Rabu, 21 Desember 2011

Surat Resign



Berikut adalah surat resign saya untuk teman-teman tercinta di sarang elang. Sepertinya lucu kalau dishare di sini. Baca yah....

Beberapa hari ini tiba-tiba saya mengalami sakit kepala yang teramat. Hari yang menakutkan dalam sepanjang hidup saya akhirnya akan segera terjadi. Saya akan mengundurkan diri secara resmi dari kantor pemberitaan tempat saya menghabiskan masa-masa indah selama 4 tahun ini.

Saya sudah memikirkan masak-masak keputusan saya ini selama hampir setahun lebih. Namun tetap saja menjelang detik-detik kepergian saya dari sebuah tempat yang saya anggap ‘surga’ ini saya sedih sesedih-sedihnya. Kalau saya boleh melukiskan perasaan saya selebay-lebaynya. Maka ini adalah kesedihan paling mengerikan sepanjang sejarah saya. Rasanya baru kemarin saya melamar, tes dan akhirnya menjadi bagian dari hidup saya selama 4 tahun belakangan. Dan kini saya sudah harus pergi membawa luka. Luka akan perpisahan yang menyedihkan.

Ingatan saya tiba-tiba mundur ke belakang, tepat pada tanggal 3 September 2007.
Saya berjalan menyusuri lorong dengan interior desain mewah ala hotel. Masih dengan kekaguman, mataku menerawang pada setiap detil lorong. Sesekali mengintip sepintas lalu dari kaca pintu-pintu yang tertutup rapat. Rasa ingin tahu saya yang besar di antara segenap kekaguman yang membuncah mendorong saya untuk mencari tahu ada apakah gerangan di dalam pintu-pintu yang mirip kamar hotel itu. Bila gelagat saya tertangkap mata orang yang lalu-lalang, saya buru-buru mengalihkan pandangan ke permadani cantik yang menutupi seluruh lantai di lorong. Lagi-lagi otak saya sibuk menghayalkan apakah di balik karpet itu ada ubin keramik, marmer atau malah tanah. Ah tak penting….

Saya masih berjalan di lorong yang sebetulnya tidak terlalu panjang. Namun saya menikmati sekali setiap langkahku. Ini kali pertamaku menginjakkan kaki di sebuah kantor pemberitaan. Hari ini ada serangkaian tes yang harus saya lalui. Bila saya mampu melewatinya, maka dalam bilangan minggu saya akan menjadi bagian dari tempat ini. Perasaan senang tiba-tiba menyeruak tanpa permisi dari dalam hati. Namun segera saya tepis dengan kegalauan alami yang mengalir begitu saja. Galau, khawatir, berdebar, semua bercampur menjadi satu. Saya menghentikan langkah sejenak demi membenarkan posisi tas tangan, menarik nafas dalam dan menghembuskannya kembali secara perlahan demi sebentuk perasaan lega. Kemudian saya melangkahkan kaki dengan gagah layaknya seorang prajurit yang siap bertempur di medan laga.

Akhirnya saya menemukan meja bundar besar di dekat dua mesin fotokopi. Saya sedikit celingak-celinguk memastikan bahwa saya tidak salah menafsirkan petunjuk ibu-ibu personalia yang baru beberapa menit lalu kutemui. Damn! Tidak ada tulisan atau papan nama yang memberikan sedikit informasi tentang ruangan apa itu.

Saya sempat menghentikan langkah lagi. Kali ini saya mengedarkan pandang pada lebih dari 5 orang berpakaian hitam putih sama seperti yang saya pakai. Terlihat dari ekspresinya, mereka pasti sedang menantikan sesuatu. Kesemuanya perempuan, kecuali satu-satunya laki-laki berbadan tinggi tegap, dengan rahang yang kuat, berkulit agak gelap, hidung sedikit mancung dan bermata polos. Dia satu-satunya makhluk ganteng di antara sejumlah perempuan yang mengelilingi meja bundar.

Saya pun menghampiri mereka, sambil sedikit berbasa-basi. Dari situ saya tahu bahwa mereka semua sedang menantikan hal yang sama dengan diriku.

“Silahkan!” Lelaki tegap itu berdiri dan menyorongkan kursinya kepadaku sebagai isyarat dia mempersilahkan saya duduk.
” What a gentleman…” dalam hati saya berseru.
Serius?!?”
“ Tentu saja serius….”
Tanpa banyak cingcong saya pun menghempaskan pantat ke kursi kulit imitasi berwarna hitam itu.

“Terimakasih…”

“ Sama-sama…” Pria itu kelihatannya masih bersikap sok gentleman.

“ Ohya saya Risma….” Saya mengulurkan tangan kepadanya. Mata kami saling bersirobok. Tangannya meraih tangan saya dan kami pun berjabatan.

“ Yusuf…”

Yusuf adalah salah satu dari sepuluh orang pertama yang saya kenal di kantor itu. Yusuf yang fresh graduate dari universitas yang sama dengan saya. Sehari kemudian akhirnya saya tahu, dia adalah bagian riset dari divisi tempat saya ditempatkan.
Yusuf yang polos adalah sasaran empuk untuk digoda. Kelucuan demi kelucuan terjadi begitu saja tanpa permisi oleh tingkah polahnya yang lucu. Yusuf yang memiliki wajah mirip Presiden Amerika Serikat, Barack Obama hanya mengenal hitam dan putih, tidak ada abu-abu. Namun Yusuf terlebih dahulu lulus dari kantor pemberitaan itu.

Yusuf adalah salah satu dari sekian banyak teman yang menoreh kisah manis di dalam hidup saya sepanjang berada di divisi marketing. Masih ada Resti, Christi, Ugi, Wahyu, Kristin, Dewi, Tari, Hanum, Mas Ari, Mbak Viza Ci Catherine, bos kami yang cantik dan baik, Wiwit dan Fahmi.

Walau saya tahu, Desember 2011 adalah bulan terakhir saya di tempat ini. Namun hingga hari ke-15 di bulan Desember 2011, saya masih belum bergeming. Saya belum juga menyerahkan surat resign yang sudah saya buat sejak dari jauh-jauh hari. Beberapa malah menyangsikan kesungguhan saya untuk pergi, mengingat saya sudah berkali-kali mengurungkan niat untuk mundur.

Sudah beberapa bulan ini saya memang berhenti melihat kalender kalau tidak terpaksa. Saya tidak tahu tanggal secara persis. Saya hanya tahu hari bekerja dan tidak bekerja. Saya hanya merasa takut kalender akan mengingatkan saya bahwa saya kian dekat dengan hari kepergian saya. Lagipula saya benar-benar sedang disibukan oleh sejumlah urusan yang menguras pikiran saya.

Beberapa kali Mas Agus, Mas Fatah, juga Mas Sofyan menanyakan kesungguhan saya untuk mengundurkan diri dan meminta saya untuk memikirkan berulang kali. Berulang kali saya berusaha meneguhkan diri saya. Bermalam-malam saya tidak bisa tidur sebelum larut malam. Ada semacam ketakutan tak terkira bila saya harus berpisah dengan kehidupan yang indah selama 4 tahun ini.

Tiba-tiba saya teringat dengan impian masa kecil saya selain menjadi penulis besar. Dulu saya penggemar serial Ninja Turtle Teenage Mutant, salah satu idola saya adalah April O’Neal tokoh reporter perempuan yang bekerja untuk Channel 6. Maka saya ingin sekali bekerja di sebuah kantor pemberitaan. Ketika beranjak dewasa, saya hanya menemukan satu-satunya kantor pemberitaan di Indonesia hanya Metro TV. Maka disanalah saya bercita-cita.

Saya hampir kehilangan cita-cita ketika saya malah menjadi lulusan Sarjana Pertanian IPB. Saya tahu bahwa mungkin takdir saya akan berakhir di sebuah perkebunan kelapa sawit. Ternyata takdir malah berkata lain. Lulus IPB, bekerja di sebuah shipping company, menelurkan satu novel perdana yang memperkenalkan saya pada Metro TV. Saya dipanggil untuk live interview sebagai narasumber di sebuah morning program. Dan setahun kemudian malah saya resmi bergabung di sarang elang.

Saya bahagia, walau mungkin saya tidak pernah menjadi bagian dari garda depan kantor pemberitaan seperti yang saya impikan. Tetapi setidaknya bakat menulis saya tersalurkan. Tipikal Pisces, saya bukan pengejar materi ataupun karir. Saya bekerja sungguh-sungguh untuk kepuasan batin saya. Ketika kebanyakan orang di luar sana merutuki gaji atau karir yang tidak naik-naik, saya hanya tersenyum. Saya bersenang-senang dengan pekerjaan saya. Saya bahagia dikelilingi orang-orang baik yang membuat saya merasa nyaman. Siapa nyana dua novel saya malah terbit di sini, satu novel yang menunggu terbit juga terilhami oleh kisah-kisah indah di sarang elang.

Saya bangga menjadi bagian dari sekumpulan elang. Secara perlahan filosofi elang merasuk dan membuat saya ikutan militan. Saya bersyukur saya tidak merasa ikut berdosa menjadi bagian yang merusak moral bangsa melalui tayangannya. Saya bangga bisa berdekatan dengan orang-orang cerdas yang terpilih dari berbagai latar belakang.
Tempat ini seperti rumah kedua bagi saya. Bahkan mungkin lebih dari separuh hidup saya selama 4 tahun ini dihabiskan di kantor. Rumah hanyalah tempat numpang tidur. Selebihnya saya menghabiskan masa-masa indah yang penuh tawa di kantor.

Ketika hati saya terluka oleh badai yang menghempas hidup saya. Maka kantor adalah pelarian yang manis. Seketika luka saya lenyap mendengar celoteh teman-teman tercinta di kantor. Tertawa terbahak-bahak sampai saya lupa kesedihan saya. Sesampainya di rumah, selalu ada cerita yang bisa disampaikan untuk orang-orang terkasih. Di akhir cerita mereka yang mendengar kisah saya selalu berkata, “ what a wonderful office life...”

Saya tidak peduli dengan office politic. Saya bersenang-senang dengan pekerjaan saya di kantor. Mungkin karena saya memang tidak perlu memikirkan uang atau karir. Alhamdulillah, Tuhan memberikan saya talenta untuk mendapatkan pendapatan lain selain gaji.

Pada dasarnya saya adalah pribadi yang ceria. Saya hampir tidak pernah mengkhawatirkan hal-hal remeh. Saya extrovert yang sangat ekspresif. Semua orang bisa tahu kapan saya sedang bahagia, kapan saya sedang gundah gulana. Saya suka bercerita tentang hayalan-hayalan, kucing-kucing ataupun hal lain yang mengundang tawa. Begitupun saya suka mendengarkan.

Suara saya yang memekakan telinga, gaya saya yang extra-ordinary menjadi icon tersendiri. Dan teman-teman akan cemas bila saya kehilangan itu semua. Sesuatu pasti sedang terjadi.

Suatu kali memang saya membisu selama hampir sebulan. Saya sedang dirundung sedih teramat hingga tak sanggup berkata-kata. Itu pun sudah membuat seisi ruangan resah. Suara saya kembali bersamaan dengan kemunculan novel saya. Pernah juga saya membuat kehebohan dengan menangis karena hal yang bahkan saya tidak mengerti ujung pangkalnya. Saya sedang dalam keadaan tertekan maka hal kecil bisa saja membuat saya menangis. Selebihnya saya hanya tertawa dan tertawa. Saat-saat ke kantor adalah hal yang paling menggembirakan.

Tahun lalu, 26 Oktober saya mengalami kecelakaan terparah dalam hidup saya yang hampir membuat saya kehilangan tangan kanan saya. Saat saya sedang terbaring tak berdaya sendirian di ruang ICU dengan wajah sembab menahan sakit yang teramat. Senyum Mas Sofyan dan Mas Fatah lah yang pertama kali saya lihat. Mereka yang menguatkan hati saya.

