Kamis, 15 April 2010

SMS TERAKHIR




Aku menatap wajah lelaki yang duduk di depanku. Dalam keremangan lampu malam aku masih bisa melihat wajahnya yang tampan, pipinya sedikit tirus, namun sama sekali tidak mengurangi ketampanannya. Matanya syahdu sekali ketika menatapku.

Dia sama sekali tidak memperhatikanku. Ketika aku berulang kali mencuri pandang ke arahnya. Dia masih asyik memandangi lalu-lalang orang yang memadati pelataran Monas di malam Minggu. Dan aku membiarkan mataku asyik memandang Bang Udin, kekasihku.
Ketika akhirnya ekor matanya menangkap mataku yang asyik menguliti dirinya. Dia tersenyum mendapatiku yang tersipu malau karena tertangkap basah sedang mengamati dirinya.

Segera kutundukkan kepalaku. Menyusuri setiap jengkal con-block sambil menyembunyikan perasaanku.

“ Kenapa Sayang?” Mata Bang Udin menyelidikiku.

Aku hanya tersenyum, kemudian mengangkat wajahku perlahan hingga mata kami bisa beradu pandang dengan leluasa. “ Ah nggak Bang…”

Bang Udin tersenyum mafhum memahamiku. “ Oh ya sudah, kamu laper belum?”

“ Laper Bang…”

“ Makan yuk!”

“ Abang ada duit?” Mataku berbinar-binar menatap Abang untuk memastikan.

Tadjudin tersenyum, “ Yah…, biar jelek-jelek begini kan Abang Satpol PP, pegawai walikota. Kalau cuma nasi goreng sama Aqua mah enteng.” Si Abang membusungkan dadanya dengan bangga. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lucunya.

“ Ya deh yang Satpol PP.”

“ Jadi makan gak nih?”

“ Jadi dong Bang…”

“ Ya udah tunggu bentar yah.” Tadjudin bangkit berdiri dan berteriak memanggil tukang nasi goreng keliling.

“ Bang…Woy…Nasi Goreng!”

Tadjudin juga menepuk kedua belah tangannya dengan kasar agar si tukang nasi goreng mendengarnya.

“ Bang!”

Akhirnya si tukang nasi goreng mendengar suara Abang Tadjudin. Dia menoleh dan segera mengarahkan gerobak nasi gorengnya ke kami. Setelah tukang nasi goreng berada sangat dekat dengan kami.

“ Nasi gorengnya dua, bang! Pedes…” Abang Udin alias Tadjudin dengan mantap.
Dan Si tukang nasi goreng pun segera memanaskan minyak goreng dalam wajannya. Sembari mengiris-iris kol dan bawang.

“ Bang…” Aku memanggil kekasihku yang duduk di sampingku dengan lembut.

“ Ya Sayang…” Si Abang pun membalasnya dengan lembut. Matanya berbinar-binar menatapku.

“ Abang cinta gak sih sama Neng?” Aku dengan manjanya.

Si Abang tersenyum, “ Ya cinta dong Neng. Kalo gak cinta, mana mungkin Abang melamar. Kan sebentar lagi kita bakalan kawin.”

Aku tersipu malu, sambil menunduk.

“ Bentar lagi kan?…abis lebaran…”

Aku semakin tertunduk, padahal jauh di dalam hatiku. Jantungku berdebar-debar, melonjak-lonjak gembira.

“ Eh iya ya Bang…” Aku menatap wajah Udin dengan mesra.

“ Iyah…”

“ Gak nyangka yah, kita udah empat tahun aja pacaran yah…”

“ Iyah…gak nyangka…”

“ Padahal dulu pas kita ketemuan di Setia Bakti, gak nyangka kalau kita bakalan nikah gitu.”

Kami berdua melemparkan pandangan jauh menyusuri pepohonan, lalu-lalang orang yang sedang melintasi taman Monas, juga pada deretan gedung-gedung tinggi yang berjajar mengelilingi Monas.

Hatiku masih berdegup kencang. Layaknya debaran seorang pencinta yang sedang kasmaran. Aku berusaha menguasai diriku agar Bang Udin tidak terlalu mendengar debaran jantungku. Kira-kira Bang Udin, berdebar juga tidak yah?
Lama kita terjebak dalam kebisuan. Namun hati kami saling bicara dalam hening. Kami tahu bahwa di taman ini, kami bukanlah satu-satunya pasangan yang sedang kasmaran. Masih ada pasangan-pasangan lain yang sedang berasyik-masyuk menghabiskan malam minggu. Namun kami merasa dunia itu hanya ada kami berdua. Yang lainnya cuma ngontrak.

“ Bang…” Suara tukang nasi goreng yang menyodorkan dua piring nasi goreng kepada kami menyadarkan lamunan kami masing-masing.

“ Eh iya…” Abang Udin dengan tanggap mengambil piring nasi gorengnya. Kemudian baru giliran aku.

“ Terima kasih ya Bang…” Ujarku sambil mengambil piring nasi goreng yang disodorkannya. Si tukang nasi goreng hanya mengangguk. Dan dia berlalu memberi tempat kepada aku dan Abang Udin untuk bisa menikmati makan malam romantis kami, di bawa sinar rembulan. Syahdu sekali. Walau kami hanya duduk di bangku taman monas dan menikmati nasi goreng. Namun rasanya seperti menikmati sajian makan malam mewah nan romantis di sebuah restoran megah.

Lama kami asyik dalam pikiran kami masing-masing. Aku sibuk menikmati nasi goreng pedas yang masih mengepul itu. Abang Udin juga.

“ Abang…” Aku dengan lirih, membuat Abang Udin menoleh ke arahku. Mulutnya sibuk mengunyah halus nasi gorengnya.

“ Kalau kita kawin…Abang maunya kita punya anak berapa Bang?”

Sejenak Bang Udin berpikir, “ paling dikit tiga deh.”

“ Kenapa tiga bang?” Aku mengunyah cepat makananku agar bisa mengajukan pertanyaan lainnya.

“ Yah…kalo satu kan kedikitan. Tar kalo kawin kita cuma berdua di rumah. Kalau cuma dua juga masih sepi. Nah tiga tuh pas dah…” Bang Udin beralasan dengan logat Betawi yang kental. Aku hanya mengangguk-angguk saja.

“ Yah sebetulnya sih kalau bisa, Abang mah pengennya anaknya banyak. Biar rame. “ Bang Udin melanjutkan.

“ Banyak bang…ih bagaimana ngurusnya? Mana sekarang harga-harga mahal lagi.”

“ Yah Neng…banyak anak banyak rezeki. Insya Allah setiap anak mah pasti ada rezekinya..”

“ Iya yah Bang…” Aku mengangguk-angguk sambil menyendukkan suapan nasi gorengku yang sudah hampir habis.

“ Itu mah gak usah dipikir. Nih doain aja neng, tar kalau karir Abang bagus. Ntar kan habis jadi Satpol PP. Abang bisa jadi Ketua Satpol PP. Mana tahu nasib baik, Abang bisa jadi walikota. Ntar kan Eneng jadi ibu Walikota.”

Aku tertawa cekikikan mendengarnya. Kekasihku memang seorang pekerja keras, dia memiliki mimpi yang besar. Abang yakin sekali suatu hari nanti dia akan menjadi seseorang. Itulah yang membuat aku semakin cinta kepadanya.

Kupandangi wajah kekasihku yang sedang berkonsentrasi dengan nasi gorengnya. Kupandangi dengan penuh perasaan cinta. Cinta yang bergejolak. Oh Tuhan…Demi Tuhan aku mencintainya. Izinkan kami saling mencintai hingga akhir hayat.

Dan seketika itu pun khayalanku melayang jauh, kepada rencana pernikahan kami yang tinggal berbilang bulan. Kurang dari enam bulan kami akan menikah. Sebulan setelah lebaran.

Aku membayangkan diriku dan dirinya yang sedang duduk di singgasana pengantin. Saling memandang dengan penuh cinta. Menyalami setiap tamu yang dating. Dan… dan… oh banyak sekali khayalan indah tentang aku dan dia.

Sebentar lagi. Enam bulan tidak akan lama lagi. Aku hanya perlu bersabar sedikit saja. Dan kami akan sah menjadi suami-isteri.

Kami mengobrol banyak hal hingga nasi goreng dalam piring kami ludes tak bersisa. Ketika akhirnya kami menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Bang Udin mengajakku pulang.

“ Yuk… Neng kita pulang. Tar kalau kemaleman dimarahin lagi.” Bang Udin sambil bangkit berdiri.

“ Ya deh…” Aku tersenyum dan mengikutinya bangkit dari duduk.

Setelah membayar nasi goreng dan teh botol. Kami berdua berjalan beriringan menuju tempat parkir motor. Dan tanpa mengulur waktu, Abang Tadjudin menyalakan mesin motor dan memacu motornya membelah jalanan ibukota yang mulai lengang. Sedang aku yang duduk di belakang memegang pinggangnya dengan erat.

Abang mengantarku dengan selamat sampai di depan rumah. Abang tidak terlalu lama di rumahku. Dia segera mohon diri setelah bertatap muka dengan orang tuaku sebentar. Aku melepas kepergiannya di depan rumahku. Memandangnya hingga sosoknya lenyap ditelan kegelapan malam.

***

“Fiuh…hari yang melelahkan!”

Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur. Berbaring dengan kedua kaki yang masih menggantung di pinggir ranjang, sambil menatap langit-langit.
Sederetan rekaman kegiatan sepanjang hari melintas di pelupuk mataku seperti film. Semua terputar jelas dalam mataku. Berganti-ganti episode.

Dan kini bayangan Tadjudin menari-nari di pelupuk mataku. Aku tersenyum tipis membayangkannya. Oh…aku ingat semenjak malam minggu kemarin aku belum berjumpa dengannya. Walau kami tidak sama sekali putus komunikasi. Kami masih saling berkirim pesan cinta lewat sms. Sesekali dia juga mengomentari statusku di facebook atau sekedar mengirim pesan.

Dengan malas aku meraih telepon genggamku yang tadi sempat kulempar di atas ranjang. Kuraba-raba untuk mengetahui letak si telepon genggam. Setelah dapat aku segera meraihnya.

Dan dalam hitungan detik setelah telepon genggam itu ada di genggamanku aku sudah terhubung dengan situs pertemanan Facebook.

“ Wow, satu pesan baru.” Gumamku. Buru-buru aku lihat dan ternyata dari arjunaku. Kubaca perlahan pesan itu.

"Doain aku. Aku ada taruna pembongkaran di Priok."

Pesan ini dikirim Tadjudin melalui BlackBerry miliknya Selasa silam sekitar pukul 23.00.
Dan dengan lincah jari-jemariku mengetikkan balasannya: "Ya, aku doain."

Aku tersenyum puas akhirnya balasanku terkirim dengan sukses. Dalam hatiku berdoa, “Ya Allah lindungilah arjunaku besok…Aku mencintai dia ya Allah.”

Dan dalam hitungan detik aku pun melayang jauh ke alam mimpi. Telepon genggamku pun terlepas dari genggamanku.

***

Tadjudin dan ratusan Satpol PP lainnya sudah berada di dalam truk yang akan mengangkut mereka ke Koja. Tadjudin tidak tahu pasti apa tugas yanga akan dijalaninya. Dia hanya tahu dari briefing pagi ini, bahwa mereka ditugaskan untuk menjaga ketertiban persiapan pengosongan lokasi makam. Katanya Makam Mbah Priok yang selama ini sering dikunjunginya akan direnovasi. Tapi entahlah, Tadjudin tidak tahu pasti.

Tadjudin sedikit bingung mengapa banyak untuk mengamankan lokasi dibutuhkan ratusan Satpol PP. Sebetulnya apa yang akan dihadapinya. Tadjudin hanya terdiam. Dia bahkan tak berminat lagi untuk terlibat pembicaraan dengan rekan-rekan seperjuangannya. Rasa kecut dalam hati Tadjudin diam-diam muncul ke permukaan. Dan Tadjudin buru-buru menepisnya.

“ Tidak…Aku harus kuat. Insya Allah ini adalah tugas Negara.” Tadjudin menguatkan dirinya.

Tak sampai satu jam, truk yang ditumpanginya sudah memasuki wilayah Koja. Tadjudin celingukan mengintip ke luar melihat keadaan. Dan Tadjudin melihat adala puluhan truk serupa. Dan dia juga melihat beberapa mobil besar milik media televisi ternama di Indonesia. Hati Tadjudin bertanya-tanya, sebenarnya ada apa di luar?

Saat komandan batalyon Satpol PP menyuruh rombongannya untuk turun dari truk. Tadjudin kini bisa melihat dengan jelas bahwa disitu tidak hanya ada pasukan Satpol PP yang jumlahnya ratusan tetapi juga ada polisi. Namun dia berusaha untuk tidak terlalu memusingkannya. Dia menyadari tugasnya disini hanya mengamankan. Bukan yang lain.

Dari tempatnya berdiri, Tadjudin juga melihat puluhan atau mungkin ratusan penduduk sipil yang sedang berjaga-jaga di sekitar makam. Satpol PP sudah berulang kali diingatkan agar tidak gampang terprovokasi. Mereka diam saja biarpun mereka meledek dan mencerca.

Matahari mulai meninggi. Teriknya seakan membakar tubuh dan hati. Satu persatu bom Molotov pun mulai beterbangan menyerang. Pasukan Tadjudin terpancing. Dengan beringasnya mereka menyerbu masyarakat. Tadjudin sempat menimang-nimang apakah dirinya harus ikut dalam perseteruan itu atau tidak.

Tadjudin bingung, bagaimana mungkin dirinya bisa terjebak dalam polemik ini. Tadjudin tidak tahu mengapa harus dia yang dilibatkan untuk membantai jemaahnya sendiri. Disitu Tadjudin biasa berziarah dan Tadjudin mengenal beberapa.
Ini harus dihentikan. Tadjudin berlari bersama pasukannya yang merangsek masuk memukul mundur masyarakat Koja. Tadjudin hanya ingin berteriak, agar teman-temannya menghentikan semua ini. Semua ini salah. Seharusnya ini tidak ada dalam skenario pengamanan penggusuran. Seharusnya.

“ Hai Tunggu!!!” Tadjudin berteriak hingga lehernya tercekat.

“ Ini semua salah…! Tahan…Kita tidak boleh…” Tadjudin semakin histeris. Namun percuma tidak ada yang mendengar teriakan Tadjudin. Semua teman-temannya mulai terpancing emosi. Begitupun masyarakat. Tadjudin terbawa arus. Dia dipukuli, nyaris terinjak-injak ketika Tadjudin hendak melerai teman-temannya yang kesetanan memukuli seorang pemuda tanggung yang sudah berdarah-darah. Tadjudin berhasil melepaskan diri dari kerumunan. Namun Tadjudin tidak tahu lagi nasib pemuda tanggung itu.

Tadjudin berhenti sejenak sekitar pukul 13.30. Buru-buru dia mengeluarkan blackberrynya untuk mengirimkan pesan pada kekasih hatinya.. "Pundakku cedera, tangan kananku keseleo."

Calon istri Tadjudin pun membalas: "Kamu baik-baik aja? Kamu di mana?"
Tadjudin menyimpan blackberrynya dengan segera. Dia ikut berlari mengikuti teman-temannya untuk menyelamatkan diri. Tadjudin tertinggal jauh. Keadaan semakin bahaya. Semua lari tungang-langgang.

Tadjudin sempat mendengar teriakan teman-temannya agar segera berlari menuju kapal boat yang sudah disiapkan oleh polisi laut untuk melarikan diri. Tadjudin berlari sekencang-kencangnya. Namun, Tadjudin yang sudah tertinggal jauh memilih untuk bersembunyi, karena Tadjudin tidak tahu harus bagaimana lagi. Sekuat mungkin Tadjudin berlari, tak akan sanggup mengejar kapal boat itu.

Tadjudin menyerah, dalam hatinya dia berdoa agar Tuhan menyelamatkannya. Bajunya basah oleh keringat yang mengucur deras di sekujur tubuhnya. Kerongkongan Tadjudin tercekat, haus sekali rasanya. Terik matahari benar-benar membuat Tadjudin semakin kepayahan, namun Tadjudin menahan diri agar persembunyiannya tidak diketahui masyarakat yang mulai kalap.

“ Woy…tuh disana. Ada Satpol kampret. Ayo serbu!”

Terdengar teriakan beringas masyarakat mendekati tempat persembunyian Tadjudin. Tadjudin bergidik ngeri. Dalam hati ia sempat berteriak, “Ya Allah…lindungi aku!”
Dalam hitungan detik, masyarakat yang kalap berkerumun. Mereka memukuli Tadjudin dengan kayu, batu. Tadjudin di tonjok, ditendang. Darah segar mengucur dari pelipis Tadjudin. Tadjudin tak bisa berkutik, dia tak sanggup lagi berlari. Tadjudin sempat melihat beberapa orang yang berusaha menyelamatkannya, melindungi tubuhnya yang sudah lemah berlumur darah dengan tubuhnya. Tapi tubuh orang itu tak terlalu kuat untuk melindunginya dari amukan orang-orang yang sudah kalap.

