Senin, 29 Desember 2008

KRITERIA MISKIN YANG MEMBINGUNGKAN

Menurut penelitian kami saat itu, Desa Bojong Cae tergolong desa yang miskin. Angka putus sekolah di desa Bojong Cae juga cukup tinggi. Kebanyakan dari kaum mudanya putus sekolah di usia remaja atau di bangku SMP. Alasannya cukup klise, “Tidak ada biaya.”

Hanya segelintir orang yang bisa meneruskan sekolah hingga di bangku kuliah. Itu bisa dihitung dengan jari. Mereka yang beruntung bisa mengenyam pendidikan tinggi hanya orang-orang yang tergolong berada. Hampir tujuh puluh persen pemuda Bojong Cae putus sekolah. Lelakinya biasanya bekerja di kota, hanya perempuannya yang menunggu rumah. Sedang kaum tua masih sibuk di sawah.

Sebagian besar warga Desa Bojong Cae adalah petani. Walau tidak semua dari mereka adalah petani yang memiliki tanah sendiri. Kebanyakan mereka hanya buruh tani. Ada juga petani palawija yang memiliki sepetak tanah di pekarangan rumah. Tidak banyak memang hasilnya, namun cukup untuk menghidupi keluarga dengan standar hidup yang pas-pasan.

Makanya salah satu program kerja kami selama bertugas di Bojong Cae adalah meningkatkan ekonomi masyarakat desa dengan memanfaatkan lahan pekarangan menjadi kebun sayur. Setidaknya masyarakat tak perlu membeli di pasar jika ingin mengkonsumsi sayuran segar. Karena semuanya tersedia di pekarangan rumah.

Suatu kali kami terlibat perbincangan dengan gadis-gadis putus sekolah di Desa Bojong Cae. Salah satu di antaranya sebut saja Minul. Usia Minul baru tujuh belas tahun. Layaknya gadis remaja yang suka mematut diri dan bercengkerama dengan sesamanya. Minul suka bergaul, terutama dengan kami.

Minul sudah putus sekolah semenjak di bangku SMP. Maka pekerjaan Minul hanyalah membantu ibu melakukan kegiatan rumah tangga, mengaji di surau di pesisir Kali Ciujung, sesekali membantu bercocok tanam di sawah tempat keluarganya menggantungkan hidupnya. Selebihnya bercengkerama dengan gadis-gadis sebaya untuk mengisi hari-hari penantian akan kehadiran seorang pemuda yang akan meminangnya dan memboyongnya pergi dari desa itu. Dan Minul tidak sendiri, masih banyak gadis-gadis lain yang bernasib sama.

Minul itu gadis desa yang lugu. Minul itu seperti bunga yang sedang merekah. Sehari-harinya Minul senang sekali memakai rok panjang dengan blus nan sopan. Memang demikianlah seharusnya gadis remaja. Di tengah-tengah arus modernisasi yang terus menerus menggerogoti kearifan budaya. Maka Minul masih memegang teguh prinsip. Maklum, Minul adalah jebolan Tsanawiyah atau sekolah Islam setingkat SMP.

Minul juga senang berdandan. Menaburkan bedak bubuk merek viva, mengoleskan gincu tipis-tipis sekedar untuk melembabkan bibir dan memberi kesan ranum. Minul juga punya krim kulit yang kata orang kota hand & body lotion merek viva. Dan sudah pasti bedak BB harum sari, yang hanya saat kondangan saja dipakainya. Supaya irit. Maka hari-hari biasa badan Minul yang sedang puber, menebarkan aroma yang tidak sedap. Membuat kami kaum perempuan yang sering berdekatan dengannya nyaris muntah.

Minul ini termasuk orang yang aktif mengikuti semua kegiatan kami. Tidak hanya sebagai partisipan tetapi juga membantu kami. Dia dan teman-teman sebayanya senang dan bangga membantu kami. Ada suatu kebanggaan bagi orang desa bila mereka bergaul dengan kaum intelek bernama mahasiswa. Biar terkesan intelek juga. Sekaligus siapa tahu salah satu dari lelaki kami terpikat dengan salah satu dari mereka. Sukur-sukur bila mereka dipinang dan diboyongke kota. Maka seluruh desa akan mengangkat kepala kepada mereka. Kebanggaan tida duanya.

“Teh, enak ya bisa kuliah?” Tanya Minul tiba-tiba.

“Yah enak dong. Bisa pintar, bersosialisasi dengan banyak orang terus Insya Allah cita-cita kami untuk memiliki penghasilan sendiri sudah di tangan.” Jawabku optimis.

“Oh………..” Minul menundukkan kepala sejenak.

“Min…kamu kenapa putus sekolah?” Tanyaku untuk mencairkan suasana.

“Oh….Minul mah tidak punya uang. Emak sama bapak tidak punya uang untuk sekolah. Makanya Minul tidak meneruskan sekolah. Lagipula Minul Cuma perempuan. Kata emak, perempuan tak usah sekolah tingi-tingi. Toh akhirnya juga masuk dapur.” Minul menjawab panjang lebar.

Oh tidak mampu yah. Hem……….sepertinya agak membingungkan juga kalau dikatakan Minul miskin. Apanya yang miskin? Kulihat Minul memakai gelang, cincin, kalung, anting, bahkan gelang kaki emas. Sedang aku yang katanya mahasiswa itu pasti orang berada dan banyak uang, sama sekali tidak memakai perhiasan emas. Sungguh menggelikan. Aku pun tersenyum simpul memandang gadis lugu itu.

“Kenapa teh?” Tanya Minul heran.

“Mmmhhhhhh, tidak hanya sedikit bingung sebetulnya yang tidak mampu itu siapa. Aku yang mahasiswa atau kamu yang putus sekolah? Kamu yang putus sekolah memakai perhiasan emas sedang aku…………satu pun tidak.” Aku tersenyum lagi.

Minul ikut memandangiku. Mungkin untuk memastikan bahwa tidak ada cincin atau gelang emas yang melingkar di tanganku. Yang ada hanya gelang tali berwarna biru muda. Itu pun sudah terlihat dekil. Minul menunduk.

Begitulah masyarakat Desa Bojong Cae. Bagi mereka pendidikan adalah nomor ke sekian yang tidak menjadi prioritas dalam kehidupan mereka. Kehormatan mereka dihargai dari berapa jumlah perhiasan emas yang mereka miliki. Istilahnya sehari makan hanya sekali, tidak sekolah asalkan kaum perempuannya memakai perehiasan emas sudah lebih dari cukup. Kalau harus memilih menyekolahkan anak atau membeli motor, maka tanpa banyak berpikir mereka akan lebih memilih membeli motor. Jelas ada barangnya.

P.S. Pendidikan adalah harta yang paling berharga

Tidak ada komentar: