Kamis, 24 Juni 2010

MAAFKAN, AKU SELINGKUH



Aku adalah perempuan bersuami , yang sangat mencintai suamiku. Karena hampir tidak ada yang perlu kusangsikan untuk tidak mencintai pangeran tampan yang telah mendampingiku dalam suka dan duka, dalam gelisah dan mendesah, dalam temaram dan terang. Setiap detik desah nafasku adalah hanya wajahnya yang selalu membayangi. Tidak ada yang lainnya.

Aku mencintainya tanpa syarat. Sedang debar hatiku masih sama kerasnya ketika aku pertama kali menjumpainya. Senyumnya menceriakan duniaku, sekalipun saat itu duniaku seperti neraka. Dia memanjakanku dengan segenap perhatian. Seandainya aku meminta bulan sekalipun, dia akan bersusah-payah untuk mendapatkannya asal aku bisa tersenyum.

Dia selalu berusaha keras untuk tidak membuat aku menangis. Satu tetes air mataku jatuh akan membuatnya terluka hingga dia tidak henti-hentinya menyalahkan kebodohannya yang telah menyia-nyiakan anugerah terindah dalam hidupnya.

Baginya, aku adalah anugerah terindah yang pernah ada dalam hidupnya. Dia telah melewati perjalanan panjang untuk mencari seorang bidadari untuk menemani hidupnya yang gersang. Dan akulah bidadari itu.

Tersanjung? Tentu saja aku tersanjung. Dan aku yakin perempuan mana pun akan tersanjung bila kekasihnya, suaminya memujanya setengah mati. Hingga kau sampai tidak tahu lagi, bahwa di sana ada ratusan juta pasangan yang saling mengkhianati pasangannya. Hingga kau pikir bahwa kamu adalah perempuan paling beruntung sedunia.

Apakah aku bahagia? Tentu, tentu saja aku bahagia. Setiap detik yang terlewati ada senyum, canda dan tawa. Aku sudah lupa bagaimana rasanya menangis ketika aku kehilangan sesuatu. Aku sudah lupa bagaimana rasanya kecewa karena aku tidak mendapatkan sesuatu yang aku inginkan. Aku sudah lupa rasanya bersedih. Karena semenjak aku berjumpa dia, yang ada adalah episode bahagia.

Kalau misalkan kisah Sampek – Engtay, Romeo – Juliet, Laila Majnun, Rama-Shinta, Maka kamilah kisah itu. Aku yakin bila sesuatu yang buruk terjadi pada diriku. Pangeranku akan mati perlahan. Atau malah parahnya dia akan mati bunuh diri.

Baginya aku adalah separuh jiwanya. Bila separuh jiwanya pergi, maka dia tidak akan bertahan hidup lebih lama. Sama seperti elang yang setia sampai mati dengan pasangannya.

Baginya aku adalah dunianya. Aku dan segenap pesona yang kumiliki telah mengalihkan dunianya. Telah menutup matanya dari para gadis-gadis muda belia lagi cantik yang berseliweran. Aku…aku…

Ah… Tidak ada lagi yang patut aku ceritakan selain kami adalah pasangan serasi. Kami berharap, cinta kami tidak akan pernah lekang di makan oleh waktu. Biarkan kami mencinta sampai nyawa ini terlepas dari raga. Dan izinkan kami mencinta hingga masanya kami berkumpul di surga.

Hingga pada suatu hari aku bertemu dengan lelaki lain dalam kehidupanku. Lelaki itu tidak lebih tampan dari pangeranku. Tetapi pesonanya seakan mampu mengalihkan sebagian duniaku yang semula dikuasai oleh pangeranku. Bagiku pangeran dan dia adalah dua sosok berbeda yang saling melengkapi.

Namanya James. Entah bagaimana tiba-tiba Tuhan mengirimkan lelaki itu di salah satu episode dalam hidupku. Dan menurutku ini adalah episode yang salah. Mengapa James datang terlambat? Mengapa tidak dahulu ketika aku masih lajang dan belum bertemu pangeran.

James adalah lelaki yang tampan. Dia selalu terlihat percaya diri, dalam setiap kesempatan. Dia seperti tahu apa yang ingin dilakukannya. Aura positifnya terlihat sedemikian kuatnya memancar dan menjadi daya tarik tersendiri. Aku yakin James, mampu memikat siapa saja yang bertemu dengannya. Tidak hanya para gadis lajang, mungkin siapap pun orangnya akan suka memandangnya.

Aku tidak pernah berkenalan langsung dengan James. Tetapi aku mengenalnya. Dan aku yakin semua orang yang tinggal sekomplek dengannya akan mengenalnya tanpa berkenalan dengannya. James memang berbakat menjadi seorang selebritis.

James sangat tampan. Suatu kali aku pernah berpapasan dengan James. Dan Oh Tuhan, bola matanya yang perpaduan biru dan hijau demikian cantiknya menghias matanya. Aku hampir tidak berkedip melihatnya. Tiba-tiba saja, mata coklat pangeranku di rumah yang selama ini aku puja dan aku kagumi, tidak ada apa-apanya dibandingkan mata James.

Aku sampai menghentikan langkahku demi untuk melihat James lebih dekat. Sambil menciumi habis aroma tubuhnya yang harum. Walaupun sebenarnya, wangi James tidak lebih harum dari Obsession for Men-nya Calvin Klein milik pangeran. Tetapi aku menyukainya. Terlihat sekali bahwa James adalah lelaki yang merawat diri.

Aneh, sejak kapan aku menyukai lelaki berkumis? Dahulu aku tidak pernah suka lelaki berkumis yang terlihat sangat kebapakan. Tetapi kumis James, sungguh memikatku. Dan justru kumis itu membuatnya tampak maskulin di usianya yang aku yakin masih muda.

Dan aku masih belum berani berkenalan langsung dengannya. Selain malu, aku juga masih menjaga diri. Apa kata orang kalau seorang perempuan bersuami berkenalan dengan lelaki yang bukan muhrim. Lagipula apa alasan aku untuk berkenalan dengan James?

Tanya PR seperti di masa-masa sekolahku dulu? Tanya laporan revenue penjualan program untuk melengkapi laporan mingguanku? Atau menanyakan mengapa hukum ekonomi tidak lagi bisa menjelaskan keadaan negara kita? ATau malah menanyakan kredibilitas hukum di Indonesia? Ah sepertinya itu terlalu mengada-ada. Jangan-jangan James malah mundur teratur dan lari tunggang-langgang karena aku mendekatinya dengan cara yang aneh.

Dan aku hanya berani memandangnya dari kejauhan. Dalam jarak yang tidak terlalu jauh namun juga tidak cukup dekat. Asalkan dari tempatku berdiri, aku bisa dengan leluasa mengamati James.

Aku sampai hafal jadwal James. Di pagi-pagi buta biasanya James berlari pagi keliling kompleks. Kemudian sekitar jam setengah tujuh pagi. James akan berdiri di sekitar taman, mengamati orang-orang yang berlalu-lalang. Aku tidak pernah tahu James sebenarnya bekerja sebagai apa? Dan dimana? Tetapi aku tidak peduli dan tak perlu tahu.

Akhirnya aku memajukan sedikit jam pergi ke kantorku agar aku bisa melihat James pada jam-jam itu. Suatu kami pangeran curiga, mengapa kini aku berangkat pagi lebih cepat dari biasanya. Dan aku hanya berkelit,

“ Pekerjaan kantor sibuk sekali…” Kemudian aku mengambil tas dan laptop-ku, kemudian menciumnya mesra.

“ Dagh…honey, sampai sore nanti…” Kemudian aku dengan tergesa-gesa meninggalkan halaman rumah diiringi tatapan heran pangeran. Aku berharap semoga Pangeran tidak curiga oleh perubahan sikapku yang lebih ceria dan selalu berangkat pagi hanya demi melihat James.

Suatu kali pangeran memaksa, “Hari ini aku antar kamu ke kantor?”

Oow…. Gawat…! Aku sedikit gugup, namun aku berusaha menguasai diriku. “ Gak usah sayang, nanti kamu telat ke kantor.”

Padahal aku tahu kalau pangeran sudah memanaskan mobil semenjak pagi buta, hanya demi mengantar aku bidadarinya. Namun aku memutus harapannya dengan merajuk.

“ Tapi ini kan hujan sayang…” Pangeran lagi. Aku tersenyum mesra, kemudian menggelendot manja pada pangeran.

“ Cuma gerimis, nanti aku bisa naik taksi.” Aku sambil memeluk pangeran.

Pangeran agak berat membiarkan aku.

“ Boleh ya sayang?” AKu merajuk. Lama menunggu jawaban, Pangeranku mengkerutkan dahinya seperti menimang-nimang. Kemudian dia menatapku yang sedang memasang tampang memelas. Dia agak ragu sebelum akhirnya memutuskan untuk membiarkan istrinya pergi sendiri. Pangeran tersenyum, dan mengangguk.

“ YES !” Dalam hatiku berseru, sambil melonjak kegirangan. Tentu saja aku tidak mau membiarkan suamiku mengetahui rencanaku. Tentang aku yang sengaja menolak suamiku untuk mengantarku. Karena sebenarnya aku ingin melihat James. Aku pun mencium bibir suamiku dengan cepat.

“ Thanks honey…” Suamiku tersenyum, kemudian kedua tangannya menegakkan kepalaku dengan lembut, agar dia bisa dengan leluasa menciumku keningku. Kupeluk dia dengan erat untuk yang terakhir kalinya. Sebelum aku meninggalkannya dan menyambar tasku.

“ Don’t you want to call cab, beloved?” Tanya suamiku lagi.

“ Ya biar aku stop taksi di depan jalan. Kalau telpon takutnya kelamaan.” Aku menjawab dengan spontan, sambil mataku pura-pura sibuk mencari sesuatu dalam tasku. Aku tidak ingin pangeranku melihat mataku. Karena kalau dia sampai melihatnya, dia akan tahu bahwa aku sedang membuat alasan.

“ Okey honey….I’m going. Assalamualaikum…” Aku berlalu meninggalkannya dengan sedikit terburu-buru. Karena aku takut aku tidak bisa melihat James lagi, karena dia sudah masuk ke dalam rumahnya atau malah sudah pergi meninggalkan rumah.

“ Jemput gak?” Suamiku setengah berteriak.

Aku menghentikan langkahku dan menatapnya sambil memperagakan gerakan menelpon dan bibir komat-kamit, “I’ll call you…” Pangeran mengangguk. Aku pun tidak membuang waktu lagi. Aku segera berlari meninggalkannya. Ah, mungkin pangeran sedikit curiga mengapa aku begitu bersemangatnya meninggalkan rumah demi kantor.

Aku mempercepat langkahku namun tidak berjalan lurus ke depan jalan raya, tetapi memutar arah menuju blok yang berbeda. Agar aku bisa melewati rumah James. Sengaja aku memperlambat langkahku, sambil mataku menatap sekeliling kalau-kalau ada James di situ. Aku sampai harus menghentikan langkahku agar aku bisa melihat dengan jelas ke arah rumah besar berpagar putih.

Benar saja apa yang aku khawatirkan. James sudah pergi. Jam segini pasti James sudah ada jadwal lain. Karena didorong oleh rasa penasaran, akhirnya aku mendekati rumah James. Dari balik jeruji pagar besi berwarna putih itu, aku melihat sebuah mobil merci E-Series dan sebuah mobil Nissan X-Trail yang masih terparkir di halaman rumahnya.

Ups, mobilnya masih lengkap ada kemungkinan si Mata Biru ada di dalam. Mataku menyelidik, menembus jeruji pagar. Tetapi aku tidak melihat siapa pun di sana. Agak lama aku menunggu, hingga aku melirik jam tangan yang melingkar di jemari tanganku.

“Ha?!? Jam setengah delapan…” Aku terkejut setengah mati. Hari ini aku ada jadwal meeting tepat jam setengah Sembilan. Aku bisa telat… Buru-buru aku berlari meninggalkan rumah James.

Sehari tanpa melihat James adalah hal yang paling mengerikan bagiku semenjak mengenal James. Makanya setiap pagi aku berusaha meluangkan waktu mengintip James. Melihat tampang James yang innocence adalah sensasi tersendiri. Efeknya sangat dahsyat. Dadaku berdebar hebat, sama seperti gadis kecil yang baru saja mengenal cinta. Melihat James di pagi hari sudah seperti ritual yang harus dilakukan.

Berminggu-minggu aku hanya berani menjadi penggemar rahasia James. Aku mengagumi James dalam diam. Bahkan aku pikir aku benar-benar telah jatuh cinta. Dan aku merahasiakannya. Hanya aku dan Tuhan saja yang boleh tahu, bahwa aku jatuh cinta lagi.

Suatu kali aku mencoba mendiskusikan perasaanku yang teramat musykil ini pada sahabatku di kantor, Selvi. Sorot matanya tajam menatapku.

“ Kamu memang benar-benar sudah gila! Tidak waras!”

“ Cinta yang membuatku gila, Vi.” Aku membela diri.

“ Cinta?” Selvi menatapku dengan pandangan yang meremehkan.

“ Iyah cinta….perasaan yang sama ketika hati kamu tertambat pada seseorang…”

“ Suamimu tahu?”

Aku hanya menggeleng pelan. “ Tidak…tidak akan kuberitahu. Tadinya aku hanya ingin menyimpan rahasia ini sendirian, hanya aku dan Tuhan saja yang tahu. Sekarang ada kamu, maka ini rahasia segitiga. Hanya aku, kamu dan Tuhan. Berjanjilah padaku, kamu tidak akan mengkhianati kepercayaanku!” Awalnya Selvi ragu, hingga akhirnya dia mengangguk juga.

“ Aku ingin memeluknya….”

Kontan saja Selvi mendelik mendengar perkataanku tadi.

“ Iyah…memeluk, dan kalau boleh menciumnya…” Aku menambahkan.

“ Kau gila!” Selvi membentakku.

“ Ya itu dia, aku sudah gila.”

“ Aku pikir kamu mencintai pangeranmu seorang.”

“ Iya…aku masih mencintai pangeran. Tidak berkurang kadarnya sedikit pun. Tapi itu bukan berarti aku menutup diri pada cinta yang lain.”

Selvi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatapku. AKu tersenyum sinis.

“ Aku juga ingin memilikinya.”

Mulut Selvi terbuka lebar, dia begitu shock dengan apa yang didengarnya. “ Memilikinya?”

“ Yah…” Aku tidak ragu.

“ Pangeran?”

“ Iyah….dia tetap pada tempatnya begitu juga James.”

“ Ku pikir kamu sudah diguna-guna. Kamu bukan sahabat yang kukenal. Aku hampir-hampir tidak percaya kalau aku sedang berbicara dengan….”

“ Kupikir James bisa mengisi kesenyapan kala suamiku tidak ada di rumah.” Aku tersenyum sinis lagi. Dan Selvi mengangguk pelan.

“ Ah terserah kau sajalah! Aku tidak mau ikut-ikutan…” Selvi lepas tangan. Maka semenjak saat itu, aku tidak lagi membicarakan perkara hatiku pada Selvi. Aku lebih senang menyimpannya dalam hati. Tentang kisahku dan James. Biar saja rahasia ini hanya aku dan Tuhan saja yang tahu.

Bayangan James benar-benar tidak pernah lekang dari alam pikiranku. Senyum manisnya, mata biru-hijaunya, tangan dan kakinya yang berbulu panjang, harumnya, badannya yang terlihat sedap dipandang, dan segenap kelebihan lainnya.

Bahkan bayangan James hampir tidak mau pergi, walau pun aku sedang berdua dengan suamiku. Mungkin ini yang namanya jatuh cinta. Selalu teringat pada sang pujaan hati.

Suatu kali aku berkesempatan untuk berkenalan secara langsung. Aku menyentuh tangannya. Lembut sekali. Seperti ada aliran listrik maha dahsyat ketika aku menyentuh tangannya. Aku senang berlama-lama menyentuh tangannya. Karena dengan begitu, aku bisa memuaskan mataku dengan memandang wajahnya yang tampan, matanya yang biru-hijau.

Dan sejak saat itu. James selalu menungguku di depan rumahnya. Dia akan mempersembahkan senyum termanisnya untukku. Senyum yang menceriakan pagiku. Senyum yang tidak pernah bisa aku lupakan.

Lama berkenalan dengan James, membuat aku jadi tahu benar kesukaan James. Tentang wewangian kesukaan James, makanan favoritnya, sampai tentang hal-hal yang paling membuatnya jengkel.

James suka sekali ikan. Maka hampir tiap hari aku menyiapkan sushi segar untuknya. Mata James berkerjap-kerjap ketika aku memberikan ikannya. Tak henti-hentinya dia mencium tangan kananku ala pangeran dari kerajaan antah berantah yang sedang memperlakukan seorang putri. Romantis….

Semakin dekatnya hubunganku dengan James, membuat hubunganku dengan suami semakin renggang. Demi James, aku hampir tiap hari memasak ikan. Makanan yang paling dibenci pangeranku. Dan tentu saja pangeranku terlalu baik. Dia tidak akan pernah protes tentang apa yang aku suguhkan. Makanya pangeran adalah pria tersabar seantero jagat. Dia hampir tidak pernah marah.

Sepintar-pintarnya menyimpan bangkai, pasti suatu saat tercium juga. Dan suamiku akhirnya mencium gelagatku yang aneh. Tentang aku yang tiba-tiba menjadi sering berangkat ke kantor lebih pagi, tentang aku yang tiba-tiba menyukai ikan, tentang aku yang agak acuh tak acuh dengannya.

“ Sayang….can we talk?” Suatu kali suamiku bertanya kepadaku yang sedang asyik memonopoli remote control. Tanpa menoleh dan sambil memencet-mencet tombol remote. Aku menjawab asal.

“ Ngomong aja!”

“ This is serious…” Suamiku masih berusaha lembut.

“ Yah…I’m ready to listen.” Aku masih tetap acuh tak acuh.

“ Honey!” Pangeran sudah mulai membentak, terpaksa aku pun menoleh dan mematikan televisi. Aku memandangnya dengan perasaan enggan.

“ Kamu berubah…” Katanya lagi.

“ Me? Berubah?” Tanyaku heran. Suamiku hanya mengangguk.

Aku malah tambah bingung, aku menatapnya dengan tatapan penuh tanda-tanya.

“ Yah sikapmu berubah…”

“ Aku?”

“ Iyah….”

“ Sebenarnya ada apa ini? Apakah kau mulai bosan tinggal denganku?” Tanya Suamiku tiba-tiba hingga aku terkejut dibuatnya. AKu mendelik…

“ Ngomong apa sih kamu? Jangan ngaco deh…” Aku mengalihkan pandanganku sambil melipat tanganku di atas dada.

“ Come on honey…I know who you are. Kamu tidak bisa berdusta. Aku melihat gelagat anehmu yang selalu terburu-buru meninggalkan rumah. Kamu juga hampir tidak pernah mau kalau aku antar. Kamu juga jadi lebih sering tersenyum sendiri. Tidak jelas…dan…”

“ Tidak ada yang aneh….Aku biasa saja. Mungkin kamu yang aneh.” Aku masih berusaha berkelit.
“ Apakah ada lelaki lain dalam….” Suamiku ragu-ragu.

Kontan saja aku marah, aku menoleh sambil menatap tajam ke arah suamiku. “ Maksud kamu aku selingkuh? “ Sorot mataku menatap jauh ke dalam matanya, menguliti setiap dusta yang barangkali tersembunyi. Atau sejumput keraguan yang membuat pendapatnya tidak lagi diakui validitasnya. Tetapi semakin aku melihat matanya, semakin aku tidak menemukan keraguan atau pun dusta. Aku menunduk, sambil menghitung kancing. Dalam hatiku bergulat hebat memikirkan langkahku. Apakah aku harus menceritakannya atau hanya menyimpannya saja sendirian?

Kami dalam diam agak lama. Suamiku duduk di depanku sambil mengamati, menanti dengan sabar agar bicara. Aku mengangkat wajah dan menatapnya. Aku meminta dukungannya untuk menceritakannya. Suamiku hanya mengangguk, berusaha untuk sabar.

Kutatap lagi wajah suamiku. Sebenarnya berat sekali untuk mengatakannya. Tetapi ini harus aku lakukan, karea suamiku sudah mencium semuanya.

Aku menghirup nafas kuat-kuat, kemudian melepaskannya perlahan. Demi membentuk sebuah kekuatan dalam dirikju untuk berkata jujur.

“ Benarkah ada lelaki lain dalam hatimu?” Suamiku menyadarkan lamunanku sejenak. Aku mengangguk pelan sambil menunduk. Aku lihat suamiku menahan diri.

Pertanyaan berikutnya adalah….

“ Dengan siapa?”

“ Bagaimana kamu kenal dia?”

“ Apakah kamu mencintainya?”

“ Apakah kau tidak mencintaiku lagi?”

“ Mengapa kau lakukan ini dan itu?”

“ Apakah dia lebih daripadaku…?”

Dan segudang pertanyaan lainnya yang bernada investigasi. Lagi-lagi aku menghela nafas kuat-kuat sebelum menjawab serentetan pertanyaan itu.

“ Namanya James. Dia tinggal tidak jauh dari komplek kita. Kupikir aku sudah jatuh cinta dengannya…” Muka pangeran merah padam berusaha menahan diri dan membiarkan aku menggunakan hak bicaraku.

“ Aku salah apa? Dimana kurangnya aku?” Nada suara suamiku mulai terdengar bergetar.

Aku menatapnya, “ Tidak, tidak ada yang salah dengan kamu. Kamu masih sosok yang sempurna di mataku.”

“ Lalu apa lebihnya James?” Tanyanya lagi dengan nafas memburu.

“ Tidak, bagiku kau dan James berbeda…”

“ Dia lebih tampan, putih, tinggi, kaya atau apa?” Suamiku mulai memaksa, kini matanya memerah.
“ Dia tidak lebih tampan darimu, tetapi dia memiliki mata biru yang indah…”

“ Oh jadi itu masalahnya, mataku tidak sebiru dia?”

Aku menggeleng pasti.

“ Tidak…ini bukan tentang mata biru….”

“ Baiklah apa yang dia miliki sedang aku tidak memilikinya? Apa kelebihannya di banding aku?” Suamiku berusaha berbicara walau dengan nafas tercekat.

“ Karena….”

“ Karena apa?” Suamiku tidak sabar.

“ Karena kau dan James berbeda, dan kalau bisa aku juga ingin memiliki James agar aku tidak hanya menjadi penggemar rahasianya yang harus mencuri waktu hanya untuk mengintipnya.”

“ Katakan sejujurnya! Apa lebihnya dia dibandingkan aku!” Suamiku mulai agak marah. Intonasinya meninggi dengan suara yang lebih keras. Aku mulai tidak nyaman. Tadinya aku bersikeras untuk tidak mengatakan siapa sesungguhnya James kepada suamiku. Aku hanya ingin menyimpannya dalam hati sampai waktunya tepat. Tapi kurasa ini adalah waktunya. Aku pun menyerah.

“ James….”

“ Cepat katakan! Jangan buat aku kesal !” Suara suamiku membuat hatiku kecut.

“ Karena James bisa mengeong, bulu abu-abunya yang panjang begitu indah. Mata birunya terlihat cantik….dan kalau bisa aku ingin memiliki dia bersamamu.”

Dan suamiku melongok, menyadari kalau saingannya sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding dirinya.

“ Maafkan, aku telah berselingkuh. “

Aku sudah hampir tidak bisa lebih lama lagi menahan tawa. “ Kalau boleh izinkan James kucing Persia di blok sebelah, untuk tinggal bersama kita, menggantikan si Ciprut yang sudah mati.”

Dan suamiku pun pingsan…..


Jakarta, 24 Juni 2010
Risma Budiyani

(Dilarang menjiplak atau mempublikasikan tulisan ini tanpa seizin dan mencantumkan nama penulisnya).

Minggu, 20 Juni 2010

JANGAN AMBIL MALAIKATKU




Suatu kali saya pernah menonton acara Oprah Winfrey di televisi. Kala itu Oprah sedang membahas definisi ‘jodoh’. Selama ini kita mungkin berpikir bahwa kata ‘jodoh’ hanya digunakan untuk melabeli pasangan hidup kita, suami atau istri. Jodoh adalah belahan jiwa yang tidak akan pernah terpisahkan sampai maut sendiri yang memisahkan.Sedang seseorang yang sudah sekian lama bercinta dengan kekasihnya atau pasangan hidup resminya, namun kemudian oleh karena suatu sebab mereka terpisahkan oleh suatu keputusan cerai misalnya. Orang langsung terburu-buru mengatakan, “ Yah namanya belum jodoh…”

Benarkah jodoh seperti itu?

Saya tertarik ketika Oprah dan bintang tamu yang merupakan narasumber berkompenten merumuskan definisi jodoh. Di acara itu jodoh berarti seseorang yang datang dan memberi warna dalam kehidupan kita dalam kurun waktu tertentu. Tidak mesti harus sehidup semati. Bisa saja jodoh itu hanya berbilang hari, bulan, maupun sampai bertahun-tahun. Tidak sedikit juga yang berjodoh sampai mati.

Kemudian dikatakan lagi bahwa jodoh tidak hanya untuk seseorang yang memiliki hubungan cinta kepada kita. Jodoh bisa siapa saja, asal dia pernah datang dan memberi warna dalam hidup kita pada masa tertentu. Dia bisa saja teman sepermainan, tim sekerja, guru, orang asing, bahkan mungkin hewan-hewan peliharaan yang memberi kesan teresendiri dalam kehidupan kita. Dan Manusia biasanya memiliki lebih dari satu jodoh selama hidupnya.

Awalnya saya agak bingung dengan definisi itu. Karena saya mencoba menetralkan pikiran saya akan definisi jodoh yang sebelumnya saya terima. Kalau saya boleh menyimpulkan, jodoh adalah seseorang yang bisa memberikan euphoria ‘click’ di dalam hati kita ketika bertemu dengannya. Dari reaksi ‘click’ itu kemudian berkembang menjadi suatu kedekatan yang sangat monumental. Dan ketika dia pergi, kita merasakan ada sesuatu yang hilang dan menyadari bahwa dia telah memberi warna dalam kehidupan kita.

Ingatan saya pun melayang pada para sosok malaikat yang datang dan pergi dalam kehidupan saya. Saya berpikir mungkin mereka-mereka inilah jodoh-jodoh saya.

Sepanjang usia saya, saya ingat beberapa nama yang mendapat tempat khusus dalam hati saya. Mereka-mereka ini meskipun kehadirannya amatlah singkat, namun mewarnai hidup saya. Bahkan tak jarang di antara mereka yang membentuk karakter positif dalam diri saya.

Saya menamai mereka ‘Guardian Angel’ atau ‘Malaikat Penjaga’. Tentu saja mereka tidak seperti tampak malaikat dalam dongeng-dongeng, yang selalu berjubab putih, memiliki sayap putih dan bermahkota, senyumnya lembut menghangatkan. Tidak tentu saja tidak. Saya juga tidak mau menyamakan dia seperti malaikat sesungguhnya dalam kitab-kitab suci. Demi Tuhan, saya tidak mau dianggap sedang meracau tidak jelas dan dituduh membawa aliran sesat.

Malaikat-malaikat saya adalah orang-orang biasa tanpa sayap yang telah memberi arti dalam kehidupan saya. Mengapa saya menamakannya malaikat?

Karena mereka terlalu baik, hingga saya tak punya ide lagi bagaimana menamakan orang-orang istimewa ini. Saya menganggap dan membayangkan mereka benar-benar sesosok malaikat yang mungkin saja dikirim Tuhan untuk menjaga saya.

Sepanjang hidup, pasti kita pernah dihadapkan pada ujian kesabaran yang terkadang membuat kita harus berlinang air mata, tanpa tahu kemana harus bercerita. Selain mengadu ke Sang Pencipta, manusia terkadang membutuhkan manusia lain untuk berbagi. Karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian. Manusia membutuhkan seseorang yang bisa mendengarkan keluh-kesahnya, menjadi bahu untuk bersandar ketika menangis, menemani dalam senyap yang tak berujung, mengingatkannya agar tidak salah langkah, sekaligus menyemangatinya.

Dan saya pikir setiap Tuhan memberikan cobaan, Dia tidak serta-merta hanya memberikan cobaan tanpa rencana baik di dalamnya. Begitupun Tuhan tidak memberikannya terpisah dari solusi dan bagaimana mendapatkan solusi tersebut. Tuhan mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk membantu Hamba-Nya. Tuhan tidak membiarkan Hamba-Nya sendirian mengatasi perkara.

Dan kita tidak pernah tahu kapan malaikat penolong itu datang atau menebak-nebak jati diri sang malaikat sebelum malaikat itu pergi dalam kehidupan kita. Kita baru menyadari betapa berjasanya dia dalam hidup kita.

Pernah tidak, suatu kali anda sedang terjepit dan amat sangat membutuhkan uang. Anda tidak tahu harus kemana. Hingga tiba-tiba ada salah seorang teman anda datang meminjamkannya. Padahal hubungan pertemanan anda dengan dia mungkin belum terlalu dekat. Tetapi bagaimana mungkin justru dia yang datang membantu.

Pernahkah suatu kali saat anda sedang dirundung masalah yang teramat pelik, dan anda tidak tahu bagaimana menyelesaikannya selain anda mengadu pada Illahi Rabb. Tiba-tiba anda berkenalan dengan seseorang yang serta-merta memecahkan permasalahan anda.

Pernahkah anda tersesat di suatu daerah yang teramat asing untuk anda, dan anda sama sekali tidka mengenal siapapun di sana. Tetapi tiba-tiba ada seseorang yang menunjukkan arah.
Pernahkah anda sedang membutuhkan jawaban dari suatu persoalan, ternyata datang orang yang tidak diduga-duga meenawarkan bantuan.

Pernahkah anda teramat kehausan dan tidak tahu bagaimana mendapatkan air, tiba-tiba ada seseorang yang menawarkan segelas air dingin untuk melepas dahaga.

Pernahkah anda sedang merasa ‘terbuang’, rendah diri, tak berguna, dan lain sebagainya. Tiba-tiba ada kenalan kamu yang datang dan membangkitkan semangat anda hingga anda merasa menjadi orang baru.

Pernahkah anda bertemu dan berkenalan dengan seseorang di kereta, bis ataupun pesawat yang membuat anda merasa ‘click’ dan seiring dengan perjalanan waktu dia ternyata memiliki andil besar dalam merapikan hidup anda.

Mereka bukan siapa-siapa. Mereka hanyalah manusia biasa yang entah bagaimana, mereka datang tepat pada waktunya. Mereka seperti malaikat penolong yang sengaja dikirim Tuhan untuk menyelesaikan masalah kita. Mereka seperti jawaban dari doa kita.

Mereka datang pada saat yang tepat. Kemudian pergi saat kita tidak lagi membutuhkannya. Seperti ada sebuah kontrak kerja terselubung antara Tuhan dan para malaikat penolong ini. Mereka hanyalah pegawai kontrak waktu tetap, yang bisa dipekerjakan dan diberhentikan sesuai kebutuhan. Saat kontrak kerja itu berakhir, malaikat penolong akan pergi dan meninggalkan saya sendiri lagi setelah saya lepas dari suatu masalah.

Di kehidupan saya, ada banyak sekali malaikat yang datang dan pergi. Namun hanya beberapa yang saya ingat. Malaikat itu biasanya amat sangat berpengaruh dalam kehidupan saya selanjutnya. Dan sampai kapan pun saya tak akan pernah lupa pada jasanya.

Tentu saja itu bukan berarti saya mengabaikan malaikat lain yang telah datang dan pergi dalam kehidupan saya. Saya tidak sengaja melupakannya, karena malaikat itu datang di episode hidup saya yang sangat silam. Dan saya tidak ingat. Bukankah setiap manusia memiliki ingatan terbatas? Saya harus merelakan ingatan lama saya lenyap sebagian, demi sedikit ruang untuk ingatan baru saya. Pada kesempatan kali ini saya akan memncoba menceritakan sebagian dari malaikat-malaikat saya semenjak saya di bangku kuliah.

Malaikat tanpa sayap saya yang pertama adalah ketika saya adalah gadis lugu yang tengah jatuh cinta pada kekasih maya bernama Saiful Malook. Ketika Saiful Malook dengan tiba-tiba lenyap tanpa kabar. Saya yang tengah dirundung asmara tak terima begitu saja pada takdir saya. Begitu sedihnya saya, hingga saya jatuh sakit.

Saya benar- benar seperti sebuah karakter dalam roman picisan. Saya tidak bisa makan, karena setiap saat saya selalu memikirkan kemana perginya Saiful Malook. Saya tidak habis pikir, mengapa Tuhan mengambil Saiful Malook dari hidup saya tanpa permisi. Saya meminta pertanggung-jawaban Allah atas perginya dia.

Setelah sekian lama saya tidak mendapat kabar. Saya akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan diplomatik pada pemerintah Pakistan, negara tempat Saiful Malook berasal.

Saya pikir apa yang saya lakukan adalah hal tergila yang pernah dilakukan seorang pecinta. Dengan gagah beraninya saya datang ke Kedubes Pakistan di Jakarta. Saya meminta langsung bertemu dengan Sang Duta Besar.

Awalnya tentu saja, petugas keamanan menghalau saya. Mengingat saya bukan siapa-siapa dan alasan untuk bertemu, sangat tidak masuk di akal. Setelah melalui sedemikian perdebatan, entah bagaimana saya akhirnya bisa masuk ke dalam ruang sang duta besar.

Sang duta besar mempersilahkan saya bercerita. Saya pun mempergunakan waktu berharga saya untuk bercerita dari A-Z tentang Saiful Malook, bagaimana kita bertemu dan betapa saya mengenal Pakistan darinya. Ternyata cerita saya memukau Sang Duta Besar. Karena pengetahuan saya akan Pakistan saat itu cukup banyak. Bahkan saya bisa berbicara lancar dalam Bahasa Urdu.

Sungguh tidak disangka-sangka, beliau menerima saya dengan baik. Bahkan Sang Duta Besar yang kebetulan berpangkat Mayor Jenderal dan pernah menjadi atasan dari Presiden Pervez Musharraf, berjanji untuk mengerahkan bala bantuan dalam pencarian Saiful Malook di Peshawar.

Proses pencarian tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya tidak segera mendapatkan titik terang hingga bertahun-tahun kemudian. Namun saya tidak peduli. Saya tetap memupuk harapan bahwa suatu kali saya akan menemukan Saiful Malook yang entah ada dimana. Begitu besarnya pengharapan saya, hingga skripsi saya pun mengambil tema yang tidak jauh-jauh dari Pakistan.

Saya menganggap Sang Duta Besar itu adalah seorang malaikat yang dikirim oleh Tuhan ke bumi untuk menolongku. Siapapun beliau, ia pasti orang suci yang tak sampai hati melihat orang lain menderita. Siapapun orangnya. Walau pun saya hanya seorang gadis kecil yang bukan anak pejabat tinggi.

Tak banyak yang saya ketahui dari malaikat saya. Selain bahwa dia adalah seorang pisces sejati. Seperti kebanyakan pisces, dia lebih suka berada dalam dunia mimpi dibandingkan dalam dunia nyata. Tipikal yang lemah dan sensitif untuk masalah hati. Seseorang yang bisa menangis jika sahabat baiknya bersedih dan patah hati. Dan ia akan merasa sangat bahagia jika teman baiknya mendapat kebahagiaan walaupun hal itu sama sekali tidak berhubungan dengannya. Seperti juga aku. Mungkin karena itu beliau empati kepada saya yang juga pisces.

Dan malaikat saya pergi setelah saya bisa bangkit dari kesedihan saya akan kehilangan cinta. Setelah saya menyelesaikan skripsi dan menyelesaikan kuliah saya. Setelah saya menyelesaikan novel pertama saya.

Malaikat saya berikutnya, adalah salah seorang teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) saya yang sering membuat menangis dan kesal. Di minggu-minggu awal pertemanan kami di Desa Bojong Cae. Saya berasa hidup dalam neraka.Karena setiap hari ketua kelompok kami di Desa Bojong Cae yang biasa saya panggil Abang selalu mencari perkara yang membuat saya menangis. Sebetulnya saya tidak serta-merta menyalahkan dia karena telah membuat saya menangis. Pada saat itu saya belum terbiasa tinggal serumah dengan orang yang memiliki watak keras dan tidak bisa berbicara lembut. Saya akan beegitu mudahnya menganggap dia sedang memarahi saya. Maklum, Abang ini adalah orang Batak Tulen yang terbiasa berbicara keras dengan intonasi yang tegas dan tidak suka berbasa-basi.

Di masa KKN itu, kebetulan saya ditaksir oleh pemuda pujaan Desa Bojong Cae yang kebetulan adik kepala desa. Lelaki itu sedemikan agresifnya mendekati saya, hingga saya merasa jengah. Namun sebetulnya kami justru bisa mengambil keuntungan dari lelaki ini. Karena sedemikian naksirnya dia dengan saya, hingga dia tidak sampai hati membiarkan tim kami yang terdiri dari lima orang termasuk saya kelaparan. Setiap hari selalu ada saja bingkisan makanan untuk rumah kontrakan kami di dusun. Bahkan kami seringkali ditolong oleh lelaki yang juga ustad kampung. Namun kami memanggilnya dengan sebutan Ustad keparat.

Waktu itu Saya masih terlalu naif untuk bisa menebak tipu muslihat lelaki. Saya layaknya gadis kecil yang tidak tahu apa-apa. Selama proses pendekatan lelaki itu yang terkesan membabi-buta dan terkesan direstui oleh seluruh tokoh desa. Saya tidak kurang pengawasan dan bantuan dari sahabat-sahabat saya di Istana Bojong Cae.

Bojong Cae desa yang kecil. Tidak ada yang rahasia di desa ini. Hubungan antara Saya dan Ustad keparat tersebar luas. Padahal Saya sama sekali tidak tahu apa-apa. Dengan skenario yang terorganisir, Saya masih saja didaulat sebagai pembonceng tetap lelaki itu. Sekeras apapun Saya menolak. Saya tidak akan bisa menghindari. Karena jumlah motor terbatas. Dan selalu Saya yang mendapat bagian terakhir, dan pengendara motor itu tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Dadang. Lagipula yang menyuruh Saya ikut dengannya banyak termasuk tetua kampung.

Pernah suatu saat Saya tertinggal jauh dari rombongan. Si ustad keparat sepertinya mengendarai motor dengan sangat pelan. Dan dia terus menerus mengajak saya berbincang. Padahal Saya sudah ketakutan setengah mati. Saya hanya berdua saja dengan dia di gelapnya malam. Seandainya terjadi apa-apa dengan saya dan Saya berteriak. Tak akan ada seorang pun yang mendengarnya. Hanya ada rerimbunan pohon, suara jangkrik dan kodok. Mungkin juga derik ular. Dan parahnya saat itu Saya sama sekali tidak membawa telepon genggam.

Saya komat-kamit berdoa seperti merapal mantra, “Audzubillahiminassyaitan ni rrajim. Saya berlindung dari godaan syetan yang terkutuk yang mungkin saja menyelinap di dalam raga lelaki ini”.

Hembus angin malam yang biasanya terasa menyegarkan. Kali ini terasa menusuk kalbu. Saya benar-benar menggigil ketakutan. Saya memperhatikan jalan. Berusaha mengingat-ingat bagaimana tampak jalannya ini bila siang hari. Jadi seandainya terjadi hal buruk, Saya tahu kemana harus melarikan diri. Saya benar-benar tidak konsentrasi lagi pada omongan si Ustad keparat. Saya menyibukkan diri untuk berpikir keras bagaimana menyelamatkan diri.

Tiba-tiba Saya melihat sesosok pengendara motor sambil berjongkok seperti membenarkan motornya. Ya Allah! Semoga itu penolongku. Ya sosok itu kian jelas. Saya rasa Ustad keparat juga melihatnya. Tunggu dulu! Bukannya itu....itu ... Abang. Yah itu abang.

Kami menghampiri abang. Ustad keparat itu berbasa-basi menanyakan gerangan apa yang membuat Abang berhenti di tengah jalan.

“Oh tahu nih tiba-tiba mogok”. Abang menjawab. Maka ustad keparat menghentikan motornya dan menghampirinya.Agak lama juga kami berhenti. Sampai akhirnya motor yang abang tumpangi kembali berfungsi. Ustad keparat kembali ke motornya. Sebenarnya Saya ingin ikut abang, tetapi motor abang tidak menyediakan tempat boncengan. Maka Saya terpaksa duduk lagi di belakang ustad keparat.

Saat Ustad keparat mempersilahkan abang untuk melajukan motornya dahulu. Abang dengan basa-basi malah mempersilahkan kami untuk lewat dahulu. Abang ingin memastikan motornya baik-baik saja. Maka dengan berat hati Ustad keparat melajukan kendaraannya. Saat kami sudah berjalan. Baru abang mengikuti kami dari belakang.

Belakangan Saya baru tahu, bahwa itu adalah tipu muslihat abang. Abang tiba-tiba menyadari motor yang ditumpangi Saya dan si usatad keparat tertinggal jauh dari rombongan. Abang merasa khawatir dengan keselamatan dan kehormatan saya makanya dia melambatkan motor dan berhenti

Berpura-pura motornya mogok tak lain agar dia bisa mengawasi saya dari belakang. Kejadian itu benar-benar tak pernah lekang dari ingatan saya. Sosok abang yang sering membuat saya menangis ternyata telah menyelamatkan saya. Dia adalah malaikat saya. Walau Abang tidak benar-benar lenyap dari kehidupan saya, tetapi saya tidak bisa banyak berinteraksi lagi dengannya oleh karena kesibukan kami.

Malaikat saya yang lain adalah salah seorang teman kuliah saya bernama Dicky. Dicky adalah salah seorang dari teman lelaki terdekat. Dia hampir selalu ada dalam episode hidupku. Saya memang selalu merasa nyaman berbicara dan berada di dekatnya. Walau dia berasal dari daerah yang sama dengan abang. Namun dia memiliki tabiat yang sama sekali berbeda dengan abang. Walau logat Bataknya terdengar kental. Namun tutur katanya lembut. Tak pernah sekali pun kulihat dia marah atau berbicara keras. Bicaranya lembut dan menyenangkan. Dia bisa menjadi pendengar terbaik. Bila Saya bercerita padanya, maka dengan sabar matanya akan mengamati Saya penuh rasa ingin tahu. Membuat Saya yang bercerita menjadi semakin bersemangat.

Beberapa kali Saya pernah meminta pertolongan kepadanya. Dan beberapa kali itu pula ia mengabulkan permintaan saya tanpa banyak komentar. Dari berpura-pura menjadi tunangan saya untuk mengelabui si ustad keparat dari Bojong Cae yang tergila-gila kepada diri saya, bahkan hingga menemani Saya menemui sang duta besar Pakistan. Dia partner setia saya. Saya menyebut-nyebutnya dengan penuh hormat dan penghargaan namanya dalam novel perdana saya sebagai malaikat penyelamat.

Tidak banyak orang yang mau dan punya cukup nyali untuk menemani seorang teman menemui petinggi negara asing untuk urusan apa pun. Mungkin pula mereka akan mundur teratur sedetik setelah Saya minta dengan banyak alasan. Tidak lancar berbahasa Inggris lah, bingung harus memakai baju apa lah, tidak cukup percaya diri lah, dan lain-lain. Maka si Dicky ini adalah lelaki yang memiliki cukup nyali besar untuk menolong siapa pun tanpa pamrih. Dia adalah teman yang teramat menyenangkan hati.

Begitu hebatnya Saya mengelu-elukan namanya di antara Saiful Malook dan nama-nama lain di novelku, membuat banyak pembaca saya yang mempertanyakan kedekatan saya dengan Dicky. Bahkan ketika akhirnya tersiar kabar Saya telah melepas masa lajang. Maka berbondong-bondong email masuk mempertanyakan apakah Dicky yang telah menggantikan tempat seorang Saiful Malook yang malang. Saya tersenyum simpul. Dan di balon-balon imajinasiku bermunculan nama Dicky. Saya sempat berpikir mungkin Dicky adalah tipikal pria idaman bagi saya. Hanya saja takdir berkata lain.

Malaikat saya yang lain adalah Pak Didik, penerbit pertama saya. Saat itu saya adalah penulis baru yang sama sekali awam di dunia kepenulisan dan penerbitan. Bahkan pada masa itu saya belum mengenal dunia per-blogging-an. Saya benar-benar baru dan tidak terdengar. Saya yakin semua orang menyangsikan kemampuan saya menulis. Bahkan saya pun menyangsikannya.

Sebenarnya saat itu saya mengenal satu orang penerbit yang ingin mengorbitkan saya. Tetapi entah bagaimana saya tidak merasa ‘click’ dengan orang itu. Maka di tengah-tengah kebingungan saya setelah menyelesaikan tulisan saya tentang Saiful Malook, saya berselancar di dunia maya. Saya berusaha mencari tahu perihal bagaimana saya bisa menerbitkan tulisan saya.

Entah mengapa, hati saya tergerak untuk mengintip salah satu website yang saat itu saya tidak tahu kalau itu adalah website penerbit. Namanya Escaeva. Saya melihat artikel tentang bagaimana bisa menerbitkan suatu novel. Saya baca dengan cermat artikel itu. Kemudian saya melakukan setiap langkah yang diberikan.

Saya melihat ulang dan merapihkan setiap detil tulisan dengan cermat. Kemudian saya membuat sinopsis mengenai garis besar tulisan saya. Saya juga membuat daftar poin penting mengapa novel ini bernilai jual, termasuk tentang kata pengantar dari salah satu saksi hidup, Sang Duta Besar Pakistan. Saya juga membuatkan satu contoh bab pertama dari bakal novel saya. Keesokan harinya saya mengirimkan email berisi proposal, contoh novel, biodata saya ke penerbit itu.

Eureka! Tidak perlu menunggu lama. Tepat di Hari Juma’at, hari keberuntungan saya. Kabar baik datang. Pak Didik menelpon saya. Kemudian kami mengatur waktu untuk bisa bertemu membicarakan kontrak. Rasanya saat itu dunia adalah milik saya. Semuanya datang tepat waktunya. Dan Tuhan mengirimkan malaikat untuk menjawab doa saya yang ingin segera menunjukkan pada dunia, bahwa saya bisa menulis.

Ternyata malaikat saya saat itu adalah seorang Pisces. Luar biasa, kala itu Tuhan mengirimkan saya dua orang Pisces untuk menjadi malaikat saya.

Pak Didik benar-benar telah membimbing saya, hingga saya bisa meluncurkan novel yang benar-benar mengguncang dunia. Dia menghantarkan saya pada impian terbesar saya saat itu. Ketika saya butuh terapi untuk melupakan Saiful Malook dengan menuliskan kisah kami. Dia menjadi pendukung utama saya. Saya benar-benar menemukan mitra yang luar biasa. Saya merindukan saat-saat kebersamaan kami.

Namun sayang, Escaeva tidak lagi bergerak di lini buku fiksi. Hingga detik ini saya belum bisa meluncurkan buku non-fiksi. Maka saya belum bisa lagi berjalan dengan Escaeva lagi. Saya berharap suatu hari nanti saya akan mengulang masa-masa indah itu bersamanya lagi. Menjadi penulis di bawah bendera Escaeva.

Malaikat saya berikutnya adalah Pak Karim. Dia adalah GM saya di perusahaan terdahulu. Entah bagaimana saya dan dia sedemikian ‘nyambung’-nya walau kami berbeda zaman. Lelaki berdarah Belanda berusia tiga puluh tahun itu tidak suka budaya senioritas yang biasa tumbuh di sebuah perusahaan. Hubungan kami tanpa jarak layaknya teman. Bahkan, sebutan “bapak” begitu menyiksa telinganya. Saya yang agak rikuh memanggil nama seperti rekan-rekan lain yang seumuran dengan atasan saya, akhirnya memakai kata “babeh”. Lebih akrab namun tetap penuh hormat.

Saya menyukai pekerjaan saya dan juga orang-orang di sana. Saya punya alasan kuat untuk bangun pagi dan berangkat ke kantor dengan riang. Mungkin juga karena euphoria seorang pekerja baru. Sama rasanya ketika baru duduk di bangku sekolah menengah. Sama rasanya ketika baru menginjakkan kaki di kampus biru.

Saya karyawan termuda sekaligus satu-satunya perempuan di divisi ini. Tiga orang lainnya adalah pria beristri yang sudah berusia matang. Saya layaknya penggembira di tengah-tengah mereka. Saya juga yang memberikan sentuhan perempuan di ruangan ini.

Saat hari pertama datang ke kantor, Saya membayangkan bakal menjadi perawan di sarang penyamun. Ruangan ini lebih mirip sebuah sarang atau markas para lelaki. Bau asap rokok memenuhi ruangan ber-AC. Exhaust fan dan pengharum ruangan tak mampu melenyapkan bau asap, terutama dari rokok Pak Thomas. Belum lagi hingar-bingar musik Rock sekelas Megadeth, Metallica, atau Black Sabbath yang memekakkan telinga. Kebisingan itu bahkan tidak mampu teredam hingga sampai ke lantai satu. Di minggu pertama, Saya harus terbatuk-batuk akibat alergi asap. Seiring dengan berjalannya waktu, alergi pun lenyap. Saya mulai terbiasa dengan asap rokok.

Kami berempat, sang GM, Pak Thomas, Pak Hafiz, dan Saya adalah tim yang kompak. GM merumuskan tujuan dan target yang akan dicapai lengkap dengan strateginya, sedang para manajer mengerahkan daya upaya untuk mewujudkannya. Saya bertindak sebagai intelijen yang menyediakan semua data-data yang dibutuhkan mereka. Sesekali, Saya juga dilibatkan dalam rapat-rapat penting yang memerlukan negosiasi kepada pihak terkait. Proyek besar batu bara hampir selalu menjadi topik pembicaraan. Kami memiliki hampir semua data, mulai dari cadangan, jumlah produksi, konsumsi, hingga pengangkutan. Rencananya, perusahaan kami akan merambah di bidang itu. Setelah isu konvensi bahan bakar minyak berkembang, banyak perusahaan beralih pada batu bara. Selain lebih murah, kualitasnya pun baik.

Awalnya, perusahaan kami yang bergerak di bidang transportasi hanya mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan pengangkutan batu bara, mulai dari pengangkutan dari tambang menuju terminal di tepi laut dan sungai besar, pengangkutan dengan kapal, hingga pengangkutan dari pelabuhan di pulau Jawa menuju lokasi konsumen. Jika proyek ini berjalan, kami akan benar-benar memiliki tambang sendiri.
Diferensiasi usaha adalah hal yang lazim.

Bukan hal mengherankan bila tiba-tiba perusahaan shipping yang mengurusi kargo bergerak di bidang lain. Toh, semuanya dilakukan untuk mendukung kelangsungan usaha inti sekaligus menangguk untung besar.

Babeh Karim membantu masa transisi saya dari seorang fresh graduate menjadi seorang pekerja sungguhan yang penuh dedikasi. Saya belajar banyak dari dia dan tempat kerja saya. Suatu kali saya pernah menangis sesenggukan karena dimarahi oleh rekan kerja dari divisi yang berbeda karena dia memang terkenal sebagai orang yang tidak memiliki attitude yang baik. Rupanya Pak Thomas yang juga manajer saya mengadu ke bos besar yakni Babeh Karim. Beliau sampai meminta bos dari teman saya yang tidak punya manner itu untuk memperingati orang kurang ajar itu.

Sebetulnya hubungan saya dengan Babeh Karim dan manajer lainnya sangat baik. Pak Thomas dan Pak Hafiz tidak kalah baiknya dengan saya. Kami memang tim yang sangat kompak. Saya sampai berpikir saat itu Tuhan mengirimkan 3 malaikat sekaligus dalam kehidupan saya. Saya berada dalam satu fase yang paling nyaman saat itu. Bekerja dengan para malaikat.

Begitu lengketnya hubungan kami, sampai kami merasa kami tidak berada dalam lingkungan pekerjaan. Tetapi persahabatan, bahkan lebih mirip seperti saudara. Kami sering kali menghabiskan waktu untuk liburan bersama. Tidak hanya dengan mereka bertiga tetapi juga dengan istri dan anak-anak mereka. Dan biasanya kami juga mengajak Mbak Tini, office girl kesayangan kami.

Ketika akhirnya Babeh Karim pergi ke tempat yang bisa menghargai dia lebih baik dari perusahaan kami. Saya adalah orang yang paling merasa kehilangan. Saya sedih bukan kepalang. Mungkin karena tipikal dari seorang pisces yang bisa dengan mudah menjadi ’mellow’ dan sensitif. Karena dia bukan hanya sebagai bos, tetapi juga mitra, sahabat dan kakak saya. Kami pernah terlibat proyek rahasia dalam bisnis ekspor-impor. Bahkan dia juga yang membantu saya menemukan passion saya akan dunia tulis menulis.

Hingga detik ini kami sudah berpisah. Hubungan saya dengan dia masih terjalin baik. Saya masih bisa meminta pertolongan dia, begitu pun dia. Namun sudah pasti semuanya berbeda. Tidak seperti dulu.

Malaikat berikutnya adalah seorang India yang kebetulan adalah sahabat pena saya. Saya memanggilnya Surya, karena dia seperti surya yang menerangi hari setelah kegelapan. Saat itu memang saya sedang dalam masa krisis kepercayaan diri. Dan dia membangkitkan kembali semangat saya sekaligus menemukan saya pada mimpi-mimpi saya.

Lama menjadi sahabat pena namun kami baru bertemu tanggal 1 April 2006. Suatu hari teman saya yang pernah bekerja sebagai tim ahli Microsoft Amerika ini menyurati saya bahwa dia akan singgah di Jakarta sebelum mengikuti konferensi IT di Singapura. Berbekal surat terakhir, saya pun datang menjemputnya di Bandara pada hari yang disebutkan. Tanggal 1 April 2006 tepat pada jam 10 pagi.

Saya hampir meninggalkan bandara, karena lewat pukul dua belas siang. Dia belum juga datang. Saya hampir berpikir bahwa itu adalah gurauan ala April Mop. Saya tak henti-hentinya menyalahkan kebodohan saya. Namun entah dorongan darimana, ada keyakinan dalam hati saya bahwa Surya tidak berdusta. Saya menunggunya hingga telepon genggam saya berdering tepat jam satu siang.

” Budi where are you?” Surya memang lebih suka memanggil nama tengah saya sebagai panggilan kesayangan.

” Surya....where are you?”

” In US....” Dia diam dan kemudian dia meralat.

” Ofcourse in airport Jakarta as i told you.” Dia terkekeh, saya menghela nafas lega. Berbekal ingatan saya akan fotonya, saya mencari dia. Ternyata dia yang mengenali saya, dan memanggil saya dari kerumunan.

Itu adalah pertemuan paling aneh dalam hidup saya. Kami hanya bertemu muka selama lima jam saja. Di akhir pertemuan sebelum kami berpisah di bandara, dia memberikan saya sebuah buku berjudul ” The Power Of Subsconscious Mind” karangan Joseph Murphy. Buku luar biasa dengan sampul putih yang telah mengubah hidup saya untuk selamanya.

Dia sempat berkata, bahwa buku itu telah menginspirasi dirinya dan sekarang sudah waktunya buku itu berpindah tangan kepada orang yang lebih berhak, yaitu saya. Dia tahu kalau saya sedang berada di titik nol.

Slogan saya, ’You Are What You Think All Day Long. Think good, good follows, think evil, evil follows’ adalah kata-kata yang saya ambil dari salah satu kutipan buku itu. Kata-kata ajaib yang mengubah saya selamanya menjadi pribadi yang positif. Saya selalu berusaha memupuk diri untuk memandang segala sesuatu dari sudut pandang positif. Karena segala sesuatu yang akan terjadi nanti, bergantung dari apa yang kita pikirkan sekarang. Kalau kita berpikir buruk, maka keburukan yang akan kita dapatkan. Sebaliknya bila kita berpikir positif, maka kecemerlangan yang akan kita dapatkan.

The treasure house is within you. Look within for the answer to your heart’s desire.

Never use such expressions as, ’I can’t afford it’ or ’I can’t do it’. Your subsconscious mind takes you at your word. It sees to it that you do not have the money or the ability to do what you want to do do. Affirm, ’I can do all things through the power of my subsconscious mind.’

You are like a captain navigating a ship.

The law of life is the law of belief.

Dan kalimat-kalimat positif lainnya yang menginspirasi saya. Saya percaya bahwa selain ketetapan QADHA, takdir yang tidak bisa diubah lagi seperti kiamat, jenis kelamin, kematian, kelahiran, dll. Sisanya adalah konsekuensi dari pilihan hidup. Tidak ada yang tidak mungkin untuk diwujudkan kalau kita percaya. Kita bisa mengubah hidup kita menjadi apa yang kita mau dengan seizin Tuhan.

” Tuhan tidak akan mengubah mengubah nasib suatu kaum bila kita tidak mengubahnya sendiri.” (Ar Ra’d: 11)

Tuhan berbuat sesuai dengan prasangka hambanya, berdoa, berharap dan berusahalah sekeras mungkin. Dan kamu akan mendapatkannya.

Sedang bila kita tidak juga mendapatkan apa yang kita inginkan padahal kita sudah berusaha sekeras mungkin. Percayalah bahwa Cuma Tuhan yang tidak akan pernah mengecewakan kita, saat semua hal yang ada di dunia ini berkali-kali mengecewakan kita. Anggap itu sebagai sebuah keberhasilan yang tertunda. Kebaikan dari Tuhan, Karena Tuhan Maha Tahu Yang Terbaik untuk kita.

Saya berhutang besar pada Surya. Sayangnya Surya seperti lenyap begitu saja di telan bumi. Saya tidak tahu bagaimana menghubungi dia. Tetapi saat saya jatuh dan sedih, dia hampir selalu menghubungi saya. Saya sempat berpikir jangan-jangann Surya adalah malaikat dalam arti sebenarnya. GHAIB.

Kalau saya bertemu dia, saya ingin katakan bahwa saya sudah menjadi pribadi yang positif. Saya telah mewujudkan hampir semua impian saya, termasuk menulis buku. Saya ingin dia membaca salah satu tulisan saya, agar dia tahu betapa dia telah mengubah saya.

Malaikat berikutnya adalah seseorang Pemred dari sebuah majalah Islam yang saya temui secara tidak sengaja di dunia maya. Ketika saya sedang menyelesaikan novel The Chosen Prince. Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada sebuah nama dari sekian banyak artikel yang melukiskan siapa dia. Dan ternyata tanpa disangka-sangka, nama itu mengundang saya untuk menjadi temannya di facebook. Dan pertemanan kamipun dimulai.

Dia seperti pendengar setiap ide-ide gila saya untuk buku-buku saya. Saya banyak berdiskusi dengan dia tentang banyak hal. Saya memaksa dia untuk membaca habis ’The Chosen Prince’ sebelum siapapun juga. Padahal tebalnya beratus-ratus halaman. Dan dia dengan sabar meneliti satu persatu,mengkritik, dan memberi saran.

Setelah selesai, saya masih terus mengganggunya dengan sekian banyak pertanyaan tentang hidup dan juga tentang ide-ide saya. Dari perbincangan kami, saya sempat membuat draft untuk novel berjudul ’Airport’ dan ’Kali-Kali Laki-Laki’ yang entah kapan saya akan menyelesaikannya. Karena saya sedang jatuh cinta dengan tokoh Ramzi dan Ali dalam ,Catatan Harian Laila. Setelah sebelumnya berjibaku dengan ’Istana Bojong Cae’. Dia pula yang membuat ide gila tentang’ Nasi Goreng Untuk Obama’ jadi kenyataan.

Dia menyadarkan saya untuk tidak ikut serta dalam perang komersialisasi idealisme. Biarkan menulis dengan sepenuh hati, maka hasilnya akan memuaskan. Dan mengingatkan saya jangan berhenti menulis, walau dicaci dan dimaki. Karena segala bentuk kritikan akan mendewasakan diri saya dalam menulis.

Dia pula yang membantu saya memilih di antara dua pilihan yang sulit ketika harus memilih penerbit. Saya ingat kata-kata dia, ” Kamu macam Pak Belalang dalam dongeng yang kebingungan hendak bersampan ke dua pulau berbeda untuk menghadiri hajatan. Karena Pak Belalang terlalu lama menimbang, akhirnya dia kehilangan dua kesempatan besar untuk dapat nasi berkat. Jangan membiarkan kesempatan besar terlewat tanpa arti.”

Saya benar-benar mengingatnya. Entah apakah dia mengingatnya atau tidak. Dia pernah bercerita, kalau suatu waktu dia juga akan menulis buku pertamanya. Dan dia mungkin akan memakai sudut pandang karakter yang berbeda dalam satu waktu seperti ketika saya menuliskan The Chosen Prince.
Selebihnya kami banyak bercerita tentang hidup kami. Tentang Ratunya yang cantik dan tentang dua anaknya yang menggemaskan.Begitupun saya yang tidak pernah bosan menceritakan tentang pangeran saya.

Namun entah mengapa, sedikit demi sedikit dia juga mulai menarik diri dalam kehidupan saya. Perlahan tapi pasti dia meninggalkan saya, seperti malaikat lain dalam hidup saya saat kontrak kerjanya dengan Tuhan yang mengirim dia telah selesai.