Tidak hanya satu orang yang berusaha melindungi Tadjudin, seorang bapak-bapak berpeci pun berusaha melindunginya, sambil berteriak “Jangan-jangan dipukul, tahan. Dia juga hamba Allah!” Namun orang-orang yang sudah kalap tidak memperdulikan seruan dewa penolongnya.

Tadjudin tidak kuat lagi. Dia sempat berteriak minta ampun dan minta tolong. Minta segera disudahi penderitaannya. Namun lengkingannya tak diindahkan oleh siapapun. Tiba-tiba Tadjudin teringat ibu dan bapaknya di rumah. Tadjudin belum menunaikan janjinya untuk menyelesaikan kuliahnya. Tadjudin juga ingat Aida, kekasihnya, jantung hatinya yang akan dinikahinya Oktober ini.

Tadjudin menangis, menitikkan air matanya. Tadjudin teringat dirinya belum menunaikan shalat Dzuhur. Dan tiba-tiba suara teriakan masyarakat yang beringas mulai terdengar samar. Dan semuanya berubah menjadi gelap.

***

Sementara itu, isak tangis mewarnai pemakaman Ahmad Tajudin (26), Satpol PP yang meninggal dunia dalam bentrokan dengan warga di Koja, Jakarta Utara. Keluarga, kerabat, dan calon istri korban Aida Apriani tampak tak kuasa menitikan air mata saat jenazah almarhum mulai dimasukkan ke liang lahat.

Usai disemayamkan di rumah duka di Jalan HH RT 09/01 No 40, Kebonjeruk, Jakarta Barat, jenazah kemudian dibawa ke Masjid Assurur, yang lokasinya berdekatan dengan rumah korban untuk disholatkan.

Di mata keluarga maupun rekan sejawat, almarhum dikenal sebagai sosok yang ramah dan sangat disukai oleh rekan-rekannya. Selain itu, korban juga dikenal rajin beribadah. Ironisnya, ternyata korban merupakan salah satu jemaah pengajian yang pada Sabtu (10/4) lalu sempat berziarah ke makam Mbah Priok. Bahkan sebelum menemui ajalnya, korban sempat mengirimkan pesan singkat kepada rekan-rekannya di pengajian Taruna Masjid Assurur (Tamasur), yang isinya, meminta maaf kepada umat muslim lantaran ia hanya menjalankan tugas untuk membongkar gapura dan pendopo makam Mbah Priok.

***

Aida memandangi gundukan tanah basah tempat kekasihnya Tadjudin dikuburkan. Dia mengusap air matanya sambil menarik nafas dalam-dalam demi membentuk kekuatan dalam hatinya yang teramat lara.

Tanggal keramat 10-10-2010 yang sudah lama dinantikannya sebagai hari pernikahannya kini tinggal kenangan. Pernikahan itu tidak pernah ada. Sampai kapanpun Aida tidak akan pernah menikah dengan Tadjudin kekasihnya. Tadjudin meninggalkannya sendirian di sini.

Aida memandang gundukan tanah basah itu dengan pilu. Kedua tangannya di letakkan di atas dadanya. Sudah hampir dua hari dua malam dia menangis sesenggukan hingga air matanya kering. Namun hari ini dia telah membulatkan tekatnya untuk merelakan kepergian kekasihnya menemui Tuhan-Nya.

Aida mencium gundukan tanah basah itu. Sebelum bangkit berdiri. Aida sempat ragu meninggalkannya. Tapi ia ingat pesan guru ngajinya, “ Arwah tidak bisa kembali kepada Tuhan-Nya dnegan tenang bila tidak diikhlaskan pergi.”

Aida menggigit bibirnya pelan tak sampai berdarah. Aida menahan diri sekeras mungkin agar tak ada lagi air mata yang jatuh. Aida ikhlas melepas Tadjudin.

“ Pergilah Tadjudin, Sampai kapanpun aku akan mengingat bahwa aku pernah mencintaimu. Sampai jumpa Tadjudin!”

Aida memandangnya untuk yang terakhir kali. Sebelum dia menguatkan hatinya untuk beranjak pergi meninggalkan kuburan kekasihnya. Mungkin Aida tidak ingin menghapus sms terakhir dari Tadjudin, karena itulah satu-satunya kenangan terindah dari Tadjudin

RISMA BUDIYANI
Jakarta, 16 April 2010
Mengenang tragedi Koja. Berdamailah saudaraku!
( Sambil berlinang air mata)

Dilarang keras meng-copy paste cerpen ini tanpa seizin penulisnya dan tanpa mencantumkan nama penulisnya!!!

Rabu, 10 Maret 2010

SAYEMBARA



Mau dapat novel gratis NASI GORENG UNTUK OBAMA plus tanda tangan penulisnya??? Ikuti sayembara membuat nasi goreng istimewa. Caranya? Posting resep nasi goreng andalan anda beserta fotonya semenarik mungkin dengan judul 'NASI GORENG UNTUK OBAMA' di blog anda atau kirimkan email anda ke FoUmediapublisher06@yahoo.com paling lambat akhir Maret 2010.
Tersedia 10 novel gratis untuk 10 pemenang.

NASI GORENG UNTUK OBAMA



SEGERA TERBIT DI BULAN MARET! Sebuah novel terbaru dari Risma Budiyani untuk menyambut kedatangan Presiden Obama di Indonesia (20-22 Maret 2010).

NASI Goreng, siapa yang tak kenal dengan makanan satu ini. Apalagi, masakan yang berbahan nasi dingin ini ternyata bisa diolah menjadi berbagai rasa. Makanan ini tidak hanya menjadi favorit orang Indonesia, tetapi juga semua orang yang pernah tinggal di Indonesia.

Ya, siapa pun. Tak terkecuali Presiden terpilih Amerika Serikat, Barack Obama. ”I miss nasi goreng” cetus Si Barry kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono suatu ketika, melalui percakapan telepon.

SUAEB BIN NGATMO, seorang pemuda miskin yang meninggalkan kampung halamannya menuju Jakarta untuk meraih impiannya mencari kerja. Suaeb ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar dia bisa berkuliah. Namun ternyata Jakarta tidak seindah bayangan. Mencari pekerjaan bukan hal yang mudah. Namun Suaeb tidak pernah berhenti bermimpi.

Nasi goreng mempertemukan Suaeb dengan orang nomer satu di Amerika Serikat sekaligus membawanya kepada impian terbesarnya. Bagaimana intrik pertemuan tak terduga antara Suaeb dengan Presiden Barack Obama?

Dengan tebaran fakta di dalamnya, membuat novel ini tidak sekedar fiksi biasa. Anda akan mendapatkan segudang informasi yang mungkin belum anda ketahui; seperti apa makanan favorit Obama? Siapakah konseptor pembuat pidato kenegaraan Obama?

Ada kelucuan, haru, senyum, dan yang terpenting novel ini mengajarkan anda bagaimana meraih mimpi paling musykil sekalipun dengan segenap keterbatasan. Dulu siapa yang menduga suatu hari Amerika Serikat akan memiliki presiden berkulit hitam? Bagaimana dengan mimpi anda?