Menjelang detik-detik operasi, mbak Besti datang bersama sang suami membawakan setumpuk majalah sebagai hiburan selama menjalani masa perawatan pasca operasi. Dan Bang Parlin, salah seorang karyawan senior yang juga pendeta datang hanya untuk mendoakan agar Tuhan melindungi saya. Dan saya menangis haru seharu-harunya.
Setelah itu kunjungan tak ada habis-habisnya dari teman-teman kantor. Belum lagi gerombolan marketing yang menghebohkan satu lantai rumah sakit karena kami tertawa-tawa heboh. Saya tidak peduli lagi dengan anjuran dokter untuk beristirahat total. Saya bahagia didatangi teman-teman saya.

Ah, betapa saya menemukan surga di tempat ini. Hidup saya penuh warna dengan kehadiran teman-teman saya. Saya jatuh cinta. Dan saya terpasung dalam cinta. Saya hampir tak memikirkan nasib saya yang masih menggantung hingga seorang malaikat tanpa sayap meyadarkan saya, bahwa mungkin tempat ini bukanlah tempat yang tepat untuk meraih mimpi.

Berkali-kali saya hampir mengikat janji dengan kantor lain. Dan ketika saya mempergunakan waktu saya untuk menimang-nimang keputusan saya. Saya kembali bercengkrama dengan teman-teman saya. Tiba-tiba saya merasa seperti berkhianat. Entah berkhianat pada apa dan siapa. Saya malah serta merta memutuskan untuk mundur sebelum mengikat janji.

” Kamu tidak perlu pergi...” Suara Fred menyadarkan lamunan saya. Mata saya berkaca-kaca. Saya tersenyum kepada teman saya yang paling sering meledek saya.

” Harus, bukannya kamu senang. Kamu kan yang sering meledek aku?”

” Sejak kapan kamu mengambil hati ledekanku?”

Dalam hati saya gamang segamang-gamangnya. Saya hampir tidak yakin dengan jalan yang akan segera saya tempuh. Belum lagi kalau harus mengingat semuanya tiba-tiba berjalan tidak sesuai rencana.

Ketika saya berkata dengan lantang untuk menegaskan bahwa perkataan saya kali ini adalah benar. Saya benar-benar akan menyerahkan surat resign itu. Maka Fred mengancam saya untuk merobek-robek surat itu.

Kali lain Mas Fatah menanyakan apakah saya sudah menyerahkan surat pengunduran diri karena pihak HRD tidak bisa memproses orang baru, kalau saya belum menyerahkannya. Saya menelan ludah. Benar juga, saat itu sudah tanggal 15 Desember. Saya segera menyeret langkah saya menuju bangku. Tangan saya gemetar membuka file surat resign yang sudah lama tersimpan dalam flash disc saya. Tiba-tiba saja air mata saya menetes tanpa ampun lagi. Saya menunduk, berusaha keras menahan diri agar tidak ada seorang pun yang melihatnya. Setelah puas menangis, saya segera menghapus air mata saya. Saya tatap sekali lagi surat resign di layar. Saya harus menarik nafas dalam-dalam untuk meneguhkan hati.

Tiba-tiba terdengar suara yang entah bagaimana terdengar begitu jelas di telinga saya, ” Ayolah Risma, bukankah ini yang sudah kamu rencanakan sejak jauh hari? Sekarang atau tidak sama sekali!”

Baru saya akhirnya memberanikan diri untuk menge-print surat itu. Tekad saya memang sudah bulat untuk memulai hidup baru di tahun baru. Saya harus, atau selamanya saya akan terpasung dalam cinta.

Setelah saya mengeprint surat pengunduran diri. Saya tersenyum getir. Sejenak saya berdiri terpaku memandang satu persatu teman-teman saya yang sedang asyik berceloteh sambil bercanda ria. Dalam bilangan hari saya akan kehilangan semua tawa, canda dan keceriaan ini. Tidak ada lagi yang mengolok-olok dan membuat saya kesal sekaligus tertawa terbahak-bahak hingga sakit perut.

Saya masih tersenyum, namun dengan luka hati yang menganga akan sebuah perpisahan. Tidak akan ada lagi suara cempreng Mas Sofyan yang menceriakan. Tidak ada lagi senyum manis dan candaan garing Mas Agus, yang juga seorang dosen. Tidak ada lagi Bang Parlin yang berceramah tentang jalan kristus. Tidak ada lagi cerita tentang Mas Miko, sang seniman nyentrik yang selalu berpikiran ‘out of the box’. Tidak bisa lagi melihat wajah Mas Fatah yang mirip dengan Mario Teguh. Tidak bisa lagi melihat ulah genit Endang menggoda para pria atau saat dirinya galau menanti Pangeran Fiji-nya. Atau ulah si Putri Nanet saat sedang berada di depan cermin.

Tidak akan ada lagi ejekan dari Fred, preman Labuhan Bajo yang takut akan kucing atau bulu-bulu. Celoteh si jenius Agung tentang para gadis yang ditaksirnya namun tak pernah dapat diraihnya.

Kemana saya harus beli pulsa kalau tidak kepada Emiria atau sekedar mendengarkan kisah-kisah hidupnya sambil naik motor berdua saja. Siapa lagi yang harus dibangkitkan rasa percaya dirinya kalau bukan Bedu si petualang.

Saya pasti akan ketinggalan cerita Lian dan bayi yang akan lahir. Saya mungkin tidak akan bertemu Rima saat dia masuk nanti. Saya pasti tak bisa lupa ketegasan sikap Mas Syaiful menantang AE yang ’bandel’. Saya pasti rindu ketegangan saat Imam Alawi menyetir mobil di jalan tol dengan kecepatan sangat tinggi hingga saya pikir saya akan mati, atau video lucunya yang menunjukan ’sisi lainnya’.

Saya pasti tak akan lupa aksi gila Meitha di tempat karaoke atau keberuntungan demi keberuntungan yang dia dapat dari setiap kuis yang diikutinya. Si cerewet Fina saat mengingatkan report.

Kang Azzust dan kulet-kuletnya (kulet adalah kue pelet dari para perempuan yang menggilainya). Saya pasti merindukan saat-saat kabur dari kantor hanya untuk window shopping dengan Nova. Atau senyuman Mbak Besty saat melihat ulah saya melancarkan serangan balasan kepada Kiki si motion grafis yang berulangkali mencandai saya. Saya pasti rindu bekal makan siang buatan ibu Yani sang sekretaris.

Saya pasti rindu saat-saat berwisata kuliner dengan mobil besar Mas Murti bersama teman-teman dah Rahmat. Saya pasti tak akan lupa dengan Brigitta yang saya jadikan tokoh dalam salah satu novel dan calon FTV saya. Saya juga pasti akan rindu mendengar kisah Marina dan LDR-nya. Sandy dan gayanya yang mengingatkan saya pada salah satu personil band. Saya pasti akan kehilangan Martinus sebagai partner belajar bahasa Spanyol. Juga suasana menegangkan saat Bu Yasmin datang.

Saya pasti akan selalu ingat bagaimana Pak Arief dengan sedemikian mempesonanya mengeluarkan ide-ide cerdas pada setiap meeting. Atau tingkah polah para AE yang terkadang menggelikan. Sani, Heru, Mbak Tatu, Sinta, dan lain-lainnya. Saya pasti rindu si elang ganteng yang berdiri angkuh di depan lobby 2. Begitu pun saya akan rindu masakan ala cafe yang entah bagaimana jarang sekali sesuai selera saya.

Saya akan rindu para satpam dan resepsionis yang menyapa saya ramah sambil bercanda-canda ria. Saya akan rindu senyum manis Pak Tua penjaga masjid saat saya datang atau ketika dia baru saja menemukan kejutan untuknya yang saya sembunyikan di dalam lemari mukena. Saya rindu wajah-wajah senyum yang menatap saya di sepanjang koridor. Dan mungkin saya akan rindu kucing-kucing kantor.

Sepertinya lay out ruang baru merupakan pertanda bahwa kemesraan marketing memang harus berakhir sampai disini. Saya benci mengatakan kata berpisah. Saya bangga pernah menjadi bagian dari hidup kalian. Saya ingin bilang, I love you all. Maafkan bila selama ini saya banyak salah.

Tidak ada farewell party, saya tidak akan merayakan hari perpisahan saya yang sulit. Saya bahkan tidak tahu apakah saya sanggup mengucapkan selamat tinggal di hari akhir saya. Mungkin saya akan lebih banyak diam di hari-hari terakhir ini. Saya sedang mudah menangis....mellow terbawa suasana.

Semuanya akan berhenti sampai di sini. Mungkin jikalau pertemanan kita masih berlanjut, semuanya pasti akan berbeda. Tidak akan sama. Semuanya berubah. Pertemuan dan perpisahan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, karena perpisahan akan membawa kita akan pertemuan yang lain. Setiap manusia harus menyiapkan mental untuk keduanya.

Akhirnya dalam bilangan hari saya akan segera pergi meraih asa. Semoga asa itu membawa kebahagiaan, keceriaan yang lebih dan tidak bisa saya temukan ketika kita bersama. Saya akan merajut masa depan yang selama ini hanya mimpikan. Cerita telah usai sampai di sini, namun kenangan akan kalian akan selalu ada di hati saya.
#Bersambung ke bagian ’Ketika Saya Memilih Passion”#

Selasa, 12 Juli 2011

NEVER SAY GOODBYE, VIZA!




Hari ini lagi-lagi aku akan kehilangan satu orang penting dalam hidupku. Orang yang sedikit banyak telah membantu aku memaknai hidup yang tak selalu manis. Bahwa terkadang hidup juga harus kecut bahkan pahit.

Namanya Teja Ofteviza. Namun aku biasa memanggilnya dengan sebutan Mbak Viza. Kupanggil mbak, karena dia lebih senior beberapa tahun di atas aku.

Perkenalanku dengannya layaknya perkenalan dengan teman-teman kantor lainnya. Saat itu aku masih perawan kencur di kantor pemberitaan itu. Dengan malu-malu kusodorkan tangan kepada perempuan manis yang kurus di hadapanku.

"Viza..." Dia tersenyum padaku sambil meraih tanganku.

"Risma..." Aku jawab dengan senyum yang tak kalah manis.

" Dari IPB?"

" Iyah..."

Mbak Viza mengangguk dan dia segera melanjutkan pekerjaannya. Aku melirik sekejap deretan angka dan tabel-tabel yang bertebaran di layar monitornya yang sungguh tidak aku mengerti. Aku pun segera beringsut menghampiri penghuni ruang marketing lainnya.

Belakangan aku tahu, Mbak Viza adalah senior riset marketing di kantor pemberitaan itu. Dialah orang di belakang layar yang meramu data AC Nielsen menjadi laporan yang digunakan para decision maker untuk berdiskusi dan bertindak. Dia juga yang membuatkan data 'maha penting' untuk para account executive kami berjualan iklan.

Latar belakang statistika dari sebuah universitas ternama bernama IPB membuatnya memiliki nalar logis yang melebihi orang-orang kebanyakan. Semua didasarkan atas sebuah fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Dia selalu menggelitik pikirku yang sangat imajinatif dengan hal-hal riil. Dia selalu membuat hipotesa berdasarkan asumsi yang kelihatannya sudah dipikirkan masak-masak dengan memakai teori statistika. Kelihatan sekali pasangan hidupnya yang juga ahli riset, mencekoki alam pikirannya dengan hal-hal logis dan 'berat'.

Selanjutnya, dia menjadi 'partner in crime' yang tidak terpisahkan. Terutama dalam hal belanja dan diskon. Dimana ada aku hampir selalu ada dia. Puri Mall, Taman Anggrek, Tanah Abang, Sarinah menjadi saksi bisu betapa aku dan dia telah menghabiskan masa-masa ceria kami bersama.

Dia mirip ibuku, Sagitarius. Kalau menginginkan sesuatu harus terjadi saat itu juga. Walau akhirnya dia akan menyesalinya nanti.

Masih ingat bagaimana hebohnya dia ketika menginginkan sepasang sepatu crocs warna putih seharga 500 ribu. Dia nekat menjemput sepatu impiannya di sebuah pusat perbelanjaan Sudirman saat lunch break. Dan dia tidak melupakan aku, dia pun membelikannya untukku.

Mbak Viza adalah online shopper yang tidak pernah kapok walau sudah ditipu berkali-kali. Kepribadiannya yang sangat independen hampir tidak membutuhkan nasihat orang lain.
Satu hal yang membuat aku terkagum-kagum dengannya adalah dia satu-satunya perempuan tangguh di tim kami dengan jarak rumah ke kantor terjauh. Setiap hari Bogor-Jakarta-Bogor bukanlah hal yang mudah bagi ibu beranak dua.

Pagi-pagi buta saat kebanyakan warga Jakarta termasuk aku, masih di alam mimpi. Dia sudah bangun dan berjibaku dengan aktivitasnya. Memacu motornya dari rumah ke stasiun Bogor. Naik KRL Express tujuan Gondangdia. Dari Gondangdia, dia kembali memacu motor yang dititipkannya ke Kedoya.

Bisa dipastikan, dirinya hampir selalu tidak bisa datang tepat 8.30 pagi. Namun sebelum jam 9 dia sudah tiba di ruangan dengan penuh peluh, namun tetap dengan wajah penuh senyum. Semangat yang menyala-nyala. Tepat jam 17.30 dia sudah melesat memacu motornya, mengejar kereta. Bayangan dua anaknya sudah menari-nari di matanya.

Sekalipun jarak yang teramat jauh untuk ditempuh, Mbak Viza tetap berusaha untuk profesional. Satu-satunya alasan dia tidak masuk selain cuti tahunan adalah sakit anaknya. Atau dia benar-benar sudah tak berdaya untuk mengejar kereta. Dia selalu berkata, betapa malunya bila dia harus membolos karena alasan yang dibuat-buat. Tentu saja kata-kata itu menjadi tamparan tersendiri buat aku. Kala aku sedang tak bersemangat 'ngantor' maka bayangan Mbak Viza yang mengejar kereta dengan penuh peluh adalah semangatku.

Suatu kali di salah satu pusat perbelanjaan tempat aku dan dia menghabiskan waktu untuk shopping dia berkata.

"Aku mau resign."

Tentu saja aku mendelik dan membuatku hampir tersedak oleh minuman dingin yang sedang kuseruput. Hal itu membuatku terkejut, karena kutahu dia adalah superwoman yang paling loyal di tim-ku. Masa 9 tahun pengabdian adalah buktinya.

Dan dia mengangguk, sambil buru-buru mengalihkan pandangannya. Dia menyeruput lemon ice tea-nya.

Lagi-lagi mbak Viza menatapku yang penasaran. Dia terlihat menghela nafas demi membentuk kekuatan.

"Aku berusaha keras menjadi ibu yang baik buat Darell dan Abel.Tidak mungkin karir profesional selaras dengan karir sebagai ibu dan istri. Harus ada yang dikorbankan."

Suara mbak Viza semakin parau.

"Aku hampir tidak bisa melihat tumbuh kembang anak-anakku.Aku pergi saat mereka masih tertidur dan tiba di rumah saat mereka sudah beranjak tidur. Aku terlalu lelah. Perjalanan Jakarta-Bogor yang sudah 9 tahun kutekuni kini terasa cukup melelahkan.Rasanya sudah saatnya aku memutuskan memilih salah satu. Dan aku tidak mau lagi mengorbankan keluargaku demi materi."

Sejak pembicaraan itu berbulan-bulan lalu. Mbak Viza berusaha keras membulatkan tekadnya yang berulang kali nyaris batal. Dia memikirkan bagaimana jadinya jadi Full Time Mommy yang bergantung 100% pada gaji suami.

Pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana dia mengatur uang yang hanya bersumber dari gaji suami? Bagaimana dia bisa memenuhi gaya hidup sebelumnya? Bagaimana dia mencari penghasilan tambahan tanpa mengorbankan keluarga agar dapur tetap mengebul? Dan pertanyaan-pertanyaan lain berseliweran di pikirannya.

Dan akhirnya dia telah memutuskan setelah melewati pergulatan batin. Berkali-kali dia berdialog dengan Tuhan melalui istikharah. Dan dia belajar ikhlas akan keputusannya. Dia yakin Allah Maha Kaya, Allah lah yang kelak akan menolongnya kala sempit seperti biasanya.

Hari ini adalah hari terakhir Mbak Viza di kantor. Aku masih bisa melihat betapa berat hatinya meninggalkan 'surga'-nya. Di akhir masa jabatannya, dia masih saja mengkhawatirkan hal remeh temeh tentang apakah Agung partner risetnya akan baik-baik saja sepeninggalnya. Apakah Imam si anak baru sudah siap mental melebur diri di riset?

Hari-hari awal pasti akan berat. Dia akan kehilangan aku yang berceloteh tentang kucing-kucing dan hal-hal lain dengan gaya lebay dan suara keras. Salam super Mas Fatah si Mario Teguh gadungan. Gaya sok bijak Mas Syaiful. Mas Miko sang BOD yang datang dan pergi sesuka hati. Fred Mr. Serok Khan preman Labuhan Bajo yang takut dengan boneka atau kucing. Emiria sang juragan pulsa.

Bedu si anak musholla , Imam sang misterius. Celoteh Agung tentang perempuan yang ditaksirnya namun tak pernah berani didekatinya. Si Nanet, putri Cina Bangsawan. Rima dengan kehamilannya.

Kang Azzust dengan kulet-kuletnya. Gaya nyentrik Nova. Pak Dosen AM yang memaparkan teori komunikasi. Bu Kepala Sekolah CK yang sangat baik dan cantik. Bang Parlin sang pendeta yang selalu berbicara berdasar Injil. Avi si Cina Pasar yang selalu dibandingkan dengan Nanet.

Yani sang sekretaris dengan agenda meetingnya. Meitha Bieber, si alay Wiwit, si Cablak Fina. Atau celoteh Mas Sofyan yang selalu mengaku-ngaku sebagai mantan pacar Mbak Viza. Kisah Mbak Besty dengan petinggi Japfa dan Camat Sukabumi. Fahmi si kreatif yang biasa dipanggil Cun oleh si Tomboy Nova. Dan sudah pasti si Mr. Telat Kiki.

Kamu tahu apa yang paling aku syukuri dalam hidup?

Aku punya sahabat-sahabat seperti kamu dan yang lainnya. Orang-orang yang selalu membuatku tersenyum sekalipun aku sedang terluka.

Di sini aku bahagia. Aku tidak merasa bekerja sekalipun seringkali dikejar deadline. Betapa banyak kenangan manis yang tertoreh di sini. Menjadi elang, berkumpul dengan sekawanan elang.

Hari ini Mbak Viza akan pergi meraih asa. Kudoakan semoga asa itu membawa kebahagiaan, keceriaan yang tidak ditemukannya di sini. Cerita telah usai sampai disini. Namun kenangan akan mbak Viza selalu ada di hati kami.

Never say Goodbye!

Karena sejatinya perpisahan itu tidak pernah ada untuk sahabat sejati.

Kamis, 07 April 2011

BAD LUCK





Saya masih berbaring di ranjang. Sambil membayangkan setiap detil peristiwa yang terjadi kemarin. Sambil menghela nafas demi melegakan rasa yang menggelegak. Campuran antara rasa sakit, sedih, syukur, luka sekaligus bungah.

Kemarin hari Kamis tanggal 7 April 2011, saya seperti mengalami kejadian naas yang bertubi-tubi. Dimulai semenjak pagi hari.

Saya memang agak kelelahan pagi itu. Saya bangun sedikit lebih siang, karena saya yakin Kamis tidak akan semacet hari-hari kerja sebelumnya. Saya memesan taksi langganan saya, dan entah mengapa sang taksi tidak datang juga setelah sekian lama. Karena tidak sabar saya membatalkan pesanan saya. Dengan harapan saya bisa memberhentikan taksi di jalan raya depan komplek.

Mood saya memang sudah tidak baik saat itu. Hingga saya bertemu orang gila yang memaki-maki dengan mata mendelik-delik ke arah saya. Berteriak-teriak dan mempermalukan saya, karena seluruh pasang mata menatap saya. Saya bingung, apa yang terjadi. Saya hampir balas memaki kalau saya tidak ingat dia tidak waras. Tidak terbayang kalau saya memaki-makinya juga. Bisa-bisa ada pertunjukan dua orang gila saling memaki.Jadi saya hanya tersenyum, dan meninggalkannya.

Selepas bertemu dengan orang gila. Mungkin karena saya yang tidak berhati-hati dan memperhatikan jalan. Sebuah motor dengan kecepatan tinggi melaju dan hampir menabrak saya. Saya yang terkejut hanya berdiri mematung menantangnya. Untung saja si pengendara dengan sigap menghentikan laju motornya. Dan lagi-lagi saya dimaki-maki.

“ Pake mata dong kalau menyebrang…!”

Mata saya sudah berkaca-kaca dan memutuskan pulang saja kalau tidak ingat sejumlah tugas yang harus saya kerjakan di kantor. Singkat cerita akhirnya saya sampai di kantor. Tentu saja dengan mood yang tidak terlalu baik. Saya memilih diam seribu bahasa. Saya ingin hari itu segera berakhir.

Makan siang, saya memilih makan di luar dengan beberapa rekan. Tujuan saya sekaligus mengambil uang tunai dari salah satu ATM bank asing. Dan saya lagi-lagi dikagetkan dengan saldo saya yang berkurang secara gaib, ratusan dolar. Entahlah mungkin terdebet dua kali atau sistem charge fee yang tidak beres saat saya mengambil uang di ATM bank nasional. GREAT! Saya lemas dan semakin kesal. Makan siang saya juga jadi berantakan karena saya juga tidak mendapatkan menu makanan yang saya mau.
Dan akhirnya saya berhasil menyelesaikan hari Kamis. Saya pulang dengan selamat sampai di rumah. Hingga akhirnya kejadian mengerikan itu terjadi.

Seharusnya saya tahu kalau hari itu adalah hari naas saya. Maka saya tak usah kemana-mana lagi sesampai di rumah. Saya malah berjalan keluar gerbang untuk suatu keperluan. Saya berjalan tenang di pedestrian di luar gerbang hingga ada sebuah truk es krim yang berjalan oleng menuju ke arah saya. Saya panik, tetapi saya tidak bisa berkutik. Hingga badan truk itu sukses menyerempet saya hingga saya terjatuh. Kurang dari 1 menit, saya dengan sigap menarik kaki kanan saya yang nyaris terlindas ban raksasa. Semua orang teriak histeris melihat kejadian mengerikan itu. Saya masih bingung hingga truk itu melarikan diri.

Saya merasa seperti dalam salah satu adegan film 'final destination'. Setelah terhindar dari satu marabahaya, saya harus berhadapan dengan yang lainnya.
Untunglah, saya tidak apa-apa. Tidak seperti kejadian 6 bulan lalu ketika saya mengalami kecelakaan cukup parah dan membuat saya harus operasi dan opname. Ajaib, dihantam truk besar. Saya hanya memar-memar, dan kaki kanan saya yang nyaris terlindas hanya mengalami cedera otot tulang sehingga untuk sementara waktu saya harus berjalan dengan terpincang-pincang.

Setelah kejadian itu memang saya menangis sejadi-jadinya. Tetapi sekarang saya malah tersenyum. Tuhan hanya sedang mengingatkan saya. Mungkin akhir-akhir ini saya sering salah melangkahkan kaki makanya saya diingatkan kembali. Dan mungkin ini adalah kesempatan saya untuk mengistirahatkan kaki saya sejenak dan lebih banyak kontemplasi. Dan mungkin ini cara Tuhan untuk mempertemukan saya lagi dengan sang dokter specialis tulang tampan yang 6 bulan lalu merawat tangan saya pasca kecelakaan. Dialah sang dokter tampan yang juga perwira Angkatan Udara. Uhuy 

Kalau kata pangeran saya, “setiap segala sesuatu pasti ada hikmahnya”.

Kalau kata Agung, “ini saatnya untuk berdoa, karena doa orang yang terkena musibah diijabah”. Makanya dia juga ikut titip doa.

Kalau kata sesepuh,“ Oalahhhh nduk, kowe iku mesti diruwat!”

Kalau kata teman, “OMG again?”

Baiklah, saya mau memanfaatkan waktu istirahat saya dulu yah. Sambil mengistirahatkan si kaki kanan. Dan saya mengikuti adegan dalam sekuel ‘Final Destination’. Saya mengisolasi diri saya dulu, sampai kutukan hari sial itu benar-benar lepas.

Senin, 28 Februari 2011

COMING SOON A NOVEL "CATATAN HARIAN LAILA"

Dear all, ini adalah bocoran sedikit dari buku kelimaku yang sebentar lagi akan segera nampang di toko-toko buku kesayangan anda di seluruh Indonesia dan Insya Allah seantero jagat ;-). Novel ini adalah novel yang dibuat dengan sepenuh jiwa. Novel ini sekaligus sebagai record halaman terbanyak sebanjang saya menulis buku. Berharap, semoga buku kelima ini akan menjadi awal karirku sebagai penulis dunia. Dan semoga novel ini juga akan meramaikan jagat perfilman. Amiiiinnnnn.....

Ada yang mau jadi 'My very first reader', tentu saja namanya akan terukir di kata pengantar.Ini penawaran terbatas yah ;-)

Ok, nantikan kehadirannya segera yah! Terima kasih.


SINOPSIS



Layla, you've got me on my knees.

Layla, I'm begging, darling please.
Layla, darling won't you ease my worried mind.


Demikianlah cuplikan bait lagu Eric Clapton yang menggambarkan kekagumannya pada seorang perempuan jelita bernama Laila. Perempuan yang memporak-porandakan hatinya karena cinta.

Tersebutlah seorang perempuan bernama Laila, seorang penulis dari sebuah kantor pemberitaan ternama. Seorang perempuan sederhana yang menjunjung tinggi kesucian cinta, namun harus terperangkap dalam sebuah suratan takdir yang memilukan.

Adalah Ali, lelaki pemuja Laila. Dialah kekasih, suami sekaligus sahabat Laila. Baginya Laila adalah separuh nafasnya. Seperti layaknya pecinta gila dalam legenda, Ali ingin mempersembahkan sebuah istana cinta untuk kekasihnya Laila. Istana tempat dirinya, Laila, buah hati dan bermilyar cinta di antara mereka. Walau Ali harus menebusnya dengan sebuah perpisahan pedih.

Ramzi layaknya oase dalam padang gersang bagi Laila yang dirundung sepi. Ramzi mengajarkan Laila tentang kerasnya hidup. Bukan salah Laila bila Ramzi hadir di tengah-tengah cinta Ali dan Laila.

Ramzi seorang wartawan perang, yang belakangan diketahui Laila memiliki tanggal lahir yang sama dengan kekasihnya Ali. Ramzi dan Ali bagaikan pinang dibelah dunia. Dua-duanya memiliki sikap dan pembawaan yang sama. Laila hampir-hampir dibuat gila dengan keberadaan Ramzi yang tiba-tiba mencuri hatinya tanpa ampun. Namun sejatinya cinta Laila pada Ali tidak pernah berkurang sedikitpun.

Ramzi adalah pemuja Laila. Baginya Laila adalah bidadari dalam mimpinya. Perempuan yang selama ini dinanti di usianya yang kian senja. Ramzi diam-diam mengagumi mata Laila yang memancarkan segenap keceriaan, dan ketegaran hatinya. Semakin Ramzi mengenal Laila, semakin hatinya menggila karena cinta.

Ramzi hanya bisa mencintai Laila dalam diam, hanya dia dan Tuhan saja yang tahu. Demikian cintanya Ramzi pada Laila, hingga ia tak mampu menghancurkan kesucian cinta Ali dan Laila. Biarlah Laila hanya menjadi bidadari dalam mimpi Ramzi.

Kepada siapakah akhirnya hati Laila akan tertambat? Ali ataukah Ramzi pengagum rahasianya. Bilakah akhir kisah cinta Ali, Laila, dan Ramzi harus berakhir tragis?

Novel ini hendak menunjukkan bahwa tiada yang salah dengan jatuh cinta. Karena cinta adalah sebuah anugerah terindah dari Tuhan Yang Maha Kasih. Sedang akhir dari kisah cinta adalah sebuah pilihan yang harus dipilih.

Adalah Catatan Harian Laila yang menjalin manis setiap kisah yang kemudian menjadi saksi perjalanan kisah cinta Laila, Ali dan Ramzi.





Contoh babak Ramzi:



Ah, seandainya Ramzi menemukan Laila jauh sebelum Laila menikah. Pastilah Ramzi tidak semerana ini. Mungkin yang bersanding di istana cinta mendampingi Laila adalah dirinya bukan Ali. Lelaki beruntung, suami Laila.

“ Tuhan, mengapa hidupku terasa membelit seperti ini. Mengapa harus Laila yang hadir dalam hidupku yang gersang. Bukan perempuan lajang lainnya. Mengapa kau tidak tumbuhkan sedikit cinta pun di hatiku kepada perempuan-perempuan pengagumku. Mengapa harus Laila?” Gumam Ramzi di balik kemudi. Matanya memang terlihat memandang lurus ke depan. Namun alam pikirannya melayang jauh.

Wajah Laila berkelebat di pelupuk matanya. Senyumnya, ekspresi matanya yang melenakan, keluguannya, semangatnya, ah…..

Ramzi masih merasa ini adalah sebuah kesalahan suratan takdir. Seharusnya dirinya yang berada di sisi Laila, bukan Ali. Seharusnya dirinya, bukan Ali!

Gigi Ramzi saling bergemeratak menahan emosinya yang meletup-letup. Rasa cintanya pada Laila yang menggila, membuat dirinya posesif dan seperti menginginkan Laila seutuhnya. Tidak hanya sebagai penggemar rahasia yang hanya bisa mengagumi dari kejauhan. Yang hanya bisa bercumbu dengan bayangnya di kesenyapan yang menyiksa.

“ Arrggggggghhhhhhhh….” Ramzi bergumam.

Bagaimana bila takdir berbalik. Ali menghilang, lenyap di telan bumi. Maka mungkin, dirinya masih punya kesempatan untuk merebut hati Laila. Atau misalkan Laila harus bercerai dengan Ali. Maka dirinya akan hadir menjadi dewa penolong Laila.

Buru-buru Ramzi menepis angan bodoh sekaligus jahat itu dari pikirannya. Ramzi tidak bisa membayangkan betapa menderitanya Laila bila harus kehilangan separuh jiwanya, Ali. Tiba-tiba ingatan Ramzi melayang pada suatu waktu. Kala Laila mengungkapkan rasa hatinya.

“ Bagiku Ali adalah separuh nafasku. Aku mencintainya sepenuh jiwaku, melebihi rasa cintaku pada diriku sendiri. Kami saling memuja dan mencinta. Aku adalah tulang rusuk yang dicipta Tuhan untuknya. Bila dia pergi, mungkin aku akan mati…”

Raut wajah Ramzi berubah sedih. “ Ah… untuk apa merebut Laila bila cintanya tidak pernah ada untukku. Jangan-jangan sedetikpun diriku tidak pernah ada di hati atau pun di pikirannya.” Ramzi bergumam.


Tangan Ramzi meraih tombol Radio di samping kirinya. Dia mencari-cari saluran favoritnya. Tangan Ramzi berhenti ketika dia mendengar lagu yang tidak asing di telinganya.


Laila, you've got me on my knees.

Laila, I'm begging, darling please.

Laila, darling won't you ease my worried mind.


Yah…itu lagu Laila milik Eric Clapton. Ramzi tersenyum. Dan dirinya mulai menggerakkan bibirnya ikut bernyanyi bersama. Hati Ramzi sedemikian gembira.


“ Aku cinta kamu, Laila.” Ramzi bergumam pelan di antara bait lagu berjudul Laila itu.

Ramzi sempat membayangkan, apakah Laila-nya Eric Clapton secantik Laila-nya? Ramzi tersipu malu. Entah kekuatan dari mana yang tidba-tiba menyelusup dalam dada Ramzi hingga memantapkan hatinya. Tak penting apakah Laila mencintainya atau tidak, yang terpenting dirinya memuja dan mencintai Laila. Bilakah Tuhan tidak pernah mempertemukannya dengan Laila di Dunia. Mungkin Ramzi ingin menuntut keadilan Tuhan untuk mempertemukannya di akhirat.

Ramzi terus melajukan mobilnya menembus kegelapan malam. Mungkin Ramzi ingin mencari sebuah masjid, agar ia bisa singgah menyampaikan kerinduannya pada Illahi Rabb. Mungkin Ramzi harus sealim Ali untuk bisa mendapatkan Laila. Mungkin…ah…semuanya hanya mungkin.



Contoh Babak Ali dan Laila:


Hati Laila dan Ali bergetar ketika keduanya mulai memasuki selasar bandara. Kedua kekasih itu saling bergandengan dengan langkah gontai. Ali pun tak berniat mempercepat langkahnya menuju gerbang keberangkatan internasional, walau dia tahu waktu boarding hampir habis.Ali memegang erat tangan lembut istrinya. Rasa hatinya sungguh tak menentu.

Tepat di depan gerbang keberangkatan internasional yang lengang, langkah mereka terhenti. Ali dan Laila saling bertatapan. Ali bisa melihat mata Laila yang bengkak karena semalaman Laila menangisi kepergiannya hari ini.

Masih teringat jelas bagaimana Laila merajuk semalam, memohon kepada dirinya agar tinggal dan menemaninya di sini.


“ Cinta, tinggallah bersamaku di sini. Demi aku, demi jabang bayi di dalam kandunganku.” Laila menangis sejadi-jadinya saat itu. Kala Ali dan Laila merebah saling berhadapan di ranjangnya.

“ Seandainya aku bisa tinggal. Tetapi tugas telah menanti.” Ali berusaha keras menenangkan hati Laila seperti biasanya.

“ Tetapi aku tidak mau. Aku ingin kamu di sini bersamaku.” Nafas Laila tersengal-sengal karena memaksakan diri untuk berkata di antara tangisnya yang belum juga mereda.


“ Aku juga.” Ali dengan nafas yang tercekat.


“ Apa kau tidak cinta kepada diriku?’

Ali menempelkan jari telunjuk kanannya ke bibir Laila, menatap kekasihnya lekat-lekat sambil menggelengkan kepalanya.

“ Lantas?” Laila menatap Ali.


“ Justru karena aku sangat mencintai kamu dan anak kita, maka aku harus pergi. Aku harus bekerja keras untuk mendapatkan uang yang banyak agar dapat membahagiakan kamu dan anak kita. Aku ingin membangun istana cinta yang kita mimpikan.” Ali memaksakan diri tersenyum agar Laila berhenti menangis.


“ Tetapi aku tak ingin itu semua, Aku hanya ingin kau di sisiku seperti keluarga normal lainnya.”


“ Aku pergi takkan lama, Laila.”


“ Seberapa lama?”


“ Sampai kontrakku selesai, dan kita akan memulai hidup baru lagi sebagai keluarga yang utuh.”


“ Bagaimana bila usiaku tidak sampai hingga saat itu.” Entah apa yang merasuk dalam hati Laila, hingga dirinya berkata sedemikian. Ali hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya. Ali mendelik menatap Laila.


“ Mengapa kau berkata demikian?”


“ Karena tidak ada yang tahu kapan aku atau kamu dipanggil oleh Sang Kuasa.”

Ali memeluk Laila. “ Tidak sayang. Insya Allah tidak. Insya Allah, Tuhan memberikan kita umur panjang, melihat anak-anak kita tumbuh besar, menikah sampai memiliki cucu.” Suara Ali terdengar bergetar, seakan Ali juga ketakutan bila apa yang dikatakan Laila adalah benar. Ali memejamkan mata, ia tidak ingin membayangkan hal-hal buruk terjadi pada diri Laila. Dalam hati Ali berdoa untuk keselamatan Laila kepada Sang Pencipta.


Ali mempererat pelukannya dan membiarkan Laila menangis sesenggukan di pelukannya. Jemari tangan kanan Ali mempermainkan kerudung Laila dengan lembut. Ali menciumi kening istrinya.


“ Aku mencintaimu karena Allah, Laila.” Ali membisikannya perlahan di telinga Laila.


“ Aku sangat mencintaimu karena Allah, suamiku.” Laila susah payah mengatakannya.


Ali mencium wangi tubuh Laila dengan jelas saat ia mendekap erat. Tidak ada lagi yang mampu memisahkan mereka. Gairah Ali pun muncul, bergesekan sekian lama dengan Laila. Laila dengan perut buncitnya terlihat teramat cantik dan seksi di hadapannya. Ali membelai kerudung biru yang membalut rambut Laila dengan lembut.


Dadanya berdesir hebat. Ali benar-benar tak mampu menguasai diri. Ali memagut bibirnya yang ranum. Laila yang tak kalah bergairahnya, membalas tanpa melepaskan pelukannya. Mereka pun terbakar api asmara. Dua anak manusia mulai memadu kasih.


"Aku ingin ikut denganmu,terbang menggapai pelangi", kata Laila sambil tersedu tiba-tiba menyadarkan lamunan Ali yang sedang membayangkan percintaan dahsyatnya semalam dengan Laila.


Ali tak menyahut hanya hatinya yg berdegup kencang dan menjerit. Ali semakin mempererat pelukannya pada perempuan berperut buncit yang sangat dicintainya. Yah bagi Ali, ini adalah perpisahan terberatnya dengan Laila. Hati suami mana yang tega meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua sendirian di rumah.


Ali memeluk Laila penuh seluruh. Matanya terpejam, hening. Begitu heningnya hingga Ali bisa mendengar deru jantung Laila yang berkejaran antara menahan tangis dan menahan gejolak. Sesekali Ali bisa merasakan si jabang bayi dalam kandungan Laila ikut protes agar Ali mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkannya dan Laila. Si jabang bayi sedemikian lincah menendangi perut Laila dari dalam. Ali tersenyum getir.


Ah…mengapa tiba-tiba hati Ali menjadi kecut. Hati Ali meleleh. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana istrinya yang sedang hamil 6 bulan menjalani hari-harinya tanpa seorang suami di sisinya. Bahkan Laila sendiri terlihat kepayahan membawa perutnya yang buncit.


Ali menarik nafas dalam demi membentuk sebuah kekuatan. Ali pun mulai bersenandung. Lagu yang biasanya selalu dinyanyikannya kala ia meninggalkan Laila di bandara.


"So kiss me and smile for me, tell me that you'll wait for me. Hold me like u'll never let me go. Cause I'm leaving on a jet plane..." Lama-kelamaan suara Ali mulai berat, menahan tangis. Tanggul pertahanan seakan tak mampu lagi menahan air mata Ali.


Perlahan tapi pasti, air mata Ali berlinang. Laila apalagi. Ali mencium kening dan bibir Laila dengan lembut. Tiba-tiba Ali melepaskan pelukannya dan meninggalkan Laila menuju gerbang keberangkatan internasional itu tanpa menoleh. Namun Laila tahu hati suaminya menjerit, berlinangan air mata.


Laila mengamati Ali hingga dirinya lenyap dari pandangannya. Laila berharap Ali menoleh sejenak untuk melihatnya, namun Ali sama sekali tidak melakukannya. Ali memang berusaha menguatkan hatinya untuk menoleh ke belakang melihat istrinya. Karena sekali ia melihat Laila yang sedang berurai air mata, maka melelehlah hatinya. Ali tidak sanggup melihat kekasihnya bersedih, sekalipun rasa sedihnya itu karenanya.


Laila berdiri mematung di depan gerbang yang memisahkan dirinya dengan Ali. Matanya melihat ke layar monitor. Status pesawat CX719 departed. Ia menggigit bibir. Bulir-bulir air matanya membasahi pipi. Ia menyeka air mata dan membiarkan bedaknya luntur.


“ Selamat jalan cinta, aku teramat sangat mencintaimu.” Bisik Laila sebelum berbalik menuju pintu keluar.

Sedang Ali menatap keluar jendela pesawatnya. Sejauh mata memandang, Ali hanya melihat hamparan awan putih yang menggumpal. Putih bersih tanpa noda, seputih perasaan cintanya pada Laila.


Layla, you've got me on my knees.

Layla, I'm begging, darling please.
Layla, darling won't you ease my worried mind


Tiba-tiba suara merdu Eric Clapton terdengar dari ear-phonenya. Bayangan Laila menari-nari di pelupuk matanya. Bayangan kekasih yang sangat dipuja dan dicintainya.

Rabu, 21 Juli 2010

CATATAN PERJALANAN CALDERA

Day 1 (16 Juli 2010)

Jum’at tanggal 16 Juli 2010, menjadi momen yang paling menegangkan buat saya. Hati saya berkerjap-kerjap membayangkan kelak akan seperti apa petualangan yang akan saya dapatkan dua hari mendatang. Karena pada hari sabtu dan Minggu, kami akan melaksanakan serangkaian kegiatan outbound ‘Tim Building’ yang dirancang oleh Personalia untuk departemen kami.

Ini kali pertama, saya mengikuti outbound di markas besar elang. Karena memang sepanjang hampir tiga tahun saya berjibaku di sini, tim kami belum pernah mengadakan kegiatan serupa. Saya sudah memikirkannya sepanjang waktu, kiranya petualangan seperti apa yang akan kami hadapi.

“ Kita akan tinggal di pondok kayu yang terbuka di hampir setiap sisinya…” Suatu kali Yani sang sekretaris bercerita. Saya hanya mengangguk-angguk dengan penuh antusias.

“ Rafting, flying fox, kamu pasti tidak akan pernah membayangkan segenap keseruan yang ditawarkan…” Mata Yani berbinar-binar menjelaskannya pada saya. Dan alam pikiran saya dipenuhi oleh khayalan-khayalan akan petualangan-petualangan seru yang akan terjadi nanti.

“ Kamu ikut kan?” Sorot mata Yani tajam melekat pada mata saya. Dalam hitungan detik, saya mengangguk pasti tanpa keraguan sedikitpun.

“ Terus kita naik apa?” Tanya saya kala itu.

“ Bis…”

“ Bis?” Saya memastikan, dan Yani mengangguk.

“ Wew…. Bis!” Saya berseru dalam hati.

Saya sudah lupa bagaimana rasanya tamasya dengan rombongan dalam sebuah bis yang besar. Terakhir kali saya ingat, tamasya terakhir saya bersama rombongan adalah bertahun-tahun silam ketika saya masih duduk di bangku kuliah.

Itupun sejatinya bukan sebuah perjalanan tamasya. Kami hanya serombongan mahasiswa bau kencur yang sedang siap-siap bertugas KKN di wilayah Rangkas Bitung.Itu pun rasanya sudah seperti rombongan sirkus yang sedang bertamasya. Seisi bis hampir tidak pernah sepi oleh tawa, canda, nyanyi dan teriakan-teriakan histeris para gadis yang digoda bujang. Acara saling ledek dan cerca menjadi hiburan tersendiri yang menyenangkan untuk mengusir bosan selama perjalanan.

Dan saya berpikir akan jauh berbeda bila yang berada dalam rombongan bis tersebut adalah sekumpulan orang berusia dewasa yang bekerja di sebuah kantor pemberitaan. Saya sempat memikirkan bahwa mereka akan menjadi sangat serius. Hanya pembicaraan formal seputar politik, ekonomi, atau target kantor.

Ternyata perkiraan saya salah besar. Saya hampir tidak menyangka bahwa saya sedang duduk di dalam bis yang membawa rombongan para professional. Suasana bis sama riuhnya dengan bisa yang saya tumpangi bersama teman-teman saya saat usia saya masih menginjak usia hampir dua puluh tahun. Bahkan lebih heboh. Semua tertawa dan saling berkelakar, melempar lelucon dewasa yang terkadang menggelikan, terkadang juga membuat wajah bersemu merah.

Semuanya seperti tanpa beban. Walau sebelumnya, seharian penuh mereka berjibaku di kantor hingga jam tujuh malam. Sepertinya energi mereka tidak ada habisnya.
Beberapa di antara kami yang semula mengutuk keadaan bis kami yang tidak sempurna mulai berhenti mengeluh. Bahkan sepertinya mereka lupa dan mulai mafhum pada keadaan.
Ketika malam semakin larut, suara tawa mulai berhenti. Bertukar dengan suara musik-musik yang mengalun dari beberapa blackberry. Sedang yang lain mulai hanyut terbawa mimpi, termasuk saya. Yang lain masih bertahan dengan berbincang-bincang. Ada juga yang memuaskan diri dengan mengedarkan pandangan jauh ke luar jendela bis, menembus kegelapan malam. Melihat dengan asyik pemandangan pegunungan di malam hari.
Saat bis yang kami tumpangi memasuki jalanan mendaki yang berkelok-kelok. Beberapa di antara kami termasuk saya mulai terbangun dari tidur. Sang supir memacu bis dengan lihai di jalan berkelok. Tidak hanya dengan kecepatan standar, tetapi dengan kecepatan yang ‘luar biasa’. Kami serasa naik roller coaster.

Awalnya kami memang merasa tertantang. Suasana bis menjadi riuh oleh sorak-sorai menyemangati sang supir yang bak pembalap handal. Namun lama-kelamaan suara mulai melemah seiring dengan semakin mengerikannya laju bis kami. Saya yakin beberapa di antara kami termasuk saya, mulai merapal doa dengan bibir yang berkomat-kamit.
Puncaknya adalah ketika tiba-tiba sang supir mengerem bis dengan mendadak. Hingga kami terloncat dari posisi duduk kami. Saya terkesiap, dengan harap-harap cemas berdiri dari tempat saya duduk agar saya dapat melihat dengan jelas gerangan apa di depan.

Ya Tuhan!

Sebuah lubang cukup besar yang memakan hampir setengah dari bahu jalan. Dan bila sang supir tidak sigap mengerem bis. Maka kami semua akan celaka. Saya pikir setelah kejadian ini, sang supir akan mengurungkan niatnya untuk menunjukkan kelihaiannya dalam memacu kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata, sekalipun di jalanan terjal dan berkelok-kelok. Ternyata, sang supir tidak juga gentar. Setelah itu dia masih terus memacu bisnya.

Tetapi syukurlah, setelah lebih dari 5 jam, tepat jam setengah satu malam. Akhirnya kami tiba dengan selamat di pondokan Caldera tempat kami akan menghabiskan dua hari ke depan.

Suasana bis kembali riuh oleh seisi bis yang sedang bersiap-siap hendak turun dari bis. Sesekali suara teriakan ikut mewarnai di antara derai tawa. Suasana bis menjadi hiruk-pikuk oleh kesibukan penumpang bis yang saling berebut untuk turun. Semua terlihat begitu antusias untuk melihat kejutan apa yang menanti kami.

Karena ini adalah kali pertama saya. Saya sempat tertegun menatap deretan rumah panggung yang terbuat dari kayu dan beratapkan daun kelapa kering. Luar biasa, ingatan saya langsung melayang beberpa tahun silam ketika saya menghabiskan waktu di rumah-rumah tradisional milik suku primitif Baduy di pedalaman Rangkas Bitung. Tetapi tentunya ini lebih tertata rapih.



Setelah memuaskan mata saya dengan memandang sekeliling. Saya tersadar, beberapa teman sudah beranjak pergi meninggalkan halaman parkir. Saya pun segera meninggalkan halaman parkir sambil menenteng tas saya menuju penginapan yang disediakan.