Beberapa waktu lalu saya kembali dalam posisi yang tidak menguntungkan. Saya dirundung kesedihan setelah mengalami beberapa ujian, dan ketika saya mencoba memahaminya. Tuhan mengirimkan malaikat lagi untuk menemani saya.

Dia tidak datang sebagai malaikat sempurna seperti sebelumnya. Dia justru datang dengan segenap permasalahannya. Namun justru dari permasalahannya aku bisa belajar banyak, bahwa hidup tidak selamanya mulus sesuai rencana. Saya belajar untuk mensyukuri hidup saya yang jauh lebih beruntung darinya. Dan saya belajar untuk memahami bahwa segala sesuatu pasti ada alasannya. Sekalipun itu adalah tindakan yang kejam.

Sebelumnya dia datang, saya adalah perempuan yang terluka. Dia datang menyembuhkan dengan caranya sendiri. Karena dia ternyata adalah gambaran dari seseorang yang menyakiti saya.
Dia menemani saya memahami hidup dalam kesenyapan. Dia membuka mata hati saya bahwa hidup ini adalah kejam, tidak seputih yang saya bayangkan. Dia juga yang mematahkan teori-teori saya tentang bagaimana membalas kejahatan dengan kebaikan dan doa.

Suatu kali saya berkata pada dirinya yang diliputi rasa sakit hati dan dendam pada seseorang, ” Kalau kita disakiti, maka kita tidak perlu membalasnya dengan kejahatan yang sama. Justru kita mendoakannya. Setiap perkataan dan doa akan di-amin-kan oleh malaikat dan berbalik ke kita. Kalau kita mendoakan kebaikan, maka kebaikan yang akan kita dapatkan. Doa orang teraniaya itu dikabulkan, maka jangan buang kesempatan emas itu dengan mengucapkan sumpah serapah.”

Serta merta dia mendebatnya, ” Apa kamu bilang? Apa kita juga harus diam ketika Israel menganiaya Palestina. Ketika Israel menyerang kapal pembawa bala bantuan dan lain sebagainya.”

Dia memang pintar berdebat, maka saya dibuat tidak berkutik ketika dia malah memberi contoh yang tidak diduga-duga. Perkataan dia membuat saya berpikir lebih keras mengenai jawaban saya.

” Iya...” Saya menjawab sedikit ragu. Saya yakin dengan teori saya, tetapi untuk masalah Israel dan kekejamannya saya tidak setuju. Palestina yang tersakiti, tetapi saya juga merasa teraniaya. Tetapi saya tidak pernah mau mendoakan segenap kebaikan untuk Israel. Akhirnya saya malah diam daripada harus berdebat.

Dia dengan cepat menguasai hidup saya. Membenahi hal-hal yang perlu dibenahi dalam hidup saya. Setiap satu hal terselesaikan, saya mulai cemas kalau malaikat saya ini juga akan pergi meninggalkan saya.

Demi Tuhan saya tidak rela bila saya harus kehilangan malaikat saya kali ini. Malaikat yang telah menceriakan hari-hari saya. Malaikat yang telah memberi warna dalam hidup saya, dan bahkan menginspirasi saya pada novel saya berikutnya.

Suatu kali saya berbincang pada Tuhan, ” Tuhan...Terima kasih kau telah mengirimkan dia dalam kehidupanku. Tapi tolong Tuhan, kali ini aku ingin kontraknya adalah seumur hidup, tidak hanya sampai semua permasalahan saya selesai. Tetapi selamanya. Tuhan tolong jangan ambil malaikatku! Karena aku menyayanginya.”

Untuk malaikat-malaikatku, terima kasih telah hadir dan memberi warna dalam kehidupan saya. Saya tidak akan pernah melupakan kalian.

” Tuhan, tolong jangan ambil malaikatku!”

Jakarta, 21 Juni 2010 (00:24)
Risma Budiyani
(Dilarang menjiplak atau menyalin tulisan ini tanpa seizin dan mencantumkan nama penulisnya!)

Senin, 17 Mei 2010

AKHIRNYA MENIKAH JUGA



(Liat-liat tulisan lamaku, ternyata nyambung dengan kisah temanku si Melati. Baca yah!)

Dalam membaca cerita-cerita roman, kita selalu berharap, di akhir cerita tokoh utama dapat menikah dengan pujaan hatinya dan kemudian hidup bahagia selama-lamanya. Sepertinya, pernikahan adalah titik awal dari segala kebahagiaan manusia. Kunci untuk membuka kotak kebahagiaan yang tak pernah habis.

Lihat saja, tanpa pernikahan, hidup Romeo dan juliet berakhir tragis. Kisah Laila Majnun menjadi kisah cinta yang memilukan. Karamnya kapal Van Der Wijck lebih dari sebuah tragedi bagi Zainudin, lebih dari hanya tenggelamnya sebuah kapal, tapi berarti hilangya kepingan hati yang dibawa Hayati. Tanpa pernikahan cerita Jasmine dan Saiful Malook menjadi sebuah cerita yang menyedihkan dalam novel Surat Cinta Saiful Malook buah karya Risma Budiyani. Saiful menggila, karena dunianya lenyap, di bawa Jasmine. Kekasih maya yang tak pernah bisa direngkuh. Jasmine tertatih membawa cintanya, sambil terus berharap suatu hari kelak ada seorang pangeran yang mencintai Jasmine seperti Jasmine pernah mencintai Saiful Malook. Tulus tanpa tendensi. Sama seperti tragisnya Sampek-Engtay.

Dan dengan pernikahan Cintanya Zulaikha kepada Yusuf menjadi suci. Dengan pernikahan Cita-cita seorang Kartini lebih mudah tercapai. Abu Kasan Sapari berbahagia dengan Lastri. dan Kebahagiaan Fahri menjadi lengkap bersama Aisha dalam ayat-ayat cinta.

Pernikahan adalah sebuah episode yang diharapkan akan juga dilalui oleh setiap insan. Sebuah titik kehidupan yang akan dilalui, yang juga telah ditetapkan sebelum manusia hidup kedunia. Cepat atau lambat, pernikahan menjadi sebuah momen yang direncanakan dalam benak manusia. Sadar atau tidak, setiap langkah kehidupan mengarah ketitik sana.

Pernikahan adalah penawar dari hidup yang ditakutkan manusia : sepi, sendiri. Dengan menikah berarti memastikan ada teman disamping disaat kau sendiri. Ada punggung yang tegak yang siap dijadikan sandaran saat lelah menjalani hidup. Ada dada yang lapang untuk berlindung dan menumpahkan kekesalan hidup. Ada tangan yang menggemgam teguh memberi harapan di saat mulai ragu akan pilihan hidup. Ada kaki yang kuat yang siap berjalan mengiringi entah seberapa jauh perjalanan hidup.

Walaupun banyak sudah cerita, lirik, lagu, langgam, puisi, pepatah, tulisan mengadopsi dari imaji pernikahan. Banyak sudah cerita di buat, bertemakan pernikahan. Buku dicetak sebagai solusi pernikahan. Tulisan di muat utuk menginspirasi kehidupan pernikahan. Konsultasi dibuka sebagai pusaran masalah dalam pernikahan. Nyatanya walaupun begitu, adalah fakta yang sulit untuk maju ke pernikahan. Banyak pertimbangan dan pikiran-pikiran yang membebani.

Pernikahan menjadi bukan hanya sebuah prosesi untuk menyatukan dua insan, Tapi menyatukan dua cita-cita yang mungkin berbeda dan mungkin akan berubah pula kelak. Pernikahan bukan hanya sebuah upacara untuk menyatukan dua keluarga, tapi darinya, akan lahir sebuah keluarga dari dua keluarga yang berbeda. Sebuah keluarga yang harus dibimbing dan dihidupi. Pernikahan bukan hanya menjadi sebuah ikatan untuk terus bersama dalam sebuah suka dan bahagia. Tapi ikatan yang harus terus dijaga dalam sakit dan duka.

Pernikahan adalah sebuah perjanjian yang agung antara seorang pria dan seorang wanita. Allah menyatakannya dalam al-Qur’an sebagai perjanjian yang kuat, mitsaqan galizha. Sebuah pernikahan hanya akan berarti apabila dilandasi oleh dasar saling cinta dan berniat menjalankan sunnah rasul. Pernikahan dalam Islam tidak bermakna apabila hanya didasari oleh keinginan hawa nafsu: nafsu melihat kecantikan, nafsu melihat kekayaan, pangkat, jabatan dan status sosial. Sekalipun hal itu merupakan hiasan namun dalam hal memilih jodoh Nabi berpesan agar menomorsatukan agamanya, niscaya kamu akan merasa tenang karenanya.

Dalam ajaran Islam, pernikahan mengandung beberapa tujuan. Pertama, pernikahan adalah melaksanakan sekaligus menghidupkan sunnah rasul. Kata Nabi SAW: "Nikah itu sunnahku barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka ia bukanlah golonganku". Menikah adalah menyempurnakan pengamalan kita dalam beragama. Nabi pernah menyatakan menikah adalah setengah melaksanakan agama.

Kedua, Nikah bertujuan untuk menjaga keberlangsungan eksistensi manusia. Allah SWT mengangkat manusia sebagai khalifahNya, wakilnya, mandatarisNya di muka bumi. Untuk terus memelihara dan melanjutkan risalahNya maka Allah meminta kita untuk memperhatikan, memelihara dan membina keturunan. Jalan halal yang ditempuh untuk memperoleh keturunan adalah dengan menikah. Firman Allah dalam surat Annisa ayat 9 "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang merasa anak-anak yang lemah". Dengan menikah diharapkan lahir generasi-generasi baru yang dapat melanjutkan amanat-amanat Allah dan risalah NabiNya..
Ketiga, menikah adalah memperjelas nasab/keturunan. Tanpa pernikahan dapat dibayangkan banyaknya anak-anak yang lahir tanpa nasab yang jelas, siapa ayahnya dan siapa ibunya.

Keempat, Pernikahan adalah upaya menghindari dekadensi moral. Ucapan Ijab kabul sangatlah pendek mungkin hanya satu menit. Namun ucapan yang hanya sesingkat itu telah merobah dengan luar biasa status hukum seseorang terhadap lainnya. Kalau dahulu berdua-duaan antara seorang laki-laki dengan wanita yang bukan mahram itu diharamkan maka setelah ijab kabul melakukan hubungan yang mesra antara suami istri justru mendapat pahala karena sudah dihalalkan.

Kelima, menikah adalah pintu gerbang mencapai keluarga sakinah. Tidak ada kenikmatan yang luar biasa kecuali memiliki keluarga yang harmonis, damai, tentram, penuh cinta dan kasih dalam satu bahtera. Sebaliknya tidak ada penderitaan yang luar biasa selain memiliki keluarga yang penuh konflik, jauh dari kedamaian, cinta dan harmoni. Kalau di dunia ini ada surga maka itulah pernikahan yang bahagia, sebaliknya bila di dunia ini ada neraka maka itulah pernikahan yang gagal. Masyarakat yang baik akan muncul dari keluarga yang baik sebagaimana juga keluarga yang buruk akan menghadirkan masyarakat yang buruk.

Keluarga adalah tempat yang pertama sekaligus utama membentuk generasi yang shalih. Jadikan ia tempat untuk menanamkan bibit-bibit unggul generasi masa depan demi kejayaan Islam dan kaum Muslimin. Doa demi doa harus selalu menyertai perjalanan hidup kita dalam keluarga.

Allahumma Barik lahuma fi khairin. Rabbana Hab Lana min azwajina wa zurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lilmuttaqina imama. Rabbana Atina Fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina azabannar.

*******************
Hampir setiap hari saya mendengarkan curhatan teman-teman saya yang belum menikah. Curhatan semua hampir sama tentang rintihan, gumaman, gerutuan, sumpah serapah, bahkan rutukan tentang mengapa mereka belum menikah juga.

Di satu sisi mereka resah, akan jodoh yang belum juga datang menghampirinya. Mereka juga masih harus menghadapi pertanyaan bertubi-tubi dari orang tentang kapan mereka menikah.

“Kok belum nikah-nikah sih? Kapan nyusul? Memangnya tidak kepengen? Memangnya gak ada yang cocok? Sampai kapan melajang, nanti jadi perawan tua/bujang lapuk loh. Memangnya belum laku-laku yah? Sebenarnya kamu normal l tidak sih?”

Sudah pasti pertanyaan ini akan membuat kuping seorang lajang menjadi panas, muka merah padam menahan amarah atau malah kentut. Dada bergelora, tangan mengepal tinju, kaki siap melayang bebas ke muka si penanya atau komentator parah ini.

Lama-kelamaan pertanyaan ini bisa membuat seorang lajang yang sudah sedikit depresi dalam penantian menjadi semakin depresi. Dan akhirnya mencari jalan pintas untuk segera membuat perburuan jodoh. Targetnya hanya satu, sesegera mungkin mencari seseorang yang akan dikawini atau mengawini dirinya demi untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan dari seluruh penjuru mata angin.

Pernikahan seperti kehilangan esensinya karena tujuannya bukan lagi untuk membangun keluarga sakinah mawaddah warrahmah. Tetapi untuk masuk dalam standarisasi yang ditetapkan oleh manusia. Agar tidak mendapat malu karena ‘gak laku-laku’ atau ‘perawan tua’ dan ‘bujang lapuk’.

Tak jarang orang-orang beriman memohon-mohon kepada Tuhan-Nya untuk segera diberikan jodoh atau segera menggerakkan hati kekasihnya untuk menikahinya. Tidak hanya memohon, tetapi doa yang mengancam.

Allah adalah Dzat Yang Maha Pemurah. Siapapun yang berdoa kepadanya dengan penuh kesungguhan, pasti akan dikabulkan. Seandainya kamu meminta sekarang juga agar kekasih yang kau cintai untuk menikahimu sekarang juga mungkin akan kabulkan. Tetapi apakah kamu yakin dia adalah seseorang yang tepat untuk menemani hidupmu. Apa kamu yakin waktunya telah tepat? Apa kamu yakin pernikahan akan menyelesaikan masalah dan membuatmu bahagia?

Saya selalu berpikiran positif terhadap Allah. Saya selalu menekankan dalam diri saya bahwa apapun yang diberikan Allah kepada saya adalah yang terbaik. Setiap detik yang diberikan Allah kepada saya adalah waktu-waktu terbaik saya.

Saya belajar untuk berdoa dengan penambahan kata-kata, “Ya Allah berikanlah kepadaku yang terbaik menurut-Mu.” Karena kacamata manusia terlalu buram untuk melihat jauh ke masa depan tentang hal-hal yang terbaik.

Saya tidak ingin seperti teman saya, yang waktu lajang dia terburu nafsu untuk menikah dengan kekasihnya. Hingga dalam setiap doanya dia selalu ‘mengancam’ agar dipasangkan dengan kekasihnya dalam pernikahan. Pernikahan memang terjadi, namun setahun kemudian perceraian memisahkan mereka dengan teramat pahit.

Atau seorang teman yang terburu-buru menikah. Dan ternyata belakangan dia tahu pasangannya itu bajingan . Dan terlambat untuk mundur.

Ada juga yang gagal menikah di detik-detik menjelang pernikahannya. Dan itu sangat menyakitkan dan memukul perasaan.

Mungkin saat doa-doa itu mengetuk pintu Ar Rasy. Allah sudah tahu bahwa lelaki itu sangat tidak baik untuk dirinya. Namun kasih sayang Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang tak sanggup melihat hamba-Nya merajuk. Maka dikabulkan juga, namun resikonya harus ditanggung sendiri.