” Presiden Barack Obama pernah merindukan nasi goreng. Tapi bagi Suaeb bin Ngatmo, Nasi Goreng Untuk Obama ini bisa jadi penentu masa depannya. Sebuah novel inspiratif, terutama buat Anda yang punya banyak mimpi untuk diwujudkan.” Andy F. Noya, host Kick Andy

"Indonesians have a genuine affection for Barack Obama, and Risma's story
captures that quite nicely. I think the former Jakarta resident, now U.S.
president, will enjoy reading this book himself."
- Dalton Tanonaka, Metro TV news anchor

"Untuk mencapai tujuan dan menggapai cita-cita, kerap membutuhkan banyak perjuangan. Tak jarang, usaha untuk meraih hal tersebut, juga menelan pengorbanan yang tidak kecil. Suaeb bin Ngatmo, merupakan contohnya. Di tangan Risma Budiyani, kisah fiksi pemuda asal Desa Jelok, Purworejo, Jawa Tengah ini seakan jadi cermin bagi kita semua. Bahwa ketabahan hati dan ketawakkalan dalam menjalani perjuangan mewujudkan mimpi bakal berbuah baik. Bukan hanya mimpi yang terwujud, tetapi juga bonus berupa kejutan yang tak disangka-sangka menunggu kita di ujung sana. Bagi para pengejar mimpi dan peraih asa, saya rekomendasikan novel ini bagi Anda.." Hagi Hagoromo, pekerja media



* Penerbit FoUmedia Publisher
* Ilustrator gambar Agoes Djatmiko

Selasa, 06 Oktober 2009

SELAMAT JALAN, YUSUF

Aku berjalan menyusuri lorong dengan interior desain mewah ala hotel. Masih dengan kekaguman, mataku menerawang pada setiap detil lorong. Sesekali mengintip sepintas lalu dari kaca pintu-pintu yang tertutup rapat. Rasa ingin tahuku yang besar di antara segenap kekaguman yang membuncah mendorongku untuk mencari tahu ada apakah gerangan di dalam pintu-pintu yang mirip kamar hotel itu. Bila gelagatku tertangkap mata orang yang lalu-lalang, aku buru-buru mengalihkan pandangan ke permadani cantik yang menutupi seluruh lantai di lorong. Lagi-lagi otakku sibuk menghayalkan apakah di balik karpet itu ada ubin keramik, marmer atau malah tanah. Ah tak penting….

Aku masih berjalan di lorong yang sebetulnya tidak terlalu panjang. Namun aku menikmati sekali setiap langkahku. Ini kali pertamaku menginjakkan kaki di sebuah kantor pemberitaan. Hari ini ada serangkaian tes yang harus aku lalui. Bila aku mampu melewatinya, maka dalam bilangan minggu aku akan menjadi bagian dari tempat ini. Perasaan senang tiba-tiba menyeruak tanpa permisi dari dalam hatiku. Namun segera kutepis dengan kegalauan alami yang mengalir begitu saja. Galau, khawatir, berdebar, semua bercampur menjadi satu. Aku menghentikan langkah sejenak demi membenarkan posisi tas tanganku, menarik nafas dalam dan menghembuskannya kembali secara perlahan demi sebentuk perasaan lega. Kemudian aku melangkahkan kaki dengan gagah layaknya seorang prajurit yang siap bertempur di medan laga.

Akhirnya aku menemukan meja bundar besar di dekat dua mesin fotokopi. Aku sedikit celingak-celinguk memastikan bahwa aku tidak salah menafsirkan petunjuk ibu-ibu personalia yang baru beberapa menit yang lalu kutemui. Damn! Tidak ada tulisan atau papan nama yang memberikan sedikit informasi tentang ruangan apa itu.

Aku sempat menghentikan langkah lagi. Kali ini aku mengedarkan pandang pada lebih dari 5 orang berpakaian hitam putih sama seperti yang aku pakai. Terlihat dari ekspresinya, mereka pasti sedang menantikan sesuatu. Kesemuanya perempuan, kecuali satu-satunya laki-laki berbadan tinggi tegap, dengan rahang yang kuat, berkulit agak gelap, hidung sedikit mancung dan bermata polos. Dia satu-satunya makhluk ganteng di antara sejumlah perempuan yang mengelilingi meja bundar.

Aku pun menghampiri mereka, sambil sedikit berbasa-basi. Dari situ aku tahu bahwa mereka semua sedang menantikan hal yang sama dengan diriku.
“Silahkan!” Lelaki tegap itu berdiri dan menyorongkan kursinya kepadaku sebagai isyarat dia mempersilahkan aku duduk.
What a gentleman…

“ Serius?!?”

“ Tentu saja serius….”

Tanpa banyak cingcong aku pun menghempaskan pantatku ke kursi kulit imitasi berwarna hitam itu.

“Terimakasih…”

“ Sama-sama…” Pria itu kelihatannya masih bersikap sok gentleman.

“ Ohya aku Risma….” Aku mengulurkan tanganku kepadanya. Mata kami saling bersirobok. Tangannya meraih tanganku dan kami pun berjabatan.

“ Yusuf…”

Selebihnya kami bercakap-cakap untuk mencairkan suasana. Dari situ aku tahu dia masih satu almamater dengan diriku, fresh graduate, dan sedang menanti babak kualifikasi selanjutnya untuk menjadi tenaga riset marketing.

Itulah pertemuan pertamaku dengan Yusuf. Ternyata takdir mempertemukan aku kembali. Aku menjadi bagian yang sama dengan dirinya. Saat aku memperkenalkan diriku kepada seluruh anggota tim, tibalah giliran aku memperkenalkan diri ke mejanya.

“ Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Aku sambil mengingat-ingat sosok bermata polo situ.

“ Saya pikir tidak….” Dia sambil cengengesan.

“ Whuat….?!? Sepertinya aku belum linglung deh. Kamu Yusuf kan? Kita menjelang tes. Kamu yang satu almamater denganku kan?”

Matanya masih belum berpindah menatapku, dia masih asyik melihat deretan angka di layar monitor sambil tangannya tetap asyik menari-nari di atas keyboard. Cool! Menyebalkan….

“ Salah lihat kali…” Matanya menatapku tajam.

“ Ah mana mungkin….”

Orang-orang yang menangkap perdebatan kami ikut memojokkan. Hampir aku percaya bahwa aku hanya sedang mengalami ‘dejavu’ merasa sok kenal dengan pria itu. Tapi aku tetap yakin, aku tidak salah. Namun sekeras aku memastikan, saat itu pula aku merasa tenggelam karena malu salah menyapa orang. Sok kenal…. Belakangan aku tahu, aku hanya dikerjai.

Ada semacam tradisi tidak tertulis di tim kami. Bahwa setiap anggota tim harus melewati masa perpeloncoan untuk menajamkan intuisi kami dalam membedakan mana yang dusta mana yang benar dan membiasakan mental kami. Maka dua minggu pertama aku di tempat itu adalah masa-masa dimana aku berusaha memilah-milah mana yang dusta mana yang benar. Antara kenyataan dan rekaan adalah hal teramat tipis perbedaannya. Mereka sangat kompak mengerjai aku. Namun sejatinya hal itu tidak membuat aku sedih atau luka. Yang ada masa perpeloncoan itu meringankan beban masa adaptasiku. Kelucuan demi kelucuan malah mencairkan suasana dan menambah keakraban.

Hanya dalam bilangan minggu, Yusuf menjadi popular di tim kami. Kami memanggilnya Ucup. Yusuf pun sepertinya tidak berkeberatan dengan panggilan barunya. Dia malah mengukuhkan nama bekennya itu dengan menuliskan sendiri di kursinya dengan tulisan ‘UCUP’. Dia memanggil dirinya sendiri dengan nama Ucup, dan dia merasa bangga dengan nama itu. Pria bermata polos itu terlalu lugu dan polos. Dia adalah sasaran bulan-bulanan kami. Entah mengapa, selalu saja ada hal lucu tentang dia yang membuat kami seruangan dengan kompak mengolok-oloknya.

Yusuf adalah pria lugu dari planet yang berbeda dengan bumi. Dia seperti merasa asing dengan planet bumi. Sepanjang umurnya dia hanya mengenal hitam dan putih. Baginya tidak ada abu-abu. Yang ada di benaknya hanya benar dan salah. Kalau berjalan lurus dan benar maka akan dapat pahala, kalau salah jalan maka akan mendapat dosa.

Pertanyaan-pertanyaannya yang sangat polos dan menggelikan malah semakin menambah keyakinan kami bahwa dia benar-benar makhluk planet lain yang tidak mengenal ‘dosa’. Dan kami merasa seperti ‘setan-setan’ yang menggoda anak kecil yang baru disapih.
Entah mengapa setiap tingkah polah yang dilakukan Yusuf selalu menggelikan. Membuat kami tertawa terpingkal-pingkal dan menggoda kami untuk semakin membuatnya bersemu merah karena menjadi bulan-bulanan kami. Hingga suatu ketika kami mengetahui bahwa Yusuf adalah perjaka ting-ting yang belum pernah jatuh cinta. Maka dimulailah usaha perjodohan kami dengan gadis-gadis pilihan untuk Yusuf.

“ Tapi lo normal kan?” Mas Sofyan memancing tawa seisi ruangan. Yusuf yang polos hanya bersemu merah, sambil membela diri.

Sesekali aku merasa kasihan sekali dengan pria itu jika intensitas dan kualitas ejekan sudah semakin keterlaluan.