Setelah meletakkan barang bawaan kami di pondokan. Kami semua digiring ke sebuah tenda di antara pondokan perempuan dan lelaki. Rupanya Caldera sudah menyiapkan penyambutan untuk kami. Aneka penganan kecil dan minuman hangat telah menanti kami. Tentu saja kami girang bukan kepalang, perjalanan panjang Jakarta-Caldera cukup membuat kami lapar, walau sebetulnya di dalam bis kami juga disuguhi nasi kotak.
Kami diperkenalkan dengan fasilitator kami, Mas Ucup dan Mas Thamrin. Mas Ucup dan Mas Thamrin juga memperkenalkan kami sapaan khas ala Caldera. Jika fasilitator menyapa ‘Halo’ maka kami harus membalasnya dengan ‘Hai’. Begitupun sebaliknya. Di Caldera tidak ada sapaan hari selain ‘Selamat Pagi’. Dan ketika fasilitator menyapa, ‘Apa Kabar Metro TV?’ kami harus menjawab dengan kompak ‘Siap, Luar biasa!’.



Setelah itu kami para perempuan segera bergegas pergi ke pondokan untuk mandi malam dan pergi tidur. Sedang para lelaki masih melanjutkan perbincangan hingga larut malam. Bahkan ketika saya terbangun jam 3 pagi. Saya masih mendengar suara-suara dari pondokan lelaki. Saya tidak tahu, jam berapa mereka tertidur.

Day 2 (17 Juli 2010)

Sesuai dengan jadwal, tepat jam 6 pagi kami sudah berkumpul di lapangan untuk berolahraga pagi. Mas Ucup dan Mas Thamrin sudah menanti kami di lapangan. Kami semua berdiri membuat lingkaran, dengan pemandu di tengah.



Ada yang tidak biasa di dalam lingkaran tim kami. Tiga orang penumpang gelap ikut serta dalam tim kami. Mereka adalah tiga lelaki Arab yang katanya turis dari Yaman. Dengan penuh percaya diri, mereka masuk di barisan kami dan mengikuti instruksi yang diberikan oleh pemandu kami tanpa menghiraukan pandangan aneh kami kepada mereka.
Setelah pemanasan untuk melemaskan otot-otot yang kaku. Sang pemandu memulai permainan-permainan yang membutuhkan konsentrasi sekaligus olah tubuh agar kami tidak mengantuk. Maklum, saat itu keadaan kami seperti orang yang sedang mabuk. Terhuyung-huyung dan sedikit sulit membedakan antara kenyataan dan alam khayal. Separuh nyawa kami serasa berada di alam yang berbeda. Inilah akibat kurang tidur. Sebagian besar dari kami terutama para lelaki hanya tidur kurang dari 3 jam. Dan sekarang kami sama sekali tidak bisa mencerna instruksi dengan baik.

Alhasil banyak di antara kami yang terkena hukuman. Saya pikir ini adalah hukuman paling menyenangkan sejagat. Hukumannya adalah bergaya ala foto model. Bahkan di kehidupan nyata sekali pun tanpa di suruh kami adalah banci-banci kamera.



Tak terasa satu jam telah berlalu. Setelah berolahraga pagi. Pemandu menggiring kami ke tenda yang telah disediakan untuk jamuan sarapan pagi yang lezat. Hanya menu sederhana berupa nasi goreng, suwiran ayam goreng, telor ceplok berbentuk bintang dan bunga, tempe & tahu goreng, garnish beruba tomat dan timun, emping. Tak lupa teh dan kopi hangat, air putih, dan jus jeruk sebagai pelengkap hidangan. Kami makan dengan lahap. Karena kami tidak ingin kelaparan selama beraktivitas nanti.

Setelah sarapan pagi, kami diberi waktu kurang dari satu jam untuk istirahat sebelum masuk ke sesi selanjutnya. Sang fasilitator pun mewanti-wanti kami agar tidak datang terlambat pada sesi selanjutnya. Bila terlambat, akan ada sangsi hukuman menanti. Beberapa perempuan memilih untuk mandi. Sedang yang lainnya lebih senang duduk-duduk dan bercerita di beranda pondokan.

Tepat jam delapan pagi, Mas Ucup dan Mas Thamrin menggiring kami ke tanah lapang tak jauh dari pondokan kami. Namun untuk mencapai tanah lapang tersebut kami harus berjalan kaki kurang lebih sepuluh menit melewati pematang sawah.

Sambil menunggu yang lainnya berkumpul. Mata saya sempat tertumbuk pada aktivitas sekelompok lelaki di dekat deretan toilet. Para lelaki sedang sibuk mengisi plastik-plastik bening berukuran satu kilo dengan air kemudian diikat dan dikumpulkan ke satu sisi.

Setelah sebagian besar peserta berkumpul, seperti biasa kami membuat lingkaran. Instruksi pertama yang kami lakukan adalah kami saling menghadap punggung teman. Ketika fasilitator memberikan aba-aba ‘Hujan!’ maka kami menggunakan telunjuk kami untuk memijat punggung teman dengan jari telujuk. Jika fasilitator menyebut ‘Petir!’ maka kami menggunakan sisi telapak kanan untuk memijat. Jika ‘Batu!’ maka kami harus memijat dengan kepalan tangan. ‘Long beach’ maka kami harus memijat dengan gerakan memijat yang sesungguhnya. Sedangkan ‘Badai’ berarti kita harus mengguncang-guncangkan bahu teman kita. Selanjutnya kami ditantang untuk duduk dengan nyaman di pangkuan teman kami dalam lingkaran.

Saya berasumsi, permainan ini selain untuk melatih konsentrasi, ini juga merupakan tahapan awal dalam sebuah Team Building yaitu perkenalan. Kami saling berkenalan agar menjadi saling percaya dan nyaman satu sama lain.

Setelah kami berkenalan barulah menginjak pada permainan selanjutnya yang lebih seru. Masih di dalam lingkaran. Fasilitator memberi instruksi gerakan ‘Patung Pancoran’, ‘Lampu Merah’, ‘Dansa’, ‘Bunga Matahari’. Masing-masing instruksi memiliki gerakan yang berbeda dan aturan main yang berbeda pula.



Jika fasilitator memberi aba-aba ‘Patung Pancoran’ maka kami harus bergaya ala ‘Patung Pancoran’. Sedangkan bila fasilitator memberi aba-aba ‘Dansa’ maka kami harus mencari pasangan untuk menari ala orang gila sambil menyuarakan gending gebo giro ‘ning nang ning gung…ning nang ning gung’.

Bila fasilitator menyebut ‘Lampu Merah’, kami harus berkelompok 3 orang dalam posisi tangga sambil kedua tangannya menyerupai kelap-kelip lampu. ‘Bunga Matahari’ berarti kami harus berkelompok yang terdiri dari 5 orang untuk bergandengan tangan dalam lingkaran membuat gerakan buka matahari mekar dan menguncup.

Kejadian yang paling menggelikan dalam sesi ini adalah ketika salah seorang dari kami yang bernama Mr. G. Begitu hebohnya dia menari hingga celana pendeknya robek. Namun di antara kami hanya tertawa cekikikan saja melihat hal itu. Dan anehnya Mr. G sama sekali tidak menyadari kalau celananya sudah robek parah.



Tantangan berikutnya adalah kami di ajak berhitung. Tetapi bukan dengan hitungan yang biasa. Peraturannya, untuk angka ganjil kami harus menyebut ‘bing’ dan untuk angka genap harus disebut lengkap. Namun entah kurang konsentrasi atau memang ‘lemot’, selama hampir dua puluh kali percobaan, kami belum juga menemui titik temu. Kami masih saja salah sebut. Sampai akhirnya salah satu pimpinan dalam kehidupan kantor kami yang sebenarnya memberi solusi agar kami bisa menyelesaikan permainan ini dengan cepat. Dan ajaib! Kami pun bisa menyelesaikan permainan itu dengan cepat dan tanpa cacat.



Permainan berikutnya, kami diajak oleh fasilitator untuk membayangkan diri kami sebagai seorang samurai yang siap berperang dengan ‘katana’ kami. Kami diajari membuat kuda-kuda, selebihnya adalah instruksi biasa yang sebenarnya sepele. Anehnya saat kami disuruh untuk menutup mata selagi kami melakukan gerakan yang dinstruksikan, posisi akhir kami berbeda jauh. Sebagian besar dari kami salah mengartikan instruksi depan, belakang. Jika belakang berarti balik arah, maka ketika instruksi berikutnya adalah depan, kebanyakan dari kami berbalik arah ke posisi semula. Padahal seharusnya depan adalah maju pada posisi kita sebelumnya. Kami sempat mengalami perdebatan yang sangat alot sebelumnya akhirnya menemukan titik temu. Permainan ini menggambarkan betapa perbedaan persepsi dapat mengaburkan makna instruksi. Peranan pemimpin penting untuk menyampaikan perintah sekaligus menyamakan persepsi anak buahnya agar tujuan organisasi berjalan sesuai rencana.

Saat-saat yang dinanti-nanti tiba. Waktunya Coffee break. Hidangan risol goreng dan pisang molen yang ditaburi gula halus menjadi pengganjal perut yang sudah mulai lapar akibat beraktivitas.

Dan mata saya masih mengamati sekelompok lelaki yang sedang asyik mengumpulkan plastik-plastik bening berisi air. Saya masih bertanya-tanya untuk apakah gerangan plastik air tersebut.

Setelah coffe break, fasilitator menggiring kami ke suatu area di bawah pohon. Sang Fasilitator menaruh beraneka-ragam gambar di atas rumput. Dan kami disuruh mengamati dan mengambil salah satu gambar sekehendak hati kami. Gambar yang kita ambil harus mewakili ke arah mana Metro TV akan dibawa. Di akhir permainan harus ada satu kesepakatan, setelah melewati perundingan yang cukup alot.

Saya sempat berandai-andai seandainya di situ ada gambar elang, maka tanpa berpikir lagi saya akan memilih elang yang merupakan maskot Metro TV. Saya tahu benar betapa filosofi elang menjiwai setiap gerak dan langkah Metro TV. Namun sayang di sana tidak ada gambar elang. Saya sempat berpikir untuk mengambil gambar pesawat agar Metro TV bisa terbang tinggi. Namun pesawat itu sudah diambil kelompok lain. Saya malah tergoda mengambil taburan warna-warni. Bagi saya itu menggambarkan universalitas Metro TV, agar Metro TV tetap menjadi ‘Knowledge to Elevate’ yang menaungi berbagai bangsa, ras, kelompok, dll.

Di akhir permainan, gambar tangan berjabatan menjadi kesepakatan kami. Karena untuk mencapai semuanya, perlu kebersamaan antara personel di dalam sebuah organisasi. Bila tidak ada kebersamaan, maka suatu organisasi akan tampak sebagai sebuah kapal tanpa arah tujuan yang jelas, masing-masing bercerai berai memilih tujuan yang berbeda.

Setelah permainan tadi, kami dibagi menjadi tiga kelompok. Kami digiring ke suatu tempat yang berbeda. Di sana sudah tersedia tiga batang bambu panjang yang di letakkan di atas penyangga berupa paku kecil. Tugas kami hanyalah memindahkan bambu secara berbarengan dengan jari telunjuk ke tempat yang hanya berjarak kurang dari 10 centimeter dari tempat semula. Saya sempat berpikir itu adalah tantangan paling mudah.



Namun, ternyata itu adalah tantangan tersulit. Entah bagaimana, bambu kami tidak mau diajak berdamai. Dia seperti punya kekuatan sendiri untuk bergerak sesuka hati, tidak mau diatur untuk dipindahkan ke tempat baru. Kami sempat ditakut-takuti oleh sang fasilitator, bahwa bambu itu memiliki kekuatan magis.

Akhirnya setelah hampir satu jam kami berjibaku dengan bambu ajaib, kami bisa memindahkannya. Rahasianya adalah, kami harus menjadi satu tim yang utuh. Tidak ada yang saling mendahului, atau tidak ikut aturan. Harus ada satu pemimpin yang mengatur bawahan agar bergerak sesuai aturan. Setelah Mr. G memimpin…dan bravo! Bambu-bambu kami pun berhasil dipindahkan. Dan kami bisa segera beristirahat makan siang.



