-warni persahabatan yang menyertai perjalanan kami di Kecamatan Cibadak selama dua bulan. Seperti kubilang di awal. Dua bulan bukan waktu yang pendek untuk memulai suatu persahabatan, namun juga bukan waktu yang panjang untuk mengenali karakter secara mendalam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tetapi aku sudah belajar banyak dari sekelumit episode itu. Aku belajar tentang bagaimana bertenggang rasa pada perbedaan. Justru itu adalah warna-warni persahabatan yang membuat hidup menjadi lebih hidup dan menyenangkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dengan ini kutegaskan bahwa aku merindukan kalian. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Aku masih ada disini, menunggu. Kita akan bercerita tentang indahnya warna-warni persahabatan sambil menunggu senja tiba. Ketahuilah, aku akan dengan bangga menceritakan kisah ini pada anak-anakku bahwa aku pernah mengenal kalian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Moral:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Terkadang persahabatan baru terasa indah bila kita telah berpisah jauh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-5271371613213935873?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/5271371613213935873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=5271371613213935873' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/5271371613213935873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/5271371613213935873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2009/01/warna-warni-persahabatan.html' title='WARNA-WARNI PERSAHABATAN'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-7668435087898821189</id><published>2009-01-04T17:12:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T18:14:08.753-08:00</updated><title type='text'>IBU RUMAH TANGGA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Istana Bojong Cae adalah pengalaman berumah tanggaku yang pertama. Di situ aku belajar banyak tentang hidup berkeluarga. Saling berbagi dan bertanggung jawab agar kelangsungan hidup&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;antara sekelompok orang dengan isi kepala yang berbeda dapat terjalin dengan harmonis. Belajar memahami karakter orang lain dan menekan ego sendiri agar tidak terjadi konflik. Belajar untuk menerima pendapat, kelebihan dan kekurangan orang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Walau kami hanya berkeluarga selama dua bulan. Tetapi kami memiliki pembagian tugas rumah tangga yang jelas. Siapa pun itu tidak ada yang boleh menghindarinya. Karena itu kesepakatan dari kami yang telah didiskusikan bersama. Siapa yang bertugas mengepel, menyapu, memasak, berbelanja, memotong rumput, membersihkan kamar mandi dan lain sebagainya. Bahkan kami pun harus membagi tugas, giliran mencuci. Karena kami tidak memiliki cukup banyak ruang kosong untuk menjemur pakaian. Maksudku ruang yang cukup mendapatkan sinar matahari langsung untuk tali jemuran kami. Sebenarnya ruang kosong di dapur kotor cukup luas. Namun akan membutuhkan waktu berhari-hari untuk mengeringkan pakaian. Makanya itu tidak menjadi tempat favorit untuk menjemur. Tempat itu hanya digunakan bila jatah menjemur kami sudah habis sedangkan pakaian masih belum kering benar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Terkadang kami perempuan tidak sabar juga menunggu dua lelaki itu bangun dari tidurnya. Kami seringkali mengambil alih tugas harian para lelaki untuk membersihkan rumah di pagi hari. Tentu saja tidak dengan hati ikhlas. Tetapi dengan mulut yang terus berkomat-komat merutuk kelakuan abang dan Fian. Ketika akhirnya mereka terbangun, dan kami mengeluh dengan nada sedikit mengomel. Maka mereka hanya berkomentar pendek yang menyebalkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Loh salah sendiri, seharusnya kalian tunggu kami bangun dari tidur. Itu kan tanggung jawab kami”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Tapi kan?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Ah lelah sekali berdebat dengan kaum lelaki. Makanya kami seringkali harus memaksa diri untuk mafhum demi ketentraman. Toh di siang hari, merka cukup banyak membantu kami. Bahkan mereka dengan senang hati berbelanja kebutuhan pokok di warung apabila kami menyuruhnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ternyata abang dan Fian juga mahir memasang sumbu kompor minyak tanah. Kami perempuan hanya tinggal memakainya. Dije memiliki tugas tetap memasak nasi. Karena hanya dia yang mahir memasak nasi dengan menggunakan ketel. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ketel itu sejenis panci yang terbuat dari besi tebal semacam baja. Cara memasak nasinya hampir serupa dengan memasak nasi di dalam rice cooker. Cukup memasukkan beras dan air kedalam ketel, masak dengan api sedang. Setelah airnya agak tiris baru, apinya dikecilkan hingga nasi matang. Hasil nasinya memang agak lembek. Tetapi kelebihannya, memasak di ketel ini anda akan mendapatkan bonus berupa kerak nasi. Setelah nasi matang dan dipindahkan ke tempat nasi hidang. Kami biasanya berebutan menyantap kerak nasi panas yang gurih dan renyah itu. Rasanya nikmat sekali. Beberapa kali aku membuatnya, dan sebanyak itu pula gagal. Nasi berubah menjadi gosong yang sesungguhnya. Bahkan rasa nasi berubah seperti bau gosong. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kalau aku yang terpaksa harus disuruh memasak nasi. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="PL"&gt;Aku akan memilih memasak nasi dua langkah. Setelah air dalam ketel mulai habis, segera mungkin dipindahkan dalam panci kukus yang airnya sudah mendidih. Baru ditanak hingga matang. Aman walau pun repot. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="PL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Di antara kami berlima hanya aku yang tidak pernah meninggalkan rumah untuk kos. Jadi aku adalah anak rumahan tulen. Tentu saja tipikal anak rumahan agak lebih rajin dibandingkan anak kos. Paling tidak aku juara bangun pagi. Karena di rumahku semenjak, aku dan adik-adikku cukup besar kami sudah tidak memiliki pembantu. Aku terbiasa bangun pagi sebelum jam lima pagi untuk shalat subuh dan membantu ibuku menyiapkan sarapan sekaligus makan siang. Maklumlah, ibuku juga seorang wanita karir. Maka kehidupan kami sudah dimulai sejak pagi buta. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tepat jam enam pagi, masing-masing dari kami sudah berpencar. Ada yang ke kantor, sekolah dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kampus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Siang hari, ibuku tak perlu cemas lagi bagaimana makan siang anak-anaknya. Karena beliau sudah menyiapakannya sejak pagi buta. Baru malam hari, kami biasanya bergantung pada penjaja makanan untuk makan malam kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Jadi aku sudah terbiasa untuk sarapan pagi. Berbeda dengan keempat orang temanku di Istana Bojong Cae yang merupakan anak kosan. Mereka hampir tidak pernah sarapan. Kalau tidak ada jadwal kuliah pagi, mereka akan bangun sesuka hati. Bangun setelah jam sembilan pagi. Setelah membersihkan diri dan bersiap ke kampus, mereka merapel sarapan mereka dengan makan siang. Hemat dan praktis. Atau kalau memang terpaksa, sebelum pergi menjerang air hingga mendidih untuk memasak mi instan dengan telur. Tetap praktis dan hemat, namun makan tetap teratur. Walau pun lama-lama tanpa mereka sadari itu akan merusak tubuh mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kebiasaan itu terbawa di Istana Bojong Cae. Selepas shalat subuh biasanya mereka melanjutkan mimpi hingga jam delapan pagi untuk perempuan sedang lelaki bisa lebih dari itu. Hanya kelaparan yang akan membangunkan mereka. Saat bangun, mereka berebutan menyerbu dapur untuk memasak mi instan. Sedang aku? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Saat itu aku sedang melaksanakan sumpah untuk tidak makan mi dan sejenisnya hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Mungkin bagi anda yang telah membaca dan menyimak dengan baik novel perdana Surat Cinta Saiful Malook mengetahui hal itu. Bahwa aku yang semula pencinta mi dan menganggap mi adalah kesenangan memutuskan untuk tidak lagi menyentuh mi setelah aku kehilangan Saiful Malook. Sepertinya aku terilhami oleh sumpah Patih Gajah Mada yang tidak akan makan buah palapa sebelum dapat mempersatukan nusantara. Sedang aku memilih untuk tidak makan mi dan sejenisnya sebelum aku akhirnya menemukan tambatan hati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Akhirnya aku memang berhasil untuk tidak makan mi selama hampir lima tahun. Tidak hanya mi, tetapi juga kwetiau, bihun, spaghetti, soun, dan lain sebagainya. Baru kurang lebih sepuluh bulan aku menikah, aku mulai lagi menyentuh mi. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Itu pun aku sudah mulai kehilangan selera akan kelezatan mi, setelah sekian lama meninggalkannya. Mungkin karena metabolisme tubuhku sudah mulai menyesuaikan diri dengan keadaan itu, terbebas dari racun-racun pengawet dan zat penguat rasa yang tersimpan di dalam mi instan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Maka aku memutuskan untuk bangun pagi dan menyiapkan sendiri sarapanku. Aku juga tidak egois, manalah mungkin aku menyiapkan makananku sendiri. Layaknya ibu rumah tangga, aku juga memikirkan anggota keluarga yang lain. Sepertinya tubuh mereka juga berhak mendapatkan asupan gizi yang baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Setiap hari aku menjadi juru masak tetap. Setiap pagi saat abang, Dian, Dije dan Deci bangun. Pasti di meja makan sudah terhidang makanan untuk sarapan, bahkan untuk makan siang. Menunya berganti-ganti setiap hari, bisa nasi goreng special, atau nasi biasa dengan aneka sayur dan lauk pauk yang bis dinikmati hingga siang bahkan malam hari. Sayur bayam, sayur asam, bakwan, balado ikan pindang, bandeng presto goreng, cah kangkung, pepes ikan mas, ikan teri dan kacang, sop, sambal adalah sebagian menu sehat yang biasa terhidang di meja makan hasil buatanku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Makananku berciri khas pedas. Atau setidaknya bila itu masakan yang tidak lazim dibuat pedas seperti sup. Maka aku akan membuatkan sambal tomat super pedas sebagai pendampingnya. Atau lauknya yang dibuat pedas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mulanya Fian agak terganggu dengan tingkat kepedasan masakanku. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Beberapa hari pertama aku memasak dia terserang mules dan diare. Namun selanjutnya dia mulai terbiasa dengan masakanku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Begitu juga dengan abang, Deci dan Dije yang memang sama sekali tidak bermasalah dengan masakanku. Malahan sepanjang dua bulan kami di Bojong Cae. Bobot kami bertambah lima kilo. Pipi kami semakin tembem, badan kami menggemuk. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Itu tanda kami makmur dan kerasan tinggal di Istana Bojong Cae. Padahal makanan yang kami buat terbilang sederhana. Kami tidak pernah minum susu atau makan daging-dagingan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dije juga cukup ahli dalam memasak makanan khas Medan. Beberapa kali dia membuat gulai nangka, gulai berisi daun singkong tumbuk, rendang kentang dan sayur yang menggugah selera. Ciri masakannya adalah bersantan kental dan berbumbu layaknya masakan Sumatera. Dan tentu saja tanpa gula putih sebagai penyedap seperti kami orang dari suku Jawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Deci juga pandai membuat masakan rumahan. Namun dia memiliki satu kelemahan. Dia seringkali kehilangan selera untuk memasak. Dia membutuhkan suasana hati yang mendukung untuk memasak. Memasak bukan sebuah kebutuhan baginya. Masakan andalannya adalah kering tempe pedas. Dia tidak pernah lupa membubuhi masakannya dengan micin sebagai penyedap. Itu yang membuat kami seringkali terlibat perdebatan panjang tentang bahaya micin bagi kesehatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Padahal Deci adalah ahli gizi. Seharusnya dia lebih tahu tentang bahayanya dibanding aku yang calon sarjana pertanian. Namun dia terus-menerus menyodorkan argumentasi bahwa belum ada penelitian yang membuktikan tentang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahaya micin. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku menawarkan solusi untuk menggantinya dengan gula putih atau jika terpaksa Royco. Tetapi dia tetap memilih micin sebagai bagian dari racikan bumbu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sekali waktu Deci bereksperimen membuatkan tumis oncom. Alih-alih membuat hidangan istimewa, kami semua malah mual dibuatnya. Oncomnya masih mentah, karena Deci memasaknya sekejap dengan harapan agar masih ada vitamin yang tersisa di dalamnya. Kontan aku segera memasak ulang tumis oncom itu dan menambahkan beberapa biji cabe rawit untuk memperbaiki rasanya. Terus terang aku baru tahu kalau oncom memiliki kandungan gizi yang akan hilang bila terlalu lama dimasak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Fian juga bisa memasak. Tetapi itu hanya untuk memenuhi hasrat nafsu makannya yang tak kunjung hilang walau sudah makan banyak. Merebus mi instan, menggoreng telur mata sapi atau membuat eksperimen tempe goreng yang renyah dengan banyak garam. Alhasil tidak ada yang menyentuh tempe gorengnya kecuali dia karena keasinan. Tempe itu perlu dicemplungkan ke dalam bak mandi untuk menghilangkan rasa asinnya yang luar biasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Abang terbilang cukup cekatan sebagai seorang lelaki. Dia memiliki lebih banyak pengetahuan untuk memasak yang baik dan benar. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Selain telur mata sapi, mi instan, telur berbumbu, tempe goreng, dia juga pandai menggoreng nasi. Satu hal yang tidak dipisahkan olehnya dalam ritual makannya adalah kecap asin. Kebutuhan abang akan kecap asin dalam sebulan melebihi jumlah kebutuhan kecap manis untuk kami sekeluarga. Entah hal apa yang membuatnya begitu menggilai kecap asin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Beberapa kali kami juga kedatangan tamu yang melebihi jumlah piring yang kami miliki. Maka kami mengakalinya dengan mengambil daun pisang dan memotongnya untuk piring alami. Bila kedatangan tamu, aku yang paling sibuk menyiapkan hidangan layaknya ibu rumah tangga. Makanya tidak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengherankan bila aku dijuluki upik abu. Wajahku sering terlihat kusam tertutup oleh coreng-moreng hitam angus. Badanku bau asap. Dan aku memiliki lebih banyak tato dibanding siapapun di Istana Bojong Cae. Tato akibat pergulatanku dengan kompor dan minyak panas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pernah sekali waktu tangan kananku terkena minyak panas. Aku menjerit sejadi-jadinya. Saat itu hanya ada Fian. Fian yang sedang asyik menonton televisi di ruang tamu, tergopoh-gopoh menghampiriku di dapur yang sedang meringis kesakitan sembari memegangi tangan yang melepuh. Sejenak Fian terlihat panik melihatku begitu. Dia berlari ke kamar mandi mencari odol. Kemudian meraih tangan kananku, dan mengolesinya dengan odol. Dia juga yang mengipasi tanganku dengan kipas sate. Sambil berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa aku tidak apa-apa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Kamu tidak apa-apa kan?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Menatap mataku yang sendu. Aku hanya menggeleng pelan sambil meringis kesakitan. Itu kecelakaan rumah tangga terparah yang pernah terjadi dalam hidupku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Ya sudah biar aku gantikan saja masaknya. Sudah sana kamu istirahat!”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Kami saling bertatapan. Aku sekedar meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja bila aku menyerahkan tugasku kepadanya. Setelah aku yakin, tanpa menunggu aba-aba berikutnya aku segera berlalu dari hadapannya menuju kamar. Aku tidur sepanjang hari. Aku benar-benar ingin melupakan kecelakaan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Luka bakar itu cukup parah. Keesokan harinya tanganku benar-benar melepuh. Keseluruhan permukaan tangan tertutup dengan gelembung air yang mengerikan. Bentuknya benar-benar mengerikan dan menjijikkan. Butuh waktu hampir seminggu untuk memulihkannya. Itu pun tangan kananku masih meninggalkan tato hingga enam bulan kedepan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-7668435087898821189?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/7668435087898821189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=7668435087898821189' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/7668435087898821189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/7668435087898821189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2009/01/ibu-rumah-tangga.html' title='IBU RUMAH TANGGA'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-5750033322780893665</id><published>2009-01-04T17:04:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T18:11:45.680-08:00</updated><title type='text'>TELEVISI DAN HANTU BLEDUG</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tolong jangan tanya kami, apakah kami tetap menonton televisi di awal-awal kedatangan kami di Bojong Cae. Karena tentu saja kami tak bisa melakukannya. Bukan karena tidak ada listrik di Istana Bojong Cae. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tetapi memang karena istana kami tidak memiliki televisi. Maka kami melewatkan hari demi hari tanpa televisi. Hiburan kami satu-satunya adalah berbincang antara sesama anggota keluarga. Entah sudah berapa kisah yang terangkum sepanjang petualangan kami di Bojong Cae. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tentu tidak tiap hari hubungan kami baik-baik saja. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="PL"&gt;Sekali waktu kami juga pernah saling diam. Karena suasana hati kami yang tidak baik, atau kami baru saja berselisih paham. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Apalagi bila salah seorang dari kami kaum perempuan sedang di masa haidh. Maka keadaan sedikit memanas. Suasana hati perempuan menjadi lebih sensitif dan penuh emosi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tapi bila suasana sedang baik. Kami sekeluarga sedang stabil, maka Istana Bojong Cae layaknya sebuah pasar yang selalu riuh oleh celotehan. Ramai. Bahkan keramaian kami hampir-hampir tak mengenal waktu. Pagi, siang, sore, malam kami lewatkan dengan bercanda, berceloteh atau saling berbagi mimpi. Bahkan kami tak segan-segan memamerkan suara-suara sumbang kami dengan bernyanyi dengan nada-nada yang tak beraturan. Bodoh memang! Tetapi itu hiburan bagi kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tanpa adanya televisi sebenarnya kehidupan kami lebih sehat. Alam pikiran kami sama sekali tidak terkotori racun-racun yang disebarkan media televisi. Tahu sendiri lah bagaimana cermin televisi di Indonesia. Tayangan televisi digempur oleh acara-acara tidak bermutu yang sama sekali tidak cerdas. Sinetron-sinetron kacangan saling beradu &lt;i style=""&gt;rating &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;share&lt;/i&gt;. Belum lagi &lt;i style=""&gt;reality show&lt;/i&gt; penuh kebohongan yang menyesatkan pemirsa televisi. Semua demi penilaian sang dewa televisi bernama AC Nielsen.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Rating &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;Share &lt;/i&gt;yang tinggi hasil penilaian AC Nielsen yang didasarkan pada survey random sampling pemirsa televisi dari berbagai kalangan adalah dambaan semua insan pertelevisian yang menggantungkan hidupnya pada laba semata. Karena sebagian besar produk massa hanya tertarik mengucurkan dana iklan kepada acara dengan &lt;i style=""&gt;rating&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;share&lt;/i&gt; tertinggi. Tidak ada lagi idealisme. Sekalipun acara itu penuh kekerasan, penyebaran seks bebas, kebohongan dan segala keburukan lainnya, asalkan itu menguntungkan. &lt;i style=""&gt;Why not? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tetapi begitulah tipikal sebagian besar masyarakat Indonesia. Mereka menyukai bahkan menggilai acara-acara televisi semacam itu. Mereka agak sulit menerima kebenaran yang mencerdaskan. Makanya Metro TV sebagai televisi berita terkesan tidak punya tempat di hati sebagian besar masyarakat Indonesia. Menggelikan sekali memang. Justru televisi yang memiliki idealisme untuk mencerdaskan bangsa, menyelamatkan bangsa dari kebodohan malah harus tertatih-tatih untuk tetap tegar di medan perjuangan merebut pasar. Aku tidak akan berbicara panjang lebar tentang persaingan dunia televisi dan intrik-intriknya. Lebih baik kita kembali pada keadaan kami tanpa televisi di Istana Bojong Cae. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Sebenarnya kami mulai terbiasa dengan kehidupan tanpa televisi di Istana Bojong Cae. Lagipula hidup kami juga lebih teratur. Selepas shalat isya berjamaah, bila kami tidak ada jadwal penyuluhan, rapat karang taruna, kenduri ataupun pengajian di surau. Maka kami memilih untuk segera tidur. Maklum istana kami dikelilingi pohon-pohon besar. Maka keadaan jadi semakin mencekam bila malam menjelang. Selain suara jangkrik, sahut-sahutan binatang malam atau malah derik ular. Kami tidak mendengar apa-apa lagi. Sunyi senyap. Itu menambah kengerian di hati kami. Mengingat istana kami memiliki &lt;i style=""&gt;track record&lt;/i&gt; yang mengerikan. Sebuah rumah yang pernah memiliki sejarah pembunuhan sungguh bukan merupakan rumah yang cukup nyaman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Walau kami tidak benar-benar merasa terganggu dengan kehadiran para makhluk halus penghuni istana kami. Tetapi bukan berarti kami benar-benar aman tanpa gangguan. Sesekali bulu kuduk kami berdiri, tiba-tiba terasa dingin mencekam. Maka kami tahu, si penghuni rumah sedang berkeliaran. Maka kami mengaji yasin untuk mengusir ketakutan kami. Masalah pintu yang tiba-tiba tertutup sendiri adalah hal yang teramat biasa bagi kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sepanjang di sana, baru sekali aku merasakan keanehan yang teramat muskil. Masih ingat dengan kondisi istana kami? Bangunan yang terpisah dengan dapur berlantaikan tanah dan berdinding bilik, pompa air tua, dan kamar mandi kami. Jadi kami harus membuka pintu di bangunan utama untuk menuju kamar mandi. Itu berarti kami harus melewati area dapur yang open area. Maksudnya kami bisa leluasa melihat pohon-pohon&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang rimbun dan menjulang dari ventilasi udara di dinding yang hanya tertutup jaring-jaring kawat. Padahal hampir setengah keatas dari dinding kami seperti itu. Berselang-seling antara bilik bambu dan jaring kawat. Kami juga bisa merasakan hembus angin malam yang dinginnya menusuk hingga ke kalbu.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Keanehan itu terjadi ketika suatu kali aku bangun malam untuk menunaikan shalat tahajud menjelang jam tiga pagi dinihari. Awalnya aku tidak merasa ada yang aneh. Atau mungkin karena aku masih terserang kantuk yang menghebat. Makanya aku tidak takut sama sekali ketika kau membuka pintu penghubung antara bangunan utama menuju pompa air. Aku sengaja berjalan lurus tidak mengedarkan pandangan ke kanan tempat dapur kotor berlantaikan tanah. Karena aku tidak mau melihat ke arah pepohonan di gelapnya malam. Itu terlalu mengerikan walau aku bukan seorang penakut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pompa air kami sebenarnya terhubung listrik. Tetapi tidak sepenuhnya canggih. Sebenarnya itu pompa air besi merek &lt;i style=""&gt;dragon&lt;/i&gt; yang di era delapan puluhan merupakan masa keemasannya sebelum pompa merek &lt;i style=""&gt;Sanyo&lt;/i&gt; yang lebih canggih datang menggantikan keberadaannya. Pompa air besi jenis ini memiliki fungsi ganda. Sekalipun aliran listrik terputus kita masih bisa menggunakannya. Cukup menyingsingkan lengan baju, menarik nafas dalam-dalam dan mulailah memompa dengan sekuat tenaga. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Maka air akan mengucur dari sisi yang berlawanan dari posisi kita. Mudah menggunakannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Hanya pompa jenis ini masih membutuhkan teknik pemancingan. Kami harus memancingnya dengan memasukkan segayung air ke dalam katup di permukaan atas pompa air dengan sedikit ayunan tangan memompa tuas pompa saat listrik menyala membangkitkan mesin pompa untuk menaikkan air di dasar tanah. Setelah menunggu beberapa menit, paling cepat sepuluh menit. Barulah air akan mengucur deras.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sewaktu aku bersiap akan berwudhu. Baru aku akan mencari air pancingan di ember. Tiba-tiba air mengucur deras dari keran, tanpa aku harus membuka keran dn melakukan ritual ribet pemancingan mesin pompa air jadul. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;”Subhanallah!”’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; Aku memekik keras. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bulu kudukku berdiri dan tiba-tiba angin dingin berdesir di sekelilingku. Aku benar-benar mematung dan nyaris tak sadarkan diri, karena tak mampu menguasai diri dari keadaan itu. Aku segera beristighfar tanpa henti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Segera aku berwudhu. Mulutku tak henti-hentinya berkomat-kamit merapal doa. Selepas berwudhu memang aku agak sedikit tenang. Makanya aku bisa dengan sedikit bergurau pada hantu bledug penghuni istana kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;”Maaf yah. Pak dan Ibu hantu. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Aku tahu kalian ada disini. Terima kasih yah atas air wudhunya. Tapi mohon jangan ganggu. Aku mau sholat tahajud. Nanti kalau nakal aku laporkan Allah!”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; sehabis berkata demikian, aku segera berlari. Menutup pintu dengan tergesa hingga bersuara. Segera memakai mukena dan shalat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Rupanya tidak hanya aku yang pernah merasakan hal serupa. Abang dan Fian juga pernah mengalaminya. Bila Abang menganggapnya itu hanya angin lalu, tidak penting untuk dibicarakan. Beda dengan Fian yang benar-benar ketakutan setengah mati. Apalagi bila abang tidak bermalam di istana. Maklum Fian dan abang tidur di ruang tamu. Sedang kami para gadis tidur di ranjang empuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Suatu kali aku pernah menemukan Fian tidur dengan memeluk kitab suci Al Quran. Saat itu memang abang sedang tidak ada di istana. Makanya Fian tidur sendirian di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ruang tamu. Itu adalah pengalaman paling horor baginya. Kami para perempuan, tertawa terkekeh-kekeh mengetahui itu. Kami suka meledeknya. Kami juga dengan semangat menceritakan hal itu kepada semua orang. Entah apa Fian mengingat kejadian ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kali lain di suatu malam, kopi Dije yang sudah terseduh lenyap tak jelas rimbanya diseruput hantu bledug. Karena saat itu tidak ada satu pun di antara kami yang berada di dalam rumah. Kami semua di beranda berbincang dengan beberapa tamu kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kejadiannya agak membingungkan juga karena memang tidak ada saksi. Kami semua berada di beranda. Dije menyeduh kopi untuknya dan beberapa gelas. Dia menaruhnya di meja tengah. Kemudian Dije menyusul kami di beranda untuk berbincang. Beberapa menit kemudian, kopi itu sudah lenyap terseruput habis. Padahal tidak ada salah seorang dari kami yang meminum. Mulanya kami agak bingung dan bertanya-tanya, &lt;i style=""&gt;”Masa hantu suka minum kopi?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Belakangan kami banyak menonton film, reportase tentang dunia klenik dan juga beberapa cerita dari tetua, bahwa salah satu dari persembahan pada acara adat atau ritual gaib perdukunan selain kemenyan dan bunga setaman adalah kopi. Entahlah apakah di dunia gaib, kopi adalah minuman yang juga bergengsi dan menyegarkan bila diminum di malam hari. Menambah stamina para hantu bledug untuk melancarkan operasinya di malam hari. Agar tidak mengantuk. Bah! Logika apa pula itu. Yah memang hantu bledug tidak pernah masuk di logika siapa pun yang merasa modern. Kecuali orang-orang yang pernah merasakan fenomena tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Hey..........aku punya ide. Bagaimana kalau aku pulang sebentar ke kosan ku di Bogor untuk mengambil TV kecil? Lumayan kan ada sedikit hiburan untuk kita.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Suatu kali Fian beride.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Ide bagus tuh Fian. Jadi kita punya hiburan. Bosan juga lama-lama hidup tanpa TV,”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Dije berkomentar dengan penuh semangat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Iya Fian, lumayan kan ada yang bisa ditonton di malam hari. Ketimbang kita harus terus-terusan mengunjingkan hantu bledug itu bila kita terserang Insomnia.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Deci ikut bicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Kapan kau balik ke Bogor?” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Abang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Mungkin besok.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Baguslah makin cepat makin baik.Bisa gila aku disini tanpa TV.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Abang menimpali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Keesokan harinya Fian memang benar-benar pergi meninggalkan istana demi mengambil televisi impian kami. Maka tiga hari kedepan, Istana Bojong Cae semakin meriah dengan kehadiran televisi. Walau televisi itu hanya selebar 7 inchi, gambarnya lebih sering bersemut dibanding jelasnya. Tetapi itu sudah sangat bagus. Hebatnya televisi ini juga memiliki fungsi radio. Jadi bila kami sedang bosan menonton gambar buram televisi, kami memanjakan telinga dengan mendengarkan siaran radio. Hari-hari Istana Bojong Cae berikutnya adalah lebih indah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-5750033322780893665?