“ Sabar ya Cup! Orang sabar disayang Tuhan. Orang yang teraniaya itu doanya dikabulkan. Jadi kamu kalau merasa teraniaya doa aja. Nanti pasti dikabulkan. Doanya yang bagus-bagus aja, rugi banget kalo kesempatan emas digunakan untuk menyumpah-nyumpah. Sekalian yah gue titip doa….”

Maka seketika itu juga tawa meledak. Semua ingin ikut bicara. Ada yang mengaminkan ada yang ikutan titip doa agar cepat menikah dan lain-lain. Maka Yusuf orang paling teraniaya di tim kami menjadi tukang doa dadakan.

Yusuf adalah orang yang paling perhatian di ruangan. Jika salah satu dari kami seruangan curhat atau mengeluhkan sesuatu, semisal sakit perut. Maka dia akan menasihati kita dengan kekhawatiran yang teramat sangat untuk segera ke klinik atau minum obat. Dan dia akan menjadi orang paling cerewet yang menanyakan kabar atau malah menyuruh pulang untuk istirahat.

Tugasnya sebagai tukang riset menjadikannya menjadi kamus berjalan acara televisi. Setiap ada acara televisi terbaru, dia pasti akan mengatakan kepada kami dan mengomentarinya hamper setiap saat. Kalau perlu merekomendasikannya.

Aku masih ingat ketika ‘Termehek-mehek’ melejit. Dia merekomendasikannya kepada semua orang di ruangan untuk melihat reality show itu. Dia menceritakannya penuh semangat dengan bumbu-bumbu penyedap yang membuat kami tergoda untuk menonton.

Aku pun salah seorang korban yang tergoda untuk menonton atas promosi Yusuf. Saat aku mengkonfirmasi kepadanya bahwa aku mulai menonton ‘Termehek-mehek’. Maka dia me-maintain aku sebagai downline-nya untuk selalu menontonnya. Setiap akhir pekan dia akan sangat rajin mengingatkanku akan ‘Termehek-mehek’ yang ditontonnya. Tujuannya tak lain tak bukan agar aku tergoda untuk menonton.

Isi pesannya singkat dan menggelikan.

“ Lihat deh Termehek-mehek, cowoknya itu ternyata jalan bareng sama tante-tante.”

“ Istrinya memergoki suaminya lagi di rumah istri muda…”

Atau

“ Lihat deh rumahnya. Kayaknya gue tau daerah itu…”

Maka keesokan harinya kami akan membahasnya dengan seru. Obrolan kami memancing orang lain untuk ikut menonton acara tersebut. Hingga akhirnya kami mengetahui sendiri bahwa itu hanyalah DRAMA yang bertajuk REALITY SHOW. Aku berhenti menontonnya, dan balik melontarkan bulan-bulanan ke Yusuf.

“ Reality Show is a bullshit! Masa iya semua orang disitu selalu tertangkap pake make up dan baju bagus. Trus kok kayak acting yah…?” Yusuf hanya manggut-manggut dan menarik diri secara drastic dari perkumpulan penggemar ‘Termehek-mehek’.

Lain kali kami di ruangan kami yang nyaman, disela-sela masa rehat. Kami membicarakan sebuah reportase di TV swasta yang mengungkap dangdut kampung yang bergoyang seronok di suatu daerah. Namanya ‘Cangdoleng-doleng’. Kami yang penasaran berusaha mencari tahu dengan browsing.

Hingga pada suatu hari aku sudah lupa tentang si ‘Cangdoleng-doleng’. Sebuah pesan singkat masuk di telepon genggamku.

“ Ada cangdoleng-doleng di TRANS sekarang!” Aku pun bergegas menyalakan TV dan menonton. Maka keesokan harinya kami akan membahasnya. Dan dia dengan berapi-api tak henti-hentinya mengomentari.

“Gila….kebayang gak sih di situ ada anak kecil ikutan nonton.” Yusuf dengan gaya ekspresif menggambarkan bocah ingusan mendongak sambil matanya melotot,mulut terbuka dan liur menetes. Ngiler melihat biduan ‘Cangdoleng-doleng’ bergoyang seronok.

“Terus ibu-ibunya ikutan nonton aja sambil tepuk tangan.” Yusuf pun menirukan gerakan itu untuk menambah bumbu dalam ceritanya. Kami serius mendengarkan sambil tertawa geli melihat tingkah polah Yusuf.

Saat akhirnya Barack Obama terpilih menjadi presiden Amrik. Kami jadi sering membanding-bandingkan Yusuf dengan Barack Obama. Keduanya sama-sama berkulit gelap, berhidung mancung, berambut agak ikal, tinggi, tegap, bermuka agak tirus, dan memiliki sorot mata yang penuh pengharapan. Namun Yusuf agak lebih polos. Maka kami menjulukinya Berak Obama.

Yusuf juga seringkali membanggakan darah Arab yang mengalir di dalam dirinya. Kami pun sebetulnya tidak tahu dari mana ke Arab-annya muncul. Kami hanya tertawa saja mengiyakan sambil sesekali mengoloknya.

Yusuf sebenarnya pria yang tampan. Namun auranya tertutup oleh tingkah polahnya. Kalau ada yang mengoloknya untuk membuatnya nyalinya ciut sebagai pria tampan. Maka aku serta-merta membelanya.

“ Eh jangan dong teman-teman. Ucup dinamain Yusuf sama orang tuanya karena berharap Ucup akan setampan Nabi Yusuf. Nama itu doa. Yah lumayan lah segini….” Alhasil Yusuf kan terdiam sambil merasakan panasnya kuping menjadi bulan-bulanan. Tetapi sesekali aku juga yang menjadi bulan-bulanan. Yusuf sudah semakin mahir melancarkan balas dendam kepada semua orang yang turut serta mengolok-olok. Sudah pasti semuanya sekedar lelucon untuk menyegarkan suasana di tengah-tengah pekerjaan kami yang serius.

Yusuf agak sedikit tidak sabaran. Suatu ketika kami seisi ruangan melakukan wisata kuliner di bebek Janus untuk makan siang kami. Masing-masing dari kami mendapatkan bagiannya. Kami tanpa basa-basi langsung bergegas menikmati makanan kami, tanpa mempedulikan sekitar kami. Ternyata Yusuf belum juga mendapatkan makanan, padahal para lelaki sudah hampir ronde kedua.

Dengan tidak sabaran, Yusuf berteriak dengan lantang. “Pak punya saya mana, Pak?”
Bapak penjual bebek goreng yang kerepotan melayani pembeli hanya berkata, “Sabar ya!”
Yusuf melihat teman-teman lelakinya sudah meminta tambahan seporsi nasi. Yusuf semakin blingsatan dibuatnya. Bagaimana tidak? Pesanan nasinya sama sekali belum dating. Padahal teman sebelahnya sudah hampir ronde kedua.

“Lo ambil nasi gue aja!” Mas Saiful menawarkan.

Yusuf menolak, namun Yusuf semakin menciptakan kehebohan sendiri menanyakan nasinya yang belum datang. Kami menggodanya, yang digoda malah semakin blingsatan. Yusuf malah meminta bebek goreng dan nasinya dibungkus saja. Karena dia takut terlambat menyelesaikan makannya dan ditinggal. Yusuf melihat para lelaki sedang menyelesaikan nasi porsi kedua.

“Loh Ucup kenapa makan di kantor? Makan sini aja nanti juga ditungguin.” Mas Sofyan.
“Tau nih Ucup, cewek-cewek aja belum selesai.”

“ Gak ah….” Dengan mata sedikit memerah dan agak menahan marah. Dia kembali menanyakan pesanannya dengan lebih tegas, nada suara agak bergetar. Aku malah jadi geli sendiri, di mataku Ucup tampak seperti bocah yang merajuk karena mainannya diambil atau tidak diberikan.

Lagi-lagi Yusuf menjadi sasaran bulan-bulanan kami. Namun Yusuf tetap pada pendiriannya untuk membungkus pesanannya saja, karena dia tidak ingin makan terburu-buru dan membuat kami menunggunya. Dia mau menikmati bebek gorengnya di ruangan tercinta.

Yusuf yang hanya mengenal hitam dan putih, menganggap satu kesalahan kecil adalah dosa besar yang tak termaafkan. Dia sering dengan lantang dan berapi-api menceritakan kebobrokan moral para pejabat. Dan dia nyata-nyata menyatakan ketidak-sukaannya dengan hal tersebut. Dia mengecam habis tindakan mereka yang tidak berbudi. Yusuf yang polos bercita-cita untuk memutihkannya kelak. Yusuf ingin menjadi abdi Negara yang jujur dan menjadi oase di tengah padang gersang dimana kejujuran adalah hal langka dan musykil.