Boleh jadi sebenarnya bila dia mau bersabar sedikit, atau menyerahkan urusan jodohnya kepada Allah tanpa mengabaikan ikhtiar. Allah telah menyiapkan jodoh yang teramat sesuai untuk dirinya. Tetapi teman saya tidak sabar. Cinta telah membutakan matanya, dan dia juga sudah bosan ditanya ‘kapan menikah’. Maka pernikahan tanpa esensi itu pun dilakoninya. Bukan kebahagiaan yang diraihnya, namun kekecewaan yang mendalam.

“ Kapan yah giliran aku yang bersanding di situ?” Seorang teman lelaki dan perempuan yang sudah di ambang batas menikah menanyakan hal itu kepada saya.

“ I’m cursed.......Semua perempuan meninggalkanku untuk pria yang lebih mapan dan kaya dari aku. Menurutmu itu cobaan atau kutukan?”

“ Kenapa aku belum juga menikah?”

“ Aku sudah menjaga diriku sedemikian rupa untuk bersabar hingga pernikahan. Tapi Tuhan juga tidak tergerak hatinya untuk mempertemukan aku dengan jodohku.”

“ Apakah menurutmu aku akan menikah?”

“ Menurutmu ada gak yang cinta denganku?”

“ Aku benci ditanya kapan nikah…”

Dan masih banyak curhatan lain yang lebih miris dan memilukan untuk didengar. Karena begitu menyiratkan kesedihan yang teramat sangat, sekaligus kemarahan.
Perkara jodoh memang misterius, kita tidak pernah bisa memilih kapan, dimana dan dengan siapa kita akan berjodoh. Boleh jadi pasangan kita terpisah ribuan mil di sana atau tetangga sebelah rumah yang sekaligus teman sepermainan. Boleh jadi dia berbeda zaman dengan kita atau malah sebaya. Boleh jadi dia musuh besar kita atau malah pujaan.

Hari ini saya menangis bahagia. Salah satu teman lamaku mengabarkan kalau dia telah menikah di usia yang menjelang 40 tahun.

Namanya Melati (bukan nama sebenarnya). Dia dilahirkan dari sebuah keluarga yang nyaris sempurna. Orang tuanya adalah orang terpelajar yang memiliki karir bagus. Bisa dibilang hidup mereka tidak kurang suatu apapun.

Kesempurnaan adalah hal yang wajar bagi mereka. Dan segala sesuatu harus berjalan sempurna. Hal itu diterapkan juga dengan criteria calon-calon mantu anak-anaknya. Teman saya adalah anak pertama, perempuan dan dua bersaudara saja. Beruntung adiknya yang cantik terlebih dahulu menikah dengan lelaki pilihannya yang juga masuk criteria orang tuanya.

Dan Melati, harus melajang di usia yang tidak muda lagi. Padahal Melati juga tidak kalah cantik dibandingkan adiknya. Melati gadis cantik, tinggi, putih, karir bagus, pandai, supel, dan lain dan lain. Hanya lelaki bodoh yang tidak menyukai Melati. Dan anehnya hubungan cinta Melati tidak pernah berjalan mulus.

Semua pacar-pacarnya memilih mundur teratur, karena mereka semua tidak memenuhi karakter ideal dari orang tuanya. Semuanya kurang. Padahal menurut kasat mata orang awam tidak ada yang salah dengan pacar-pacarnya itu.

Melati frustasi dan depresi, sedang usianya semakin lama semakin tua. Dan Melati masih dihadapkan pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman, saudara-saudara, kolega-koleganya bahkan kenalan barunya tentang kapan dia akan menikah. Hal itu semakin membuat frustasi Melati.

Tetapi Melati juga tidak mau durhaka pada orang tua. Di satu sisi Melati sangat ingin menikah, namun Melati tidak ingin menikah tanpa restu. Melati pasrah namun marah.

Suatu kali Melati hampir nekad menikah dengan seorang lelaki gaek dari negeri seberang yang sudah memiliki dua istri. Apakah Melati mencintai lelaki itu? Tidak, sama sekali lagi tidak.

“ Aku hanya ingin anak, Ris. Seorang anak yang akan menemaniku di masa tuaku. Tapi aku juga tidak ingin berzina. Aku harus menikah. Tidak peduli dengan siapa…” Melati mengucapkannya sambil berkaca-kaca. Begitu pun aku yang mendengar. Sedemikian inginnya Melati menikah dan punya anak. Melati sampai tidak bisa berpikir jernih. Di otaknya waktu itu adalah bagaimana caranya dia menikah dalam waktu dekat sebelum dia beranjak tua.

Tentu saja orang tua Melati murka.
“ Terserah kalau kamu mau nikah dengan lelaki gaek itu. Tetapi mulai detik ini, kamu bukan lagi anak kami!” Kata-kata papa Melati seperti tamparan keras di pipi Melati. Melati benci papanya. Namun Melati tak kuasa melawannya. Melati tidak mau jadi anak durhaka.

Hingga Melati berusaha pasrah. Bahkan Melati sudah menyiapkan dirinya bila dia harus menjadi perawan suci sepanjang hayatnya. Melati menyibukkan diri pada karirnya sambil terus berusaha membuang jauh-jauh impiannya untuk menikah. Karir Melati tetap melaju pesat. Namun Melati tetap sendirian.

Suatu ketika, Melati menghadiri acara reuni SD. Melati padahal hampir saja tidak menghadirinya, karena dia benci berkumpul dengan teman-teman seangkatannya. Melati iri dengan teman-temannya yang slaing pamer jumlah anak. Bahkan Melati, calon saja belum punya.

Beruntung Melati datang ke acara reuni itu. Di sana dia bertemu dengan teman SD-nya yang dulu terlihat paling charming di mata Melati. Dan ternyata dia juga belum menikah. Usut punya usut, kesibukan karir dan studinya di luar negeri membuat pria itu belum menikah.

Melati dan pria itu akhirnya menjalin hubungan special. Dan kemarin mereka menikah. Beruntung Pria ini juga masuk criteria orang tuanya. Semua orang bersuka cita menyambut pernikahan itu. Akhirnya Melati mengakhiri masa lajang tepat pada waktunya dengan orang yang tepat. Melati tersenyum lebar di hari pernikahannya.

Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk umatnya. Terkadang umatnya tidak sabar dan terburu-buru mengecap Tuhan tidak adil. Terkadang kita harus mencintai orang yang salah sebelum mencintai orang yang tepat.

Dan saya masih berpikir, restu orang tua itu teramat penting dalam menjalani biduk rumah tangga. Baiklah kalau anda pikir ini adalah hidup anda, karena anda dan pasangan yang akan menjalani. Tetapi ingatlah hubungan dengan orang tua anda lebih lama terjalin dari pasangan anda.

Well, Percayalah! Apa yang diberikan Tuhan adalah yang terbaik. Setiap kejadian pasti ada hikmah di baliknya. Jangan bersedih! Menikah bukan masalah siapa jodoh anda. Tetapi juga apakah waktunya sudah tepat atau belum? Tanya diri sendiri apakah anda siap untuk menghadapi konsekuensinya.

Enjoy your single time! Setiap orang punya kebahagiaannya masing-masing. Baik single maupun double. Sejujurnya aku merindukan masa-masa lajangku.

LOVE

Kedoya, 17 Mei 2010
Risma Budiyani
(Dilarang meng-copy paste tulisan ini tanpa seijin dan mencantumkan nama penulisnya).

Kamis, 22 April 2010

IZINKAN KAMI HIDUP SATU HARI LAGI



“ Mama….kenapa es mencair?” Si kecil terus saja mengganggu tidurku dengan pertanyaan yang sama. Namun aku berusaha untuk tidak pernah bosan menjawabnya. Anak cerdas memang selalu memiliki segudang pertanyaan kritis yang luar biasa. Dan aku bangga dengan anakku.

“ Es mencair karena panas…”

“ Panas?”

“ Iyah….panas bisa melelehkan es menjadi air, sayang!” AKu tersenyum menatapnya. Kuharap jawabanku mampu memuaskan rasa ingin tahunya yang besar. Namun sepertinya tidak. Anakku menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena bingung.

“ Kenapa bisa panas?”

“ Karena ada api.”

“ Dimana ada api? Aku tidak melihatnya mama.” Si kecil mengedarkan pandangannya ke segala arah, seperti mencari-cari sesuatu. Aku tersenyum gemas melihatnya. Kucubit pipi chubby-nya.

“ Sayang…apinya bukan di sana…di sana dan di situ.” Aku menunjuk-nunjuk ke segala arah. Mata mungilnya mengikuti kemana telunjukku mengarah. Kemudian dia menatapku, matanya berkedip-kedip. Dia mengangkat bahunya dengan ekspresi yang lucu.

“ Terus dimana mama?” Dengan manja si kecil bergelendot di bahuku. Aku merengkuhnya penuh seluruh.

“ Di sana…” Aku menunjuk ke atas. Lagi-lagi matanya mengikuti kemana telunjukku mengarah. Kemudian matanya yang polos menatapku bingung.

“ Aku tidak lihat api, mama.”

“ Lalu apa yang kamu lihat?”

Sejenak si kecil mengerutkan dahinya, seperti sedang berpikir sesuatu. “ Aku lihat awan….”

“ Iyah terus apa?”

“ Aku lihat matahari…”

“ Iyah…”

“ Aku lihat….burung laut…”

“ Iyah… terus?”

“ Mmmhhh apa lagi yah…” Si kecil mendongak ke atas berusaha mengingat-ingat. AKu hanya tersenyum simpul melihatnya. Diam-diam aku mengagumi dia. Anak semata wayangku. Dia menuruni kecerdasan papanya. Dan kecerdasan papanya lah yang telah memikatku hingga aku tergoda dan pasrah mengikat janji setia kepadanya.

“ Gak ada Ma. Cuma itu…” Si kecil mengagetkan lamunanku. Aku tersenyum.

“ Benar kan Ma, tidak ada api.” Aku mengangguk pelan sambil tersenyum.

“ Terus apinya mana mama?” Si kecil penasaran.

Aku tertawa kecil, “ Mari mama tunjukkan!”

“ Kamu lihat itu!” Telunjukku menunjuk ke atas, tepat pada satu benda raksasa yang berkilauan terang berdiri angkuh di antara awan. Dari ekor mataku aku melihat si kecil sedemikian antusiasnya mengikuti kemana telunjukku mengarah.

“ Itu mama!” Si kecil ikut menunjuk.

“ Yes my dear…” Mata kami beradu pandang.

“ Itu kan matahari mama…” Mata si kecil berkedip-kedip dia terlihat bingung.
“ Benar sekali sayang, dan matahari itu adalah sumber panas terbesar di bumi ini. Cahayanya, panasnya adalah sumber kehidupan di bumi ini. Jika tidak ada dia, mungkin tak aka nada kehidupan di dunia ini.”

Aku menatap Si kecil yang tampak bingung.

“ Kok aku jadi bingung mama?” Si kecil melepaskan pelukannya, dia seperti hendak melihatku dengan jelas, menguliti setiap kebenaran yang terpancar dari sorot mataku.
“ Bingung?” Aku bertanya. Si kecil mengangguk.

“ Apanya yang bingung…” Tanyaku lagi.

“ Kalau matahari adalah sumber kehidupan, dan kita tak bisa hidup tanpa matahari. Kenapa dia melelehkan istana kita mama?”

Tuhan! Aku tidak menyangka si kecil sedemikian kritis. Rasanya baru kemarin aku menyapihnya, menidurkannya dalam buaian di istana kami. Dan sekarang si kecil sudah pandai bicara. Sama persis seperti papanya. Cerdas!

“ Karena keadaan yang membuatnya seperti itu.”

“ Maksud mama, matahari marah oleh keadaan?” Sorot matanya yang tajam menjelajahi ruang hatiku lewat mataku.

Aku mengangguk pelan, “boleh jadi…”

“ Mengapa harus marah?”

“ Tidak, matahari tidak marah…”

“ Tapi?”

“ Matahari hanya korban dari keadaan.”

“ Korban? Korban apa?”

“ Korban dari alam yang tidak lagi bersahabat.” Aku mengatakannya dengan berat hati. Tiba-tiba aku teringat pembicaraan terakhirku dengan suamiku hampir 6 bulan yang lalu.

***

“ Revolusi harus segera dilakukan…!” Ujar suamiku dengan berapi-api kala itu.

“ Tapi kamu tidak harus meninggalkan aku dan si kecil sendirian bukan?” Aku saat itu sambil menangis sesenggukan. Suamiku menoleh ke arahku, dia mendekatiku dan memelukku penuh seluruh. Membiarkan aku menangis di dadanya yang bidang dan hangat. Aku tumpahkan semuanya di atas dadanya.

Demi Tuhan aku marah sekaligus sedih. Mengapa? Mengapa harus suamiku yang pergi? Bukan yang lain?

“ Sayang….” Tangannya yang kekar membelai punggungku dengan lembut, berusaha menenangkan diriku. Tapi aku hanya menangis sesenggukan. Aku biarkan air mataku membasahi tubuh kami.

“ Aku adalah pemimpin di bangsa kita. Aku harus memimpin para lelaki untuk melakukan ekspedisi itu. Sebuah revolusi yang sudah lama kita nantikan. Ekspedisi menuju daratan es lain untuk kehidupan kita. Untuk aku, kamu, si kecil dan semua saudara dan teman-teman kita.” Suami berusaha menerangkan dengan suaranya yang berat. Aku tahu, suamiku juga sedang menahan tangis. Tapi dia tak ingin membiarkanku larut. Dia tahan-tahankan tanggul pertahanan air mata agar tidak jebol.

“ Tapi kenapa kamu, sayang? Kenapa? Kita baru saja memiliki buah hati yang sudah lama kita nantikan. Apakah kamu tidak cinta dengan kami?” Aku protes dengan payah. Aku sebenarnya sudah hampir kehabisan tenaga karea terlalu banyak menangis.

“ Justru karena aku sayang dengan kalian, makanya aku harus melakukan revolusi ini. Segera setelah aku menemukan daratan itu. Aku akan kembali, memboyongmu dan anak kita. Kita akan membangun istana yang baru. Disana?”

“ Apa tidak ada cara lain?” Aku masih tidak bisa terima alasannya. Aku menangis sejadi-jadinya.

“ Sayang….kita tidak mungkin bertahan di sini. Seperti juga kita tidak bisa protes kepada para manusia yang menebang hutan, membangun pabrik-pabrik, memakai AC di rumah-rumah mereka, menambah jumlah kendaraan bermotor yang penuh polusi dan lain-lainnya yang membuat alam marah. Iklim berubah, bumi mulai menghangat dan kita tidak mungkin bertahan di sini. Aku dan beberapa lelaki harus pergi mencari dreamland itu.” Dengan bergetar suamiku berusaha menjelaskannya lagi.

“ Aku ikut!” Aku berontak, aku melepaskan diri dari pelukannya. Aku menatap wajahnya dengan sorot mata tajam yang memaksa sekaligus mengancam. Aku melihat matanya berkaca-kaca. Dia hampir saja tidak bisa menahan diri untuk menangis. Dia memaksakan dirinya untuk menyungging senyum untukku. Namun sayang sekali senyumnya yang biasa meneduhkanku kala lara, gundah gulana tak tentu arah. Kini tak berarti lagi.

“ Tidak bisa sayang…”

“ Kenapa?”

“ Karena kita punya si kecil. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi sepanjang perjalanan ekspedisi berbahaya ini. Bagaimana dengan si kecil?”

“ Biar aku yang gendong si kecil.” Aku meyakinkan sambil memohon.

Dia tersenyum getir, “ Tidak semudah itu, perjalanan sangat panjang. Mungkin kita tak hanya berjalan tetepai juga harus berenang mengarungi lautan dalam. Dan ada banyak sekali predator di luar sana. Mungkin kita masih bisa menghindar dari predator laut. Tapi apakah kita mampu mengelak dari para pemburu. Mungkin peluru nyasar.”

Aku mengeraskan tangisku, aku berontak, “ Sayang! Tolong izinkan aku selalu bersamamu dalam suka dan duka. Seperti janji setia yang telah kita ucapkan.”

“ Tapi aku juga sudah berjanji di hadapan Tuhan akan selalu bertanggung jawab dan menjagamu dunia dan akhirat, memberikan kalian penghidupan yang layak dan istana tempat aku, kamu, anak-anak kita dan bermilyar cinta di antara kita.” Matanya yang sudah merah semakin merah dan suaranya hampir tidak terdengar karena dia menahan diri untuk tidak menangis.

“ Aku bisa hidup dalam kesusahan asal kau di sampingku.” Aku menantang suamiku.

“ Tapi aku tidak akan sanggup membuatmu susah.”

“ Tapi dengan kamu meninggalkan aku kau telah membuatku susah.”

“ Tidak sayang, percayalah. Aku pergi tak akan lama. Sebelum es mencair aku akan kembali dan memboyong kamu dan si kecil ke istana kita yang baru.” Suamiku berusaha keras meyakinkanku. Tangannya membelai kepalaku lembut. Dia biarkan aku memasrahkan diri di dadanya, mencari sebentuk kehangatan dari seorang kekasih.

“ Kamu yakin kamu akan dating sebelum es mencair?” Aku menatapnya saat tangisku mulai mereda.

“ Yah….tentu saja?”

“ Secepat itu?” Aku menatapnya dengan pandangan menyelidik.

“ Tentu….Apakah aku pernah berdusta padamu?” Dia membalas tatapanku dengan pandangan yang meyakinkan. Sekeras apapun usahaku untuk menguliti keraguan dari matanya, aku malah semakin tidak menemukannya.

Aku menggeleng pelan, menyerah. Aku percaya pada suamiku, dia tidak akan pernah berdusta.

“ Kapan kau pergi?” Aku mulai mereda.

“ Besok sayang….” Kali ini dia menjawabnya dengan senyum.
Walau aku sudah berusaha keras menerimanya, tapi sungguh aku masih tidak bisa benar-benar jujur dalam hatiku bahwa aku ikhlas melepasnya. Namun aku hanya bisa mengikhlaskannya saja.

“ Besok pagi-pagi buta…”

Aku terkesiap, “Pagi-pagi buta?”

“ Iya sayang.” Iya berusaha mesra di malam perpisahan kami.
Aku merengut, dia tahu isi hatiku. Dia memegang kedua kepalaku dan menegakkannya hingga pandangan kami beradu.

“ Dengar sayang, aku pergi tidak akan lama. Sebelum es mencair, aku akan kembali dan membawa kamu dan anak kita pergi ke tempat yang baru….. “

Aku tatap wajahnya, memelas berusaha mengusik sedikit rasa belas kasihannya. Seperti biasanya aku berusaha untuk merayunya saat aku sedang merajuk. Namun percuma, niat suamiku sudah bulat, untuk mencari daratan impian untuk kami semua.

Aku mengangguk pelan. Suamiku tersenyum, dan aku pun menunduk. Aku memilih diriku untuk menyembunyikan rasa dukaku yang teramat sangat di hari kepergiannya. Aku ingin melepasnya dengan senyum walau hatiku terlalu sakit.

Suamiku memelukku penuh seluruh, lirih dia berkata, “ Aku teramat sangat mencintaimu dan anak kita. Aku ingin memberikan berjuta kebahagiaan untuk kalian. Karena kalian sangat berharga untuk hidupku.”

Aku membalas pelukannya, kami berpelukan dengan erat sekali. Membiarkan kami lebur satu sama lain di hari perpisahan kami. Dia mengangkat wajahku, memandangku dengan pandangan syahdu. Romantis sekali. Dia menciumku dengan segenap perasaan. Aku pun membalasnya. Kami saling berpagutan dan memeluk. Kuserahkan semua untuk suamiku, sementara buah hati kami sedang tertidur di ranjangnya. Aku tidak tahu apakah suamiku benar-benar akan kembali sebelum es mencair. Tidak tahu.

***

“ Mama…mama….” Suara si kecil menyadarkan lamunanku. Tanpa sadar bulir air mataku berlelehan di pipiku.

“ Mama menangis?” Si kecil bertanya, matanya menyelidik.

“ Ah nggak…” Buru-buru aku hapus air mata yang mengalir.

“ Mama cuma kelilipan…”

Si kecil tertawa cekikikan, “ Kelilipan? Mana ada debu di es?”

Aku hanya tersenyum getir.

“ Mama kangen papa?” Si kecil menebak. Aku hanya mengangguk pelan. Sudah enam bulan dia pergi tanpa kabar, dan beberapa lelaki lain yang dulu serombongan dengan suamiku tidak pernah kembali. Enam bulan waktu yang teramat lama.

Es sudah mulai mencair. Tidak ada lagi yang tersisa kecuali secuil daratan tempat aku dan si kecil berpijak. Tinggallah kami berdua, sunyi, sepi sendiri di sini. Semuanya telah pergi, menyelamatkan diri masing-masing. Dan aku tidak pernah tahu bagaimana nasib mereka kini.

Aku tidak pernah tahu siapa yang harus dipersalahkan. Matahari atau manusia jahat yang membuat kerusakan di muka bumi. Hingga iklim berubah dan bumi memanas. Kemudian menghancurkan istana kami, habitat kamu dan merebut kebahagiaan kami di sini.

“ Mama menangis lagi?” Suara si kecil kembali menyadarkan lamunanku. Aku tak bisa menyembunyikan lagi perasaanku.

“ Tidak nak…”

“ Mama bohong!” Aku tersenyum mendengar mulut kecilnya yang ceriwis. Aku memeluknya. Dia memasrahkan dirinya dalam pelukanku.

Aku mengedarkan pandang ke segala penjuru. Tidak ada siapapun di sana. Hanya aku dan si kecil dengan secuil daratan tempat kami berpijak yang belum mencair. Kubiarkan airmataku mengalir sambil terus mempererat pelukanku.

Dalam hati aku merintih, “ Tuhan izinkan kami hidup satu hari lagi.”

Matahari kian memancarkan sinarnya. Dalam hatiku berdegup kencang. Kekhawatiran teramat sangat menyergap hatiku. Aku takut sinarnya melelehkan es terakhir di dataran Arktik. Mungkin tidak akan pernah ada hari esok bagi kami para beruang kutub. Dan kami akan mati di sini seperti saudara, teman dan kolega kami di sini.
Aku menatap anakku. Membelai kepalanya, dan badannya yang ditutupi bulu-bulu halus nan lembut berwarna putih. Kupandangi wajahnya yang tampan, mata polosnya yang meredup, hidungnya, pipinya. Garis-garis wajahnya mengingatkanku pada suamiku, yang kini entah ada dimana. Aku tersenyum getir.

Tuhan….dia masih teramat kecil untuk bisa memahami bahwa manusia-manusia keparat itu yang menyebabkan climate change, global warming dan prahara ini.

***

(http://nasional.kompas.com/read/2008/09/17/1153384/lapisan.es.terus.mencair.beruang.kutup.terancam)

Para ilmuwan NASA telah mengamati lapisan es Kutub Utara sejak 1979. NASA mengembangkan kemampuan untuk mengamati lapisan itu dan konsentrasi es laut dari udara selama sensor microwave pasif. Es tersebut menyusut hingga batas minimumnya pada 12 September 2008, ketika es itu menutupi wilayah seluasa 4,52 juta kilometer persegi, dan kini tampaknya berkembang, saat Kutub Utara mulai memasuki musim dingin, kata National Snow and Ice Data Center.

Satu terusan di Northwest Passage, jalur laut yang telah lama diinginkan antara Eropa dan Asia, terbuka pada 2007 dan 2008. Pada tahun ini juga terjadi pembukaan Northern Sea Route yang melewati Samudra Kutub Utara di sepanjang pantai Siberia.
Ice Center tersebut bulan lalu menyatakan terjadi pencairan es mendasar di Laut Chukchi di lepas pantai Alaska, Eastern Siberian Sea, di lepas pantai Rusia timur, salah satu habitat populasi terbesar beruang kutub di dunia. Karena beruang kutub menggunakan gumpalan es terapung sebagai landasan untuk berburu anjing laut, mereka terpaksa berenang menempuh jarak yang lebih jauh ketika es mencair sehingga sangat mungkin mereka akan kelelahan dan terancam mati tenggelam.

Es kutub merupakan satu faktor dalam pola cuaca dan iklim global. Perbedaan antara udara dingin di kutub dan udara hangat di sekitar Khatulistiwa mengirim udara dan arus hangat, termasuk arus pekat. Es laut membantu menahan udara dingin di sekitar Kutub Utara karena warna putihnya memantulkan sinar matahari. Ketika es laut menghilang, air gelap yang baru terbuka menyerap lebih banyak sinar matahari sehingga mempercepat dampak pemanasan.


Selamat Hari Bumi!
Sadarkah anda di belahan bumi sana ada yang sedang meregang nyawa karena ulah kita? Mulai dari sekarang selamatkan bumi dari global warming!


Kedoya, 23 April 2010
Risma Budiyani
(Dilarang meng-copy paste tulisan ini tanpa seijin dan mencantumkan nama penulisnya).

Kamis, 15 April 2010

SMS TERAKHIR




Aku menatap wajah lelaki yang duduk di depanku. Dalam keremangan lampu malam aku masih bisa melihat wajahnya yang tampan, pipinya sedikit tirus, namun sama sekali tidak mengurangi ketampanannya. Matanya syahdu sekali ketika menatapku.

Dia sama sekali tidak memperhatikanku. Ketika aku berulang kali mencuri pandang ke arahnya. Dia masih asyik memandangi lalu-lalang orang yang memadati pelataran Monas di malam Minggu. Dan aku membiarkan mataku asyik memandang Bang Udin, kekasihku.
Ketika akhirnya ekor matanya menangkap mataku yang asyik menguliti dirinya. Dia tersenyum mendapatiku yang tersipu malau karena tertangkap basah sedang mengamati dirinya.

Segera kutundukkan kepalaku. Menyusuri setiap jengkal con-block sambil menyembunyikan perasaanku.

“ Kenapa Sayang?” Mata Bang Udin menyelidikiku.

Aku hanya tersenyum, kemudian mengangkat wajahku perlahan hingga mata kami bisa beradu pandang dengan leluasa. “ Ah nggak Bang…”

Bang Udin tersenyum mafhum memahamiku. “ Oh ya sudah, kamu laper belum?”

“ Laper Bang…”

“ Makan yuk!”

“ Abang ada duit?” Mataku berbinar-binar menatap Abang untuk memastikan.

Tadjudin tersenyum, “ Yah…, biar jelek-jelek begini kan Abang Satpol PP, pegawai walikota. Kalau cuma nasi goreng sama Aqua mah enteng.” Si Abang membusungkan dadanya dengan bangga. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lucunya.

“ Ya deh yang Satpol PP.”

“ Jadi makan gak nih?”

“ Jadi dong Bang…”

“ Ya udah tunggu bentar yah.” Tadjudin bangkit berdiri dan berteriak memanggil tukang nasi goreng keliling.

“ Bang…Woy…Nasi Goreng!”

Tadjudin juga menepuk kedua belah tangannya dengan kasar agar si tukang nasi goreng mendengarnya.

“ Bang!”

Akhirnya si tukang nasi goreng mendengar suara Abang Tadjudin. Dia menoleh dan segera mengarahkan gerobak nasi gorengnya ke kami. Setelah tukang nasi goreng berada sangat dekat dengan kami.

“ Nasi gorengnya dua, bang! Pedes…” Abang Udin alias Tadjudin dengan mantap.
Dan Si tukang nasi goreng pun segera memanaskan minyak goreng dalam wajannya. Sembari mengiris-iris kol dan bawang.

“ Bang…” Aku memanggil kekasihku yang duduk di sampingku dengan lembut.

“ Ya Sayang…” Si Abang pun membalasnya dengan lembut. Matanya berbinar-binar menatapku.

“ Abang cinta gak sih sama Neng?” Aku dengan manjanya.

Si Abang tersenyum, “ Ya cinta dong Neng. Kalo gak cinta, mana mungkin Abang melamar. Kan sebentar lagi kita bakalan kawin.”

Aku tersipu malu, sambil menunduk.

“ Bentar lagi kan?…abis lebaran…”

Aku semakin tertunduk, padahal jauh di dalam hatiku. Jantungku berdebar-debar, melonjak-lonjak gembira.

“ Eh iya ya Bang…” Aku menatap wajah Udin dengan mesra.

“ Iyah…”

“ Gak nyangka yah, kita udah empat tahun aja pacaran yah…”

“ Iyah…gak nyangka…”

“ Padahal dulu pas kita ketemuan di Setia Bakti, gak nyangka kalau kita bakalan nikah gitu.”

Kami berdua melemparkan pandangan jauh menyusuri pepohonan, lalu-lalang orang yang sedang melintasi taman Monas, juga pada deretan gedung-gedung tinggi yang berjajar mengelilingi Monas.

Hatiku masih berdegup kencang. Layaknya debaran seorang pencinta yang sedang kasmaran. Aku berusaha menguasai diriku agar Bang Udin tidak terlalu mendengar debaran jantungku. Kira-kira Bang Udin, berdebar juga tidak yah?
Lama kita terjebak dalam kebisuan. Namun hati kami saling bicara dalam hening. Kami tahu bahwa di taman ini, kami bukanlah satu-satunya pasangan yang sedang kasmaran. Masih ada pasangan-pasangan lain yang sedang berasyik-masyuk menghabiskan malam minggu. Namun kami merasa dunia itu hanya ada kami berdua. Yang lainnya cuma ngontrak.

“ Bang…” Suara tukang nasi goreng yang menyodorkan dua piring nasi goreng kepada kami menyadarkan lamunan kami masing-masing.

“ Eh iya…” Abang Udin dengan tanggap mengambil piring nasi gorengnya. Kemudian baru giliran aku.

“ Terima kasih ya Bang…” Ujarku sambil mengambil piring nasi goreng yang disodorkannya. Si tukang nasi goreng hanya mengangguk. Dan dia berlalu memberi tempat kepada aku dan Abang Udin untuk bisa menikmati makan malam romantis kami, di bawa sinar rembulan. Syahdu sekali. Walau kami hanya duduk di bangku taman monas dan menikmati nasi goreng. Namun rasanya seperti menikmati sajian makan malam mewah nan romantis di sebuah restoran megah.

Lama kami asyik dalam pikiran kami masing-masing. Aku sibuk menikmati nasi goreng pedas yang masih mengepul itu. Abang Udin juga.

“ Abang…” Aku dengan lirih, membuat Abang Udin menoleh ke arahku. Mulutnya sibuk mengunyah halus nasi gorengnya.

“ Kalau kita kawin…Abang maunya kita punya anak berapa Bang?”

Sejenak Bang Udin berpikir, “ paling dikit tiga deh.”

“ Kenapa tiga bang?” Aku mengunyah cepat makananku agar bisa mengajukan pertanyaan lainnya.

“ Yah…kalo satu kan kedikitan. Tar kalo kawin kita cuma berdua di rumah. Kalau cuma dua juga masih sepi. Nah tiga tuh pas dah…” Bang Udin beralasan dengan logat Betawi yang kental. Aku hanya mengangguk-angguk saja.