Tanpa basa-basi, kami segera menyerbu tenda tempat panitia menyuguhkan hidangan makan siang. Menu kali ini adalah sayur asam, ayam goreng, tempe-tahu goreng, lalapan, nasi panas, karedok, kerupuk dan sambal terasi. Yummy…! Hidangan sederhana itu tampak sangat istimewa, kamipun melahapnya dengan semangat empat-lima.
Tepat jam satu siang, kamipun berkumpul di lapangan tempat kami berkegiatan sebelumnya. Fasilitator tahu benar kalau kami dalam keadaan sangat ngantuk. Kami diajak bernyanyi-nyanyi yang katanya itu adalah nyanyian khas suku Aborigin saat akan pergi berperang. Saya lupa liriknya, tetapi seingat saya nyanyian itu cukup menyegarkan kami yang semula mengantuk.

Setelah selesai bernyanyi-nyanyi. Barulah fasilitator membagi kami dalam dua kelompok besar. Kelompok saya di pandu oleh Mas Ucup. Mas Ucup segera menginstruksikan kami agar berdiri melingkar. Setelah memberi penjelasan secukupnya. Maka permainan bola tangkap pun dimulai.

Mula-mula fasilitator melempar satu bola tenis. Kami pun saling melempar dan menangkap bola dam pola yang teratur dan terstruktur. Setelah kami lihai menguasai satu bola. Tiba-tiba masuk bola kedua yang lebih kecil berwarna biru dan dapat mengeluarkan bunyi bila kami meremasnya terlalu kencang. Setelah itu boneka karet berbentuk kura-kura, bola berwarna merah yang sangat ringan. Kami masih bisa menguasai keadaan walau kami agak sedikit bingung. Konsentrasi salah seorang dari kami pecah saat sebutir telur pecah di tangannya. Ternyata di antara lima bola ada satu telur mentah.

Kami pun belajar dari kesalahan dan bertekad untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Tim kami mulai kompak. Kami berhasil melewati tantangan bermain bola tangkap di lingkaran hingga lima bola sekaligus. Setelah dirasa fasilitator, tim kami sudah cukup mumpuni. Fasilitator mengajak kami menuju pojok yang berbeda di bawah pohon rindang, sambil membawa alat tulis tulis. Fasilitator mengajak kami berpikir apa maksud dari permainan itu sambil beristirahat.

Dalam kehidupan dunia kerja, kita seringkali dihadapkan pada beraneka ragam tugas dari yang ringan hingga yang berat. Terkadang tugas itu datang bertubi-tubi pada saat yang bersamaan. Siap atau tidak siap, kita harus siap karena itu adalah tugas. Dan dalam mendelegasikan perkerjaan ada aturan yang jelas. Kita tidak bisa ‘asal’ menyerahkan tugas kepada rekan lainnya yang tidak kompeten. Begitulah kira-kira maksud permainan itu.



Setelah kami berdiskusi. Mas Ucup memberikan tantangan lain. Kali ini hanya satu bola, dan kami harus melakukan bola tangkap dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kami menghabiskan waktu 17 detik untuk satu putaran. Kemudian 15 detik dan 9 detik. Mas Ucup mengatakan bahwa rekor yang sudah diraih adalah 2 detik untuk sejumlah orang yang sama dengan tim kami. Kami sempat tidak percaya. Namun fasilitator membangkitkan rasa kepercayaan diri kita. Hingga muncul ide-ide brilian dari berbagai orang untuk mendekatkan posisi kami, dan kali ini kami hanya perlu menggelindingkan bola dalam posisi jari telunjuk kami berdekatan. Dan kami mencatat rekor baru di bawah satu detik atau sekitar 40 frame.

Setelah menyelesaikan permainan bola tangkap, kami digiring ke sudut lain. Di sana sudah ada holahoop yang digantung sedemikian rupa. Tantangannya adalah kami harus bisa melewati holahoop tanpa menyenggolnya dan tidak boleh terputus dengan anggota lainnya.



Mungkin itu bukanlah hal yang sulit bagi orang semungil saya. Tetapi bagaimana dengan teman saya yang berukuran jumbo. Dan kami masih harus ditantang untuk saling terkait, tidak bercerai-berai sekalipun kami kerepotan berusaha melewati holahoop.
Tetapi kami punya solusi. Barisan paling depan adalah orang yang berukuran sedang, yang bisa melewati holahoop dengan mudah. Setelah itu anggota tim lainnya dan terakhir saya. Saat satu anggota melewati holahoop, kami yang dibelakang harus membantunya mengangkat kakinya. Begitupun setelah berhasil melewatinya, mereka masih harus berpegangan. Dan kebetulan kelompok saya yang berhasil memenangkan pertandingan melewati holahoop tanpa menyenggolnya.

Tantangan berikutnya, kami dua tim besar diberi sekitar 8 karet hitam berbentuk kotak berukuran 40 cm X 40 cm. Dan kami ditantang untuk menyeberangi jalan sepanjang 300 meter dengan alas tadi. Sedangkan satu tim terdiri dari dari 16 orang. Kami memutar otak bagaimana caranya kami bisa menyeberang bersama-sama tanpa menyentuh rumput. Namun hingga hampir 45 menit, kami belum juga bisa memecahkan tantangan tersebut. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk menyatukan seluruh kekuatan. Kami bekerja-sama untuk menyeberangi jalan, dengan 16 alas hitam dan 32 orang. Dan kami berhasil. Inti dari permainan ini adalah, dalam satu organisasi kita harus bekerja-sama untuk mencapai satu tujuan.

Saya baru menyadari bila kantong-kantong plastik berisi air sudah disebar di hampir setiap titik. Beberapa jalur ditandai dengan tali. Dan di sisi kolam lumpur ada bendera Metro TV yang belum berkibar. Saya bertanya-tanya kira-kira tantangan apa yang sedang dipersiapkan oleh fasilitator.

Ternyata di ujung garis start ada obor untuk menyalakan lilin. Dan kami harus bekerja bahu membahu untuk menyelamatkan nyala lilin tersebut dari serangan air hingga garis finish. Tepat di garis finish ada jaring berbentuk lingkaran kecil seukuran bokong orang dewasa, dengan empat tali di keempat sisinya. Sang pembawa lilin harus duduk di atasnya dan diangkat oleh seluruh anggota kelompok. Sang pembawa lilin harus menyalakan obor yang berada di tengah kubangan lumpur. Obor itulah yang akan membakar tali pengait bendera. Saat tali itu putiyus karena terbakar api obor, maka saat itulah bendera Metro TV akan berkibar.

Para penyerang yang melemparkan kantong plastik berisi air adalah perumpamaan para kompetitor yang siap menyerbu kapan saja. Nyala lilin adalah nyawa Metro TV yang harus dipertahankan dengan penuh pengorbanan oleh segenap karyawan Metro TV. Dan semuanya harus bersatu-padu untuk mengibarkan kejayaan Metro TV.

Itu adalah pengalaman paling menegangkan. Kami sudah menggunakan berbagai taktik agar nyala lilin tersebut luput dari serangan begundal-begundal yang melempar air. Namun kami selalu gagal, hingga akhirnya kami membuat scenario pembawa lilin bayangan. Agar para penyerang terkecoh dan tidak tahu manakah pembawa lilin yang sebenarnya. Dan taktik ini berhasil sampai di finish walau semua pakaian kami basah kuyup.



Kini giliran saya menyalakan obor kemenangan. Saya sampai harap-harap cemas. Saya takut nyala lilin itu malah padam di tangan saya. Itu berarti saya sudah melukai banyak orang yang telah mengorbankan ‘jiwa dan raga’ demi nyala sang lilin. Dan akhirnya, saya berhasil juga. Bendera Metro TV berkibar dengan gagah diiringi dengan sorak-sorai seluruh tim. Ada haru, rasa suka dan kegembiraan yang teramat sangat.
Sambil menikmati kue dadar gulung dan risol, setelah permainan petang itu berakhir. Alam pikiran saya melayang jauh. Mungkinkah di kehidupan sebenarnya para elang juga akan bahu-membahu menyelamatkan markas besar elang (Metro TV) dari gempuran luar. Mungkinkah mereka akan mengorbankan ‘pikiran-jiwa-raga’ seperti dalam permainan ini. Wallahualam bisshawab.



Setelah permainan itu berakhir kami punya waktu kurang lebih dua jam untuk istirahat dan berbenah diri. Tepat jam 7 kami baru berkumpul kembali untuk makan malam di aula. Di sana sudah tersedia nasi panas, tumis kangkung, Tom Yam, ikan kakap, calamari, sambal, krupuk sebagai menu makan malam kami.

Baru saja kami menyelesaikan makan malam kami, Mas Thamrin sudah berseru, “Halo!”

Dan dengan spontan kami menjawab, “ Hai!”

Sebagai pemanasan, kami diajak bernyanyi bersama dengan gerakan yang khas.

Marina…Marina… Menari di Menara
Marince…Marince Menari di Menara.
Mas Epoy…Mas Epoy menari di menara


Setelah pemanasan di rasa cukup. Fasilitator memberikan kami gambar dan kami dipersilahkan untuk membaca gambar tersebut dengan seksama selama beberapa menit. Kami tidak boleh memperlihatkan gambar kami kepada orang lain.

Setelah itu masing-masing dari kami menceritakan gambar yang dimiliki. Mas Zul membuka ceritanya tentang seorang anak kecil yang mengintip keluar jendela, terlihat beberapa ekor ayam, babi/kuda kecil, dan lain-lainnya layaknya sebuah peternakan. Kemudian seperti biasa pemimpin kami Pak Arif memberikan ide agar kami berkelompok sesuai dengan gambar yang kami miliki untuk mempermudah terkuaknya misteri gambar.
Setelah berdiskusi, kami pun menaruh gambar-gambar kami berderetan dalam posisi tertutup. Dan ternyata setelah dibuka, gambar tersebut memiliki cerita yang berurutan. Luar biasa! Saya sampai tak habis pikir betapa ajaibnya jika kita saling menyatukan pikiran dan bekerjasama, maka tidak ada yang tidak mungkin dalam mencapai tujuan. Bahkan dengan mata tertutup sekalipun.



Dengan berakhirnya permainan ‘picture sequences’ maka berakhirlah serangkaian permainan Team Building pada outbound kali itu. Luar biasa! Dari permainan remeh, dapat terlihat dengan jelas karakter asli dari seseorang, mana yang manja, berjiwa pemimpin, lemot, egois, pemberontak, cerdas, sok tahu, setia kawan, dan lain-lainnya.
Selesai dengan permainan ‘picture sequences’, kami digiring ke aula yang berada tepat di bawah posisi aula tempat kami makan malam. Acara selanjutnya adalah bernyanyi dan berjoget dangdut. Sayang sekali saya melewatkan acara ini, karena kebetulan pada saat itu saya sedang mengobrol dengan pangeran saya yang merasa kesepian di rumah. Ternyata tidak hanya saya yang tidak hadir dalam acara itu. Mbak Linda dan Mbak Nurul sudah terlebih dulu menyingkir untuk memanjakan otot-otot yang kaku karena kelelahan yang teramat sangat dengan tukang pijat

Namun saya masih mengingat beberapa momen penting. Seperti ketika primadona tim kami, Mbak Livy menyanyikan lagu ‘Jablay’ dengan goyangan mautnya. Seluruh peserta bersorak-sorai, sambil berjoget ikut irama. Saya juga sempat mendengar suara sumbang Mas Miko menyanyikan lagu ‘Kemesraan’.



Dan malam itu pun berakhir, seiring dengan berakhirnya acara ‘gila-gila-an’ dengan bernyanyi dan berjoget dangdut. Jika malam sebelumnya kami hampir tidak tidur. Maka malam itu kami tidak ada alasan lagi untuk tidak tidur. Kelelahan teramat sangat sudah menyerang bersama kantuk yang tak tertahankan.