Sekali waktu Yusuf yang baru saja membaca kenaikan gaji hingga berpuluh-puluh persen bagi para guru negeri. Yusuf dengan semangat mengkalkulasi bahwa gaji guru lulusan S1 akan mendapatkan paling tidak 6 juta. Yusuf tiba-tiba ingin jadi guru, dengan asumsi gajinya akan segera mencapai angka tersebut.

Belum lagi dengan idealisme dia yang sungguh polos untuk menjadi pak guru di desa terpencil. Dia sangat bergairah mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa pamrih. Pengabdian untuk sadaqah jariyah jika azal telah menjemput.

“Ucup guru baru belum tentu langsung PNS. Semua butuh proses. Sudah pasti kamu harus menunggu giliran jadi PNS. Ribuan guru honorer bergaji 300 ribu sudah menanti pra-jabatan. Sebagian dari mereka malah sudah menjadi guru honorer/bantu selama puluhan tahun. Kamu tega dengan mereka? Sudahlah cari rezeki yang lain, jangan ambil ladang orang. “

Atas nama idealisme ‘karbitan’. Maka cita-cita luhur itu pun segera musnah tanpa jejak. Ucup tidak lagi berkoar-koar ingin menjadi guru. Aku rasa membayangkannya saja, dia sudah ngeri. Rasanya menjadi guru bukan jalan hidupnya.

Yusuf adalah pekerja keras. Dia mendedikasikan seluruh waktunya untuk pekerjaannya. Sekalipun libur, dia akan datang ke kantor bila atasan menyuruhnya. Dia paling ringan kaki di antara kami. Dia selalu menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Seandainya ada pekerjaan yang menharuskan dia pulang larut malam pun, pasti akan dilakukannya dengan sepenuh hati. Tidak pernah mengeluh. Tak mengherankan bila dia sangat diandalkan.

Dia adalah lelaki shalih. Makanya dia kami daulat untuk menjadi dubes dari salah satu partai politik Islam terbesar di negeri ini. Kesalahan kecil dari seorang Yusuf akan menambah poin bagi kami untuk mengolok-oloknya sebagai dubes yang tidak becus dan tidak menggambarkan spirit dari sebuah partai beraliran kanan.

Namun akhirnya takdir kebersamaan kami sudah sampai di sini. Yusuf hendak meraih mimpinya yang luhur menjadi seorang abdi Negara yang jujur. Ketika akhirnya dia dinyatakan lulus tes CPNS. Kami berlomba-lomba mengomentarinya.

“ Jangan lupa sama janji kamu untuk jadi abdi Negara yang jujur!”

“ Awas yah kalau aku ketemu kamu, kamu sudah bawa mobil Jaguar. Itu indikator kamu sudah korupsi. Karena gaji PNS jujur tuh gak akan mampu beli Jaguar.”

“ Awas ya kalau beberapa bulan dari sekarang, ganti HP mahal, motor besar atau apalah yang mewah-mewah. Berarti kamu sudah lupa sama idealismemu.”

Hidung Yusuf yang dikomentari hanya kembang kempis, pipi bersemu merah. Dahinya berkerut-kerut mencari alasan yang tepat untuk membalas komentar kami yang sungguh pedas.

“ Ya nanti kalo mau ketemuan, ganti lagi sama HP dan motor bututku.” Yusuf berusaha berkilah.

“ Tapi disana kamu pasti merindukan suasana ini. Kamu bakalan rindu setengah mati dengan banyolan-banyolan segar kita bahkan olok-olok kami yang mengerikan.”

Yusuf tersenyum masih dengan ekspresi tidak peduli. Tetapi aku tahu hatinya berkejap-kejap menanti kejutan apa di tempat yang baru. Dalam bilangan hari dia juga akan kehilangan semua tawa, canda dan keceriaan bersama kami di sini. Tidak ada lagi yang mengolok-oloknya dan membuatnya kesal sekaligus tertawa terbahak-bahak hingga sakit perut.

“ Kamu pasti akan memohon-mohon ke kami di telepon agar kami mengolok-olok kamu.”

Yusuf masih tersenyum, aku tahu hatinya pasti luka akan meninggalkan kami. Tidak akan ada lagi suara cempreng Mas Sofyan yang menceriakan. Tidak ada lagi atasan sebaik Mas Agus dan Mbak Viza yang selalu mau mengerti. Tidak ada lagi Bang Parlin yang berceramah tentang jalan kristus. Tidak ada lagi cerita tentang Mas Miko, sang seniman nyentrik yang selalu berpikiran ‘out of the box’. Tidak adalagi cerita Mas Fatah dan istri-istrinya. Tidak adalagi cerita Tari tentang Axel yang semakin menggemaskan dan bisnis rajutnya. Tidak ada lagi cerita tentang Hanum dengan buah hatinya yang baru saja menceriakan hari-harinya.

Begitu pun Yusuf tidak akan mendengar kelanjutan kisah Agung dan Ugi. Apakah Agung dan Ugi akan berakhir bahagia atau duka. Tidak akan lagi mendengar kisah Mas Syaiful dengan kehidupan barunya kelak dengan sang istri. Tidak lagi mendengar perjodohan setengah olok-olok dengan perawan-perawan di kantor. Tidak lagi mendengar kisah cinta sepasang kelinci Emiria. Atau tentang kucing-kucing sepanjang sejarah Risma. Atau teriakan lantang Yani sang assistant to assistant GM sewaktu memberikan pengumuman penting. Tidak ada lagi cerita Wahyu yang menerangkan konsep bisnis dan marketing atau sekadar menyadarkan Yusuf bahwa dia hidup di dunia nyata yang penuh intrik. Tidak ada lagi kisah burung-burung kesayangan Mamat.

Yusuf tidak akan mendengar lagi kisah sukses Mas Murti dan Baby Zone. Celotehan seru Mbak Rika dan Avi. Atau cerewetnya Mbak Christine untuk mengingatkan hal-hal yang perlu diingatkan. Dan sudah pasti Yusuf tidak akan lagi mendengar cerita Selvi, gadis di tim berbeda yang ikhlas menyiapkan bekal rantang setiap hari untuk sang suami yang PNS bergaji kecil. Dan yang sudah pasti tidak akan mendapatkan jatah oleh-oleh lagi dari CK. Begitu pun Yusuf tidak ada lagi teman yang bisa ditanya tentang perkembangan fashion dan make up seperti Dewa. Dan tidak dapat jatah traktiran ulang tahun Mbak DA Desember ini.

Semuanya akan berhenti sampai di sini. Mungkin jikalau pertemanan kita masih berlanjut, semuanya pasti akan berbeda. Tidak akan sama. Semuanya berubah.
Pertemuan dan perpisahan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, karena perpisahan akan membawa kita akan pertemuan yang lain. Setiap manusia harus menyiapkan mental untuk keduanya.

Akhirnya dalam bilangan hari Yusuf akan segera pergi meraih asa. Kudoakan semoga asa itu membawa kebahagiaan, keceriaan yang lebih dan tidak bisa kau temukan ketika bersama kami. Cerita telah usai sampai di sini, namun kenangan akan Yusuf akan selalu ada di hati kami.

Selamat jalan Yusuf! Semoga idealisme itu tidak menguap bersama angin.

Jumat, 17 Juli 2009

THE CHOSEN PRINCE


Sebuah novel terbaru dari Risma Budiyani, akan menyapa anda di akhir bulan Juli 2009.

“The Chosen Prince. Adalah seorang Jasmine, gadis berusia 25 tahun yang dikejar waktu agar segera menemukan pasangan hidupnya, dikejar keluarga dan orang sekitarnya perihal ‘kapan menikah?’ sementara ia sendiri mengejar mimpinya mendapatkan sang pangeran ‘The Chosen Prince’, pria idaman yang ia cintainya dan mencintainya.

Disinilah dilema seorang gadis yang belajar dari pengalamannya pernah jatuh cinta dan patah hati sehingga cinta tidak lagi menjadi sesuatu yang alami, mengalir dan datang dengan tiba-tiba sebagai misteri kehidupan yang indah, namun menjadi sebuah keinginan dan visi-misi beserta berbagai macam kondisi yang terkait seolah sebuah obyek yang dapat dicari, suatu proposal bisnis yang ditawarkan. Dan bila tidak sesuai, cintapun tidak akan berkembang.