“ Yah sebetulnya sih kalau bisa, Abang mah pengennya anaknya banyak. Biar rame. “ Bang Udin melanjutkan.

“ Banyak bang…ih bagaimana ngurusnya? Mana sekarang harga-harga mahal lagi.”

“ Yah Neng…banyak anak banyak rezeki. Insya Allah setiap anak mah pasti ada rezekinya..”

“ Iya yah Bang…” Aku mengangguk-angguk sambil menyendukkan suapan nasi gorengku yang sudah hampir habis.

“ Itu mah gak usah dipikir. Nih doain aja neng, tar kalau karir Abang bagus. Ntar kan habis jadi Satpol PP. Abang bisa jadi Ketua Satpol PP. Mana tahu nasib baik, Abang bisa jadi walikota. Ntar kan Eneng jadi ibu Walikota.”

Aku tertawa cekikikan mendengarnya. Kekasihku memang seorang pekerja keras, dia memiliki mimpi yang besar. Abang yakin sekali suatu hari nanti dia akan menjadi seseorang. Itulah yang membuat aku semakin cinta kepadanya.

Kupandangi wajah kekasihku yang sedang berkonsentrasi dengan nasi gorengnya. Kupandangi dengan penuh perasaan cinta. Cinta yang bergejolak. Oh Tuhan…Demi Tuhan aku mencintainya. Izinkan kami saling mencintai hingga akhir hayat.

Dan seketika itu pun khayalanku melayang jauh, kepada rencana pernikahan kami yang tinggal berbilang bulan. Kurang dari enam bulan kami akan menikah. Sebulan setelah lebaran.

Aku membayangkan diriku dan dirinya yang sedang duduk di singgasana pengantin. Saling memandang dengan penuh cinta. Menyalami setiap tamu yang dating. Dan… dan… oh banyak sekali khayalan indah tentang aku dan dia.

Sebentar lagi. Enam bulan tidak akan lama lagi. Aku hanya perlu bersabar sedikit saja. Dan kami akan sah menjadi suami-isteri.

Kami mengobrol banyak hal hingga nasi goreng dalam piring kami ludes tak bersisa. Ketika akhirnya kami menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Bang Udin mengajakku pulang.

“ Yuk… Neng kita pulang. Tar kalau kemaleman dimarahin lagi.” Bang Udin sambil bangkit berdiri.

“ Ya deh…” Aku tersenyum dan mengikutinya bangkit dari duduk.

Setelah membayar nasi goreng dan teh botol. Kami berdua berjalan beriringan menuju tempat parkir motor. Dan tanpa mengulur waktu, Abang Tadjudin menyalakan mesin motor dan memacu motornya membelah jalanan ibukota yang mulai lengang. Sedang aku yang duduk di belakang memegang pinggangnya dengan erat.

Abang mengantarku dengan selamat sampai di depan rumah. Abang tidak terlalu lama di rumahku. Dia segera mohon diri setelah bertatap muka dengan orang tuaku sebentar. Aku melepas kepergiannya di depan rumahku. Memandangnya hingga sosoknya lenyap ditelan kegelapan malam.

***

“Fiuh…hari yang melelahkan!”

Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur. Berbaring dengan kedua kaki yang masih menggantung di pinggir ranjang, sambil menatap langit-langit.
Sederetan rekaman kegiatan sepanjang hari melintas di pelupuk mataku seperti film. Semua terputar jelas dalam mataku. Berganti-ganti episode.

Dan kini bayangan Tadjudin menari-nari di pelupuk mataku. Aku tersenyum tipis membayangkannya. Oh…aku ingat semenjak malam minggu kemarin aku belum berjumpa dengannya. Walau kami tidak sama sekali putus komunikasi. Kami masih saling berkirim pesan cinta lewat sms. Sesekali dia juga mengomentari statusku di facebook atau sekedar mengirim pesan.

Dengan malas aku meraih telepon genggamku yang tadi sempat kulempar di atas ranjang. Kuraba-raba untuk mengetahui letak si telepon genggam. Setelah dapat aku segera meraihnya.

Dan dalam hitungan detik setelah telepon genggam itu ada di genggamanku aku sudah terhubung dengan situs pertemanan Facebook.

“ Wow, satu pesan baru.” Gumamku. Buru-buru aku lihat dan ternyata dari arjunaku. Kubaca perlahan pesan itu.

"Doain aku. Aku ada taruna pembongkaran di Priok."

Pesan ini dikirim Tadjudin melalui BlackBerry miliknya Selasa silam sekitar pukul 23.00.
Dan dengan lincah jari-jemariku mengetikkan balasannya: "Ya, aku doain."

Aku tersenyum puas akhirnya balasanku terkirim dengan sukses. Dalam hatiku berdoa, “Ya Allah lindungilah arjunaku besok…Aku mencintai dia ya Allah.”

Dan dalam hitungan detik aku pun melayang jauh ke alam mimpi. Telepon genggamku pun terlepas dari genggamanku.

***

Tadjudin dan ratusan Satpol PP lainnya sudah berada di dalam truk yang akan mengangkut mereka ke Koja. Tadjudin tidak tahu pasti apa tugas yanga akan dijalaninya. Dia hanya tahu dari briefing pagi ini, bahwa mereka ditugaskan untuk menjaga ketertiban persiapan pengosongan lokasi makam. Katanya Makam Mbah Priok yang selama ini sering dikunjunginya akan direnovasi. Tapi entahlah, Tadjudin tidak tahu pasti.

Tadjudin sedikit bingung mengapa banyak untuk mengamankan lokasi dibutuhkan ratusan Satpol PP. Sebetulnya apa yang akan dihadapinya. Tadjudin hanya terdiam. Dia bahkan tak berminat lagi untuk terlibat pembicaraan dengan rekan-rekan seperjuangannya. Rasa kecut dalam hati Tadjudin diam-diam muncul ke permukaan. Dan Tadjudin buru-buru menepisnya.

“ Tidak…Aku harus kuat. Insya Allah ini adalah tugas Negara.” Tadjudin menguatkan dirinya.

Tak sampai satu jam, truk yang ditumpanginya sudah memasuki wilayah Koja. Tadjudin celingukan mengintip ke luar melihat keadaan. Dan Tadjudin melihat adala puluhan truk serupa. Dan dia juga melihat beberapa mobil besar milik media televisi ternama di Indonesia. Hati Tadjudin bertanya-tanya, sebenarnya ada apa di luar?

Saat komandan batalyon Satpol PP menyuruh rombongannya untuk turun dari truk. Tadjudin kini bisa melihat dengan jelas bahwa disitu tidak hanya ada pasukan Satpol PP yang jumlahnya ratusan tetapi juga ada polisi. Namun dia berusaha untuk tidak terlalu memusingkannya. Dia menyadari tugasnya disini hanya mengamankan. Bukan yang lain.

Dari tempatnya berdiri, Tadjudin juga melihat puluhan atau mungkin ratusan penduduk sipil yang sedang berjaga-jaga di sekitar makam. Satpol PP sudah berulang kali diingatkan agar tidak gampang terprovokasi. Mereka diam saja biarpun mereka meledek dan mencerca.

Matahari mulai meninggi. Teriknya seakan membakar tubuh dan hati. Satu persatu bom Molotov pun mulai beterbangan menyerang. Pasukan Tadjudin terpancing. Dengan beringasnya mereka menyerbu masyarakat. Tadjudin sempat menimang-nimang apakah dirinya harus ikut dalam perseteruan itu atau tidak.

Tadjudin bingung, bagaimana mungkin dirinya bisa terjebak dalam polemik ini. Tadjudin tidak tahu mengapa harus dia yang dilibatkan untuk membantai jemaahnya sendiri. Disitu Tadjudin biasa berziarah dan Tadjudin mengenal beberapa.
Ini harus dihentikan. Tadjudin berlari bersama pasukannya yang merangsek masuk memukul mundur masyarakat Koja. Tadjudin hanya ingin berteriak, agar teman-temannya menghentikan semua ini. Semua ini salah. Seharusnya ini tidak ada dalam skenario pengamanan penggusuran. Seharusnya.

“ Hai Tunggu!!!” Tadjudin berteriak hingga lehernya tercekat.

“ Ini semua salah…! Tahan…Kita tidak boleh…” Tadjudin semakin histeris. Namun percuma tidak ada yang mendengar teriakan Tadjudin. Semua teman-temannya mulai terpancing emosi. Begitupun masyarakat. Tadjudin terbawa arus. Dia dipukuli, nyaris terinjak-injak ketika Tadjudin hendak melerai teman-temannya yang kesetanan memukuli seorang pemuda tanggung yang sudah berdarah-darah. Tadjudin berhasil melepaskan diri dari kerumunan. Namun Tadjudin tidak tahu lagi nasib pemuda tanggung itu.

Tadjudin berhenti sejenak sekitar pukul 13.30. Buru-buru dia mengeluarkan blackberrynya untuk mengirimkan pesan pada kekasih hatinya.. "Pundakku cedera, tangan kananku keseleo."

Calon istri Tadjudin pun membalas: "Kamu baik-baik aja? Kamu di mana?"
Tadjudin menyimpan blackberrynya dengan segera. Dia ikut berlari mengikuti teman-temannya untuk menyelamatkan diri. Tadjudin tertinggal jauh. Keadaan semakin bahaya. Semua lari tungang-langgang.

Tadjudin sempat mendengar teriakan teman-temannya agar segera berlari menuju kapal boat yang sudah disiapkan oleh polisi laut untuk melarikan diri. Tadjudin berlari sekencang-kencangnya. Namun, Tadjudin yang sudah tertinggal jauh memilih untuk bersembunyi, karena Tadjudin tidak tahu harus bagaimana lagi. Sekuat mungkin Tadjudin berlari, tak akan sanggup mengejar kapal boat itu.

Tadjudin menyerah, dalam hatinya dia berdoa agar Tuhan menyelamatkannya. Bajunya basah oleh keringat yang mengucur deras di sekujur tubuhnya. Kerongkongan Tadjudin tercekat, haus sekali rasanya. Terik matahari benar-benar membuat Tadjudin semakin kepayahan, namun Tadjudin menahan diri agar persembunyiannya tidak diketahui masyarakat yang mulai kalap.

“ Woy…tuh disana. Ada Satpol kampret. Ayo serbu!”

Terdengar teriakan beringas masyarakat mendekati tempat persembunyian Tadjudin. Tadjudin bergidik ngeri. Dalam hati ia sempat berteriak, “Ya Allah…lindungi aku!”
Dalam hitungan detik, masyarakat yang kalap berkerumun. Mereka memukuli Tadjudin dengan kayu, batu. Tadjudin di tonjok, ditendang. Darah segar mengucur dari pelipis Tadjudin. Tadjudin tak bisa berkutik, dia tak sanggup lagi berlari. Tadjudin sempat melihat beberapa orang yang berusaha menyelamatkannya, melindungi tubuhnya yang sudah lemah berlumur darah dengan tubuhnya. Tapi tubuh orang itu tak terlalu kuat untuk melindunginya dari amukan orang-orang yang sudah kalap.

Tidak hanya satu orang yang berusaha melindungi Tadjudin, seorang bapak-bapak berpeci pun berusaha melindunginya, sambil berteriak “Jangan-jangan dipukul, tahan. Dia juga hamba Allah!” Namun orang-orang yang sudah kalap tidak memperdulikan seruan dewa penolongnya.

Tadjudin tidak kuat lagi. Dia sempat berteriak minta ampun dan minta tolong. Minta segera disudahi penderitaannya. Namun lengkingannya tak diindahkan oleh siapapun. Tiba-tiba Tadjudin teringat ibu dan bapaknya di rumah. Tadjudin belum menunaikan janjinya untuk menyelesaikan kuliahnya. Tadjudin juga ingat Aida, kekasihnya, jantung hatinya yang akan dinikahinya Oktober ini.

Tadjudin menangis, menitikkan air matanya. Tadjudin teringat dirinya belum menunaikan shalat Dzuhur. Dan tiba-tiba suara teriakan masyarakat yang beringas mulai terdengar samar. Dan semuanya berubah menjadi gelap.

***

Sementara itu, isak tangis mewarnai pemakaman Ahmad Tajudin (26), Satpol PP yang meninggal dunia dalam bentrokan dengan warga di Koja, Jakarta Utara. Keluarga, kerabat, dan calon istri korban Aida Apriani tampak tak kuasa menitikan air mata saat jenazah almarhum mulai dimasukkan ke liang lahat.

Usai disemayamkan di rumah duka di Jalan HH RT 09/01 No 40, Kebonjeruk, Jakarta Barat, jenazah kemudian dibawa ke Masjid Assurur, yang lokasinya berdekatan dengan rumah korban untuk disholatkan.

Di mata keluarga maupun rekan sejawat, almarhum dikenal sebagai sosok yang ramah dan sangat disukai oleh rekan-rekannya. Selain itu, korban juga dikenal rajin beribadah. Ironisnya, ternyata korban merupakan salah satu jemaah pengajian yang pada Sabtu (10/4) lalu sempat berziarah ke makam Mbah Priok. Bahkan sebelum menemui ajalnya, korban sempat mengirimkan pesan singkat kepada rekan-rekannya di pengajian Taruna Masjid Assurur (Tamasur), yang isinya, meminta maaf kepada umat muslim lantaran ia hanya menjalankan tugas untuk membongkar gapura dan pendopo makam Mbah Priok.

***

Aida memandangi gundukan tanah basah tempat kekasihnya Tadjudin dikuburkan. Dia mengusap air matanya sambil menarik nafas dalam-dalam demi membentuk kekuatan dalam hatinya yang teramat lara.

Tanggal keramat 10-10-2010 yang sudah lama dinantikannya sebagai hari pernikahannya kini tinggal kenangan. Pernikahan itu tidak pernah ada. Sampai kapanpun Aida tidak akan pernah menikah dengan Tadjudin kekasihnya. Tadjudin meninggalkannya sendirian di sini.

Aida memandang gundukan tanah basah itu dengan pilu. Kedua tangannya di letakkan di atas dadanya. Sudah hampir dua hari dua malam dia menangis sesenggukan hingga air matanya kering. Namun hari ini dia telah membulatkan tekatnya untuk merelakan kepergian kekasihnya menemui Tuhan-Nya.

Aida mencium gundukan tanah basah itu. Sebelum bangkit berdiri. Aida sempat ragu meninggalkannya. Tapi ia ingat pesan guru ngajinya, “ Arwah tidak bisa kembali kepada Tuhan-Nya dnegan tenang bila tidak diikhlaskan pergi.”

Aida menggigit bibirnya pelan tak sampai berdarah. Aida menahan diri sekeras mungkin agar tak ada lagi air mata yang jatuh. Aida ikhlas melepas Tadjudin.

“ Pergilah Tadjudin, Sampai kapanpun aku akan mengingat bahwa aku pernah mencintaimu. Sampai jumpa Tadjudin!”

Aida memandangnya untuk yang terakhir kali. Sebelum dia menguatkan hatinya untuk beranjak pergi meninggalkan kuburan kekasihnya. Mungkin Aida tidak ingin menghapus sms terakhir dari Tadjudin, karena itulah satu-satunya kenangan terindah dari Tadjudin

RISMA BUDIYANI
Jakarta, 16 April 2010
Mengenang tragedi Koja. Berdamailah saudaraku!
( Sambil berlinang air mata)

Dilarang keras meng-copy paste cerpen ini tanpa seizin penulisnya dan tanpa mencantumkan nama penulisnya!!!