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/5750033322780893665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=5750033322780893665' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/5750033322780893665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/5750033322780893665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2009/01/televisi-dan-hantu-bledug.html' title='TELEVISI DAN HANTU BLEDUG'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-7080550538121452214</id><published>2008-12-29T17:43:00.002-08:00</published><updated>2008-12-29T19:06:25.798-08:00</updated><title type='text'>ULANG TAHUN ABANG YANG MENGHARUKAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Hari itu tanggal 4 Juli 2003, Abang Faisal berulang tahun. Kami memang sudah memikirkan kejutan istimewa untuk abang. Hubungan aku dan abang terbilang harmonis. Walaupun dia satu-satunya orang yang paling sering membuat aku menangis. Tetapi sebetulnya kami menganggap pertengkaran itu hanya kerikil kecil yang teramat biasa dalam sebuah hubungan keluarga. Layaknya kakak dengan adik. Lagipula abang sudah cukup bertanggung jawab dalam menjaga kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Kami kaum perempuan sudah merencanakan kejutan istimewa. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Sudah barang tentu kami juga melibatkan Fian. Bukan sebagai eksekutor, hanya sebagai pendengar setia sekaligus sumbang ide. Selebihnya kami kaum perempuan yang merencanakan sematang mungkin. Dari mulai makanan apa yang akan dihidangkan di hari special. Jebakan apa yang akan diberikan. Sampai hadiah apa, dan bagaimana kejutan itu diberikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Berhari-hari kami berbisik-bisik merencanakan sesuatu yang besar dengan modal terbatas. Lagipula tidak banyak yang bisa dilakukan di desa terpencil ini. Sebuah kue tart mahal di kota sudah barang tentu terlalu mustahil bagi kami. Selain transportasi yang membingungkan juga masalah biaya yang tidak sedikit. Kami ini saat itu hanya mahasiswa biasa yang mengandalkan uang jajan bulanan dari orang tua. Dan saat itu sebagian besar uang jajan kami tersedot untuk pembiayaan proyek kami di Bojong Cae.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Akhirnya disepakati, kami akan membuat pudding istimewa sebagai kue ulang tahun. Kami juga akan memasak makanan istimewa untuk hari itu. Istimewa menurut kami bukanlah daging atau ayam goreng. Istimewa menurut kami apabila tersedia lauk pauk, sayur mayur dan sambal sebagi pelengkap nasi. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Maka pilihan kami jatuh pada menu sayur asam, sambal terasi, lalapan dan ikan asin. Mantap! Sedang untuk masalah mekanisme penjebakan, kami serahkan pada Fian sebagai ketua pelaksana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Pagi-pagi sekali kami kaum perempuan sudah bersiap meninggalkan rumah. Kami harus membeli sayur mayur yang dibutuhkan. Kami juga mencari agar-agar &lt;i style=""&gt;swallow globe&lt;/i&gt; di toko terbesar di Bojong Cae. Susu kental manis &lt;i style=""&gt;sachet&lt;/i&gt;, sekilo gula putih. Kami pun membeli buah buni sebagai penghias pudding kami. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kami bayangkan manisan buah buni itu adalah buah ceri yang ranum dan menggugah selera.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Setelah mendapatkan apa yang kami butuhkan. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Kami bersegera pulang. Kami mendapatkan Abang sedang di kamar mandi. Maka aku, Dije, Deci dan Fian bermusyawarah dengan berbisik-bisik perihal penjebakan. Sebelumnya kami memang sudah sepakat untuk membisu sejenak dengan tidak menyapa ataupun merespon pertanyaan Abang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Tiba-tiba abang memasuki ruang tamu dengan terheran-heran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;“Ada apa rupanya kalian berbisik-bisik?” Dengan logat Bataknya yang kental sembari memandangi kami satu persatu dengan tatapan curiga. Kami sempat terkejut. Namun tidak lama kemudian kami berhasil menguasai keadaan. Tanpa merespon terlebih dahulu pertanyaan Abang. Satu persatu dari kami meninggalkan ruangan tanpa bersuara. Kami kaum perempuan berkumpul di dapur untuk memasak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;“Hey…………aneh kali. Kenapa kalian ini?” Abang dibuat keki dengan kelakuan kami yang di luar kebiasaan sembari menatap kepergian kami. Namun itu tak berlangsung lama. Hari masih terlampau pagi. Dan Abang seperti biasa melanjutkan tidurnya hingga jam sembilan pagi. Atau hingga lapar telah menyerangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Dengan tidurnya abang, kami kaum perempuan bisa dengan leluasa menyiapakan hidangan istimewa untuk Abang. Bahkan pudding sudah mendingin. Tak lupa kami mencelupkan beberapa manisan buni ke dalamnya. Kala itu pudding itu adalah makanan terlezat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Tepat pada waktunya abang terbangun. Kami telah merencanakan sebuah penjebakan. Kami akan membuat Abang basah kuyup oleh siraman air sumur. Satu-satunya tempat yang kami rasa sesuai adalah dapur dekat tungku kayu bakar yang berlantaikan tanah. Karena kami agak malas juga kalau harus mengepel ruangan yang kuyup oleh air sumur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Namun yang jadi pertanyaan adalah bagaimana memancing Abang agar mau ke dapur? Kami benar-benar dibuat bingung. Kami sudah siap dengan seember air sumur, hanya tinggal bagaimana memancing abang tanpa curiga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="NL" &gt;Istana Bojong Cae dikelilingi oleh pepohonan lebat dan alang-alang. Bangunan terbagi menjadi dua. Banguan inti berlantai ubin, berdinding bata, dan beratapkan genteng. Sedang bangunan kedua di belakang, dan masih berhubungan dengan bangunan utama adalah area, berdinding bilik, berlantaikan tanah. Pintu memisahkan antara dapur bersih dengan area belakang yaitu sumur, kamar mandi dan dapur dengan tungku kayu bakar. Kamar mandi pun semi permanen. Sebelum kami datang, kamar mandi itu nyaris terbuka lebar. Sampai akhirnya abang merelakan sarung kesayangannya sebagai penutup dinding yang terbuka lebar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="NL" &gt;Tanpa berpikir panjang, aku yang pernah berlatih teater selama bertahun-tahun di bangku SMA dan bangku kuliah semester pertama mengerahkan kemampuan aktingku untuk memancing abang. Aku berteriak histeris sembari menyebut-nyebut ada ular masuk ke dapur. Itu adalah hal yang paling mungkin mengingat istana kami dikelilingi oleh kebun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="NL" &gt;Maka semua orang berhamburan menuju dapur termasuk abang. Abang tergopoh-gopoh menghampiriku sembari membawa kayu panjang dan pisau dapur. Matanya nyalang mencari-cari keberadaan ular itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="NL"&gt;“Mana…mana ularnya?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="NL" &gt; Abang terengah-engah. Saat dia lengah, maka Fian serta merta menyiramkan seember air ke arah abang. Sebelum abang murka, kami beramai-ramai menyanyikan lagu &lt;i style=""&gt;‘Selamat Ulang Tahun’&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;‘Happy Birthday To You’&lt;/i&gt; dengan semangat diiringi dengan tepuk tangan yang riuh gemuruh. Deci berlari kedalam mengambil pudding buatan kami lengkap dengan lilinnya. Sesegera mungkin kembali bersama kami.mLagu pun berganti dengan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="NL"&gt;“Tiup Lilinnya…Tiup lilinnya…tiup lilinnya serta mulia…serta mulia…!” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="NL" &gt;Serempak dengan gembira merayu abang agar segera meniup lilinnya. Dan abang pun meniup lilinnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="NL" &gt;Abang terlihat gembira sekali. Baru kali itu aku melihat mata abang berkaca-kaca. Musnah sudah prasangka kami akan kekerasan hatinya. Ternyata abang juga manusia biasa. Abang tertawa. Kami menggiring abang menuju ruang keluarga untuk menyantap pudding bersama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="NL" &gt;Tanpa menunggu lama, sesaat setelah pudding dipotong-potong oleh Deci kami segera menyerbu dengan penuh semangat. Seperti anak kecil yang berebutan kueh. Nikmat sekali rasanya. Saat kami sedang asyik-asyiknya menyantap pudding. Abang tiba-tiba berkomentar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="NL"&gt;“Sekali pun aku pernah dirayakan ulang tahunnya semeriah ini.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="NL" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Sederhana namun dalam sekali maknanya. Kami sampai menghentikan gigitan kami pada pudding itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="SV"&gt;“Terima kasih ya teman-teman. Ini akan aku ingat seumur hidupku.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt; Abang tersenyum memandangi kami satu persatu. Kami pun membalas senyumnya dengan teramat manis. Kami meneruskan makan. Sambil sesekali kami berfoto ria. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Pudding itu adalah kado paling istimewa untuk abang di hari ulang tahunnya. Walau pudding itu hanya menggunakan cetakan berupa baskom, berbahan seadanya dan berhiaskan buah buni. Namun itu merupakan hadiah termahal untuk abang. Mungkin tidak akan pernah terlupakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Setelah itu kami bersantap ria masakan inti berupa sayur asam, sambal terasi, ikan asin dan nasi panas yang mengepul. Abang berjanji, esok lusa dia akan mengajak kami makan di restoran sebagai tanda terima kasihnya. Katanya sesekali kita juga harus memanjakan lidah dengan makan daging. Kami bungah…tak sabar menanti esok. Karena itu kesempatan langka kami makan di restoran ibukota Rangkas Bitung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="SV" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="SV" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;P.S. Perhatian seorang sahabat merupakan hadiah terindah dalam hidup. Bayangkan bila tak ada seorang pun yang mempedulikanmu!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-7080550538121452214?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/7080550538121452214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=7080550538121452214' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/7080550538121452214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/7080550538121452214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2008/12/ulang-tahun-abang-yang-mengharukan.html' title='ULANG TAHUN ABANG YANG MENGHARUKAN'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-6796325364318879273</id><published>2008-12-29T17:43:00.001-08:00</published><updated>2008-12-29T17:43:19.436-08:00</updated><title type='text'>KRITERIA MISKIN YANG MEMBINGUNGKAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Menurut penelitian kami saat itu, Desa Bojong Cae tergolong desa yang miskin. Angka putus sekolah di desa Bojong Cae juga cukup tinggi. Kebanyakan dari kaum mudanya putus sekolah di usia remaja atau di bangku SMP. Alasannya cukup klise, &lt;i style=""&gt;“Tidak ada biaya.”&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Hanya segelintir orang yang bisa meneruskan sekolah hingga di bangku kuliah. Itu bisa dihitung dengan jari. Mereka yang beruntung bisa mengenyam pendidikan tinggi hanya orang-orang yang tergolong berada. Hampir tujuh puluh persen pemuda Bojong Cae putus sekolah. Lelakinya biasanya bekerja di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, hanya perempuannya yang menunggu rumah. Sedang kaum tua masih sibuk di sawah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sebagian besar warga Desa Bojong Cae adalah petani. Walau tidak semua dari mereka adalah petani yang memiliki tanah sendiri. Kebanyakan mereka hanya buruh tani. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; juga petani palawija yang memiliki sepetak tanah di pekarangan rumah. Tidak banyak memang hasilnya, namun cukup untuk menghidupi keluarga dengan standar hidup yang pas-pasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Makanya salah satu program kerja kami selama bertugas di Bojong Cae adalah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;meningkatkan ekonomi masyarakat desa dengan memanfaatkan lahan pekarangan menjadi kebun sayur. Setidaknya masyarakat tak perlu membeli di pasar jika ingin mengkonsumsi sayuran segar. Karena semuanya tersedia di pekarangan rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Suatu kali kami terlibat perbincangan dengan gadis-gadis putus sekolah di Desa Bojong Cae. Salah satu di antaranya sebut saja Minul. Usia Minul baru tujuh belas tahun. Layaknya gadis remaja yang suka mematut diri dan bercengkerama dengan sesamanya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Minul suka bergaul, terutama dengan kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Minul sudah putus sekolah semenjak di bangku SMP. Maka pekerjaan Minul hanyalah membantu ibu melakukan kegiatan rumah tangga, mengaji di surau di pesisir Kali Ciujung, sesekali membantu bercocok tanam di sawah tempat keluarganya menggantungkan hidupnya. Selebihnya bercengkerama dengan gadis-gadis sebaya untuk mengisi hari-hari penantian akan kehadiran seorang pemuda yang akan meminangnya dan memboyongnya pergi dari desa itu. Dan Minul tidak sendiri, masih banyak gadis-gadis lain yang bernasib sama. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="ES"&gt;Minul itu gadis desa yang lugu. Minul itu seperti bunga yang sedang merekah. Sehari-harinya Minul senang sekali memakai rok panjang dengan blus nan sopan. Memang demikianlah seharusnya gadis remaja. Di tengah-tengah arus modernisasi yang terus menerus menggerogoti kearifan budaya. Maka Minul masih memegang teguh prinsip. Maklum, Minul adalah jebolan Tsanawiyah atau sekolah Islam setingkat SMP.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="ES"&gt;Minul juga senang berdandan. Menaburkan bedak bubuk merek viva, mengoleskan gincu tipis-tipis sekedar untuk melembabkan bibir dan memberi kesan ranum. Minul juga punya krim kulit yang kata orang kota &lt;i style=""&gt;hand &amp;amp; body lotion&lt;/i&gt; merek viva. Dan sudah pasti bedak BB harum sari, yang hanya saat kondangan saja dipakainya. Supaya irit. Maka hari-hari biasa badan Minul yang sedang puber, menebarkan aroma yang tidak sedap. Membuat kami kaum perempuan yang sering berdekatan dengannya nyaris muntah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="ES"&gt;Minul ini termasuk orang yang aktif mengikuti semua kegiatan kami. Tidak hanya sebagai partisipan tetapi juga membantu kami. Dia dan teman-teman sebayanya senang dan bangga membantu kami. Ada suatu kebanggaan bagi orang desa bila mereka bergaul dengan kaum intelek bernama mahasiswa. Biar terkesan intelek juga. Sekaligus siapa tahu salah satu dari lelaki kami terpikat dengan salah satu dari mereka. Sukur-sukur bila mereka dipinang dan diboyongke kota. Maka seluruh desa akan mengangkat kepala kepada mereka. Kebanggaan tida duanya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="ES"&gt;“Teh, enak ya bisa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kuliah?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="ES"&gt; Tanya Minul tiba-tiba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="ES"&gt;“Yah enak dong. Bisa pintar, bersosialisasi dengan banyak orang terus Insya Allah cita-cita kami untuk memiliki penghasilan sendiri sudah di tangan.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="ES"&gt; Jawabku optimis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="ES"&gt;“Oh………..”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="ES"&gt; Minul menundukkan kepala sejenak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="ES"&gt;“Min…kamu kenapa putus sekolah?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="ES"&gt; Tanyaku untuk mencairkan suasana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="ES"&gt;“Oh….Minul mah tidak punya uang. Emak sama bapak tidak punya uang untuk sekolah. Makanya Minul tidak meneruskan sekolah. Lagipula Minul Cuma perempuan. Kata emak, perempuan tak usah sekolah tingi-tingi. Toh akhirnya juga masuk dapur.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="ES"&gt; Minul menjawab panjang lebar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="ES"&gt;Oh tidak mampu yah. Hem……….sepertinya agak membingungkan juga kalau dikatakan Minul miskin. Apanya yang miskin? Kulihat Minul memakai gelang, cincin, kalung, anting, bahkan gelang kaki emas. Sedang aku yang katanya mahasiswa itu pasti orang berada dan banyak uang, sama sekali tidak memakai perhiasan emas. Sungguh menggelikan. Aku pun tersenyum simpul memandang gadis lugu itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FI"&gt;“Kenapa teh?” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Tanya Minul heran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FI"&gt;“Mmmhhhhhh, tidak hanya sedikit bingung sebetulnya yang tidak mampu itu siapa. Aku yang mahasiswa atau kamu yang putus sekolah? Kamu yang putus sekolah memakai perhiasan emas sedang aku…………satu pun tidak.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FI"&gt; Aku tersenyum lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Minul ikut memandangiku. Mungkin untuk memastikan bahwa tidak ada cincin atau gelang emas yang melingkar di tanganku. Yang ada hanya gelang tali berwarna biru muda. Itu pun sudah terlihat dekil. Minul menunduk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Begitulah masyarakat Desa Bojong Cae. Bagi mereka pendidikan adalah nomor ke sekian yang tidak menjadi prioritas dalam kehidupan mereka. Kehormatan mereka dihargai dari berapa jumlah perhiasan emas yang mereka miliki. Istilahnya sehari makan hanya sekali, tidak sekolah asalkan kaum perempuannya memakai perehiasan emas sudah lebih dari cukup. Kalau harus memilih menyekolahkan anak atau membeli motor, maka tanpa banyak berpikir mereka akan lebih memilih membeli motor. Jelas ada barangnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FI"&gt;P.S. Pendidikan adalah harta yang paling berharga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-6796325364318879273?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/6796325364318879273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=6796325364318879273' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/6796325364318879273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/6796325364318879273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2008/12/kriteria-miskin-yang-membingungkan.html' title='KRITERIA MISKIN YANG MEMBINGUNGKAN'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-6897275400696125262</id><published>2008-12-29T17:42:00.001-08:00</published><updated>2008-12-29T19:07:47.935-08:00</updated><title type='text'>BIDAN BOJONG CAE</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Salah satu dari sekian banyak tokoh yang kuingat di Desa Bojong Cae adalah Teh Euis, seorang bidan cantik yang bertugas di Desa Bojong Cae. Menurut penuturannya dia sudah hampir setahun bertugas di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Dia menempati sebuah rumah dinas kecil di dekat balai desa. Rumahnya setengah berdinding bata, setengah lagi berdinding bilik. Sederhana sekali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Sebetulnya Teh bidan memiliki rumah permanen di Kota Rangkas. Namun semenjak bertugas di Desa Bojong Cae, Teh bidan memilih untuk hijrah bersama suami dan seorang anak perempuan berusia hampir dua tahun. Suaminya memiliki usaha rental komputer di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Dia juga menerima layanan video shooting acara pernikahan dan hajatan. Bisa dibilang mereka adalah keluarga yang terbilang cukup modern dan terpelajar. Makanya kami senang sekali berbincang dengannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Kami berbincang tentang apa saja. Tentang harapannya, tentang masa lalu, juga tentang tugasnya yang terkadang menjemukan. Dia seperti kami yang terdampar di desa terpencil. Teh bidan juga lama tinggal di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Makanya kami bisa saling berbagi dan berkeluh-kesah. Kami juga bisa mendapatkan pemeriksaan gratis dan mendapat vitamin tambah darah gratis. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Dan tentu saja makan gratis sesekali. Terlebih lagi teh bidan memiliki usia yang tidak terpaut jauh dengan kami. Dia lulusan akademi kebidanan, mungkin saat itu berusia sekitar dua puluh lima tahun. Sedang kami sekitar dua puluh tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Kami mengenalnya dengan baik. Bisa dipastikan masa-masa bulan madu kami di Bojong Cae yang menjemukan benar-benar terobati. Kami kaum perempuan seringkali menghabiskan waktu bersama dengannya. Dari mengadakan Posyandu, penyuluhan kesehatan, sampai inspeksi dadakan ke dusun-dusun terpencil di Bojong Cae. Maklum kesadaran masyarakat Bojong Cae akan kesehatan dan kebersihan masih sangat rendah. Makanya bidan desa benar-benar harus terjun langsung kelapangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Bidan desa itu kami anggap sebagai wanita perkasa dan teladan. Di saat kami hampir-hampir tidak percaya dengan sebagian besar orang-orang di desa ini. Termasuk kepala desa yang gaek genit lagi korup sekaligus mata duitan. Atau sekretaris desa yang senang sekali ikut campur dalam urusan kami. Beberapa orang yang benar-benar sudah masuk daftar &lt;i style=""&gt;black list&lt;/i&gt; dalam otak kami. Maka kami tidak memiliki siapa-siapa kecuali bidan desa yang cantik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Kebetulan ketika kami bertugas di Bojong Cae. Kami juga diserahi tugas survey untuk memantau pelaksanaan program pemerintah PKPS-BBM. Itu semacam program kompensasi pemerintah pada kenaikan harga BBM yang diberikan dalam bentuk bantuan langsung ke masyarakat. Bantuan itu antara lain dalam bentuk; Raskin (beras untuk kaum miskin gratis), KB gratis untuk kaum miskin, kartu sehat, dan lain sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Kami membuat serangkaian kegiatan wawancara kepada aparat terkait, sesepuh desa, tokoh masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Dari situ kami baru bisa memberikan laporan akan penelitian kami. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Apakah program PKPS-BBM di Desa Bojong Cae telah tepat sasaran? Atau malah terjadi kecurangan-kecurangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Agak sulit memang mengerjakan tugas ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Tapi kami bersemangat. Pihak kampus memberikan kompensasi atas kerja keras kami. Kami mendapatkan imbalan sejumlah uang lima ratus ribu rupiah. Jumlah yang cukup besar bagi kami para mahasiswa. Imbalan itu tentu untuk seregu, bukan per-individu. Seingatku kami menggunakan uang itu untuk membiayai program kerja kami selama di Bojong Cae.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Selama kami melakukan survey di Bojong Cae. Kami memang mendapatkan beberapa kecurangan terselubung. Salah satunya adalah pendataan keluarga miskin yang tidak tepat sasaran. Banyak keluarga miskin yang belum mendapatkan fasilitas yang seharusnya mereka dapatkan. Maka tidak mengherankan, apabila banyak warga miskin yang sedang sakit tidak berani berobat. Alasannya sudah pasti karena biaya. Padahal pemerintah sudah menyediakan fasilitas kartu sehat untuk orang miskin, kartu sakti yang bisa digunakan untuk berobat gratis di rumah sakit pemerintah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Banyak juga warga miskin yang terpaksa memakan makanan pokok selain beras. Ini sungguh menggelikan padahal kota Rangkas termasuk salah satu kota lumbung beras. Di sekitar Bojong Cae pun banyak persawahan padi. Selain itu Raskin atau beras miskin yang seharusnya gratis dibagikan kepada warga miskin, ternyata dijual oleh aparat desa dengan harga murah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Seandainya ada yang gratis. Kualitas berasnya sudah tidak sebaik kualitas semula. Berasnya buruk dan terkadang berkutu. Itulah yang menjadi santapan para warga miskin. Sungguh biadab! Tega-teganya mereka melakukan hal tersebut. Mungkin kesalahan itu tidak seburuk kesalahan para koruptor Indonesia yang menggelapkan uang milyaran atau bahkan trilyunan. Tetapi tindakan itu tetap tidak bisa ditolerir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Kalau alasannya adalah uang, gaji yang jauh dari cukup. Loh bukankah itu konsekuensi dari seorang abdi Negara? Makanya aku kami benar-benar menjaga jarak dengan mereka. Hanya bidan cantik itu yang masih kami anggap sebagai sahabat kami. Paling tidak kami memiliki idealisme yang sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Suatu ketika kami sedang mengadakan posyandu dibalai desa. Aku, Dije dan Deci turut serta membantu dalam acara tersebut. Sedang para lelaki memiliki rencana sendiri. Kami menyiapkan alat-alat timbang, meja antrian untuk pemeriksaan, obat-obatan, dan lain sebagainya. Kami saling berbagi tugas. Deci yang ahli gizi sibuk mengurusi penimbangan sekaligus membuat grafik di setiap KMS (Kartu Menuju Sehat). Dije menyiapkan plastik-plastik berisi bubur kacang ijo untuk tambahan gizi para balita yang hadir. Aku asyik membereskan obat-obatan milik teh bidan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Aku sudah tahu sebelumnya bahwa biaya berobat di bidan ini sangat murah. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Untuk pemeriksaan kesehatan plus obat-obatan, bidan ini hanya mengenakan biaya paling mahal dua puluh ribu. Memang obat-obatannya adalah obat generik, murah meriah tetapi tidak mengurangi khasiatnya. Untuk suntik IUD KB, dia hanya mengenakan biaya tujuh ribu lima ratus rupiah. Harga pil KB pun murah meriah. Menurutnya yang agak mahal mungkin pasang spiral atau susuk di lengan. Karena membutuhkan pembedahan ringan. Tidak bisa sembrono kalau tidak ingin celaka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Aku dibuat terkagum-kagum melihat ketulusannya dalam mengabdi tanpa pamrih. Sungguh dia tak memiliki cacat sedikit pun di mata kami saat itu. Sudah cantik rupawan, lembut, supel, baik hati, dermawan, tulus membantu. Pokoknya nyaris sempurna. Sampai suatu ketika saat aku menyiapkan obat-obatannya. Botol-botol mini berisi cairan yang akan digunakan untuk suntik KB. Aku tergelitik untuk melihat tulisan kecil di botolnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="SV"&gt;“Program PKPS-BBM gratis tidak diperjual-belikan………..”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt; Memang setahuku, semua obat-obatan PKPS-BBM adalah gratis. Hanya didistribusikan untuk warga miskin secara gratis. Tetapi Aku tahu teh bidan menarik bayaran dari obat-obatan itu. Walaupun teramat murah. Tetapi? Ah…..Padahal aku sudah jatuh hati pada ketulusan hati bidan cantik itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Aku melihat tulisan itu. Sejenak aku terdiam karena terkejut. Dan sudah menjadi kebiasaan aku yang tidak bisa menahan diri untuk tidak bersuara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;“Deci, Dije sini deh! Kok disini aku lihat tulisannya PKPS BBM.Seharusnya kan gratis……..,” Aku bersuara agak keras. Aku pikir tidak aka nada yang dengar kecuali kedua temanku. Karena memang keadaan saat itu sangat ramai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Deci dan Dije yang sedang sibuk menoleh kearahku hampir bersamaan. Begitu juga teh bidan. Wajah teh bidan mendadak pucat pasi, seperti tidak bisa menyembunyikan keteterkejutannya. Dia memang tahu, kami disini juga sebagai mata-mata pemerintah untuk mengawasi jalannya program pemerintah PKPS-BBM. Makanya dia menjadi grogi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Saat itu aku bisa melihat perubahan sikapnya. Sejenak mata kami berpandangan. Dia menunduk. Namun tidak lama. Karena bidan itu langsung dapat menguasai dirinya. Dia mengambil alih, Bidan itu bertepuk tangan untuk menenangkan para ibu dan balita untuk mendapatkan perhatian. Sepertinya dia akan memberikan pengumuman penting.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="SV"&gt;“Ibu-ibu sadayana, mulai bulan ini setiap bulan ada jatah lima orang untuk mendapatkan suntik KB gratis. Tapi bergiliran ya ibu-ibu! Bulan ini lima, bulan depan lima lagi begitu seterusnya. Pasti semua mendapatkan bagian.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Setelah selesai memberi pengumuman. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Bidan itu melemparkan senyum pahit ke arahku. Aku membalasnya dengan senyum tulus yang agak dibuat-buat. Toh aku tidak berhak menghakimi bidan itu. Aku, Deci dan Dije sempat berbalas pandang sejenak. Kami sungguh jadi tidak enak hati. Hampir saja kami menelanjangi bidan itu di kerumunan ibu-ibu dan balita. Tetapi untunglah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Beberapa saat kami memang jadi agak aneh. Pastilah bidan itu juga sedikit shock. Kecurangan kecilnya selama ini terbongkar secara tidak sengaja olehku. Tetapi aku berusaha mencairkan suasana. Setidaknya sampai kegiatan Posyandu ini berakhir. Bukankah kami masih membutuhkannya hingga masa KKN kami berakhir sebulan lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:10;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;P.S. Trust No One (Nantikan kisah selanjutnya!)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-6897275400696125262?