Cinta tidak lagi buta tapi harus begini dan begitu, datang dari seseorang yang tidak boleh terlalu muda, tapi harus matang, dari orang yang harus memiliki kepribadian tertentu, cara pandang yang dapat diterima, memiliki cita-cita yang layak, disambut baik oleh keluarga dll. dll. Sehingga cinta tidak lagi merupakan getaran hati yang bermula dari tatapan pandang dan membuat sepasang kekasih menyelami misteri alam yang melahirkan cinta diantara mereka, namun diawali oleh angan-angan terhadap arti cinta yang walaupun berdalih kepentingan religi, akan tetapi sebenarnya termotivasi oleh ego masing-masing yang telah terlebih dahulu mendefinisi cinta dengan membatasnya dalam pagar perkawinan.

Masing-masing tokoh, Jasmine, Rashid dan Mike Carlos, memiliki aliran berfikir yang sama: mengungkung cinta dalam kesempitan ruang egonya dan pengalaman mereka terhadap cinta. Rashid yang memandang cinta sebagai permen yang diinginkan seorang anak kecil, harus direngek, diemis-emis, dipaksakan untuk didapat. Bila tidak hidupnya penuh kekecewaan. Mike Carlos, yang melihat cinta sebagai pelengkap terhadap jalan hidup yang ia pilih dalam usianya yang cukup matang – setelah pindah agama, mengganti nama, kini ia memerlukan pendamping yang pas untuk mendapatkan kesempurnaan hidup dan cocok untuk membesarkan anak.

Sementara Jasmine, yang tak henti-hentinya memanjatkan doa bukan untuk bersyukur melainkan meminta diberikan sang Pangeran dalam kehidupannya namun pada saat yang sama ia menutup erat hatinya. Sebaliknya perasaan cintanya murni dikendali oleh otaknya, yang menimbang, mengevaluasi, mengkritik dan pada akhirnya, setelah semua persyaratan dan kondisi yang ia cantumkan terpenuhi, barulah ia siap menanam benih-benih cinta.

‘The Chosen Prince’ merupakan sebuah kisah yang menarik dimana bila cinta telah kehilangan esensi romantikanya, akhirnya menjadi kepanjangan ego yang penuh pertimbangan dan tawar menawar karena dijadikan komoditas dan tuntutan sosial semata. Mengutip pernyataan Jasmine, ‘love is unconditional, but marriage is not.’ Bravo, Risma. (Desi Anwar, senior anchor/journalist).

Siapa tak kenal Barrack Hussein Obama, Jr? Presiden Amerika Serikat ke-44 ini punya campuran menarik: Kenya – Amerika - Indonesia. Tiga negara itu juga memiliki arti tersendiri bagi Jasmine. Setelah terombang-ambing di Surat Cinta Saiful Malook, kini ia kembali dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit.

Di novel keduanya ini, Risma Budiyani kian mengeksplorasi kemampuannya meracik kata. Lewat The Chosen Prince, pembaca dibawa menyelami permasalahan yang acap dihadapi kaum lajang: soal jodoh dan keputusan untuk menikah. Amat menggelitik. Terutama jika sedang dihadapi sendiri dan pertanyaan bernada dorongan untuk segera menikah sudah datang dari segala penjuru.

Jadi, bagi para lajang yang tengah bimbang membuat keputusan dan menentukan pilihan, saatnya membaca buku ini. Semoga bisa memutuskan dan menentukan dengan tepat: jodoh dan waktu untuk menikah. Selamat memilih. (Hagi Hagoromo, pekerja media)


MULAI BEREDAR DI KOTA ANDA 30 JULI 2009. DAPATKAN DI TOKO-TOKO BUKU KESAYANGAN ANDA.

Minggu, 21 Juni 2009

1001 PERTANYAAN

Sepanjang perjalanan hidup, kita sering dihadapkan pada rentetan pertanyaan yang tiada henti. Pertanyaan yang seringkali terlalu retoris dan tak perlu penjelasan yang gamblang. Pertanyaan yang terlalu pribadi yang terkadang tak perlu dipertanyakan.

Ketika masih bocah kencur berusia SD. Pertanyaan basa-basi yang keluar dari mulut orang-orang dewasa adalah pertanyaan seputar;

Kapan naik kelas? rangking berapa? NEM berapa? Kapan lulus SD? Mau masuk SMP mana? Negeri atau swasta?

Saat kita beranjak remaja, pertanyaan sudah mulai berbeda. Kapan lulus SMA? Kapan kuliah?

Saat kita di bangku kuliah, pertanyaan berikutnya adalah; Kapan skripsi? Kapan lulus? Atau lebih parahnya adalah kok gak lulus-lulus? Betah ya di kampus?

Saat lulus kuliah, kita kembali diberondong pertanyaan; Kapan kerja?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini masih bisa ditolerir dan dianggap sebagai pemicu dan motivasi bagi kita. Karena dengan berhasilnya kita memuaskan jawaban si penanya, disitulah titik prestasi kita. Pertanyaan itu masih bisa dianggap sebagai suatu standar keberhasilan bagi seseorang. Patokan usia menjadi standar mutlak bagi seseorang menempuh jenjang karirnya, dari SD hingga lulus kuliah.

Adalah keterlaluan bila seseorang bertahan di bangku SD saat dirinya menginjak usia 17 tahun. Atau sudah usia 27 tahun belum juga menamatkan bangku SMA tanpa sebab. Makanya pertanyaan itu bisa dijadikan standar keberhasilan seseorang.

Dan menurut saya lulus SD, rangking, lulus kuliah, dll bukan merupakan takdir mutlak. Tuhan masih memberikan pilihan baginya untuk bisa menjadi apa yang diinginkannya dengan ikhtiar. Bila seseorang ingin lulus SD/SMP/SMA, dapat ranking, masuk sekolah atau perguruan tinggi negeri ya harus belajar dengan sungguh-sungguh.

Tapi bagaimana dengan pertanyaan yang telah menanti lajang ketika di usia dewasa, seperti; Sudah menikah?

Pertanyaan ini masih sopan dan bisa ditolerir. Begitu juga dengan pertanyaan “Kapan nikah?” Tetapi ketika pertanyaan sudah berubah menjadi kesinisan dari seorang penanya/komentator kurang ajar.

“Kok belum nikah-nikah sih? Kapan nyusul? Memangnya tidak kepengen? Memangnya gak ada yang cocok? Sampai kapan melajang, nanti jadi perawan tua/bujang lapuk loh. Memangnya belum laku-laku yah? Sebenarnya kamu normal l tidak sih?”

Sudah pasti pertanyaan ini akan membuat kuping seorang lajang menjadi panas, muka merah padam menahan amarah atau malah kentut. Dada bergelora, tangan mengepal tinju, kaki siap melayang bebas ke muka si penanya atau komentator parah ini.

Lama-kelamaan pertanyaan ini bisa membuat seorang lajang yang sudah sedikit depresi dalam penantian menjadi semakin depresi. Dan akhirnya mencari jalan pintas untuk segera membuat perburuan jodoh. Targetnya hanya satu, sesegera mungkin mencari seseorang yang akan dikawini atau mengawini dirinya demi untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan dari seluruh penjuru mata angin.

Pernikahan seperti kehilangan esensinya karena tujuannya bukan lagi untuk membangun keluarga sakinah mawaddah warrahmah. Tetapi untuk masuk dalam standarisasi yang ditetapkan oleh manusia. Agar tidak mendapat malu karena ‘gak laku-laku’ atau ‘perawan tua’ dan ‘bujang lapuk’.

Tak jarang orang-orang beriman memohon-mohon kepada Tuhan-Nya untuk segera diberikan jodoh atau segera menggerakkan hati kekasihnya untuk menikahinya. Tidak hanya memohon, tetapi doa yang mengancam.

Allah adalah Dzat Yang Maha Pemurah. Siapapun yang berdoa kepadanya dengan penuh kesungguhan, pasti akan dikabulkan. Seandainya kamu meminta sekarang juga agar kekasih yang kau cintai untuk menikahimu sekarang juga mungkin akan kabulkan. Tetapi apakah kamu yakin dia adalah seseorang yang tepat untuk menemani hidupmu. Apa kamu yakin waktunya telah tepat? Apa kamu yakin pernikahan akan menyelesaikan masalah dan membuatmu bahagia?

Saya selalu berpikiran positif terhadap Allah. Saya selalu menekankan dalam diri saya bahwa apapun yang diberikan Allah kepada saya adalah yang terbaik. Setiap detik yang diberikan Allah kepada saya adalah waktu-waktu terbaik saya.

Saya belajar untuk berdoa dengan penambahan kata-kata, “Ya Allah berikanlah kepadaku yang terbaik menurut-Mu.” Karena kacamata manusia terlalu buram untuk melihat jauh ke masa depan tentang hal-hal yang terbaik.