Sambil berbaring di atas selembar kasur tipis yang terhampar di atas lantai kayu, saya berusaha memejamkan mata. Dalam gelap, saya sempat mengedarkan pandang ke sekeliling. Yani yang tidur di sebelah kiri saya tampak sudah pulas, begitu juga Mbak Yanti. Dan sebagaian besar perempuan di pondokan kami. Hanya mbak Linda dan Mbak Nurul yang masih belum menyelesaikan sesi pemijatannya di bagian bawah pondokan.

Sunyi mulai terasa seiring dengan malam yang merambat naik. Saya pun tidak mendengar suara apa pun dari pondokan lelaki. Tampaknya mereka juga sudah terlelap karena kelelahan. Dan perlahan tapi pasti, saya pun terlelap. Saya tidak sabar menyambut pagi. Hoahem….zzzzzz

Day 3 (18 Juli 2010)



Setelah menikmati sarapan pagi berupa nasi uduk lengkap, kami pun digiring oleh pemandu menuju tempat perlengkapan rafting. Kemudian kami dipersilakan untuk mulai mengenakan perlengkapan rafting. Perlengkapan terdiri dari Life Jacket, Helmet dan dayung. Life Jacket disesuaikan dengan ukuran badan, mulai dari S-XL. Setelah tiap orang telah mengenakan perlengkapan dengan lengkap, kami pun dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. Masing-masing terdiri 4 orang dan dipandu oleh 1 orang guide. Beberapa kelompok dipandu oleh dua guide. Ada juga tim yang dipandu oleh lebih dari satu guide. Biasanya mereka adalah guide baru yang jam terbangnya belum sebanyak guide senior.



Kebetulan saya sekelompok dengan Mas Miko, Agung, Mas Epoy, dengan guide bernama Lalan. Setelah semua siap, kami diberangkatkan ke tempat start dengan mobil pickup. Masing-masing mobil pick up terdiri dari 2 kelompok, lengkap dengan para pemandunya.
Dan pengalaman waktu di bus saat menuju caldera pun terulang kembali. Berkelok-kelok, naik-turun, terguncang-guncang. Benar-benar memacu adrenalin. Hal yang paling mengerikan adalah ketika pick up kami harus mendaki dengan ketinggian yang nyaris mencapai 90 derajat.

Tak lama kemudian mobil pick up yang kami tumpangi berhenti di suatu tempat. Saya pikir perjalanan kami telah berakhir. Ternyata tidak! Kami masih harus menuruni jalanan becek berbatu-batu yang curam, berjalan di pematang sawah nan becek, semak belukar, dan lain-lain. Kami benar-benar merasakan suasana desa yang sesungguhnya.
Dalam hati saya berdoa, semoga desa-desa itu tetaplah begitu. Tidak tergerus arus modernisasi yang terbawa oleh para turis peserta wisata rafting. Semoga, sawah-sawah itu juga tidak diambil-alihkan menjadi pondokan-pondokan baru.

Sampai di tempat start, kami pun mengantri untuk naik ke perahu karet. Sambil menunggu antrian, kami diberi pengarahan oleh leader mengenai kode-kode yang akan dia ucapkan saat nanti kami rafting. Karena ini pengalaman pertama saya berarung jeram. Maka saya mendengarkan dengan cermat setiap penjelasan dari arung jeram.
‘Maju’ berarti mendayung ke arah belakang. ‘Mundur’ berarti mendayung ke arah depan.
Terkadang pada beberapa kasus, perahu karet kami harus menghindari batu di sebelah kiri atau pun kanan. Maka ketika guide memberi aba-aba ‘Pindah kiri’, maka orang di sebelah kanan pindah ke kiri. Begitu pun ketika guide memberi aba-aba ‘Pindah Kanan’ maka orang di sebelah kiri pindah ke kanan. Sedangkan aba-aba ‘bump’ berarti penumpang perahu karet harus segera menunduk / duduk di lantai perahu untuk menghindari ranting-ranting pohon di sungai.

Sang leader juga tidak henti-hentinya mengingatkan agar dalam kondisi apapun, tangan kiri kita harus menutupi ujung dayung agar tidak mencederai penumpang lainnya. Karena dari sekian banyak kasus kecelakaan di dalam perahu karet terjadi karena akibat terbentur gagang dayung.

Selain itu kami juga diajarkan tentang apa yang harus kita lakukan kalau-kalau anggota tim tercebur. Bagian yang harus diangkat adalah pelampungnya, bukan tangan atau malah kepala. Hingga akhirnya tiba giliran kami untuk masuk ke boat dan rafting pun dimulai!

Mas Miko salah satu anggota tim kami yang katanya sudah berkali-kali berarung jeram tampak sangat antusias dan terkesan tidak sabaran. Saat sang guide belum memberi aba-aba, Mas Miko sudah mendayung. Bahkan Mas Miko mengabaikan cara peletakan kaki yang benar untuk keselamatan. Kami cemas dengan kelakuan Mas Miko yang bisa berdampak buruk bagi keselamatan seluruh awak. Akhirnya kami mulai mendayung.

Kami akan mengarungi sungai citarik sepanjang 9 km dan akan menghadapi 21 jeram selama kurang lebih 2 jam. Jeram pertama yang kami lewati adalah jeram Ayu, sesuai dengan namanya jeramnya terlalu kemayu alias tidak terasa. Saya tidak terlalu ingat nama-nama setiap jeram, saya hanya ingat beberapa seperti jeram which way (karena di bawahnya ada 2 jalur), jeram kincir (karena dulu ada kincir angin kecil buatan belanda di pinggir sungai), jeram sirkuit (karena di jeram tersebut para instruktur berenang semasa pelatihan), dan jeram yang paling dahsyat adalah jeram Jumping Jackless, dll.

Selama berarung jeram, seperti yang kami duga sebelumnya. Mas Miko lah yang paling sering bermasalah. Saat guide memberi aba-aba maju, Mas Miko malah diam. Saat tidak ada aba-aba, Mas Miko malah mendayung. Mas Miko mengabaikan kemana harus meletakkan kaki selama berarung jeram. Akibatnya, Mas Miko lah yang paling sering terjatuh saat perahu karet kami mengalami goncangan hebat akibat arus liar. Puncaknya adalah ketika Mas Miko terjatuh keluar. Untung saja ada perahu tim lain yang berada di antara perahu kami dan tebing batu, kalau tidak mungkin Mas Miko bisa celaka. Saya bisa lihat jelas betapa saat itu Mas Miko panik. Kami pun bahu-membahu saling membantu untuk mengangkat Mas Miko naik ke atas perahu karet.

Tiba-tiba saya ditarik oleh tangan kekar yang tidak lain adalah Mas Miko hingga terjatuh ke dalam air sedalam lebih dari dua meter. Saya yang kaget dan panik hampir tidak dapat menguasai diri selain pasrah meminum air sungai butek, dan membiarkan air masuk ke lubang hidung dan telinga saya. Saya tenggelam dan ini tidak bercanda. Kontan, Mas Miko dan anggota tim yang lain menyelamatkan saya.

Saya pun mulai menikmati berenang-renang di air. Saya hanya mencemaskan kalau-kalau sepatu crocs kesayangan saya ikut hanyut. Suasana mencekam berubah menjadi derai tawa. Akhirnya seluruh anggota tim, ikut berenang-renang di dalam air sungai yang cukup tenang. Hingga sang guide mengisyaratkan untuk naik kembali ke dalam perahu karet dan melanjutkan perjalanan.

Namanya Pak Lalan. Dia adalah guide tim kami. Pak Lalan termasuk salah satu guide senior yang sudah hampir 10 tahun menjadi guide arung jeram. Sebelum bekerja di Caldera, dia pernah beberapa kali bekerja di tempat-tempat serupa, termasuk di Bali. Keahlian Pak Lalan dalam mengendalikan perahu karet di arus liar tidak perlu diragukan lagi. Pak Lalan pun sangat jenaka, dia tahu benar bagaimana memanfaatkan kecemasan kami untuk bercanda.



Sesekali Pak Lalan memberi aba-aba ‘bump’. Dan kami dengan cekatan menunduk menghindari sesuatu yang kami sendiri tidak tahu. Pak Lalan tertawa terbahak-bahak. Rupanya Pak Lalan menipu kami. Kali lain Pak Lalan melempar tali menyerupai biawak sambil berseru ‘Biawak!’ ke arah saya. Dan seketika itu pula saya berteriak sekencang-kencangnya memecah kesunyian. Dan para lelaki hanya tertawa terbahak-bahak.

Pak Lalan juga mengajak kami merasakan “komedi putar” yang berarti adalah mengarungi jeram dengan perahu karet yang sambil berputar-putar. Caranya adalah orang disebelah kanan mendayung mundur sedangkan orang di kiri mendayung maju. Jadilah kami terombang-ambing sambil terputar-putar. Tidak terasa hampir dua jam telah berlalu. Perahu karet kami telah tiba di garis finish. Sesampainya kami di sana, kami langsung disuguhi kelapa muda, bakwan dan Tom Yam hangat. Sungguh hidangan yang pas untuk kami yang sedang kelelahan dan kehausan sekaligus lapar. Kami saling bersendera-gurau melepas lelah sambil menikmati hidangan istimewa. Namun sayang dua orang dari kami, terluka. Bang Parlin, anggota senior kamilah yang terparah. Luka akibat terpelanting dari perahu karet dan tergores batu tajam membuatnya harus dibantu dua orang untuk berjalan.

Setelah cukup beristirahat, kami pun diantarkan kembali ke pondokan dengan mobil pick up. Jalur yang kami lewati masih sama terjalnya dengan keberangkatan kami. Yang berbeda hanyalah, kali ini pakaian kami basah kuyup dan didera kelelahan yang teramat sangat. Saya tidak sabar untuk mengikuti permainan selanjutnya. Flying Fox.
Sesampainya di Caldera, kami melompat dari pick up dengan sisa tenaga yang tersisa. Setelah kami mengembalikan semua peralatan rafting ke tempat semula, kami berlari-lari kecil menuju tempat persiapan flying fox. Beberapa orang sudah memisahkan diri dari rombongan untuk membersihkan diri. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang memiliki phobia dengan ketinggian.

Saya dan beberapa orang lainnya dalam keadaan basah kuyup yang telah siap dengan peralatan keselamatan untuk flying fox segera menyeberangi jembatan kayu setapak yang diberi pengaman jaring-jaring di sisi kanan dan kirinya. Jembatan akan bergoyang-goyang seirama dengan langkah kaki kita. Untuk keamanan, kami hanya diperbolehkan menyeberang lima orang dalam sekali jalan.

Setelah sukses menyeberangi jembatan, kami berbaris antri untuk menunggu giliran flying fox. Walaupun itu pengalaman pertama saya melakukan flying fox, sedikitpun hati saya tidak merasa kecut. Saya malah merasa sangat antusias untuk terjun bebas dengan bantuan tali pengaman.

Turun dari flying fox, kue Putri Ayu berwarna hijau dengan taburan parutan kelapa di atasnya dan risoles goreng sudah menanti di meja. Yummy! Tanpa basa-basi, saya dan beberapa teman yang lain langsung menyerbu untuk menyantapnya. Setelah puas dengan sajian camilan alakadarnya itu, saya pun memilih segera kembali ke pondokan untuk membersihkan diri dan berbenah, karena tepat jam 12 siang kami akan meninggalkan tempat ini.

Akhirnya sajian menu makan siang berupa nasi panas, ayam goreng, empal goreng, urap, soto babat, emping, sambel merupakan makan terakhir kami sebelum meninggalkan Caldera. Bis ‘White Horse’ dan mobil lainnya yang membawa rombongan kami sudah menanti di halaman parkir.

Setelah menyelesaikan makan siang, mengambil foto petualangan rafting kami, dan berpamitan dengan fasilitator dan segenap kru yang telah membantu kami. Akhirnya kami naik ke dalam bis dan kembali ke Jakarta.

Selamat tinggal Caldera! Saya pasti akan kembali, entah kapan.

Jakarta, 21 Juli 2010