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/6897275400696125262/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=6897275400696125262' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/6897275400696125262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/6897275400696125262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2008/12/bidan-bojong-cae.html' title='BIDAN BOJONG CAE'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-3850287332179147052</id><published>2008-12-29T17:20:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T19:09:19.856-08:00</updated><title type='text'>MASKER BENGKUANG BUMBU RUJAK</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Sudah merupakan kebiasaaan kaum perempuan baik tua maupun muda untuk mematut diri dan berdandan. Maka kaum perempuan sama sekali tidak dapat dipisahkan dari kegiatan merawat diri agar cantik rupawan. Apalagi kala itu aku dan beberapa perempuan lainnya adalah gadis perawan yang baru saja merekah layaknya bunga yang memancarkan harum semerbak dan pesona bagi semua kumbang jantan. Walau bukan berarti kami suka menarik kumbang jantan untuk mampir di kehidupan kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Kami para perempuan yang hampir seluruh umurnya kala itu dihabiskan di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, sudah mengenal aneka perawatan wajah dan tubuh dari lulur, &lt;i style=""&gt;facial&lt;/i&gt;, masker wajah, &lt;i style=""&gt;cream-bath&lt;/i&gt;, dan lain sebagainya. Maka dengan terperangkapnya kami di sebuah desa terpencil di Kabupaten Lebak Banten tidak mematikan birahi kami untuk merawat diri. Setidaknya kecantikan kami tidak pudar hanya karena tidak sedang tinggal di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Seperti pudarnya kecantikan Cleopatra yang merupakan momok mengerikan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;“Kita ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yuk!”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt; ajakku pada Dije dan salah seorang teman perempuanku yang sedang berkunjung, Irma. Irma adalah teman sekelasku yang sama-sama sedang KKN di Kabupaten Lebak, Kecamatan Cibadak. Hanya saja kami berbeda desa. Dia di Kadu Agung Barat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Saat itu para lelaki di istana kami di Bojong Cae sedang tidak ada. Mereka, Abang dan Fian sedang ada urusan di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Begitupun dengan Deci. Makanya hanya ada aku dan Dije yang menjaga istana kami. Sudah merupakan kesepakatan bersama bila ada di antara kami yang harus meninggalkan istana, maka yang lain harus tetap tinggal di istana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Kala itu giliran aku dan Dije yang menjaga istana. Walau sebetulnya selama tugas aku sama sekali tidak pernah mengambil jatahku untuk pulang. Dan kebetulan tempat tugas Irma di Kadu Agung Barat juga sedang sepi. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Maka Irma memilih untuk menginap di istana kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="FI"&gt;“Ke kota?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt; Dije menyahut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="FI"&gt;“Iya kita ke kota, sekalian lihat pemandangan dan berbelanja kebutuhan rumah tangga. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IT"&gt;Mungkin membeli lulur atau masker wajah. Selagi para lelaki tidak ada di rumah. Kita para perempuan bisa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berpesta pora tanpa ada yang mengganggu. Sepertinya kita perlu sesekali memanjakan diri. Jangan biarkan desa ini memberangus kecantikan kita.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IT" &gt; Aku berapi-api sambil memandangi wajah mereka satu persatu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IT" &gt;Irma manggut-manggut. Bagiku itu lampu hijau. Irma adalah karibku. Walau usianya jauh lebih muda dari pada aku. Namun pemikiran dia jauh lebih dewasa dari aku, bahkan Dije yang masih lebih tua dari aku. Irma seorang melankolis sempurna. Maka sebuah rencana harus dibuat sematang mungkin. Jangan harap dia akan ikut serta dalam sebuah rencana berpelesiran yang tanpa perencanaan matang. Setidaknya sebuah rencana yang baik menurut Irma harus dapat menjawab beberapa pertanyaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IT" &gt;Di mana?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IT" &gt;Untuk apa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IT" &gt;Bagaimana menuju kesana?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IT" &gt;Apa saja yang akan dilakukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Kapan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Pulang jam berapa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Apa manfaatnya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Huh! Maka akan sangat melelahkan mengajaknya pergi tanpa tujuan seperti yang dilakukan kaum sanguinis seperti aku. Aku adalah pribadi yang bebas tak suka diatur. Aku suka melakukan apa saja yang aku mau. Justru karena itu kreativitasku ditantang. Aku penuh ide kreatif, namun sejujurnya aku agak kesulitan dalam melaksanakan ide-ideku. Semangatku meletup-letup di awal, namun pertengahan aku benar-benar butuh perencana ulung dari kaum melankolis. Sanguinis tak lebih dari seorang penggembira dan pembuat ide. Namun sekali lagi sanguinis agak kesulitan dalam memimpin layaknya kolerik apalagi mengerjakan hal remeh-temeh yang hanya cocok dilakukan oleh orang &lt;i style=""&gt;flegmatis&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Sepanjang usiaku kini, maka Irma adalah salah satu contoh melankolis sempurna yang pernah aku temui di dunia ini. Dia selalu berusaha melakukan segala hal sesempurna mungkin, jikalau perlu &lt;i style=""&gt;‘zero mistake’&lt;/i&gt;. Semuanya harus serba terencana dengan baik. Yang lebih mengerikan, Irma sudah membuat catatan daftar pakaian dan baju dalam yang akan dipakai selama dua bulan KKN sebelum kami tiba di tempat ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Bayangkan! Sebegitu terencananya, Irma sudah merencanakan jadwal baju yang akan dipakai sepanjang KKN perhari, siang dan malam. Gila! Ketika aku mencoba menanyakannya. Maka Irma dengan sederhana menjawabnya, &lt;i style=""&gt;“Agar aku bisa memperkirakan berapa jumlah pakaian yang harus dibawa”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Bahkan Irma juga sudah memperkirakan apabila terjadi hal yang tidak diinginkan yang membuat jadwal itu akhirnya harus berubah. Seperti kesibukan yang menghalanginya untuk mencuci, dan mengakibatkan keterlambatan keringnya pakaian. Atau hujan terus-menerus yang membuat pakaian tak kunjung kering. Dengan adanya pakaian cadangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Idealnya memang dalam sebuah tim harus memiliki keempat kepribadian dalam &lt;i style=""&gt;personality plus&lt;/i&gt;; Kolerik sang pemimpin, Sanguinis sang penggembira yang jago bermimpi, Melankolis sang penyempurna dan flegmatis sang juru pelaksana umum. Maka di ikatan persahabatanku dengan Irma, Dije, Widi, Ari dan Dewi, kami sungguh tim yang kompak. Kami merupakan gabungan dari keempat kepribadian tersebut. Baiklah, mari kita kembali kepada rencana para gadis di Istana Bojong Cae.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="SV"&gt;“Setuju!” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Irma menimpali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Giliran aku memandangi Dije, menunggu jawaban. Dije hanya tersenyum, &lt;i style=""&gt;“Pastilah aku ikut. Lagipula penat kali aku di desa. Sesekali ingin juga aku berpelesir melihat kota.”&lt;/i&gt; Dije dengan logat Bataknya yang kental.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Tanpa menunggu waktu lama, kami segera bergegas mempersiapkan segalanya. Terutama dompet berisi uang secukupnya. Tak lupa mematut diri di kaca sembari mengoleskan krim, berbedak alakadarnya dan melembabkan bibir dengan &lt;i style=""&gt;lip gloss&lt;/i&gt;. Biar pun kami bunga yang mulai merekah. Belum timbul juga keberanian di hati kami untuk mengoleskan gincu berwarna merah menyala yang mampu membakar selera kaum Adam. Bahkan hingga detik ini, aku sudah bersuami. Aku masih tidak berani. Pelembab bibir masih menjadi teman bibirku. Sesekali memang bergincu, tetapi hanya sebatas warna bibir agar terkesan alami. Lagipula gincu berwarna merah menyala lagi norak sama sekali &lt;i style=""&gt;old fashioned&lt;/i&gt;. Bukannya cantik, malah bibir terkesan jontor. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Setelah mengunci pintu, kami segera pergi meninggalkan istana kami. Dengan langkah pasti dan hati yang berbunga-bunga. Maklum kami amat jarang berpelesiran melihat kota. Maka kesempatan ini termasuk hal langka yang menggembirakan kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Desa Bojong Cae cukup jauh dari kota. Tetapi sesungguhnya masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki selama dua jam. Transportasi yang cukup sulit membuat kami tergoda untuk merasakan sensasi berjalan kaki sepanjang 10 kilometer menuju Kota Rangkas Bitung. Lagipula hari masih teramat pagi. Masih setengah enam pagi. Masih gelap gulita. Ini kesempatan kami menghirup udara segar yang masih alami. Dinginnya menusuk tulang rusuk. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Brrr! Tetapi segar, segarnya mampu menembus relung hati sekaligus menyejukkan isi kepala dan hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Kami berjalan cukup santai, makanya baru jam delapan kami akhirnya sampai di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Kami para gadis yang banci kamera tak pernah melewatkan tempat-tempat indah di sepanjang jalan tanpa berfoto. Kami layaknya &lt;i style=""&gt;bule &lt;/i&gt;yang sedang terheran-heran, karena baru pertama kali mengunjungi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Ini sekaligus untuk membunuh kebosanan kami akan jauhnya perjalanan dari Bojong Cae ke Rangkas Bitung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Sesampainya di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, kami menyempatkan diri untuk sarapan. Perjalanan yang cukup jauh membuat kami benar-benar kelaparan. Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan 3 arem-arem isi oncom, bakwan dan tahu isi goreng dengan saus kacang pedas di dalam piring. Alhamdulillah. Nikmatnya tak terkatakan! Lebih nikmat dibanding &lt;i style=""&gt;Pizza, Spaghetti, Burger&lt;/i&gt;, atau makanan-makanan Barat lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Setelah kenyang, maka kami tidak membuang waktu kami untuk segera berburu keperluan kami di toko terdekat. Kami membeli satu botol lulur jadi merek Mustika Ratu dan aneka keperluan seperti sabun, pasta gigi dan lain sebagainya. Kami juga menyempatkan diri untuk membeli kebutuhan bahan segar di pasar tradisional. Membeli lauk-pauk &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;tempe&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tahu, dan presto bandeng ala Rangkas Bitung, aneka bumbu dan sayuran segar. Tidak lupa buah-buahan untuk rujak, terutama bengkuang sebagai bahan dasar masker wajah kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Kami berbelanja cukup banyak. Walau begitu kami cukup tahu diri. Sebanyak itu kami berbelanja tidak sampai &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; puluh ribu rupiah termasuk makan dan ongkos kami. Karena hari sudah cukup siang dan agak panas, makanya kami memutuskan untuk pulang naik transportasi umum saja. Tidak perlu berpeluh kepanasan. Hanya duduk, maka tak sampai empat puluh &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; menit kami sampai di Istana kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Setelah shalat Dzuhur, kami memasak nasi dan menggoreng bandeng presto dan mengulek sambal untuk makan siang kami. Nasi yang mengepul panas dan ikan bandeng presto benar-benar semakin lezat dengan sambal terasi. Makan kami lahap sekali. Bahkan kami masih bernafsu membuat rujak sebagai pencuci mulut. Rujak super pedas. Karena kami bertiga memang penggila cabai. Maka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;rujak buatan kami benar-benar rujak yang bisa membunuh manusia yang takut cabai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Setelah makan-makan kami beristirahat. Namun semua piring kotor dan ulekan sudah bersih sebelum kami tinggal tidur siang. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Kami tidur tidak lama. Karena kami teringat dengan lulur dan bengkoang kami. Ini kesempatan langka. Para lelaki sedang pergi maka kami bisa buka-bukaan mengoleskan lulur ke seluruh tubuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Semua jendela kami tutup dengan korden. Mengkunci semua pintu. Setelah aman baru kami berani hanya memulai prosesi luluran. Kami saling membantu mengoleskan lulur di punggung. Kemudian kami asyik membuang daki masing-masing. Sembari menunggu kering kami berbincang seru ala para gadis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="SV"&gt;“Eh, kita masih punya bengkoang,”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt; Irma tiba-tiba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="SV"&gt;“Oh iya…….”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt; Aku bersemangat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="SV"&gt;“Loh, tapi kan kita tidak punya blender,”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt; Dije mematahkan semangat kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="SV"&gt;“Punya parutan tidak?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt; Tanya Irma lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="SV"&gt;“Tidak, “&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt; Dije lemas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="SV"&gt;“Hem………aku ada ide, kita masih punya ulekan. Kita ulek saja bengkoangnya!” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Dije dan Irma seperti berpikir. Irma, &lt;i style=""&gt;“Sepertinya boleh juga idenya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="SV"&gt;“Ya sudah, kita kupas dulu bengkoangnya,” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Dije menimpali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Kita semua bergerombol di dapur, mengupas, mengiris bengkuang sembari berbincang-bincang. Setelah selesai giliran aku yang mengulek bengkuang calon masker wajah di ulekan bersih. Maka tak sampai sepuluh menit, ramuan bengkuang siap digunakan untuk masker wajah. Kami bersemangat mengoleskannya ke permukaan wajah kami yang mulus. Dengan harapan, kelak masker ini akan semakin membuat wajah kami putih bercahaya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="SV" &gt;Kami membiarkan masker itu mengering di wajah kami, sebelum kami membilasnya. Tiba-tiba sepuluh menit kemudian,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="ES"&gt;“Kok wajahku panas ya?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="ES" &gt; Tanya Irma.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="ES"&gt;“Iya aku juga, “&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="ES" &gt; Dije.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="ES" &gt;Aku dengan cekatan menjawab, &lt;i style=""&gt;“Oh itu mungkin reaksi dari maskernya. Mereka sedang membunuh kuman-kuman di wajah kita. Lihat saja wajah kita kan agak berjerawat. Jadi mungkin itu reaksi alami.” &lt;/i&gt;Sejenak aku melihat mereka mengangguk-angguk. Aku tersenyum karena dapat memuaskan pertanyaan mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="ES" &gt;Tetapi semakin lama, rasa panasnya bukan mereda malah semakin menjadi. Wajah kami terasa terbakar api. Fiuh!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="ES"&gt;“Kamu yakin ini reaksi alami masker bengkuang. Perasaan aku tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya,”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="ES" &gt; Irma sembari kepayahan menahan panasnya wajah. Kali ini benar-benar tidak bisa menjawab. Karena aku juga semakin kepayahan. Wajahku seperti melepuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="ES"&gt;“Ulekannya bersih kan?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="ES" &gt; Tanya Dije.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="ES"&gt;“Bersih,”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="ES" &gt;singkatku sambil kepayahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="ES"&gt;“Loh……….kan sebelumnya itu dipakai mengulek sambal rujak.“ &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="ES" &gt;Irma menyadarkan kami semuanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="ES"&gt;“Oh My GOD!”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="ES" &gt; Aku dan Dije berpandangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="ES" &gt;Maka sedetik kemudian kami berlarian berebut menuju kamar mandi untuk membilas wajah kami yang teracuni masker bengkuang bumbu rujak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="ES"&gt;“Ahhhhhhhhhhhhhh!”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="ES" &gt; Kami berteriakan seperti orang gila. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Wajah kami semakin memanas dan tak tertahankan lagi. Setelah terbilas air dan sabun muka beberapa kali barulah rasa panasnya mereda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Sejak saat itu kami tidak pernah membuat eksperimen masker bengkuang lagi. Tidak akan pernah! Lebih baik membayar agak mahal untuk perawatan di salon, dibanding wajah kami harus melepuh terkena panasnya sambal rujak. Itu benar-benar pengalaman paling gila.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="FI" &gt;Sampai saat ini kami masih mengingat peristiwa itu. Mungkin suatu hari nanti itu akan jadi topic perbincangan paling menarik yang layak untuk dibagikan kepada anak perempuan kami tentang betapa bodohnya kami kala itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:10;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;P.S. Beauty is painful (Nantikan kisah seru lainnya!)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2245804847321700606-3850287332179147052?l=rhapsodykehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/feeds/3850287332179147052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2245804847321700606&amp;postID=3850287332179147052' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/3850287332179147052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2245804847321700606/posts/default/3850287332179147052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhapsodykehidupan.blogspot.com/2008/12/masker-bengkuang-bumbu-rujak.html' title='MASKER BENGKUANG BUMBU RUJAK'/><author><name>rheesma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13751539432542107872</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-_bGqhv3khKM/TbzOjd_1G1I/AAAAAAAAARY/4VoXeHSFCYM/s220/_DSC0030.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2245804847321700606.post-6060338410598415004</id><published>2008-12-25T23:34:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T00:22:38.891-08:00</updated><title type='text'>DOLBUN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu kebiasaan warga Desa Bojong Cae yang sempat membuat kami tak sanggup berkata-kata, tercengang tanpa ampun, menggeleng-geleng, menelan  ludah, mual, tenggorokan tercekat tak bisa bernafas karena menahan bau tak sedap sembari menutup hidung adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'dolbun' &lt;/span&gt; alias &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'modol di kebun'&lt;/span&gt;. Bagi yang awam bahasa kampung, baiklah aku akan bantu menjelaskan. Modol artinya buang air besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Primitif memang! Warga desa tidak pandang bulu, baik laki-laki atau perempuan, baik anak-anak dan orang tua punya kebiasaan buruk dalam melepas hajat besar. Biasanya mereka melakukannya di  pagi buta atau di malam gelap. Tidak perlu keluar rumah dengan mengendap-endap, karena semua mafhum adanya. Keluar rumah dengan membawa penerang seadanya kemudian mencari posisi yang nyaman di kebun atau di bawah pohon untuk melepaskan birahi 'hajat besar'. Agghhhhhh! Setelah terlepaskan segera pergi ke sumur terdekat untuk membilas buritan. Kemudian semuanya kembali berlangsung normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibayangkan betapa banyak kotoran manusia yang bertebaran di kebun dan jalanan. Bau menyengat, lalat beterbangan menyebarkan bibit penyakit. Pokoknya mengerikan! Kucing di rumahku masih lebih pandai. Si Polly kucing belang hitam-putih di rumahku, malah telah mengenal kegunaan WC untuk buang hajat sejak berusia 5 bulan. Oke, kalau ini berlebihan. Maka si manis kucing liar belang tiga primadona para kucing di gang rumahku masih lebih baik. Dia dengan lincahnya menggali, kemudian menutup kotorannya dengan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengerikan sekali melihat bokong-bokong orang yang bers