Saya tidak ingin seperti teman saya, yang waktu lajang dia terburu nafsu untuk menikah dengan kekasihnya. Hingga dalam setiap doanya dia selalu ‘mengancam’ agar dipasangkan dengan kekasihnya dalam pernikahan. Pernikahan memang terjadi, namun setahun kemudian perceraian memisahkan mereka dengan teramat pahit.

Mungkin saat doa-doa itu mengetuk pintu Ar Rasy. Allah sudah tahu bahwa lelaki itu sangat tidak baik untuk dirinya. Namun kasih sayang Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang tak sanggup melihat hamba-Nya merajuk. Maka dikabulkan juga, namun resikonya harus ditanggung sendiri.

Boleh jadi sebenarnya bila dia mau bersabar sedikit, atau menyerahkan urusan jodohnya kepada Allah tanpa mengabaikan ikhtiar. Allah telah menyiapkan jodoh yang teramat sesuai untuk dirinya. Tetapi teman saya tidak sabar. Cinta telah membutakan matanya, dan dia juga sudah bosan ditanya ‘kapan menikah’. Maka pernikahan tanpa esensi itu pun dilakoninya. Bukan kebahagiaan yang diraihnya, namun kekecewaan yang mendalam.

Kepada pasangan menikah yang belum dikaruniai anak, seringkali dihadang dengan pertanyaan, “Kapan punya momongan?”

Parahnya pertanyaan lama-lama mulai bernada sinis dari orang-orang yang merasa dirinya lebih beruntung daripada orang yang ditanyai. Sepertinya penanya merasa lebih tahu dari Tuhan tentang arti bahagia.

“Kok belum-belum punya momongan? Sengaja ditunda yah? KB yah? Kenapa ditunda? “ Dan banyak lagi pertanyaan yang tidak penting untuk dijawab.

Tidak sedikit pasangan yang bubar jalan saat kelahiran anak pertama. Saya tidak bermaksud untuk mengeneralisasi kasus ini. Namun ini hanya sebagai contoh.

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Albaqarah:216)

Jangan membuat standar kebahagiaan sendiri hingga mendahului Allah. Allah Maha Tahu Yang Terbaik untuk kita semua.

Seorang sahabat saya adalah sosok shalihah. Sudah beberapa bulan ini pertanyaan tentang anak menghantui hari-harinya yang telah menikah selama dua tahun. Rasa kecewa, sedih dan hampir putus asa mendera. Berganti-ganti dengan kepasrahannya sebagai seorang hamba yang shalih.

Mungkin dia tak tahan juga untuk berdoa kepada Allah untuk meminta kehadiran anak yang menurutnya adalah sebuah kebahagiaannya kali ini. Dalam kesungguhan doa-Nya yang mengancam, dia lupa menambahkan kalimat, “….Jika kehadiran anak adalah yang terbaik untukku menurut-Mu. Hadirkanlah anak ke tengah-tengah kami. Jika tidak, siapkan kami dan berikan kami saat yang tepat…”.

Setiap desah nafasnya doanya hanyalah meminta kehadiran seorang anak. Lagi-lagi i Allah yang Maha Pemurah mengabulkannya, namun dengan konsekuensi segala sebab akibat dari doanya. Harap ditanggung sendiri.

Sahabat saya diberikan kesempatan mengandung janin di luar kandungan, tanpa sepengetahuannya. Yang ia tahu, dirinya dalam sudah berada di salah satu kamar operasi rumah sakit untuk mengeluarkan janin di luar kandungan. Setelah mengalami pendarahan parah dan mungkin nyaris dipanggil Allah.

Saya hanya mengatakan hal singkat di masa pemulihannya, “Mungkin ini yang ditakutkan Allah kenapa kamu belum juga hamil. Waktunya belum tepat, kamu akan kepayahan….”

Sahabat saya bertekad untuk tidak lagi mengancam Allah dengan doanya. Dia hanya berikhtiar tanpa harus memaksa. Pasrah karena Allah Maha Tahu yang terbaik untuk Hamba-Nya.

Saya juga hampir terjerumus kepada hal yang sama. Namun hikmah-hikmah yang hadir di sekeliling saya menjadikan saya untuk berhenti menjadi manusia yang egois dalam menetapkan standar hidup. Saya yakin Allah telah menyiapkan sesuatu yang sangat indah. Saya hanya perlu berikhtiar tanpa harus mengancamnya dengan doa.

Setelah Jumat lalu terbakar amarah dan menangis oleh pernyataan sinis yang katanya spontan dari salah seorang teman saya, “Daripada ngurusin kucing mending kamu bikin anak. Kenapa sih gak bikin anak aja?”

Itu bukan pernyataan sinis pertamanya. Sebelumnya dia telah melontarkan pertanyaan dan pernyataan sinis yang sungguh lebih sadis. Saya yakin orang itu sudah lupa.Tapi saya yang sudah berusaha untuk melupakannya tiba-tiba diingatkan kembali oleh kejadian Jumat lalu.

Kali ini saya bisa dengan tegar menyatakan:

“Saya tahu Allah akan selalu memberikan hal yang terbaik untuk Hamba-Nya. Dan saya tidak akan pernah menjalani hidup hanya demi untuk memuaskan 1001 pertanyaan orang. “

Saya yakin setelah kelahiran anak pertama akan ada lagi pertanyaan lain yang siap menghadang dari seluruh penjuru mata angin.

Kapan nih si sulung punya adik? Kapan menyekolahkan? Kapan anaknya jadi sarjana? Kapan menikahkan anaknya? Kapan punya cucu? Dan lain sebagainya.

Hingga pertanyaan berikutnya saat kita di usia uzur adalah, “Kapan nih mati? Kan udah bangkotan, cepetan deh sana! Kuburan dah menanti loh”

Jodoh, kelahiran, dan kematian adalah sebagian dari suratan takdir yang tidak dapat diganggu gugat. Allah telah menyiapkan waktu yang tepat untuk perihal itu. Kalau cepat atau tidaknya seseorang menikah, punya anak-cucu dianggap sebagai sebuah prestasi membanggakan yang merupakan standar kebahagiaan hidup seseorang. Seperti halnya lulus SD/SMP/SMA/Kuliah. Maka seharusnya KEMATIAN juga merupakan sebuah standar kebahagiaan hidup seseorang. Semakin cepat mati semakin baik, sama seperti kasus semakin cepat menikah, punya anak, dll semakin baik.

Jangan pernah menjalani hidup demi untuk menjawab pertanyaan orang! Hanya pecundang yang berlaku begitu. Begitu pun hanya orang-orang kerjaan yang menanyakan hal itu.

Ukuran kebahagiaan seseorang tidak sama satu sama lain. Rezeki seseorang tidak sama satu sama lain. Namun setiap orang bisa berbahagia bila mampu mensyukuri setiap detik yang diberikan Allah kepada kita. Pernikahan, kehamilan, kelahiran, kematian, dll akan indah pada waktunya.

Saya pasti akan segera hamil tetapi bukan untuk menjawab pertanyaan orang perihal ‘kapan hamil?’. Tetapi pada saat yang tepat menurut Allah. Karena saya juga tidak mau dipaksa untuk segera MATI oleh orang-orang gila kurang kerjaan.

“Jadi kapan nih mati???”

*Dilarang menyalin sebagian atau seluruhan artikel ini tanpa seizin penulis, atau mencantumkan nama penulis.

RISMA BUDIYANI

Senin, 08 Juni 2009

PLAGIATOR

Sudah dua hari ini saya dibuat jengkel dengan keberadaan http://maniacstory.blogspot.com Bagaimana tidak? Tulisan saya yang berjudul USTAD KEPARAT BOJONG CAE di copy-paste oleh orang tidak bertanggung jawab MANIAC STORY. Tulisan bertanggal posting 1 Februari 2009 itu nyata-nyata adalah tulisan saya persis, hanya saja diganti judul PISAN. Saya marah, karena orang ini bahkan tidak menyertakan nama saya disitu apalagi permisi dan minta izin. Menyebalkan!!! Saya yakin ini akan sering terjadi di Indonesia. Plagiat sudah merupakan hal biasa di bumi Indonesia.

Saya juga mohon maaf, jika ada gambar-gambar anda yang saya posting disini. Silahkan komentar dan saya akan segera menghapusnya. Terima kasih! Dan semoga MANIAC STORY menyadari kekhilafannya.

Mari kita bumi hanguskan kegiatan plagiat di bumi Indonesia!